[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana

[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana
11-Wei Wuxian


__ADS_3

Kaisar berjalan dengan kehormatan tinggi dari para tamu. Janggut yang sedikit panjang dengan beberapa helai memutih tertiup angin sepoi menambah wibawanya beberapa kali lipat. Meskipun dia tidak menggunakan pakaian kebesarannya, itu msih tampak mewah dan gemerlap.


Dia langsung menuju ke tempat dimana pemilik acara berada.


"Jadi kau adalah keponakanku yang nakal itu, hm?" katanya memecah kesunyian semua orang saat berada di depan Liana yang masih memberi hormat dengan cara sedikit menunduk.


Liana yang mendengar itu mengangkat kepalanya. Dia hanya diam selama beberapa saat, namun matanya tetap tertuju pada pria paruh baya yang masih terlihat gagah itu.


Meski telah bertemu dengan banyak pemimpin di kehidupan sebelumnya sejujurnyan Liana agak gugup jika berhadapan dengan sang Kaisar Naga. Baru kali ini dia merasakan aura kepemimpinan yang begitu kental dari seseorang. Jantungnya agak berpacu tetapi wajahnya masih terlihat begitu datar tanpa emosi.


"Yang Mulia," ucapnya lagi menunduk memberi hormat.


Kaisar mengernyit tapi setelah itu menghela napasnya. Jadi sebenarnya berita yang didapatnya adalah kebenaran. Tentang bagaimana Liana telah kehilangan ingatannya.


Kaisar semakin mendekati Liana yang masih memberi hormat padanya. Tangannya terulur menepuk kepala itu beberapa kali dengan ringan.


Liana tersentak namun tetap diam. Semua tindakan Kaisar juga disaksikan oleh para tamu. Banyak yang iri dengan itu, termasuk beberapa orang yang memiliki skema dalam pikiran mereka untuk Liana. Tapi beberapa orang lagi tersenyum melihat interaksi keduanya. Yah, Zhu Moran dan Wan Feng lah orangnya.


"Panggil aku Paman sebagaimana kau selalu memanggilku dulu. Li'er adalah keponakanku yang baik." Kaisar tersenyum saat matanya bertemu dengan mata gelap Liana lagi.


Liana berkedip tidak tahu harus menjawab dengan apa. Tapi dia lebih sopan dan mengangguk setelah itu.


"Baik, Paman."


Kaisar tersenyum mendengar jawaban Liana. Tapi dia hanya bisa menghela napas dalam hati melihat keponakannya itu tidak memiliki banyak ekspresi. Dimana gadis kecil yang ceria itu? Agak menyesal tapi dia tidak bisa membantu dan hanya terdiam.


Mata Liana kemudian beralih pada samping Kaisar. Disana dia melihat seorang laki-laki muda yang mungkin seumuran dengan Wan Feng. Tapi alisnya mengernyit karena merasakan hawa keberadaan laki-laki itu sangatlah tipis.


Dia lalu melihat orang-orang disekitar yang sepertinya tidak menyadari keberadaan laki-laki itu.


"Paman, siapa dia?" Liana akhirnya menyerah dan memilih untuk bertanya pada Kaisar.


Semua orang termasuk Kaisar tersentak dikala Liana menunjuk seseorang di sebelahnya.


"Ha, ternyata kau masih bisa menyadari keberadaan Ah-Xian." Kaisar tertawa canggung.


Tapi tidak dengan orang-orang disekelilingnya yang begitu terperanjat. Mereka lalu serempak memberi salam pada laki-laki itu.


"Salam, Yang Mulia Pangeran Ke-tiga, semoga diberikan umur yang panjang."


Sedangkan orang yang diberi salam hanya tersenyum lembut pada Liana yang melihatnya dengan tatapan aneh.


