[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana

[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana
61-Racun


__ADS_3

Wan Feng begitu heran dengan sikap adiknya itu. Liana sedari tadi sama sekali tidak menyentuh sup kacang, tapi juga melarangnya untuk menyentuh makanan itu.


Dengan rasa penasaran, dia akhirnya bertanya, "Kenapa kau menyuruhku untuk tidak memakannya jika kau sendiri juga tidak menyentuhnya sama sekali?"


Liana mengangkat kepalanya memandang manik cokelat sang kakak.


Dengan helaan napas, Liana mengangkat mangkuk sup dan mendekatkannya di bibir. Tapi ekor matanya lebih dulu melirik ke sudut jendela, dia tersenyum sinis setelah bayangan di sana menghilang.


Mangkuk sup yang tadinya telah sampai di depan mulutnya kembali ia jauhkan.


Liana berdiri menghampiri pot berisi tumbuhan berbunga tak jauh dari meja mereka. Dengan tidak berperasaannya, Liana membuang sup kacang ke dalam pot.


Tindakannya jelas membuat Wan Feng keheranan. Saat dia ingin bertanya, mengapa Liana membuang sup? Matanya segera membesar melihat kejadian selanjutnya.


Tanaman yang ada di dalam pot itu langsung menjadi layu lalu mengering hingga akhirnya berubah menjadi abu. Jelas sup kacang mengandung racun mematikan. Kejadian itu sangat cepat, hanya beberapa saat, namun sudah mampu membuat darah Wan Feng naik ke ubun-ubun.


Siapa yang mengira jika mangkuk berisi sup yang terlihat begitu menggugah selera itu malah mengandung racun?!


Wajah sang Tuan Muda Pertama Zhu itu memerah menahan amarah.


"Siapa ... siapa yang berani?!" Dengan usaha keras dia mencoba untuk tidak berteriak di aula leluhur karena akan dianggap sebagai tindakan tak hormat pada buyut mereka.


Liana sendiri hanya menatap dingin pada tumbuhan yang tadinya hidup dalam pot. Dia sedari awal sudah mencium aroma berbeda dalam makanan yang tersaji.


Heh! Jangan remehkan penciumannya yang bahkan lebih tajam dari penciuman seekor anji*ng, apalagi sekarang dia telah menjadi pembudidaya energi alam, ketajaman visinya tentu meningkat beberapa kali lipat dari manusia biasa. Ribuan aroma berbeda dapat dia cium dan pisahkan dalam satu waktu. Itulah alasan mengapa Liana memiliki bakat tinggi dalam bidang Alkimia dan Farmasi.


Yah, dan juga, Liana telah melihat gerak-gerik para pelayan yang datang. Satu orang dari meraka terlihat begitu tenang, terlalu tenangnya hingga membuat kecurigaan dalam diri Liana.


Dan pelayan itu adalah orang yang membawa Sup Kacang. Sebab itulah dia menyuruh Wan Feng untuk tidak memakan sup.


Untungnya sang kakak menurut, jika tidak, mungkin dia akan membuang sup itu langsung tanpa membuat tindakan pura-pura memakannya lebih dulu.


"Racun Kalajengking Merah." Nada bicara Liana begitu dingin bersamaan dengan suhu ruangan yang semakin turun.


Musuhnya kali ini memang tak main-main meskipun masih menggunakan cara klise. Membunuh dengan racun mematikan. Benar-benar rencana kuno namun dapat merenggut begitu banyak nyawa sepanjang sejarah.


Racun Kalajengking Merah tentunya adalah racun yang sangat berbahaya. Liana mengenal jenis racun ini saat dirinya masih bertugas sebagai anggota biasa WSA, mengintai buronan yang kabur di padang gurun bagian Timur Tengah.


Racun yang begitu mematikan. Membuat organ dalam tubuh terasa begitu panas seolah terbakar selama sehari penuh, jika tidak segera di beri penawar, rasa terbakar itu akan terus ada hingga menjelang kematian. Dan juga, racun ini sangat sulit di deteksi jika bukan oleh ahlinya.


Benar-benar cara terkejam untuk membalas dendam. "Mereka sepertinya sudah tak sabar setelah sekian lama tak kunjung bisa menyentuhku."


