[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana

[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana
85-Berangkat ke Akademi


__ADS_3

Untuk saat ini, masalah sementara dapat dianggap sudah selesai. Yah, hanya sementara. Liana sendiri tidak perlu terburu-buru untuk mengejar penjahat secepat ini, karena dia tahu penjahat yang sudah terlihat bukanlah orang yang menyembunyikan keberadaan ibunya, melainkan musuh yang masih bersembunyi di belakang, meski begitu, Liana setidaknya dapat menebak siapa itu. Dia tak sepenuhnya berada dalam kegelapan.


Hanya saja dia juga tak bisa mengabaikan perasaan gelisah dalam hatinya. Besok dia sudah akan berangat ke akademi Yilongfei. Jika dia diundang oleh sang Kaisar, maka dua saudarinya yang lain, Zhu Weiling dan Zhu Yuxia hanya bisa mulai mendaftar tahun ini.


Sebenarnya seluruh bangsawan atau bahkan rakyat biasa yang bukan bangsawan dapat mendaftar di Yilongfei, hanya saja pengecualian untuk mereka yang mendapat undangan, tidak akan mengikuti tes masuk seperti biasa dan akan ditempatan di dalam kelas khusus. Liana salah satunya.


Hanya saja memang persyaratan untuk masuk belajar di akademi bergengsi itu tidaklah mudah, karena itulah sangat jarang bagi rakyat biasa dapat belajar di sana. Selain itu, biaya masuk dan biaya pembelajaran tiap semesternya juga sangat tinggi, hanya orang-orang kaya yang mampu mendaftar. Sedangkan rakyat miskin hanya dapat melihat di kejauhan meski pun mereka ingin. Yah, beginilah kesenjangan kasta orang-orang yang hidup di zaman Feodalisme. Si miskin dan si kaya selalu di bagi pada timbangan yang berbeda. Apalagi di tambah dengan orang-orang yang sangat menjunjung kekuatan, maka orang-orang lemah akan selalu berada di rantai makanan terbawah.


Saat ini, belum ada tunjangan pendidikan untuk rakyat miskin seperti di dunia modern, itulah yang Liana pikirkan saat dirinya melamun menatap kosong pada para pelayan yang tengah mondar mandir untuk mengepak barang-barang yang akan dibawanya esok hari.


Pikiran Liana menjadi jernih kembali saat mendengar suara Ling yang memanggilnya. “Ada apa?” tanyanya.


“Nona Ke-empat dan Nona Bungsu ingin bertemu dengan Anda.”


Alis Liana mengerut sedikit, tapi dia tidak mengeluarkan suara lebih saat dirinya mulai beranjak dari tempat semua—keluar dari kamarnya untuk menemui dua saudari yang telah menunggunya di ruang tamu.


Saat sampai di sana, dia melihat dua gadis cantik tengah duduk agak berjauhan tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuk satu sama lain. Sibuk dengan pikiran mereka sendiri hingga saat melihat Liana, keduanya bangun bersamaan untuk menyapa.


“Kakak Ke-dua.”


Liana mengangguk sebagai jawaban, lalu dia menyuruh mereka kembali duduk. Kemudian dia memanggil pelayan untuk menyajikan the dan beberapa kudapan.


“Bagaimana kabar kalian berdua?” tanya Liana. Dan seperti yang diharapkan, reaksi kedua saudari itu tak berebda jauh. Mereka sama-sama tertegun beberapa saat sebelum menjawab jikan mereka baik-baik saja.


Menghela napas karena kebiasaan, Liana sebenarnya terlalu memiliki banyak keluhan dalam kehidupan sebelumnya. Yah, dia dapat menebak untuk apa mereka datang padanya hari ini. “Lupakan, aku tidak menyalahkan kalian sama sekali. Kalian berdua hanya masih terlalu muda. Mudah terkena hasutan.”


Lagi-lagi, saat dua saudari itu tengah termenung untuk menyusun kata-kata permintaan maaf, Liana sudah menebak bagaimana jalan pikir mereka. Mereka tentu terkejut dan juga merasa bersalah. Saudari tertua mereka begitu baik seperti ini, tapi mereka hanya dibutakan oleh kata-kata orang lain, ah bukan orang lain, tapi ibu mereka yang tamak.


