[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana

[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana
110-Ny. Tua Xie


__ADS_3

Monster Ny. Tua Xie yang diabaikan menjadi semakin marah. Matanya sudah menjadi merah dengan aura pekat yang sangat membuat tak nyaman mengelilingi dirinya.


Tempat yang tadinya berupa aula tiba-tiba telah berubah menjadi sebuah tebih yang di kelilingi jurang gelap dan dalam, apalagi terdapat kabut putih yang menyelimuti seluruhnya sehingga tidak akan ada yang dapat melihat dasarnya.


Monster Ny. Tua Xie yang kini sudah memiliki penampilan yang berbeda berdiri di seberang kelompok saudara-saudari Zhu. Rambut Monster itu tersebar tertiup oleh angin dan menjadi acak-acakan dan secara bertahap mulai berubah menjadi warna abu-abu kusam.


Aura kebencian dari monster itu menekan para saudara-saudari Zhu, membuat mereka kewalahan untuk berdiri.


“Dia berada di atas kita semua. Apa kalian semua sanggup untuk melawannya bersama?” tanya Liana berusaha memblokir tekanan dengan kultivasinya. Dia sedikit tersendat saat berbicara. Aura kebencian Monster itu lebih pekat dari Belut Naga.


“Yah, aku … aku tidak ingin menunggu kematian.” Yuxia lebih dulu menjawab dan semua mengangguk memiliki pendapat yang sama.


“Kalau begitu, bersiaplah! Setidaknya kita harus memberikan makhluk jelek itu beberapa goresan yang menyakitkan.”


Semuanya menjadi terdiam mendengar apa yang baru Liana katakan. Hingga hanya selang beberapa saat mereka hampir berseru dengan serempak.


“Wow! Seertinya kita akan memiliki kemenangan yang mudah.” Wuxia berteriak sambil bertepuk tangan.


“Aku baru tahu jika kakak ke-dua juga bisa berbicara dengan kasar.” Weiling terkekeh bersembunyi di balik kipasnya.


“Yah, tapi entah kenapa aku jadi bersemangat!” Yuxia berseru.


“Saat kita pulang nanti, ajari aku kak.” Lianhu mengangguk pada Liana.


“Kerja bagus, Li’er!” terakhir adalah Wan Feng.


Liana segera memandang saudara-saudarinya dengan tatapan kosong. Mengapa mereka menjadi sangat aneh? Apa karena terlalu takut? Tapi setidaknya mereka semua sekarang sangat bersemangat.


“Tunggu apa lagi, ayo serang!!!” Wan Feng kembali berteriak. Tidak ada rencana, tidak ada koordinasi, tidak ada formasi penyerangan. Pertarungan langsung segera di adakan saat pihak pertama mulai meluncurkan serangannya.


Bahkan Liana masih menganga melihat saudara-saudarinya yang bertarung secara acak tapi dengan entah kenapa kerja sama mereka sangat baik.


Apa ini yang di sebut sebagai ikatan darah? mungkin.


Apapun itu, Liana juga mulai berlari mendekati Monster Ny. Tua Xie yang masih mengamuk dengan amarah besar, terus mengaduk udara dengan cakarnya yang panjang dan tajam karena sama sekali tak dapat menyentuh targetnya.


Setelah itu, semua kembali pada posisi bertahan sebelumnya untuk mengatur napas.


“Sial, sepertinya kita hanya dapat meyerangnya dari jarak jauh. Tapi kekuatan unsur tidak begitu mempan pada makhluk itu, tekanan dari energi kebencian terlalu kuat. Sebentar saja membuat lelah. Apa kalian memiliki ide?” Mengatur napasnya, Wan Feng memandang satu per satu adik-adiknya yang juga terlihat lelah.


“Haa~, seandainya kita memiliki senjata jarak jauh. Aku sama sekali tidak membawa panah, apa ada yang membawanya?” Lianhu berbicara dengan terengah-engah sambil sesekali mencoba menyerang monster yang hendak mendekat, tapi itu malah membuat makhluk itu menjadi semakin marah.


Sial! Bahkan pergerakan monster itu menjadi semakin cepat. Para saudara-saudari Zhu terpaksa berpencar untuk menghindari serangan yang datang.


Sebenarnya suasana hati semua orang tidak setenang di permukaan. Keringat dingin yang terus mengucur di balik telapak tangan muda-mudi itu tidak pernah kering saat awal berhadapan dengan makhluk mengerikan yang disebut sebagai monster itu.

__ADS_1


Tapi siapa suruh mereka hanyalah anak-anak yang lebih cepat dewasa dari usia asli mereka. Sekian lama dieluk-elukan karena bakat yang tinggi di antara anak bangsawan lainnya, Tuan Muda dan Nona Muda Zhu sudah menanamkan gengsi jauh di lubuk hati mereka.