"Li'er, sebaiknya kita laporkan masalah ini lebih dulu pada Ayah." Ucapan Wan Feng sontak langsung membawa Liana ke dunia nyata.


"Tidak, jangan biarkan Ayah mengetahui hal ini."


"Kenapa Ayah tidak boleh tahu?" Wan Feng benar-benar tak bisa menebak jalan pikiran adiknya itu.

__ADS_1


Liana tersenyum saat mendengar perkataan Wan Feng, senyuman yang memiliki arti lain. "Kabarkan jika aku tengah sakit," ucap Liana saat mata gelapnya bertemu dengan manik cokelat Wan Feng.


"Apa maksud ...."


Sebelum Wan Feng menyelesaikan kalimat tanyanya, Liana sudah lebih dulu memotong dengan sebuah pertanyaan. "Kakak, apa kau ingin mengetahui siapa pelaku sebenarnya?"


"Tentu saja," jawab Wan Feng cepat.


"Ya kalau begitu ikuti saja rencanaku. Mereka mungkin akan melakukan sesuatu lagi setelah ini."


"Li'er, kau sebenarnya sudah mengetahui orangnya, bukan?"


"Huh! Tapi kita juga harus memiliki bukti, bukan? Meski pun aku tahu, tapi sulit menyentuh mereka tanpa bukti nyata," jelas Liana.


Tentu saja, bukti adalah sesuatu yang mesti ada untuk menghadapi ular-ular berbisa nan licik seperti mereka.


"Ya sudah, ayo lanjutkan sebelum Ayah menambah hukuman." Liana kembali duduk di depan meja penuh kertas. Dia ingin kembali menyalin buku aturan.


Wan Feng sendiri hanya diam berdiri di dekat meja makan. Haih, makanannya saja belum habis dia suap, akan tetapi seleranya benar-benar hilang saat melihat bagaimana Liana menumpahkan sup kacang berisi racun.


Dia juga segera mendekati meja belajar dan mulai menyalin. Akan tetapi dia memperhatikan ketenangan Liana. Gadis itu ... masih bisa bersikap begitu santai saat mengetahui ada yang menginginkan nyawanya.


"Li'er, tidakkah kau ingin menjalankan rencana? Pelakunya pasti berpikir kau sudah memakan racun."


"Tenang saja, racun itu memiliki efek yang lebih lambat pada manusia, apalagi pada seorang kultivator. Rencana akan dimulai nanti malam. Selebihnya, aku akan menyelesaikan ini lebih dulu."


Setelah mengatakan kalimat yang lumayan panjang tersebut. Liana membunyikan jari-jarinya yang terasa pegal karena terlalu lama memegang kuas. Dia kembali menulis setelah itu.


Keheningan kembali terjadi dalam ruangan itu. Pasangan kakak beradik Zhu dengan khidmat dan hanya fokus pada apa yang mereka kerjakan hingga tak menyadari jika mentari hendak berpamit, tenggelam di barat.


"Fuaah! Duduk seharian membuat leherku pegal," keluh pemuda bermata cokelat itu sambil merenggangkan tubuhnya.


Liana menggeleng melihat kelakuan sang kakak.


"Selesai!" serunya dengan helaan napas di akhir. Setelah itu Liana meletakkan kuas di tempat semula sambil menunggu tinta-tinta mengering.


Dia seketika terkekeh geli, kenapa tidak menggunakan pulpen saja ya dari tadi? Padahal dia kan memang punya. Jadi tidak harus bersusah payah mengipasi kertas supaya tinta cepat mengering.


Dengan alis terangkat, Wan Feng berkata dengan heran, "Kau kenapa, Li'er?"


Mendengar pertanyaan kakaknya, Liana malah semakin terkekeh. "Tidak ada." Gadis itu menggeleng dengan sisa tawa kecilnya.


Wan Feng memutar bola matanya malas mendengar jawaban Liana. Semoga saja adiknya itu tak kehilangan satu sekrup di otak karena terlalu lelah menyalin.


Tak peduli lagi, Wan Feng segera beranjak dari ruangan itu tak lupa mengajak Liana.


"Hari sudah malam, sebaiknya kita beristirahat. Oh, dan ya. Kau bilang akan memulai rencana malam ini. Aku akan mengantarmu ke Paviliun Teratai Bulan."