"Pangeran Ketiga?" gumam Liana pelan sekali. Dia kembali mengingat-ingat cerita Wan Feng tentang keluarga Kaisar. Dan satu nama muncul dalam otaknya, 'Wei Wuxian', Pangeran Ke-tiga Kekaisaran Naga. Putra dari Permaisuri terdahulu yang meninggal dunia setelah melahirkan. Dan dia juga adalah tunangan Zhu Liana. Agak mengejutkan bagi Liana. Entah kenapa dia merasa belum siap untuk bertemu laki-laki muda ini. Juga entah kenapa dia merasa begitu gugup di dekatnya. Baru pertama kali dia merasakan hal ini.

__ADS_1


Liana mengalihkan perhatiannya kembali pada informasi yang dia dapat dari Wan Feng juga beberapa tambahan yang diberitahu Ling saat dia bertanya.


Dikatakan bahwa Wei Wuxian memiliki kondisi yang unik. Yah, seperti yang disadari Liana barusan, hawa keberadaannya begitu tipis. Tak ada yang tahu mengapa kondisi sang Pangeran bisa seperti itu. Tapi banyak yang bilang bahwa dia terkena kutukan. Entah kutukan apa? Tapi ada juga yang bilang bahwa kondisinya itu adalah penyakit yang tidak bisa disembuhkan.


"Li'er?" panggil Wuxian seraya menyerahkan bingkisan yang dibalut dengan kain sutra.


"Untukku?" tanya Liana memastikan. Sepertinya hanya berniat basa-basi atau memang dia terlalu bingung menghadapi keadaan.


Sang Pangeran, mengapa terasa begitu familiar. Meski dia baru pertama kali bertemu. Dan juga, tidak ada ingatan yang ditinggalkan Zhu Liana tentang Wei Wuxian ini. Lalu ada apa dengan perasaan dejavu yang Liana rasakan?


Wei Wuxian juga memanggilnya dengan begitu intim. Apa memang mereka begitu dekat?


"Mn, untukmu. Selamat ulang tahun." Wuxian tersenyum. Dia terlihat ... begitu manis di mata Liana. Oh, ada apa dengannya? Kenapa bisa menganggap sang Pangeran manis? Ini, ini tidak seperti Liana yang biasa.


Liana memperhatikan sang Pangeran lama. Hingga sesuatu kembali menyerang otaknya. Liana mengernyit saat merasakan kepalanya begitu sakit. Dia mendengar suara-suara yang saling tumpang tindih.


[“Jadi, kakak! Nama kakak siapa?” ]


[“Na- namaku ....” ]


[“Jadi aku akan menikah denganmu? Woah, ini hebat sekali. Kata ayah, jika orang berjodoh akan dipertemukan. Jadi kita adalah jodoh!” ]


[“Jadi, kakak. Aku akan memanggilmu Xian gege. Boleh?” ]


[“Yey! Jadi, Xian gege. Xian gege juga harus memanggilku Li’er karena kita akan segera menikah. Aku akan menjadi istri yang baik seperti ibu.” ]


"Xian gege ...." Liana berguman tanpa sadar. Akan tetapi gumaman itu entah kenapa hanya bisa di dengar oleh Wei Wuxian. Kepalanya telah berhenti mengalami rasa sakit. Dia hanya mengernyit aneh dengan apa yang dilihatnya barusan. Sepertinya ingatan masa kecil Zhu Liana. Akan tetapi Liana merasa jika ingatan itu adalah miliknya.


Sedangkan sang Pangeran mengangkat sudut bibirnya mengulum senyum cerah. Tak ada yang begitu memperhatikan, orang-orang hanya melihat interaksi biasa antara mereka.


Liana menggelengkan kepalanya agar kembali ke dunia nyata. Dia melihat jika hadiah masih berada di tangan Wuxian.


"Ah, terima kasih, Pangeran." Liana segera mengambil bingkisan dari tangan Wuxian akan tetapi di tahan oleh sang Pangeran.


"Xian gege ... kau selalu memanggilku Xian gege." Wuxian dengan semangat berkata.


"Benarkah?"


"Ya!" Wuxian menjawab sambil mengangguk cepat.


"O-oh, maka baiklah."