Sebenarnya, enam putra-putri Zhu sejak kecil sangat akrab satu sama lain sebelum insiden kebakaran Paviliun milik Wei Xiening terjadi. Mereka sama seperti pasangan saudara biasa dari rakyat biasa, selalu hidup harmonis dan bermain bersama. Sebab itulah Liana tidak pernah menaruh rasa permusuhan pada saudara-saudarinya itu. Hanya saja sangat disayangkan, didikan mereka malah terpengaruh oleh dua selir sejak saat itu.

__ADS_1


Meski begitu, melihat mereka saat ini datang untuk meminta maaf. Perasaan Liana menjadi lega, setidaknya, mereka tidak tergelincir terlalu jauh. Masih dapat memperbaiki diri, karena itulah Liana memaafkan mereka.


Untuk kejadian-kejadian sebelumnya, sudahlah ... mari lupakan masa lalu. Itu hanya tak lain, sekedar angin waktu yang berhembus dari arah yang salah sementara waktu.


“Kakak Ke-dua ....” Tapi saat ini, kedua saudari itu malah bersimpuh di depan Liana sambil menangis. Jelas mereka begitu merasa bersalah pada dirinya, meskipun memang jarang secara langsung mereka menyakiti Liana. Tapi mereka juga pernah menjadi perencana. Itu lebih jahat.


“Kakak, kau bisa menghukum kami.” Weiling meraih gaun hanfu Liana saat dirinya berbicara. Jika Liana begitu cepat memaafkan mereka, perasaan bersalah itu akan menjadi lebih tidak bisa mereka lepaskan.


“Kakak, aku tidak akan pernah mengejekmu lagi dan membuatmu sakit.” Dan kali ini Yuxia yang berbicara, air matanya bahkan dapat keluar dari hidung saat dia berusaha menekan mereka akan tidak jatuh lagi.


“Haih, bangunlah. Berapa usia kalian berdua? Masih menangis?” Liana meraih tangan mereka dan menyuruh keduanya untuk berdiri terlebih dahulu. Lalu mengambil sapu tangan dan membersihkan air mata dua saudari seperti bagaiamana dia bertindak menjadi kakak yang lembut dan sabar. Hanya, dua gadis itu masih tetap sesegukkan meski air mata mereka sudah tak lagi keluar.


Dia masih membujuk mencoba untuk menenangkan Yuxian dan Weiling selama beberapa saat.


Kedua gadis itu tak lagi menangis, tapi mereka masih diam dengan gugup di depan Liana. Lagi, Liana menghela napasnya agak lelah sebenarnya. Dia bertanya, “Apa kalian benar-benar ingin hukuman?”


Jadi keduanya tidak tahu bagaimana merespon, tapi Yuxia menetapkan hatinya dan berkata, “Selama kakak memaafkan kami dengan benar, Yuxia bersedia menerima hukuman apa pun.”


Weiling juga mengikuti dengan anggukkan samar saat dia berkata, “Weiling juga bersedia menerima hukuman apa pun.”


Haih, anak remaja itu keras kepala, Liana sudah bilang dia memafkan mereka, tapi sepertinya mereka tidak puas hanya dengan kata-kata. Jadi dia juga berkata, “Besok kita sudah berangkat ke akademi. Tak ada waktu hukuman. Tapi aku akan meminta sesuatu pada kalian berdua. Apa kalian mau memenuhi permintaanku?”


Keduanya diam sebentar, berpikir dengan sedikit keheranan. “Selama kami sanggup.”


Liana puas mendapat jawaban positif. “Aku pernah mendengar jika setiap tiga bulan sekali, Akademi Yilongfei akan mengumumkan peringkat murid di batu peringkat pada setiap bidang. Aku ingin melihat nama kalian tidak boleh berada kurang dari lima besar. Tapi tidak diizinkan untuk berbuat curang. Bagaimana? Apa kalian sanggup?” Terakhir, Liana berkata dengan senyuman penuh arti pada dua saudarinya yang terperangah mendengar apa permintaannya.


