[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana

[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana
32-Mulai Berburu


__ADS_3

Pagi kembali menyingsing. Dan matahari juga telah naik, jika diperkirakan dengan persamaan waktu di bumi, mungkin sekarang adalah pukul delapan. Semua orang telah menyelesaikan sarapan mereka dan kinilah saatnya acara yang ditunggu-tunggu setiap tahun oleh para Pemuda.


Para peserta dengan patuh berbaris si perbatasan bukit awan yang dikelilingi hutan rindang.


Hingga beberapa saat berlalu, Kaisar telah selesai dengan pidatonya, dia segera memberikan intruksi untuk para peserta memulai perburuan mereka.


Semuanya segera berbondong-bondong melesat ke dalam hutan. Ingin segera mendaki bukit dan mendapat buruan yang bagus. Semuanya nampak berambisi.


Lain hal dengan Liana yang masih berjalan santai, menatap tenang ke depan meski beberapa bisikan masih dia dengar dengan jelas.


"Hei, bukankah Nona Muda Pertama Zhu tidak dapat berkultivasi? Mengapa dia juga ikut berpartisipasi? Ku pikir dia datang hanya untuk meramaikan acara tahun ini."


"Entahlah, tapi ku rasa dia hanya ingin mengantarkan dirinya ke dalam bahaya. Binatang ajaib level satu saja sangat susah dihadapi oleh kultivator Penempaan Qi, apa yang bisa diharapkan dari pemborosan sepertinya."


"Sangat disayangkan. Padahal ku pikir semalam dia adalah orang yang cerdas karena kejadian tadi malam."


"Hmph, pada akhirnya seorang sampah tetaplah menjadi sampah."


"Ssst! Kecilkan suaramu. Mau bagaimana pun juga dia adalah Nona Besar Zhu dan keponakan Kaisar yang di sayangi. Kau akan dihukum mati nanti jika ketahuan menghinanya."


Bisikan-bisikan dari sekeliling hanya membuat Liana menghela napas. Tapi toh dia memang tidak terlalu memikirkannya. Sebab dia memang hanya berniat meramaikan acara ini. Tak ada keinginan sedikit pun untuk menang seperti yang lainnya.


"Kenapa orang-orang ini tak bisa menutup mulut mereka barang sekejab? Hanya tau cara untuk bergosip. Memuakkan!"


Lain dengan Liana, lain pula dengan Lanhua yang kini tangannya terkepal menahan amarah karena mendengar bisikan orang-orang yang menghina Liana dengan cibiran dan ejekan mereka.


Sebagai salah satu Kultivator yang berbakat, tentu saja visinya begitu tajam. Hingga suara kecil orang-orang itu dapat ia dengar. Tapi bukannya sesuatu yang baik, malah yang didengarnya membuat telinga Lanhua memanas.


Dia juga tak suka dengan tanggapan orang-orang itu pada sahabatnya yang mungkin sebentar lagi akan menjadi iparnya itu.


Liana hanya terkekeh mendengar gerutuan Lanhua dengan wajah cemberut yang menggemaskan di matanya.

__ADS_1


Sejak semalam gadis itu terus mengekorinya, bahkan dengan wajah memelas memohon padanya untuk tidur di satu tenda dengannya. Dan sekarang mereka juga memutuskan untuk pergi berburu bersama sebagai satu kelompok. Liana sendiri tak keberatan. Dia malah merasa cukup baik karena ada yang menemaninya.


Lagipula dia tidak mengenal baik daerah ini karena bertahun-tahun mengurung diri di halamannya.


Jadi dia merasa terbantu dengan keberadaan Lanhua sebagai pemandu jalan dalam petualangan mereka.


"Liana, kenapa kau bisa setenang ini menanggapi perkataan tak sopan orang-orang itu?" tanya Lanhua ketika keduanya telah memasuki kawasan hutan yang lebat.


Liana mengalihkan pandangannya dari sekitar dan menatap Lanhua di sampingnya. Dia tersenyum, "Memangnya aku harus bertindak seperti apa? Mereka tak mengenalku dan aku juga tak mengenal mereka. Apa yang harus dipusingkan dengan itu?"


