![[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana](https://asset.asean.biz.id/-reinkarnasi--sayap-takdir--zhu-liana.webp)
Kamar yang dipersiapkan oleh akademi untuk murid elit sudah lumayan besar untuk ditinggali sendiri. Sebenarnya tidak bisa dibilang kamar, karena itu mirip sebuah apartemen di dunia modern, hanya saja bergaya klasik zaman kuno.
Ada beberapa ruangan di dalamnya, termasuk kamar tidur, tempat pemandian di sebelahnya, lalu ada ruangan untuk menerima tamu, dapur dan tempat makan, serta ruang pelatihan yang serba guna. Sangat efisien meski pun hanya bergaya sederhana dan tidak banyak dekorasi maupun furniture, itu memudahkan murid yang tinggal mendekorasi tempat mereka sesuai selera sendiri.
Setelah berkeliling melihat ruangan itu satu persatu, Liana memutuskan untuk memasuki kamar tidur.
Ada satu tempat tidur, kursi panjang, meja, lemari dan sekat yang memisahkan tempat pemandian di belakang tempat tidur.
Tak ada dekorasi apa pun yang membuatnya terlihat sederhana dan monoton. Liana masih mengamati hingga beberapa saat kemudian dia menghilang di udara tipis dan muncul lagi dalam beberapa saat dengan selimut besar dan bantal, beberapa kain dan kayu-kayu panjang yang tidak diketahui apa kegunaannya.
“Haih, senang rasanya memiliki ruang dimensi yang serba guna.” Dia bergumam dengan kekehan kecil di akhir kalimat.
Setelah itu, Liana menghampiri tempat tidur, membentangkan selimut tebal dan menaruh bantal. Lalu dia mulai menyambung dan memasang kayu-kayu panjang menjadi tiang yang menyambung dia tempat tidur, setelahnya menyampirkan kain tipis menjadi kelambu yang menutupinya. Hanya butuh waktu sebentar untuk melakukan itu semua, setelah merapikannya, Liana mundur beberapa langkah memandangi hasil pekerjaannya hingga dia mengangguk puas.
Lalu dia menoleh ke tempat lain di dalam kamar. Hari itu dia memutuskan untuk mendekorasi asrama miliknya sendiri agar nyaman ditinggali, dia selesai bekerja sebelum tengah malam karena memanggil Shiro sebagai bala bantuan.
“Haha, beruntung memiliki seorang tukang gratis.” Liana tertawa saat melihat Shiro yang sudah telungkup di meja panjang dengan bentuk kuda mini putih. Makluk itu juga memiliki rasa lelah ternyata.
Shiro hanya melihat Liana dari ekor mata persiknya yang bundar dan besar lalu dia kembali meringkuk, menutup matanya untuk tertidur.
Liana menggeleng melihat kelakuan makhluk kecil berbulu putih itu, tak tega melihatnya kelelahan. Liana mengambil kue kering dari cincin penyimpanannya, meletakkan diatas piring dan meninggalkannya diatas meja untuk diberikan pada Shiro.
Dia sendiri pergi ke belakang sekat yang mana disana sudah ada kolam pemandian air panas untuk mandi.
~o0o~
Seminggu berlalu dengan cepat. Hari ini adalah hari pertama murid baru untuk memulai kelas mereka. Seminggu yang lalu, Liana telah menerima jadwal kelasnya. Dia berada di kelas Tempur dan Kelas Pemurnian sebagai mata pelajaran utamanya. Murid bisa memilih beberapa kelas tambahan untuk dipelajari selain kelas utama mereka. Seperti Liana yang mengikuti Kelas Sastra sebagai kelas tamnbahan wajibnya.
Untuk informasi, sistem pembelajaran dan pembagian kelas Akademi Yilongfei di bagi menjadi empat kelas utama dan satu kelas tambahan sebagai kelas wajib.
