![[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana](https://asset.asean.biz.id/-reinkarnasi--sayap-takdir--zhu-liana.webp)
Ah ya, sedikit penjelasan tentang jiwa Liana yang terbagi karena Segel Takdir.
Jiwa yang hidup di dunia ajaib nan kuno ini sebenarnya lebih lemah dari jiwa Liana di dunia modern. Sebab itulah mengapa jiwa di dunia ini yang mengalami kebisuan karena dia tak boleh membeberkan rahasia yang ia ketahui. Dan jiwa itu juga hanya dapat bertahan sampai usia Liana menginjak lima belas tahun seperti yang di jelaskan Wei Xiening.
(Lihat Episode 14-Keping Kebenaran).
Itu adalah salah satu dari beberapa ketentuan Segel Takdir yang di gunakan Wei Xiening untuk mengirim Liana dan Ru'an ke bumi, tepatnya ke dunia modern.
Lalu, sebenarnya jiwa di dunia kuno dapat merasakan keberadaan jiwa lainnya karena memang jiwa yang lebih lemah itu dapat merasakan keberadaan jiwa yang lebih kuat namun tidak sebaliknya, jiwa Liana di dunia modern tak dapat merasakan keberadaan jiwanya di dunia kuno. Karena itu juga yang membuat jiwa Liana di dunia kuno melakukan kebiasaan jiwa Liana yang berada di dunia modern.
~o0o~
Orang-orang yang mengikuti pelelangan maupun yang dekat dengan kerumunan itu mengalihkan pandangan mereka serentak ke arah wanita paruh baya dengan teriakan nyaring namun menggelegar itu.
Lalu setelah itu mereka beralih memandang ketiga sosok anak muda di dekat wanita itu. Tanpa berkata lebih jauh, orang-orang si kerumunan mulai menggeser diri mereka ke samping. Memberi ruang untuk Liana, Wan Feng dan Ling.
Ketiganya takjub akan hal itu. Mereka sama-sama melirik wanita bersuara nyaring tersebut. Mereka berpikiran sama jika wanita paruh baya itu bukanlah orang biasa di kalangan orang-orang ini.
"Terimakasih nyonya." Wan Feng lebih dulu mengungkapkan keramah tamahannya, sebab dirinyalah yang dari awal memandu kedua gadis di belakangnya itu.
Wanita paruh baya itu menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak. Bukan terimakasih, kalian harus bayar biaya mengikuti pelelangan," ucapnya sontak membuat Wan Feng menatap kosong.
"Hah! Nyonya, bukankah lelang disini gratis dan tidak memungut biaya?" Kali ini Ling yang bertanya.
"Hm hm, kalian ini orang kaya. Gratis biaya itu hanya untuk kami para kaum miskin." Wanita itu menjelaskan.
Liana sendiri sudah memicingkan matanya. Inikah yang dinamakan diskriminasi untuk orang-orang kaya? Memikirkan itu membuatnya tertawa geli.
"Baiklah, Nyonya. Berapa biaya yang dibutuhkan agar kami bisa ikut?" tanya Liana.
Wanita itu mengacungkan tiga jarinya, telunjuk, tengah dan jari manis.
"Tiga keping perak?"
Wanita itu menggeleng.
"Ah, tiga puluh?"
__ADS_1
Wanita itu kembali menggeleng dan sekarang Liana mulai mengerutkan alisnya.
"Tiga ratus?" tanyanya yang langsung di angguki wanita itu.
"Apa?!" Ini Ling yang berteriak. "Kau ingin merampok kami ya, Nyonya?" Ketenangannya yang biasa dia tunjukkan luntur seketika itu juga.
Tiga ratus perak sama artinya dengan tiga keping emas. Hei, itu terlalu mahal hanya untuk mengikuti pelelangan ini. Dan itu pun harus mereka bayar masing-masing.
"Aiyo, gadis muda. Kenapa kau orang kaya menjadi pelit sekali?" Seorang wanita lain mengomentari keluhan Ling.
"Iya benar. Mereka kaya!"
"Benar, benar!"
Orang lain juga mulai ikut berseru.
Wan Feng yang masih terbengong, Liana yang menghela napasnya sedikit malu juga ternyata, lalu Ling yang menampakkan raut wajah kesal tak terima.
Meski dirinya hanya seorang pelayan di Manor Zhu, tapi penampilannya tak jauh lebih murah dari kedua majikannya itu. Karena bekerja untuk kediaman Perdana Mentri dan jabatannya yang sebagai kepala pelayan di Paviliun Teratai Bulan, dia tak pernah kekurangan sama sekali.
Hanya saja Ling adalah orang yang terlalu hemat. Sangat disayangkan baginya mengeluarkan tiga koin emas hanya untuk ikut lelang. Tiga koin itu dapat membuat keluarga kalangan bawah makan selama satu bulan. Hah, sekarang dia agak menyesal membawa Nonanya datang ke tempat ini.
Bagaimana pun berhemat itu lebih baik. Siapa yang tahu? Kehidupan terus berputar bagai roda. Yang di atas juga bisa berada di bawah. Hari ini mungkin kediaman Perdana Mentri masih berjaya, tapi mungkin esok atau lusa, semuanya akan berubah.
Yah, semoga saja kejatuhan yang ia pikirkan tak terjadi. Tapi Liana ... sepertinya pemikiran itu juga tidak akan pernah terjadi selama ada dirimu. Kau adalah sang Pemilik Sayap Takdir, bukan?
Sepertinya gadis serba putih itu telah melupakan identitasnya lagi. Haih!
Liana menyerahkan sembilan keping emas pada si wanita paruh baya bersuara nyaring tersebut.