Benar, Liana memang tidak seharusnya mengurus hal-hal yang tidak perlu seperti itu. Membuang-buang waktunya yang berharga.


Lanhua mengerucutkan bibirnya lucu dengan jawaban Liana. "Tapi mereka merendahkanmu. Aku saja marah mendengarnya. Tapi kau?"


Liana membuang napasnya lelah. "Jadi maksudmu, apakah aku harus pergi pada mereka dan marah-marah? Atau mengadu pada Ayah dan Paman Kaisar untuk memberi hukuman?"


"Bukankah seharusnya memang begitu?"


"Ini sakit," gerutu sang Putri sembari mengusap keningnya yang masih terasa perih karena ulah Liana.


Gadis itu bukannya kasihan tapi malah tertawa senang dengan penderitaan sahabatnya sendiri.


"Yah, ku pikir itu akan membuat pikiranmu lancar," ucap Liana tanpa rasa bersalah sedikit pun.


"Apa? Jadi kau pikir selama ini pikiran ku tak lancar? Aku ini bodoh, begitu?" tanya Lanhua yang mulai kesal.


"Kau tahu," jawab Liana dengan cengiran tanpa dosa.


"LIANA!!!" teriak Lanhua mengejar Liana yang berlari lebih dulu menghindari amukannya.


Haa, kenapa mereka bisa akrab secepat itu? Entahlah, mungkin karena mereka adalah teman lama. Atau karena pembawaan Lanhua yang ceria dan Liana yang bebas membuat keduanya menjadi cocok dan cepat akrab.

__ADS_1


Di saat keduanya bersenang-senang dengan saling kejar mengejar, tiba-tiba Liana menghentikan langkahnya secara mendadak. Tatapannya menjadi waspada pada sekitar.


Lanhua yang tak jauh darinya segera mengerti, sepertinya ada sesuatu yang disadari Liana.


"Ada apa?" Dia bertanya dengan nada pelan saat mendekati gadis itu.


"Ssst! Ada yang mengikuti kita," jawab Liana semakin menajamkan pendengarannya saat suara samar beberapa langkah kaki yang menginjak rumput.


"Empat ... lima ..., tidak, mereka bersepuluh." Mata Liana membulat saat menyadari bahaya yang datang.


Dia segera menggenggam tangan Lanhua berniat untuk membawanya lari dari sana.


Sebenarnya dia bisa saja melawan mereka, tapi dia tidak ingin terlalu awal untuk memamerkan kekuatannya. Mengingat jika musuhnya masih menjadi orang-orang yang lebih kuat darinya. Jika mereka tahu Liana telah dapat berkultivasi kembali, orang-orang itu pasti tak akan membiarkannya. Mereka akan memburunya. Dan saat itu, dia juga tak busa selalu mengandalkan orang-orang terdekatnya, Zhu Moran dan Wan Feng.


Liana menyadari sesuatu mengenai kematian ibunya. Wei Xiening adalah wanita yang berbakat dan juga sangat kuat.


Tapi dengan mudaha dikalahkan oleh mereka, siapapun di balik semua ini tidaklah sederhana. Mereka orang yang berbahaya hingga mampu menyudutkan Jenderal Wanita Kekaisaran Naga, Wei Xiening.


Sebab itulah dia mesti berhati-hati dalam bertindak. Saat ini dia masih begitu lemah untuk menghadapi musuhnya.


Tapi sebelum Liana melangkahkan kakinya, suara geraman dari segala sisi terdengar begitu dingin dan berbahaya.


Keduanya telah dikepung!


Selusin makhluk berbulu menatap keduanya dengan lapar. Bahkan dari taring-taring tajam para Serigala nampak tetesan liur yang terlihat menjijikkan. Mereka adalah kawanan yang tengah lapar. Dan saat ini mangsa yang terlihat begitu menggoda berada di depan sana. Hari ini pesta daging manusia membuat kabut di mata mereka menumpuk. Sangat ganas!


Grrrgh!


~o0o~


Segini aja ya... Penyakit males nya lagi kambuh... wkwk.

__ADS_1


__ADS_2