![[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana](https://asset.asean.biz.id/-reinkarnasi--sayap-takdir--zhu-liana.webp)
Malam itu cuacanya menjadi lebih dingin dari biasanya dengan angin bersalju yang terbang seperti bulu angsa, memenuhi halaman dengan warna putih keperakan. Tetapi Liana masih berdiri di depan jendela kamarnya yang terbuka. Yah, dia sedang menunggu seseorang.
Benar, Liana sudah memutuskan secepatnya untuk melakukan kultivasi tertutup. Dan besok adalah waktunya. Dia telah mengabari orang-orang yang seharusnya dikabari siang ini, meski mendadak, kebanyakan orang telah menunjukkan dukungan kepada dirinya. Izin dari avademi juga sudah didapatkan melalui surat cepat.
Dan segala urusan yang perlu diurus telah dia selesaikan, termasuk dengan pelelangan rakyat yang ia buat beberapa bulan lalu. Bangunan untuk tempat lelang telah selesai, dan operasi rumah lelang itu telah berjalan untuk beberapa waktu. Dia telah mempercayakan sepenuhnya kepada Nyonya An, sang perintis rumah lelang. Nyonya An adalah orang yang bertanggung jawab.
Begitu pula hal-hal lainnya. Itu sebagian besar sebenarnya telah selesai di jauh-jauh hari.
Karena itu pula dia berani memutuskan untuk masuk ke dalam kultivasi tertutup yang sesungguhnya tidak hanya membutuhkan satu atau dua hari, tetapi bisa berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.
Untuk kali ini, dia telah memutuskan berkultivasi sebelum hari pernikahannya dengan Wei Wuxian yang telah di sepakati dua tahun mendatang.
Liana tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Tetapi dia telah memutuskan untuk menjadi lebih kuat untuk menghadapi musuh yang menunggu dari balik bayangan. Dia hanya dapat berharap, orang-orang yang dia cintai akan aman dan selamat selama dirinya tidak ada.
Dan untuk saat ini, dia hanya tinggal menunggu waktu keberangkatannya dengan hati yang tenang. Liana sebenarnya telah memutuskan tempat tujuan kultivasinya, tempat yang tidak lagi berani dia datangi setelah mengingatnya juga tempat yang dia rindukan.
Benua Tengah, Pegunungan Abadi, kampung halamannya yang sebenarnya, atau katakan saja sebagai tempat kelahiran pertamanya.
Liana tidak bisa selalu mengandalkan Ruang Dimensi Sayap Kembar. Meski pun energi Qi sangat melimpah di dalam sana, dia sudah tidak bisa naik lagi jika berkultivasi disana. Dan lagi pula dia bermaksud untuk menerobos ke ranah yang lebih tinggi.
Jika berkultivasi di Ruang Dimensi, dia tidak mungkin naik karena Dao Surga tidak berlaku disana, intinya dunia dalam Ruang Dimensi Sayap Kembar adalah milik Liana sepenuhnya, dia bebas melakukan apa saja di dalamnya selama dia memiliki energi spiritual dan kekuatan yang cukup untuk mengimbanginya.
Ruang Dimensi Sayap Kembar untuk saat ini hanya berguna untuk kultivasi dasar. Ruang itu sebenarnya akan ikut berkembang jika dia menjadi semakin kuat. Masih hanya satu dari tiga tingkat yang terbuka, yaitu ruang ilusi. Tidak tahu apa dua isi ruang lainnya, Liana hanya akan mengetahuinya setelah terobosan.
Dan dia juga tidak dapat tinggal di Benua Timur, terlebih dengan banyaknya kekacauan yang ditimbulkan oleh pasukan Monster yang tersebar di seluruh Benua, itu akan menghalangi ketenangan dalam pelatihannya.
Saat Liana merenung, angin berhembus dengan kuat menerpa wajahnya, dia segera berbalik dan sudah mendapati seorang pria dengan surai merah seperti air terjun darah duduk dengan santai dan elegan, menuangkan teh pada cangkir yang ada di atas meja untuk dirinya sendiri.
Pria itu, Wei Wuxian tersenyum padanya, “Apa yang Li’er pikirkan, hm?”
Liana tidak segera menjawab, dia melihat api di lilin menari dengan kuat dan hampir padam sebelum akhirnya menutup jendelanya. Ruangan menjadi lebih hangat karena itu.
Dia berjalan dengan ringan dan duduk di seberang Wei Wuxian, mengikuti kegiatan pria itu, menuangkan teh pada cangkir yang lainnya. Teh itu masih hangat tetapi tidak panas, bisa langsung diminum, ada aura spiritual di dalamnya, menandakan bahwa itu adalah herbal yang baik.
Wei Wuxian mengangkat satu alisnya menatap Liana yang hanya terdiam sedari tadi, belum menjawab pertanyaannya. Tepat ketika dirinya ingin membuka mulutnya lagi untuk bertanya sekali lagi, dia mendengar suara halus dan rendah gadis di seberang.
__ADS_1
“Apa Xian Gege akan ikut denganku?” Liana bertanya.
“Benua Tengah, kah? Sudah lama tidak pergi kesana.” Wei Wuxian lalu menghirup aroma lembut daun teh saat dia bernostalgia.
Liana memperhatikan ini, tetapi dia tidak bersuara. Jawaban Wei Wuxian tadi sudah mengonfirmasi pertanyaannya, artinya Wei Wuxian juga akan ikut dengannya ke Benua Tengah.
Sebenarnya Liana sudah tahu jawaban pria itu, dia hanya ingin memastikan pendapatnya lagi. Dia dan Wei Wuxian sudah terikat dengan benang merah, mereka tidak dapat berpisah apapun yang terjadi. Liana menyadari hal ini beberapa waktu lalu, sebenarnya keduanya selalu terhubung dimana pun mereka berada.
