[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana

[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana
71-Kisah yang Disaksikan IV


__ADS_3

"Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu. Disini berbahaya." Qi Wang tak tahu apa yang terjadi, tapi dia merasakan bahaya di dalam desa saat ini.


"Kau tahu disini bahaya, tapi kau ingin tinggal? Itulah mengapa aku menyuruhmu untuk membawa teman-teman menjauhi bahaya. Kau harus memikirkan mereka, Qi Wang!" teriak Liana tanpa sadar.


Qi Wang terkejut, begitu pula dengan Liana karena di merasa sesuatu tengah mendekati tempat keduanya, matanya melotot.


"Cepat pergi!" Suaranya lebih pelan, tapi nadanya begitu dingin dan menekan, membuat Qi Wang mau tak mau harus mengikuti perkataannya.


Pemuda itu mengapalkan tangannya saat rahangnya terkatup dan mengeras. "Kau harus selamat!" ucapnya saat kakinya dengan lincah segera menjauh.


Bai Lan Jin yang sedari tadi merasa was-was kini tambah tertekan karena dia berdiri sendirian di tempat itu dengan perasaan sesuatu yang akan mendekatinya.


Dengan hati-hati gadis itu bergerak. Dia pernah belajar menyamarkan auranya hingga titik dimana dia seolah menghilang.


Dengan kuat menempel di tembok saat suara geraman lirih didengarnya.


Perlahan sosok menyeramkan sekaligus mengerikan berjalan ke tempatnya.


Bai Lan Jin dengan susah payah menahan napas agar tak di temukan oleh sosok setinggi dua meter dengan tubuh membungkuk itu.


Wajahnya terlihat begitu buruk, hampir hanya menyisakan tengkorak saja, telinga makhluk itu runcing dan kepalanya botak, hanya dihiasi beberapa helai rambut.


Lalu kaki tangannya yang telanjang dengan jari kusam yang sedikit keriting membawa tombak yang terbuat dari tulang di tangan.


Bai Lan Jin sebenarnya hampir memuntahkan isi perutnya saat mencium bau makhluk itu. Dari tadi dia tak memperhatikan, tapi sekarang bau itu seperti .... "Ukh! Seperti bangkai," desisnya.


Golongan yang memiliki bau tak enak adalah mereka yang berada di golongan terendah dan menengah.


Menilai dari penampilan makhluk itu, Bai Lan Jin paham jika makhluk ini berbeda dari yang dia hadapi di gunung. Mereka adalah golongan menengah.


Makhluk menjijikkan itu segera pergi karena tidak mendapati sesuatu yang ia cari.


Bai Lan Jin segera membuang napasnya saat bayangan makhluk itu sepenuhnya pergi. Dan perasaan tertekan juga takut kembali menyerangnya saat sebuah suara yang ia kenal terdengar berteriak dengan suara yang begitu pilu dan menyakitkan.


"Kakek Yan!"


Bai Lan Jin berlari ke arah di mana suara itu berasal. Akan tetapi apa yang ia lihat setelahnya membuat jantungnya seolah berhenti.


Tepat setelah kedatangannya, kepala seorang lelaki tua yang selalu menjaganya itu terjatuh dari tubuhnya. Darah orang itu juga terciprat di wajah dan gaun putihnya.


Bai Lan Jin membeku kemudian dia segera runtuh. Saat itu pula api segera menyebar di bangunan Kuil dan sekitarnya. Ulah dari para makhluk menjijikkan, mereka bahkan membakar tempat itu. Golongan menengah memang memiliki beberapa kepintaran sesuai instruksi dari tuan yang mengendalikan mereka.


Bai Lan Jin hanya menatapnya dengan kosong, tak dapat berbicara.

__ADS_1


Dia masih terdiam saat makhluk-makhluk menjijikkan itu mulai mendekati dirinya.


Suara geraman, gadis itu hiraukan. Dia hanya sibuk dengan pikirannya yang penuh kenangan bersama Kepala Kuil yang ia anggap sebagai keluarganya sendiri. Sampai suara seseorang segera menyadarkannya.


"Bai Lan Jin?" Orang itu memanggilnya dengan suara pelan.


Bai Lan Jin tak menoleh, tapi dia tahu siapa pemilik suara itu. "Xian gege, sekarang aku tahu jika mereka adalah hama. Seharusnya aku melenyapkan mereka ketika di gunung. Semua ini ... mungkin tidak akan terjadi. Sekarang ... ini menjadi salahku? Kakek Yan ... dia ... dia pergi."