Tapi menurut Liana itu adalah hal positif, lihat saja mereka yang benar-benar masih dapat berpikir jernih di saat menghadapi bahaya, pemuda-pemudi itu berkepala dingin terlepas dari situasi yang mereka hadapi. Itu sebabnya Liana masih menerima mereka dalam hatinya sebagai saudara meskipun pernah ada kesalahpahaman di awal pertemuan kembali mereka (di bab-bab awal).


Liana kembali memikirkan perkataan Lianhu barusan dan melihat Weiling yang kini sudah mengganti kipasnya dengan busur dan anak panah yang sepertinya mengeluarkan sedikit aura pemurnian.


Liana bertanya pada gadis itu, “Apa itu senjata ajaib?”


Weiling mengangguk, “Yah, aku mendapatkannya di lelang tahun lalu. Tapi ini hanya tingkat rendah, mungkin hanya akan sedikit menggores makhluk itu.”


“Berikan padaku,” pinta Liana.


Weiling dan lainnya bingung tapi gadis itu masih menuruti perkataan Liana.


Setelah Liana memperhatikan sekali lagi busur Weiling. Dia mengernyit dan segera berteriak, “Lindungi aku selama waktu satu dupa!”


“Apa yang ingin kau lakukan, Li’er?!” Wan Feng yang sibuk menangkis dan meluncurkan serangan pada musuh berbalik bertanya pada Liana dengan suara tinggi. Dia mewakili pertanyaan semua orang.


“Tolong, bantu aku sebentar saja, aku akan memperbaiki senjata Weiling. Busur ini masih belum sempurna.” Liana memandang satu per satu saudara-saudarinya dengan tatapan tegas tak ingin dibantah.


“Kakak ke-dua, kau dapat memurnikan senjata?” Weiling bertanya yang lagi-lagi mewakili semua orang.


Liana mengangguk, “Maka dari itu, bantu aku dan bertahanlah sebentar dengan Monster itu. Ini tidak akan lama, kita dapat melawannya dengan maksimal.”


Yang lain tak lagi bicara setelah saling memandang, mereka semua mengangguk mengerti. Dan semuanya segera membentuk formasi lima orang, mengelilingi monster itu dari empat arah dengan satu yang melindungi Liana.


Ah, apa ibunya itu dapat meramal masa depan? Mengapa kebetulan sekali.


Liana menghela napas tidak berbicara sepatah kata pun lagi. Dia segera fokus pada pekerjaannya. Kemudian segera duduk bersila. Busur Weiling di letakkan di depannya, dia mengambil beberapa batu tempa yang dikiranya cocok untuk busur dan beberapa bahan lainnya untuk mengombinasikan semua itu dan mencapurnya dalam busur.


Menarik napasnya lagi, Liana segera membentuk segel tangan pemurnian yang ia ingat dari ajaran guru juga Shiro.


Segel tangan untuk pemurnian dan alkimia tentunya berbeda. Dia juga mengingat beberapa hal dari buku. Sejujurnya, ini adalah pertama kali dia mencoba memurnikan senjata. Tapi Liana memang selalu optmis pada pekerjaannya.


Apalagi dia sudah merencanakan untuk membuat senjata api di masa depan yang cocok untuk melawan para Monster seperti di depannya itu.


Memjamkan matanya, tanpa menggunakan tungku pemurnian, Liana mulai menyerap esensi api di sekelilingnya, segera udara di sekitarnya mengalami peningkatan suhu secara bertahap.


Para saudara-saudarinya sejenak tertegun melihat pemandangan dari udara panas yang berkumpul di depan Liana yang kini terus membentuk segel tangan dengan kecepatan yang teratur dan konstan.


“Apa hanya aku yang menganggap jika kakak ke-dua adalah seorang jenius sejati?” Yuxia antusias dalam ucapannya.


Segera ditimpali oleh Wuxia dan Lianhu secara serempak, “Tidak hanya kau.”


Weiling sendiri memandang Liana dengan rumit.

__ADS_1


Tapi setelah itu perhatian mereka semua segera teralihkan oleh teriakan Wan Feng yang menyuruh mereka semua untuk kembali fokus pada monster yang masih saja mengamuk, berteriak marah dengan tidak jelas ingin membunuh dan merobek tubuh mereka semua.


Tapi sejauh ini, para saudara-saudari Zhu hanya mengalami luka kecil karena kerja sama mereka yang baik.


“Kalian para anak nakal, aku akan membunuh kalian semua dan mempersembahkannya pada Tuan!” Monster itu masih menggeram menggunakan wajah Ny. Tua Xie yang terlihat semakin bertambah tua dengan kulit yang sangat pucat dan mengkerut.