~o0o~


Maka hari esok yang ditunggu akhirnya telah berubah menjadi hari ini. Liana sudah bangun pagi-pagi sekali di waktu fajar. Melakukan pemanasan sebagaimana yang biasa dia lakukan, lalu lari keliling Paviliun beberapa putaran, tapi kali ini diakhiri dengan sedikit latihan berpedang untuk mengasah kemampuannya sudah sedikit menumpul karena memang dia jarang berpedang.

__ADS_1


Sampai langit berubah cerah, dia menghentikan kegiatannya. Kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri, di sana sudah ada beberapa pelayan yang telah menyiapkan air panas untuknya mandi dan melayani hal-hal lainnya.


Yah, Liana cukup menikmati waktunya menjadi seorang Nona Muda bangsawan. Mendapat pelayanan yang baik, dia tidak akan menolaknya. Kecuali untuk mandi, dia akan melakukannya sendiri. Dia tidak terlalu suka jika ada orang lain melihat tubuhnya. Tabu baginya. Apalagi dia belum menikah, ah! Itu masih dua tahun lagi. Tapi Liana sebenarnya tidak terlalu memikirkannya.


Saat ini dia hanya berpikir jika itu seperti yang dikatakan Wei Wuxian, maka dia akan mendapatkan beberapa informasi berguna dalam akademi tentang keberadaan musuh yang masih bersembunyi dalam gelap.


Dan Liana hanya berharap, semua ini cepat berakhir dan dia dapat bertemu dengan ibunya kembali. Ada banyak hal yang masih membuatnya bingung, dia bahkan bingung mengapa dia bernama Liana. Nama ini tidaklah umum dalam Benua Timur. Dan menurutnya nama Liana memang sedikit agak modern. Dan Wei Xiening juga mengetahui tentang Bumi. Dia hanya dapat menebak beberapa hal, tapi menebak-nebak pun tidak dapat memberinya jawaban yang pasti.


Liana mengehembuskan napas hangat. Lalu dia membilas seluruh tubuhnya beberapa kali sebelum bangkit mengambil jubah mandi dan mengeringkan diri. Dia keluar dari tempat pemandian langsung menuju tempat tidurnya.


Seperti biasa, di sana sudah ada Ling dan beberpaa pelayan yang menyiapkan segala hal untuknya. Haa~ mudahnya menjadi orang kaya.


“Nona, Pangeran Ke-tiga sudah menunggu anda di luar,” ucap Ling saat dirinya membantu Liana mengeringkan rambutnya yang panjang.


“Xian gege? Menungguku?” tanya Liana dengan satu alisnya yang terangkat.


“Benar, Nona. Pangeran berkata dia akan pergi bersama Anda.”


Liana menggelengkan kepalanya sambil terkekeh. “Baik, percepatlah!” Um, sebenarnya dia bisa saja menggunakan Qi untuk membuat tubuhnya kering dalam sekejab. Tapi Liana adalah Liana, dia antara lupa atau memang terlalu malas untuk menghabiskan tenaga dengan hal-hal kecil seperti itu. Lebih baik gunakan itu untuk sesuatu yang lebih penting nantinya.


Setelahs selesai dengan pakaian dan rambutnya, Liana segera keluar dari ruangan. Dia tak perlu lagi memusingkan apa pun, semua barang-barang yang ingin dia bawa telah berada dalam cincin penyimpanannya, dia memasukkannya kemarin.


Lalu dia juga tak perlu sarapan lagi, untuk keadaan darurat seperti sekarang yang membutuhkan waktu cepat, dia menggunakan inedia—tidak perlu makan, jadi nanti saja.


Seperti yang diharapkan diluar sudah agak ramai. Perjalanan kali ini, dia juga tidak perlu menggunakan kereta, karena dia akan berangkat dengan sang Pangeran, ada seekor derek besar yang sudah disiapkan. Jadi mereka hanya tinggal berangkat, memabwa diri sendiri.


Setelah Liana tiba, hanya tinggal menunggu dua saudarinya lagi. Tak lama, dua gadis yang ditunggu juga sudah terlihat.


~o0o~

__ADS_1


__ADS_2