Bai Lan Jin tak terisak, namun air matanya keluar begitu deras dan membuat pandangannya menjadu kabur.


Para monster masih mengelilinginya, namun tak ada yang berani mendekat karena aura yang dikeluarkan oleh Zanzhu Ren Zuxian.


Zanzhu Ren Zuxian sendiri hanya terdiam mendengar segala keluhan gadis itu.


Lalu Liana? Dia yang sedari tadi menyaksikan semua kejadian mengerikan itu kehilangan ketenangannya. Berkali-kali Liana mencoba untuk meraih tubuh Bai Lan Jin, dan berkali-kali pula dirinya ingin menghancurkan makhluk-makhluk menjijikkan itu. Hanya saja usahanya sia-sia karena sentuhannya selalu menembus mereka. Dia menjadi frustasi di kala kemarahan dan kebenciannya kepada para Monster meningkat beberapa kali lipat.


Saat dirinya nanti kembali ke dunia nyata, dia bersumpah akan membantai makhluk-makhluk itu bersama tuannya sekaligus. Liana memang sudah mencurigai jika monster-monster itu dikendalikan oleh seseorang.


Liana akhirnya sadar, tak ada gunanya dia marah untuk saat ini. Kekuatannya tak berfungsi sama sekali di tempat ini. Jadi dia kembali diam menyaksikan apa yang seharusnya ia saksikan di depan matanya.


Bai Lan Jin yang sudah menguatkan tekadnya kembali berdiri, menatap tajam dan penuh permusuhan pada monster-monster di depannya.


"Xian gege, bisakah kau membantuku?" tanyanya.


"Tugasku adalah melindungimu," jawab Zanzhu Ren Zuxian akhirnya setelah cukup lama terdiam.


Zanzhu Ren Zuxian tersenyum tipis. "Kemarilah," instruksinya.


Bai Lan Jin menurut. Sekarang posisi mereka hanya menyisakan ruang untuk satu orang di tengah-tengah. Dan gadis itu mendongak karena perbedaan tinggi yang begitu kejam. Bai Lan Jin masih berumur lima belas, dia hanya setinggi pundak pemuda berambut merah itu.


Zanzhu Ren Zuxian semakin mendekat, satu tangannya meraih leher belakang Bai Lan Jin dan lainnya meraih pinggang gadis itu.


Hingga beberapa saat setelahnya semua di sekitar mereka mendadak hening. Begitu dekat!


Liana sendiri hanya terdiam, menatap kosong pada dua siluet yang diterangi api itu. Dia tercekat. Meski pun bukan dirinya sendiri yang berada di sana, tapi Bai Lan Jin juga adalah dirinya. Secara alami di merasakan apa yang dirasakan gadis itu.


Tanpa sadar Liana meraih bibirnya sendiri dengan tangan.


Sungguh! Selama dua dekade hidupnya di zaman modern. Dia tak pernah begitu intim dengan lawan jenis. Memikirkannya saja tak pernah. Tapi sekarang, dia merasakan seolah jantungnya juga ikut berdebar.


Liana segera memjamkan matanya, kemudian berbalik memunggungi mereka. "I- ini tidak benar. Apa ... apa yang ...." Bahkan bicaranya sendiri terbata-bata.


Namun tiba-tiba sesuatu yang hangat memenuhi tubuhnya. Ini adalah apa yang dirasakan oleh Bai Lan Jin. Dan Liana tahu apa perasaan hangat ini. Energi spiritual!

__ADS_1


Zanzhu Ren Zuxian benar-benar meminjamkan energi spiritualnya pada Bai Lan Jin. Tapi dengan cara yang ... tidak bisa Liana jabarkan. Dia bahkan masih merasakan sesuatu yang lembut menempel di bibirnya.


Saat dia berbalik, jarak Bai Lan Jin dan Zanzhu Ren Zuxian sudah terpisah. Dia entah kenapa merasa lega saat napasnya berhembus seketika, kebiasaan buruknya tak pernah meninggalkan sosok Liana.


Bai Lan Jin sendiri juga terdiam, berkedip beberapa kali saat tatapannya jatuh pada sosok pemuda berambut merah itu. Dia ingin bertanya tapi tak tahu apa yang ingin ditanyakan, sulit untuk merangkai kata-kata dan waktunya tak memungkinkan untuk merenung saat ini.