“Monster jelek, sebenarnya apa yang kau inginkan? Di mana Nenek Xie yang asli?!” Yuxia balik meneriakinya sambil memaki. Baik, sebenarnya gadis ini sama sekali tidak terlihat seperti bangsawan sama sekali. Dia hidup liar dengan banyak pertarungan, langkahnya sangat gesit, sekali-sekali mengayunkan saber miliknya menebas tubuh monster yang terlihat lemah tapi sebenarnya lebih keras dari baja. “Sial!” Setelah itu dia mengutuk atas kegagalannya melukai makhluk itu.


“Yuxia! Lakukan dengan tenang. Kau tidak berbakat melakukan introgasi.” Wan Feng segera mengingatkannya karena baru saja mengeluarkan emosinya di depan Monster itu.


Semuanya segera tersadar, sebenarnya di Yilongfei, mereka para murid pernah di beritahu jika monster itu menyerap semua energi negatif yang berhubungan dengan perasaan benci dan amarah. Jadi mereka tidak boleh kehilangan kontrol akan diri sendiri saat berhadapan dengan makhluk itu.


Saat munculnya monster-monster di bukit awan musim semi lalu, rahasia keberadaan mereka tidak lagi menjadi rahasia.


Jika makhluk-makhluk itu berani muncul kembali di dunia kultivasi, itu adalah tanda bahaya bagi semua orang. Jadi semua Raja-raja dan Kaisar yang tidak hanya dari benua timur mengumumkan pemburuan monster di berbagai tempat. Dan Wan Feng yang memiliki jabatan penting di militer kekaisaran tentunya mendapat informasi lebih banyak dari warga biasa.


Dia juga berkali-kali bersama pasukannya membentuk tim-tim kecil, memburu makhluk itu di berbagai tempat di wilayah kekaisaran.


Waktu terus berlalu, tenaga semua orang terus terkikis dan semakin berkurang. Sementara Liana dengan seluruh keringat membasahi punggungnya hingga membuat pakaiannya menempel basah di kulit masih berusaha keras memurnikan dan memperbaiki kembali busur ajaib Weiling.


Sedangkan monster di depan seolah tidak pernah lelah, hanya luka-luka kecil dari serangan saudara-saudari Zhu yang terlihat di kulitnya yang mengeluarkan cairan hitam pekat yang diyakini sebagai darah makhluk sepertinya.


Karena kelelahan dan hampir kehabisan energi, Wan Feng dan lainnya bergerak semakin lambat. Jarak antara dirinya dan monster begitu dekan, dia memaksakan seluruh tangannya untuk mengangkat pedang ganda yang kini hanya tinggal satu di tangannya, yang lain sudah terjatuh entah di mana.


Dia bersahil menangkis serangan cakar, tapi karena tenaga yang ia keluarkan tidak cukup, dia terlempar sejauh beberapa meter.


“Kakak pertama!!!”


Pandangan Wan Feng memburam tapi dia dapat mendengar teriakan adik-adiknya. Hanya, yang dia lihat adalah sosok buram yang besar menghampirinya semakin dekat. Dan satu lagi yang bergerak cepat menghentikan makhluk itu. Tapi mungkin karena tidak cukup kuat, sosok itu juga terlempar. Dan dia mendengar adik-adiknya lagi berteriak.


Kakak ke-tiga, itu adalah Lianhu yang menolongnya. Wan Feng masih berusaha keras bergerak. Mengerjab beberapa kali sambil menggelengkan kepala, dan pemandangan yang ia lihat segera adalah monster itu yang mengangkat cakarnya tinggi ingin membelah tubuh Lianhu yang masih tergeletak di tanah.


Wan Feng mengertakkan giginya, dia mencoba berdiri dengan sekuat tenaga. Tapi terlambat sudah saat dia ingin mendekati mereka. Cakar monster itu sudah sangat dekat dari tubuh pingsan Lianhu.


“Kakak ke-tiga!!!”


“Lianhu!!!” Wan Feng berteriak tanpa sadar, menyeret tubuhnya dengan tergesa-gesa.


Wusssh!


Boom!!!


Suara ledakan memekakkan telinga terdengar oleh semua orang. Baru saat itulah, mereka mendapati cakar yang hendak merobek tubuh Lianhu hancur dan mengeluarkan asap. Bau gosong segera tercium memenuhi tempat. Dari arah berlawanan, Liana berdiri, masih mengangkat busur tanpa anak panah, yang baru saja ia gunakan adalah batu tempa yang langsung mengahancurkan targetnya.


~o0o~

__ADS_1



__ADS_2