![[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana](https://asset.asean.biz.id/-reinkarnasi--sayap-takdir--zhu-liana.webp)
Hari berangsur-angsur gelap menjadi malam. Hujan juga akhirnya telah berhenti ketika awan di langit bergeser meninggalkan pemandangan langit yang di penuhi milyaran bintang yang agak kabur karena terhalang cahaya bulan yang melingkar penuh.
Benar, malam ini adalah malam pertengahan bulan yang mana sering menjadi tanggal acara-acara khusus di berbagai daerah. Tak terkecuali bagi penduduk di sekitaran Kota Pelabuhan di perbatasan antara Benua Timur dan Benua Tengah.
Begitu hujan reda, sudah banyak dari orang-orang itu keluar rumah menuju ke satu tempat tertentu.
Pemandangan seperti ini berbeda bagi Liana yang jarang sekali keluar bahkan dari kediamannya sendiri. Dia dan Wei Wuxian tadinya baru saja keluar untuk melihat-lihat saat mendapati gerombolan orang tiba-tiba sudah memenuhi jalanan.
Laki-laki dan perempuan, Tua mau pun Muda berbaris dan berkelok beriringan di jalanan utama sambil membawa obor mau pun lentera sebagai penerangan jalan. Sambil menyanyikan bait-bait yang Liana tidak mengerti artinya, tapi nadanya terdengar bagus jadi Liana menikmatinya dan semakin penasaran dengan apa yang sedang mereka lakukan.
“Apa yang sedang mereka lakukan.” Liana segera bertanya pada resepsionis penginapan yang berdiri di sampingnya yang juga menyaksikan keramaian.
“Ah, ini tradisi masyarakat lokal di setiap pertengahan bulan untuk pergi berziarah ke kuil suci dan mempersembahkan kurban supaya hidup mereka diberkati dan menjadi sejahtera sepanjang tahun.” Resepsionis itu dengan ramah menjelaskan pada Liana.
Dan dari percakapan singkat selanjutnya, Liana mengetahui jika resepsionis dan suaminya bukanlah penduduk asli kota pelabuhan ini. Mereka telah datang ke tempat ini sejak dua puluh tahun lalu dan memutuskan untuk menetap setelah melahirkan seorang anak. Mereka juga telah membangun penginapan ini setelah itu.
Sebenarnya banyak yang mirip dengan resepsionis dan suaminya, tak jarang pula orang-orang ini berasal dari berbagai negara atau bahkan juga berasal dari Benua Lain. Mengingat dengan keunikan Kota Pelabuhan itu sendiri, tidak mengherankan bagi para turis untuk terpesona.
Oh, ngomong-ngomong, Kota Pelabuhan itu sendiri adalah bagian dari Kekaisaran Naga. Tepatnya terletak di barat daya sebuah Negara kecil yang berafilialisasi dengan Kekaisaran.
“Apa kau ingin melihatnya?” Tiba-tiba dari sisi lain, suara Wei Wuxian terdengar berbisik di telinga Liana.
“Um, aku agak penasaran dengan tradisi kuno seperti ini,” jawab Liana.
__ADS_1
Kemudian keduanya mengikuti rombongan dan berjalan di belakang seperti turis-turis lain yang penasaran. Banyak dari mereka yang membawa sesuatu yang semacam batu spiritual, tetapi sebesar genggaman tangan dan agak pipih di tangan mereka. Jika tidak salah, itu mirip dengan kamera video di dunia modern, hanya saja itu hanya menampung satu video saja, setelah itu tidak bisa lagi di gunakan untuk mengambil yang lain.
Liana telah banyak melihat benda sihir seperti itu di Manor Perdana Menteri maupun di akademi, jadi dia sudah tidak terlalu terkejut, tetapi dia masih merasa takjub dengan teknologi dunia ini yang tak kalah dengan dunia Modern. Apalagi jika digabungkan dengan hal-hal magis, bukankah itu bisa menjadi lebih fantastis?
Sudah hampir satu tahun, Liana tanpa sadar sudah mejadi lebih terikat dengan ruang waktu yang ia tempati saat ini.
Mereka semua hanya membutuhkan tidak lebih dari seperempat jam untuk sampai ke tempat tujuan. Itu adalah sebuah kuil yang nampak cukup kuno dan besar dengan hutan-hutan berpohon tinggi dan lebat yang mengelilinginya.
Baru pada saat itulah nyanyian-nyanyian yang dilantunkan penduduk asli berhenti terdengar. Seluruh orang terdiam sehingga menjadi sunyi dan khidmat.
Sejenak saat Liana menatap gerbang kuil yang megah dengan berbagai totem di pintu yang terbuat dari tembaga, dia merasakan sebuah kekuatan misterius yang berasal dari hal-hal yang lebih primitif, yang membuatnya merasa aneh dan sedikit familiar.
Ada plat nama di atas pintu bertuliskan ‘Kuil Suci’ yang diukir dengan kaligrafi. Tulisan memiliki goresan yang kuat, mendominasi dan ada sedikit kesombongan yang tidak dapat dijelaskan membuat orang merasa itu wajar.