Kelas Tempur yang memuat senjata (Pedang, Panahan, Tombak, Pisau, Kapak, dan senjata-senjata lainnya) dan elemen unsur (Air, Api, Tanah, Logam, Kayu, dan elemen khusus seperti Angin, Es, Cahaya, dan Bayangan/Kegelapan), ini seperti mereka mempelajari sihir yang mirip dengan Benua Barat.
Kelas Politik. Tidak perlu dijelaskan, mereka yang lulus kelas ini tentunya akan ditempatkan di dalam pemerintahan.
Kelas Medis, berkenaan dengan obat-obatan dan herbal yang mengajari seseorang menjadi tabib. Tentu saja!
Kelas Pemurnian yang di antaranya adalah Penempa, Kerajinan, dan Alkimia (yang sebenarnya dapat masuk ke kelas medis, tapi karena alkimia lebih condong pada pemurnian Pil yang tidak hanya mengacu pada kesehatan, jadi dimasukkanlah ke dalam kelas Pemurnian). Ini adalah kelas alami bagi kultivator yang memiliki akar spiritual api.
__ADS_1
Yang terakhir adalah Kelas tambahan yaitu Kesenian, seperti Sastra, Lukisan, Kaligrafi, dan Musik. Tidak tergabung di kelas utama karena memang hanya berfungsi sebagai pendukung.
Yah, ada beberapa orang yang memiliki keahlian seni seperti itu dan menggunakannya dalam pertarungan. Seperti menggunakan alat musik sebagai senjata. Rune juga membutuhkan seorang yang ahli melukis dan kaligrafi. Ada beberapa hal-hal lainnya, dunia begitu luas, banyak orang dengan kehalian aneh di luaran sana.
Sebenarnya tahun ini ada juga kelas yang baru dibuka. Yaitu adalah Kelas Penanam Spiritual. Mengajar para murid untuk mengembangkan dan memelihara herbal dan tanaman roh yang berguna bagi kultivator. Mereka yang memilih kelas ini akan sangat cocok bekerja sama dengan para alkemis dan tabib.
Liana berencana untuk melihat-lihat kelas baru ini nantinya. Sayangnya dia tidak akan bisa ikut berpartisipasi dalam kelas karena dia sudah terlanjur memperlihatkan akar roh ganda Angin dan Api. Sebab, Kelas Penanam Spiritual tentunya hanya cocok bagi mereka yang memiliki elemen, Air, Kayu dan Tanah.
Sayangnya Penanam Spiritual adalah profesi yang selalu dipandang rendah oleh para bangsawan. Menyamakan mereka dengan kelompok petani. Tapi ememang tidak salah, hanya saja mereka menanam dan memelihara tanaman spritual.
Padahal Penanam Spiritual adalah profesi penting bagi para pembudidaya, jika tidak ada mereka, para alkemis tidak dapat membuat pil yang baik, para tabib tidak akan dengan mudah menemukan herbal.
Namun Liana sendiri penasaran dengan Profesi ini. Menurutnya akan sangat berguna jika dirinya juga ikut mempelajari keahlian tanam menanam tanaman spiritual. Di ruang dimensinya sendiri, hanya Shiro dan pasangan induk dan anak beruang yang sibuk memperhatikan tanaman herbal.
Jika tahun ini Kelas yang baru dibuka memiliki pembelajaran yang lancar, maka tahun depan akademi Yilongfei akan memiliki Lima kelas utama dan satu kelas tambahan. Liana tak sabar untuk memulai kelasnya.
Liana turun tangga dari lantai atas dan segera bertemu dengan dua orang yang dikenalnya namun masih asing. Mereka tak lain adalah Zhu Yuren dan Ye Xiaoyu yang seminggu lalu berpapasan dengannya.
Liana tak tahu alasannya, sejak pertemuan pertama mereka hari itu, Liana tak lagi melihat keduanya bahkan di luar asrama sekali pun.
Zhu Yuren sendiri juga sedikit kaget bertemu Liana sekali lagi. “Nona Muda,” sapanya dengan panggilan yang berbeda, lebih formal dari saat pertama kali bertemu.