__ADS_1


Liana hanya mengangguk mendengar tawaran Wan Feng. Dia juga sedikit lelah hari ini, makanan terakhir yang mengisi perut keduanya hanya makanan siang tadi, itu pun tak banyak karena mereka masih mencurigai keberadaan racun lain.


Meski Liana sudah menjadi kultivator, tapi dia sama sekali belum melatih dan mempraktikan Inedia untuk menahan lapar. Dia belum terbiasa dengan itu. Tidak seperti Wan Feng yang memang sudsh sering melakukan Inedia.


Yah, dan malam itu juga mereka benar-benar melakukan apa yang Liana rencanakan.


Wan Feng memberitahu sang Ayah Zhu Moran tentang keadaan adiknya yang kurang baik, jadi tidak ikut makan malam bersama mereka seperti biasanya.


Zhu Moran tentu menjadi khawatir dengan keadaan putri kesayangannya itu.


"Tenanglah, Ayah. Li'er berkata dia hanya merasa lelah karena seharian terus berdiam diri di dalam aula luhur. Katanya dia hanya butuh istirahat saja," tutur Wan Feng menenangkan sang Ayah.


Zhu Moran yang semulanya ingin menjenguk Liana akhirnya mengurungkan niatnya dan kembali duduk di kursi untuk makan bersama keluarganya.


Ah, keluarganya ya? Apa bisa di bilang seperti itu? Selama ini dirinya hanya menganggap Wei Xiening dan buah hatinya bersama wanita itulah yang menjadi keluarga. Yang lain, haha ... dia hanya memberikan mereka status keluarga saja.


Pilih kasih? Yah, katakan saja seperti itu. Tapi itu terserah dirinya saja. Sebab dia tidak pernah berniat menerima orang-orang tebal muka sebagai bagian dari keluarganya, bahkan jika mereka memiliki darah yang sama dengannya.


Baik, lain Zhu Moran lain pula dengan dua orang yang sedari tadi memasang tampang berlebihan.


Yah siapa lagi jika bukan Wen Canran dan Yuan Feihua--orang-orang tertulis dalam daftar hitam Liana. Hoho!


Benar-benar munafik! Lihatlah saat ini wajah keduanya yang begitu kentara jika kekhawatiran mereka tengah di buat-buat.


Akting yang sangat jelek hingga menghilangkan selera makan Wan Feng.


"Tuan Muda Pertama, memangnya apa yang dilakukan Nona Ke-dua hingga membuat dirinya tak baik-baik saja?" Ini Wen Canran yang bertanya. Dia memang lebih aktif berbicara dari Yuan Feihua di depan orang lain.


Wan Feng lebih dulu melihat raut wajah Ayahnya. Mata pria paruh baya itu menyipit memandang Wen Canran saat pertanyaan wanita itu terlontar.


"Hah, apa yang bisa dia lakukan? Kau telah berusaha membunuhnya." Wan Feng membatin.


Sebelumnya memang Liana tak memberitahu siapa pelaku yang berusaha meracuni mereka berdua. Akan tetapi setelah Wan Feng melihat gerak-gerik para selir Ayahnya itu, dia menumbuhkan kecurigaan pada mereka.


Hei! Dia bukanlah orang yang bodoh jika tidak menyadari hal sejelas pandanganya itu. Jika tidak, bagaimana mungkin dia di angkat menjadi seorang Lentan Jenderal?


Saat ini, Wan Feng rasanya benar-benar ingin melemparkan wanita itu ke dalam lautan api, membakar jiwanya sekalian supaya tidak dapat bereinkarnasi.


Hanya saja dia perlu menjalankan rencana adiknya. Pikiran yang tenang dan kepala dingin benar-benar dibutuhkan saat ini.


Wan Feng mengepal tangannya erat di balik meja untuk meredakan segala emosi yang menumpuk sedari siang.


"Selir Wen, kau terlalu perhatian pada adikku," ucap Wan Feng akhirnya dengan senyuman miring andalannya saat ingin mengintimidasi lawan.


~o0o~


Episode ini ... gimana ya?

__ADS_1


ee' duh... aku nggak komen deh... haha😅


Note: Sip! Menuju kehancuran para Antagonis....


__ADS_2