[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana

[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana
55-Petir Kesengsaraan Langit


__ADS_3

Pelelangan berakhir lebih awal dan tidak jadi dilanjutkan malam itu. Sebab cuaca tiba-tiba menjadi buruk, angin bertiup kencang serta awan mendung berkumpul menghasilkan petir dan guntur yang menakutkan.


Entah sebenarnya apa yang terjadi? Padahal sebelumnya masih baik-baik saja. Apakah ini perubahan iklim akhir musim? Entahlah.


Liana mengerutkan kening saat dirinya memperhatikan langit yang semakin gelap. Awan-awan hitam disana semakin menebal disertai petir yang terus mengkilat di dalamnya, namun sampai saat ini belum juga turun hujan. Rintik pun tak ada, hanya suhu yang melonjak turun semakin dingin.


"Cuaca ini ... tidak biasa," ungkapnya dengan gumaman pelan.


Saat ini dia, sang kakak dan Ling tengah beristirahat di sebuah penginapan yang tak jauh dari pasar ibu kota. Tepatnya mereka bersantai di lantai paling bawah penginapan yang di jadikan sebagai restoran sambil memandang langit menggelap. Mereka memutuskan untuk menginap sampai esok hari karena memang sudah malam. Beruntung Wan Feng cepat memberitahu Ayah mereka, Zhu Moran. Tentu saja ia sampaikan pada pengawal yang selalu mengikuti mereka dalam kegelapan.


Wan Feng dan Ling juga ikut menampilkan wajah serius.


"Ini ...."


"Kesengsaraan Langit!" seru Wan Feng melanjutkan ucapan Ling yang terpotong.


Dengan mengangkat alisnya, Liana berpikir. Dia belum pernah mengalami yang namanya Kesengsaraan Langit dan mungkin tak akan pernah karena kondisinya yang memang berbeda dari kultivator pada umumnya.


Tapi dia tahu apa itu karena pernah dijelaskan oleh Shiro. Kesengsaraan Langit akan terjadi saat seorang Kultivator hendak menembus ke tahap Fondasi Alam.


Tapi dia rasa kali ini sepertinya agak berbeda. Ini juga tak seperti terobosan seorang kultivator.


"Tuan, sepertinya ada sesuatu di tengah hutan." Shiro tiba-tiba mengeluarkan suara. Dia juga menyaksikan cuaca buruk di langit ibu kota. Mm, mungkin tepatnya seluruh orang dari Kekaisaran Naga atau bahkan Benua Timur menyaksikan kejadian ini.


Malam ini benar-benar gelap. Api pada lilin menjadi padam karena tertiup angin. Para Kultivator hanya dapat mengandalkan elemen api mereka sebagai penerangan. Begitupula dengan Wan Feng yang telah mengeluarkan elemennya yang untung saja dapat menerangi seluruh ruangan restoran dalam penginapan.


"Ini bukan terobosan seorang Kultivator," ungkap seseorang di seberang meja mereka.


Liana menoleh pada orang itu, dia terlihat begitu sepuh dengan rambut dan janggut serta kumis yang memanjang putih. Bahkan alisnya juga sudah memutih. Dilihat saja sudah dapat dipastikan bahwa dia adalah seorang kakek tua yang telah hidup dengan waktu yang cukup lama.


Terdapat tongkat kayu dengan ujung melengkung yang jika menurut Liana itu mirip dengan tongkat sihir dalam serial animasi milik para penyihir berhidung panjang dengan kulit hijau dan punggung membungkuk. Ah ya, entahlah.


Liana menunduk hormat saat si kakek tua juga balik menatap dirinya.


"Maaf, apa maksud Senior?" Wan Feng juga melihat lelaki tua itu dan langsung saja bertanya setelah dirinya menunduk sebagai salam hormat.

__ADS_1


Kakek tua itu tersenyum kemudian menghampiri meja mereka. Dia duduk saja karena memang dipersilahkan.


"Haa~ anak muda. Ini memang jarang terjadi. Mungkin sudah ratusan tahun lamanya." Lelaki tua itu nampak mendesah gusar namun juga antusias terlihat dari pancaran matanya yang sudah mulai menyipit termakan waktu. Dia nampak seperti lelaki tua berumur 70 tahun.


Dia mengatakan jika yang terjadi di atas sana bukanlah fenomena Kesengsaraan Langit biasa yang sering terjadi saat kultivator menembus ranah. Karena itu tak kan seheboh ini.


Kesengsaraan Langit ini adalah diperuntukkan untuk seekor Binatang Ajaib yang hendak berevolusi.


"Berevolusi? Apa ini Binatang Suci?" Kali ini Ling yang bertanya. Sedangkan Liana sedari tadi diam mendengarkan.


Sebenarnya bukan hanya dirinya. Para pelanggan yang menetap di restoran itu juga ikut menyimak apa yang di sampaikan si kakek tua.


"Entahlah, bisa jadi lebih dari itu. Namun ini kondisi yang cukup berbahaya dan luar bisa," ucapnya dengan kikikan kecil di akhir kalimat.


Liana merasa jika si kakek ini adalah orang yang aneh.


"Sesuatu yang berbahaya dan luar biasa. Apa kau tahu itu Shiro?"


"Ini ... Tuan sepertinya harus bergegas. Aura ini, Shiro mengenalnya."