Wuxian tersenyum, tapi tangannya belum juga lepas dari bingkisan yang ingin dia berikan. Sedangkan Liana hanya terdiam mengalihkan pandangannya antara bingkisan itu dengan Wei Wuxian berulang kali. Menatapnya aneh.

__ADS_1


"Pangeran ...."


"Xian gege!" Wuxian memperjelas lagi dengan memotong ucapan Liana.


"Ah ya. Xian gege, jika kau tidak berniat memberiku hadiah ini maka jangan memberikannya dari awal," ucap Liana tanpa emosi sedikit pun. Dia hanya berkata bukan bermaksud untuk marah atau kesal. Hanya saja ekspresinya yanga serius itu membuat orang lain salah paham.


"Aa', aku ... aku, maafkan aku." Wuxian dengan cepat melepas tangannya dari bingkisan membuat Liana terkejut hingga hampir membuat hadiah yang diberikan padanya itu terjatuh. Untung saja dia bergerak cepat dan sigap.


Liana menghela napasnya lega. Kemudian memandang Wei Wuxian sekali lagi. Entah kenapa dia tidak mampu memarahi sang Pangeran. Jadi dia hanya bisa menghela napas sekali lagi melihat Wuxian menampilkan wajah kikuk dan bersalah.


Yah, sebenarnya dari tadi mereka berdua hanya sibuk dengan dunia sendiri tanpa memperhatikan orang-orang di sekitar mereka yang menyaksikan adegan demi adegan yang mereka lakukan. Terlihat aneh tapi juga manis. Ahaha.


Bahkan Kaisar sendiri sudah terlebih dahulu menyingkirkan dirinya di antara mereka, memilih untuk menghampiri Zhu Moran untuk melihat kedekatan para anak muda.


"Moran, sepertinya kita akan cepat memiliki cucu," celetuk Kaisar tiba-tiba membuat Zhu Moran tersedak napasnya sendiri.


Bahkan Wan Feng yang duduk tak jauh dsri keduanya memandang Kaisar dengan penuh antisipasi. Tapi dia juga bertanya dalam hati apa dia akan segera menjadi seorang Paman nantinya. Pikirannya telah melalang buana kemana-mana.


Sedangkan Liana dan Wuxian tidak mendengar apapun karena masih mengobrol ... dalam pikiran, mungkin? Karena keduanya hanya diam memperhatikan satu sama lain disana.


Para tamu juga tidak lagi memperhatikan, tapi kembali sibuk pada kegiatan masing-masing. Makan dan bergosip.


"Yang Mulia ...."


"Ahaha, aku hanya bercanda. Kau jangan terlalu serius." Kaisar tertawa seraya menepuk pundak Zhu Moran.


Setelah acara canggung-canggungan itu, perjamuan tetap dilanjutkan dengan meriah. Diisi dengan musik dan tarian. Suasana kembali ramai.


Liana kembali ke tempat duduknya, menyaksikan acara dalam diam memikirkan apa yang perlu dia pikirkan.


Lalu Wuxian juga telah duduk di tempatnya, itu di sebelah Wan Feng.


Setelah itu tak ada yang begitu istimewa dalam acara. Konflik dan sebagainya atau acara drama rumah tangga yang sering Liana baca melalui novel. Hanya acara ulang tahun biasa yang pertama kali Liana rasakan.


Acara itu berjalan dengan lancar hingga selesai dan para tamu kembali ke kediaman mereka masing-masing, termasuk Kaisar dan Pangeran Wei Wuxian.


Hanya mereka yang datang dari istana selain para penjaga tentunya. Tidak ada anggota keluarga Kaisar yang lain. Karena memang Kaisar mengkhususkan dirinya datang bersama putra ke-tiganya itu.


~o0o~


Halo halo📣


Maaf lho ya, kemarin nggak Up karena ada acara di desa, jadi nggak sempet nyelesaiin ketikan.

__ADS_1


Note: Bab selanjutnya sedang dalam masa pengerjaan.


Jangan lupa KRITSAR!✌


__ADS_2