Semua orang berkumpul sampai beberapa saat ketika gerbang akhirnya terbuka memperlihatkan bangunan kuil yang tak kalah megah dan primitif di dalamnya.
Ada dua biarawati yang menyambut kedatangan para pederma. Keduanya seketika memiliki perasaan suci dan tidak duniawi tetapi memasang kerendahan hati.
Liana mengukur kekuatan kedua biarawati. Dan mengejutkan, dia mendapati keduanya sudah berada di Alam Pelatihan Roh dan sudah di tingkat akhir Roh Prajurit. Mungkin sebentar lagi mereka dapat menerobos ke tingkat selanjutnya.
Liana berhenti memperhatikan saat salah satu biarawati itu mengumumkan agar para pengunjung dipersilahkan memasuki kuil. Upacara persembahan akan segera dilakukan. Yang Agung-lah yang akan memimpin upacara kali ini.
Jadi semua orang dengan semangat berbaris rapi saat mereka memasuki kuil. Liana, Wei Wuxian dan semua turis lainnya juga ikut masuk menyaksikan kegiatan yang akan dilakukan di dalam kuil.
Melihat tentu berbeda daripada merasakannya sendiri. Saat mereka masuk, semburan energi spiritual murni langsung membilas pori-pori semua orang. Pada saat itulah terdengar beberapa helaan napas puas dari beberapa turis. Meski yang lain tidak mengatakan apa pun, mereka juga senang dengan melimpahnya energi spiritual di sekitar.Benar-benar surga bagi para kultivator.
Liana juga sekejab takjub dengan apa yang ia rasakan, meski pun energi spiritual di daerah kuil ini tidak setebal di dalam Ruang Dimensi Sayap Kembar miliknya, ini juga masih tempat yang berlimpah, hampir menyamakan ketebalan energi spiritual di Akademi Yilongfei. Intinya, ini adalah tempat yang bagus untuk berkultivasi.
__ADS_1
Tetapi tujuan Liana bukanlah tempat ini, dia tidak akan mendapatkan apa pun jika dirinya berkultivasi di tempat seperti ini. Tempat seperti Kuil Suci ini terlalu terkekang dari dunia luar. Itu tidak sejalan dengan Dao Liana. Lagipula, tempat ini tidak akan mampu membuatnya menerobos.
Liana melihat ke sekeliling. Bangunan-bangunan kuil yang terbuat dari batu dengan aura spiritual itu nampak sangat kokoh.
Sebelum mencapai bangunan utama, mereka terlebih dahulu melewati sebuah danau kecil dengan banyak tumbuhan teratai yang bunganya bermekaran. Sungguh pemandangan yang sangat indah dan memanjakan mata. Jika ini berada di dunia modern, mungkin sudah menjadi destinasi wisata yang populer.
Banyak juga pepohonan yang tumbuh subur di sekeliling danau, dan ada beberapa patung dewa-dewi yang diyakini oleh masyarakat setempat dengan ukuran sedang yang terbuat dari perunggu di beberapa tempat. Banyak sesajen ditempatkan di bawah patung.
Ini penuh dengan suasana surgawi. Yah, setidaknya itu yang dipikirkan oleh Liana. Saking asyiknya dia memperhatikan, dia bahkan mengabaikan seseorang yang berada di sampingnya, memegang tangannya semakin erat dengan wajah yang sedikit kesal sekaligus geli.
Wei Wuxian sedari tadi hanya melihat gadis itu saja, tetapi mata gadisnya hanya terus bersinar memperhatikan sekeliling. Dia agak cemberut karena telah lama dilupakan, tetapi juga merasa lucu melihat ekspresi Liana yang seperti anak kecil yang mendapat mainan baru.
Baik, lagi-lagi hanya bisa menjadi salahnya. Siapa yang menyuruhnya jatuh cinta pada orang yang kurang pengertian seperti Liana?
Wei Wuxian menghela napasnya dalam hati. Li’er-nya memang terlalu menggemaskan untuk bisa membuatnya marah padanya.
“Li’er, apa yang kau perhatikan, hm?” Wei Wuxian tak tahan untuk bertanya.
“Ah!?” Liana tersentak dari perhatian. Dia kemudian mengingat jika dia datang bersama seseorang.
Melihat tatapan yang lain, Liana entah kenapa merasa malu. Dia terlalu antusias hingga melupakan segala hal di sekitarnya. Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya. “Tidak, ini hanya tempat yang bagus.”
Benar, karena sangat jarang dia mengunjungi tempat-tempat seperti ini ketika dirinya masih berada di dunia Modern. Kehidupannya hanya dipenuhi dengan tugas dan tugas, hampir tidak pernah bersantai. Apalagi berlibur mengunjungi tempat-tempat baru. Hari liburnya bahkan menjadi hari latihan atau untuk meninjau tugas tugas selanjutnya.
Dia bisa dikatakan sebagai pekerja rodi dalam militer.
~o0o~
__ADS_1