"Sembilan untuk tiga orang," ucapnya meski enggan. Hanya saja Liana terlalu penasaran tentang bagaimana lelang murah itu bekerja. "Apa kami sudah boleh mengikuti pelelangan?" tanyanya.
Wanita paruh baya yang masih terpesona dengan kilauan koin emas yang menumpuk di tangannya segera tersentak. Dia tersenyum dengan manisnya. Yah, senyuman itu mirip seperti para pembisnis unggul. Haha, tapi Liana malah melihatnya sebagai sesuatu yang lucu.
"Tentu, tentu. Silahkan Nona Muda. Lewat sini," ucapannya semakin ramah saja saat mempersilahkan Liana, Wan Feng yang menjadi diam dan Ling dengan wajahnya yang tertekuk.
Mereka bertiga di persilahkan duduk pada kursi yang paling depan. Anggap saja itu adalah tempat VIP sebagaimana yang selalu ada dalam pelelangan yang Liana ketahui. Liana dulu juga pernah ikut dalam pelelangan di dunia modern, namun suasana pelelangan sekarang ini cukup menghibur dirinya.
__ADS_1
Wanita itu meninggalkan Liana beserta dua lainnya setelah dia menjelaskan aturan lelang yang cukup sederhana. Pelelang akan naik ke panggung dan melelang barangnya. Dan yang lain menawar dengan barang yang mereka bawa pula. Jika pelelang menyukai sebuah barang yang diajukan seorang peserta, maka dia dapat menukar barangnya itu dengan barang yang dia inginkan. Yah, ini memang dama dengan sistem barter. Intinya adalah suka sama suka.
Lalu yang berbeda adalah jika pelelang tidak cukup puas dengan barang yang diajukan para peserta, maka dia boleh turun terlebih dahulu atau dia dapat memilih menjual barangnya itu pada panitia yang bertugas dalam lelang dengan harga sesuai.
Sangat unik menurut Liana.
Wanita paruh baya itu segera kembali ke belakang untuk mengawasi jalannya pelelangan setelah penjelasan usai.
Liana kini mengetahui jika wanita itulah yang menjadi duta atau penggagas adanya pelelangan murah di pasar bagian timur ini. Dia cukup kagum dengan pemikiran cerdas wanita itu. Satu lagi kandidat rekan bisnis yang sesuai kriteria.
"Nona, kenapa Nona masih mau membayar harga semahal itu? Tiga koin emas ... Nona dapat membeli sepuluh mangkuk mie di kedai Tuan Ting dengan koin itu," ucap Ling masih dengan raut kesal di wajahnya.
Perkataan Ling juga di setujui oleh Wan Feng. Sedangkan Liana malah terkekeh.
"Huum, sepertinya ini cukup adil menurutku," ucapnya membuat kedua orang itu terheran. Dia kembali berkata, "Haah, jika kalian masuk ke dalam pelelangan besar, mungkin bahkan akan membayar puluhan kali lipat hanya untuk dapat duduk di tempat biasa. Sedangkan kita hanya dengan tiga koin emas bisa berada di tempat VIP. Kita tidak rugi sama sekali," jelasnya.
"Tapi Nona ...." Ling masih tak rela dengan pengeluaran mahal itu.
Saat dia ingin kembali mengeluh, Wan Feng sudah lebih dulu memotong ucapannya. "Sudahlah, Ling. Benar kata Liana. Kau juga jangan terlalu hemat sampai pelit seperti itu. Sekarang kita nikmati saja jalannya pelelangan ini, menurutku aturannya memang sedikit unik dari pelelangan biasa."
Liana mengangguk membenarkan. Sedangkan Ling terdiam, kata pelit adalah yang paling jelas ditangkap pendengarannya. Apa dia memang sepelit itu? Dia bertanya pada diri sendiri.
Yah, akhirnya ketiganya benar-benar mengikuti pelelangan. Beberapa kali Liana menawar benda yang menurutnya cukup menarik seperti, keranjang dari sulur kering, alat musik aneh dengan kepala naga yang ia tidak tahu apa itu, tapi dia tetap menawar dengan benda yang tak kalah aneh bagi penduduk tiga benua seperti bulpoin, korek api dan lainnya yang tentu saja dia dapatkan dari dimensi Sayap Kembar miliknya. Alhasil dia mendapatkan semua benda yang dia inginkan.
Bahkan dia tertawa saat ada orang yang menawarkan makanan dalam lelang, namun ada saja yang menawarnya karena alasan lapar. Semua orang juga ikut tertawa saat kejadian itu. Dah yah, saat giliran Liana yang melelang barangnya, banyak dari orang-orang itu yang menawar karena menurut mereka barang Liana berbeda dari yang lain.
Wan Feng dan Ling juga ikut andil dalam pelelangan itu.
Ini benar-benar menyenangkan menurutnya. Tak ada yang menggunakan otoritas kekuatan maupun kekuasaan dalam lelang sebagaimana biasanya pelelangan yang sering diikuti oleh orang-orang berkuasa, semuanya sama rata. Itulah yang menjadikan pelelangan murah di bagian timur pasar ibu kota menyenangkan dan hangat.
~o0o~
~Di Balik Layar...
Aku yang jadi Sutradara : "Adegan 1004- Episode 52, Tu Wa Ga! Rolliiiiiing .... Action!
Wanita paruh baya/ Nyonya An : "Teman-teman, mohon beri jalan untuk ketiga anak muda ini!" *Berteriak dengan suara menggelegar hingga merusak mikropon dan memecahkan kamera.... 😱
__ADS_1
Dan Alhasil! semua kabur dari sana... 🏃💨