Liana mengerutkan alisnya mendengar ucapan yang terkesan buru-buru itu dari seorang Shiro.


Tindakannya yang mengherankan juga ikut menggerakkan Wan Feng dan Ling.


"Apa kau ingin beristirahat?" tanya Wan Feng dari belakang Liana.


Liana menoleh. "Aku ... akan ke kamar inap." Kalimat yang sebenarnya tak menjawab pertanyaan Wan Feng, namun pemuda itu mengartikannya sama. Liana juga, dia tak bisa mengatakan kebohongan pada saudaranya itu. Maka jadilah kalimat ambigu seperti itu yang muncul.


Wan Feng malah mengangguk karena berpikir jika Liana memang hendak beristirahat. Dia pun berlalu memisahkan diri dari Liana dan kembali ke bawah menghampiri si kakek tua kembali.


Namun Ling juga nampak lelah, dia memilih ikut Liana saja untuk beristirahat. Mereka bertiga memang menyewa kamar untuk masing-masing orang. Penginapan itu cukup lenggang karena tak banyak pengunjung. Mungkin karena memang penginapan yang tidak terlalu terkenal di ibu kota.


"Gadis itu ..." gumam si kakek tua yang ternyata dapat didengar Wan Feng yang kini telah duduk di hadapannya dengan membawa sebuah kendi arak beserta dua cangkir keramik kecil.


"Apa yang senior maksud adalah adikku? Maafkan dia karena tidak sopan. Dia memang selalu begitu," ucapnya diakhiri helaan napas saat dirinya menuangkan arak pada cangkir si kakek tua.

__ADS_1


"Adikmu?" tanya si kakek.


Wan Feng mengangguk. "Gadis serba putih, bukan? Dia memang adikku."


"Aah~" Kakek tua itu membuka mulutnya mengerti. Memang Liana yang ia maksud. "Kau sepertinya sangat menyayangi adikmu itu." Kakek tua segera meminum arak dalam cangkir dengan sekali teguk. Dia berdecak dan memuji rasa arak.


Wan Feng tersenyum. Dia juga meneguk araknya. "Yah~ dia ... sangat mirip ibu kami." Matanya bercahaya sendu saat mengatakan hal itu.


Sedangkan kakek tua itu menjadi pendengar yang baik dengan sesekali dituangkan arak oleh Wan Feng saat dirinya mengangkat cangkir dan langsung meminumnya.


Mereka mengobrol bersama dengan sesekali si kakek tua menyela atau memberi saran dan lain sebagainya tentang ungkapan Wan Feng.


Dia terlarut dalam pikirannya sambil terus mendengarkan pemuda tampan itu bercerita mengenai dirinya dan kehidupannya. Entahlah, Wan Feng sebenarnya bukan orang yang suka membeberkan permasalahan maupun isi hatinya. Namun saat ini dia merasa lepas saat bercerita. Entah itu karena dia mempercayai si kakek tua yang sebelumnya mengaku bernama Kun Lin atau karena kini dirinya sudah dalam pengaruh alkohol.


Sedangkan si kakek tua alias Kun Lin menyimak serius sesekali memperhatikan wajah pemuda di depannya itu yang sudah memerah namun masih memperlihatkan wajah tenangnya. Yaah~ Wan Feng masih sadar. Dirinya memang tidak mudah mabuk meski telah menunjukkan gejala fisik orang-orang mabuk.


Kun Lin sebenarnya ingin menanyakan beberapa hal pada Wan Feng tentang gadis serba putih itu. Tapi dia merasa mungkin ini bukan sesuatu yang sopan atau nanti dia bisa disebut sebagai tua bangka mesum karena menyukai seorang gadis kecil.


Saat Wan Feng sibuk berceloteh bersama si kakekt tua Kun Lin, Liana malah berada di dalam ruang Dimensi Sayap Kembar menatap Shiro dengan ekspresinya serius, mencoba untuk mencerna informasi yang baru saja dia dapatkan.


"Kita akan kesana saat semuanya sudah beristirahat." Liana mengurut dagunya dengan kedua jari tangan kanannya. Dia nampak memikirkan sesuatu. "Dua jam lagi," lanjutnya.


Shiro sendiri hanya mengangguk karena bukan dirinya yang membuat keputusan. Lagi pula perkataan Liana sudah benar. Hal ini, jangan sampai ada lebih banyak yang menyadarinya.


Namun mungkin itu akan sulit, karena saat ini beberapa Kultivator tua yang terkenal dan cukup berpengaruh juga tengah menuju ke suatu tempat yang sama.


Tepatnya, mereka serempak melesat ke dalam hutan yang lokasinya cukup jauh dari ibu kota. Mungkin jika menggunakan kuda akan memakan waktu dua hari penuh tanpa istirahat.


Liana memang sengaja memutuskan untung datang lebih lambat ke tempat yang mana menjadi tujuan bahasan mereka. Itu karena suatu alasan.


Sesuatu di dalam sana, mereka semua mengincarnya dan itu sangat berbahaya dan sensitif. Pernyataan kedua lebih kepada sebuah kemungkinan. Namun sesuatu itu memang buka hal biasa.


~o0o~


"...."

__ADS_1


"...."


Nggak Ada Penjelasan....!


__ADS_2