Liana tidak mengerti apa yang terjadi, tapi Wei Wuxian menjelaskan padanya, jika dirinya terlahir untuk Liana.
Keduanya telah sibuk dalam keheningan hingga beberapa waktu yang sebentar. Keduanya memang tidak sering berbicara jika itu bukanlah sesuatu yang penting, tidak seperti pasangan lainnya yang selalu menggunakan kata-kata manis untuk mengemukakan perasaan mereka ketika bertemu dengan satu sama lain.
Wei Wuxian dan Liana mungkin adalah dua orang yang sama persis, kata-kata tidak akan bisa mengungkapkan keinginan keduanya, kerena mereka adalah orang yang bergerak dalam kebungkaman, tetapi hati mereka telah terhubung. Tindakan kecil dari yang lain dapat menjadi cara komunikasi mereka dan dapat membuat hati menghangat.
Misalnya ketika Liana menunggu kedatangan Wei Wuxian dalam cuaca yang dingin. Atau ketika Wei Wuxian yang selalu menggenggam tangan Liana dan mengajaknya berkeliling saat mereka bertemu di Akademi, itu sudah terasa sangat manis dan membuat mereka menjadi semakin dekat.
Tidak perlu rayuan atau ungkapan cinta dan kasih sayang yang muluk-muluk, sebab tindakan kecil yang penuh perhatian sudah cukup untuk membuktikan perasaan satu sama lain.
Kemudian Liana adalah orang pertama yang memecah kebisuan. “Ayo bermain catur,” ajaknya.
Sudah lama dia tidak melihat wajah kecil gadis itu memasang ekspresi serius, meski di waktu-waktu biasa kebanyakan dia memang tanpa ekspresi.
Meski pun Liana tidak mengerti mengapa Wei Wuxian tertawa, tetapi setelah mendengar persetujuannya, dia segera menuju laci meja belajarnya dan mengeluarkan papan catur yang entah kapan dia memilikinya.
Ah, dia ingat. Sebenarnya itu adalah hadiah dari Zhu Wan Feng di hari ulang tahunnya yang ke lima belas musim semi lalu. Itu adalah catur yang terbuat dari giok halus dan sangat berharga.
Lalu malam itu telah dihabiskan dengan waktu harmonis pasangan muda itu. Di bawah hujan salju yang turun dengan perlahan menghantarkan hawa dingin dari luar, tetapi di dalam ruangan, suasana hangat terus berlangsung. Sama sekali tidak mengkhawatirkan keadaan esok hari.
~o0o~
Keesokan harinya, gerbang kediaman Perdana Menteri sudah ramai di datangi oleh orang-orang yang dikenal. Banyak kereta kuda yang terparkir di sana. Sepertinya mereka adalah tamun-tamu yang datang dari jauh dan bertujuan untuk mengantarkan kepergian Liana.
Bahkan ada teman-teman sekelas Liana di akademi yang berkunjung. Dia memang memiliki hubungan yang baik dengan teman sekelasnya.
Para tamu itu sudah dijamu di ruang tamu kediaman Perdana Menteri.
__ADS_1
“Kau benar-benar akan pergi?” Seorang anak laki-laki yang seumuran dengan Liana bertanya padanya.
Dia dalah Yan Tianrui, remaja yang ramah dan percaya diri. Dan memiliki bakat alkimia yang lumayan tinggi. Yan Tianrui lumayan berkesan untuk Liana.
Anak itu adalah orang pertama yang mengangkat tangannya ketika pertama kali Guru Lin memutuskan untuk mengajar kelas mereka. Yang juga telah mengemukakan pikiran Liana tentang segel tangan dalam alkimia di depan seluruh kelas. Dia juga orang yang paling sering berdiskusi tentang Alkimia dengannya.
Liana memandang wajah-wajah asing namun akrab yang duduk di depannya. Mereka semua adalah teman sekelasnya dalam Alkimia. Wajah-wajah yang masih menampilkan kenaifan, yang belum mengetahui betapa luas dan kejamnya dunia.
Liana menghela napas dalam hatinya. Dia memikirkan apa yang akan terjadi di masa depan.
“En, aku ingin menjadi lebih kuat,” jawab Liana dengan wajah serius.
“Lalu ke mana tujuanmu?” kali ini seorang gadis muda dengan wajah bulat bertanya.
Kalau Liana tidak salah ingat, nama gadis itu adalah Yi Mei’er, dia seorang putri pejabat yang tidak menonjol di kekaisaran. Tapi gadis itu memang berbakat.
Liana tersenyum, “Apa kalian mengetahui tentang Pegunungan Abadi?”
Saat dia suaranya turun dengan ucapan itu, teman-teman sekelas Liana langsung memasang ekspresi yang beragam.
“Apakah maksudmu Pegunungan Abadi yang itu?”
Liana mengangguk.
“Apa?! Jadi kau akan pergi ke Benua Tengah?”
Lagi-lagi Liana mengangguk.
“Sial! Bisakah kau membawaku juga. Aku selalu ingin mengunjungi Benua tengah.”
“Yah, ku dengar di sana tanahnya sangat subur. Mereka bahkan tidak memiliki musim dingin. Tapi banyak hal yang dapat di lihat.”
“Hei-hei! Ayahku mengatakan padaku jika ada banyak harta langka yang sangat berharga di Benua Tengah.”
Dan banyak diskusi lainnya yang membuat ruangan itu seketika menjadi ramai. Liana yang melihat ini hanya mulai dengan perlahan menyesap the dalam cangkirnya. Anak remaja memang memiliki semangat yang tinggi.
__ADS_1
~o0o~