Jadi dia hanya bisa mengatakan, "Terimakasih." Dengan suara pelan.


Fokusnya kembali beralih pada makhluk-makhluk menjijikkan itu.


Dia memang belum berkultivasi, tapi tubuhnya yang spesial itu sudah mampu menampung energi spiritual. Jadi tidak akan membahayakan dirinya.


Dan Bai Lan Jin sudah beberapa kali melihat Zanzhu Ren Zuxian menggunakan energi itu. Dan dia menirunya dengan cukup baik sekarang.


Mengaliri energi ke seluruh tubuh kemudian segera menerjang para Monster dengan brutal.


Bai Lan Jin terus melawan, mengayunkan tinju dan tendangannya secara acak mengenai monster. Meski tak memiliki teknik bertarung yang baik, tapi satu-persatu dari para monster itu tumbang olehnya, kemudian lenyap menjadi abu saat Bai Lan Jin mengenai titik vital mereka. Untuk golongan menengah, mereka belum memiliki kecerdasan manusia seperti golongan tinggi, jadi butuh sedikit usaha untuk melawan mereka.


Hanya saja, jumlah monster yang terus berdatangan menjadi lebih banyak dari yang bisa Bai Lan Jin kalahkan. Dan cepat atau lambat, gadis kecil sepertinya akan segera mencapai batas.


Napas Bai Lan Jin sudah semakin cepat. Dia menatap nanar pada gelombang para monster yang sudah beberapa kali mendatanginya. Mulai dari beberapa, lusinan hingga sekarang puluhan monster terlihat bergerak ke desa.


"Sial, jika seperti ini terus. Kapan akan berakhir?" Entah sadar atau tidak, dia sedang mengumpat barusan.


Bai Lan Jin kemudian menoleh ke belakang, mendapati pemuda berambut merah yang selalu dia panggil Xian gege itu tengah menjauhkan monster yang mendekatinya dari titik buta dengan melepaskan aura menekan yang ditakuti para monster. Bai Lan Jin tahu, sang Zanzhu Ren Zuxian hanya dapat membantunya dengan cara seperti itu. Dia tak dapat ikut membunuh para monster karena dia sekarang hanya berbentuk jiwa.


Bai Lan Jin juga sudah lama mengetahui jika dirinya adalah keturunan terakhir dari Klan Yunan yang legendaris. Karena itulah dia memiliki kekuatan fisik yang tidak biasa. Visinya juga lebih tajam dari kebanyakan orang. Hanya saja dia tak tahu jika dia adalah keturunan wanita suci yang terlahir sebagai Pemilik Sayap Takdir.


Bai Lan Jin menggertakkan giginya kuat-kuat untuk menyalurkan lebih banyak tekad dan mengubahkan menjadi energi semangat tempur.


Seumur hidupnya, dia tak pernah sekali pun membunuh. Tapi sekarang, tangannya sudah dilumuri darah. Tapi jika dipikir-pikir, para monster ini terlihat seperti orang mati, jadi sepertinya itu tak dihitung sebagai membunuh, bukan?


Bai Lan Jin menarik napasnya dalam, kemudian mengkali lipatkan fokusnya pada pertempuran. Kuda-kudanya semakin mantap, seiring berjalannya waktu, dia semakin terbiasa bergerak dan menutupi kelemahan geraknya sendiri juga menjatuhkan lawan lebih cepat.


Sayangnya, saat Bai Lan Jin menjadi lebih serius. Itu sudah sampai batasnya. Dia sudah memaksakan diri, tapi monster-monster itu selalu berdatangan. Tak pernah habis.


Dalam hati dia berpikir apakah sekarang waktunya? Apakah dia akan mati?


Penglihatannya mengabur, napasnya semakin cepat dan memburu, gerakannya juga melambat. Dia hampir terjatuh dalam posisinya. "Xian gege." Bai Lan Jin hanya merasakan jika seseorang telah memegangi pundaknya.


"Beristirahatlah. Kau sudah bekerja keras, bantuan akan segera tiba."


Suara yang akrab itu menenangkannya, hingga akhirnya penglihatan Bai Lan Jin menggelap. Dia jatuh dalam pingsan karena terlalu banyak memakai energinya.

__ADS_1


~o0o~


Uhum! Plot ini akhirnya jadi juga... wkwk... aku sebenernya tiap kali bikin adegan romance meski deg-degan dulu... btw, tapi ini si Bang Xian nyari kesempatan dalam kesempitan yak... wkwk


__ADS_2