Zhu Yuren yang awalnya tidak tahu jika Liana sebenarnya adalah Rindu Muda dari Zhu-jia cabang utama di Ibu Kota. Itulah sebabnya dia mengambil sikap biasa setelah mengetahui nama gadis itu. Dia pikir Liana adalah salah satu bakat dari cabang kota lain seperti dirinya.
Liana mengangguk, tidak mempermasalahkan bagaimana gadis itu bersikap padanya. Seperti yang terakhir kali, dia selalu mendapat tatapan tajam dari seseorang di samping Zhu Yuren, membuatnya sedikit tidak nyaman. Seolah dia telah mengambil kekasihnya.
Liana sudah tidak lagi mempermasalahkan nama keluarga ‘Ye’ pada gadis muda itu, namun dia memang masih waspada.
Yah, lagi pula ada banyak orang bermarga Ye di Kekaisaran Naga, bahkan di Benua Timur memang tak terhitung jumlahnya. Jadi untuk saat ini, dia tidak berniat untuk memulai konfrontasi apa pun dengan siapa pun. Mencari informasi adalah yang dia dahulukan. Jika nantinya dia menemukan sesuatu, saat itulah dia juga akan bertindak.
Hanya saja, dia masih menandai gadis Ye ini yang selalu memberinya perasaan tak nyaman. Liana selalu menjadi orang yang mempercayai instingnya, itulah yangs elalu menyelamatkannya dari bahaya berkali-kali.
Setelah acara bertegur sapa yang singkat, Liana kembali berjalan keluar dari asrama untuk mengikuti kelas pagi. Sebenarnya masih ada waktu sekitar satu setengah jam sebelum kelas dimulai. Akan tetapi Liana adalah seorang yang mengikuti pelatihan militer di kehidupan sebelumnya, dia selalu tertib dan bersahabat dengan waktu.
Dan lagi pula, ada banyak hal yang bisa dia lakukan dalam perjalanan ke kelas. Seperti tidak sengaja bertemu dengan seseorang yang sangat akrab dengannya.
“Li’er?” Wei Wuxian memanggil namanya dengan nada yang lembut dan tatapan penuh kasih sayang.
__ADS_1
Liana dengan senyumnya di pagi hari menghampiri. “Ge. Mengapa kau ada disini?” Dia bertanya.
“Untuk mencarimu, tentu saja.”
“Kenapa mencariku? Apakah ada sesuatu yang terjadi atau ada sesuatu yang kau butuhkan?”
Liana yang belum mengetahui niat pemuda yang sebentar lagi akan menjadi seorang pria itu. Dia hanya mendekat dengan santai dan bertanya dengan santai.
Sampai tiba-tiba Wuxian menariknya ke dalam sebuah pelukan hangat. “Aku merindukanmu,” bisik Wuxian saat pelukannya pada Liana semakin erat.
Liana tersentak dan wajahnya memerah karena malu. Beruntung jalan dimana mereka berada agak sepi karena masih pagi. Hanya beberapa orang yang berlalu lalang, terlalu sibuk untuk memperhatikan hubungan romantis dirinya.
Sejak mereka memasuki Yilongfei, Wuxian menjadi semakin melekat padanya. Setiap hari, pemuda itu akan selalu mencarinya, mengajaknya jalan-jalan dan memperkenalkan kota padanya.
Liana sampai heran, bukankah dia tidak pernah datang ke Yilongfei sejak mendaftar sebagai murid? Liana meragukan itu. Sampai dia diberitahu oleh Wei Wuxian, dia menggunakan identitasnya yang lain untuk menjadi seorang dekan di Yilongfei.
Identitasnya yang lain tentu saja adalah sang Zanzhu Ren Zuxian atau sekarang dia lebih dikenal sebagai pelindung misterius Kekaisaran Naga yang konon katanya dia adalah alasan mengapa bahkan Kekaisaran Langit tak bisa menyinggung Kekaisaran Naga yang peringkatnya seringkat lebih bawah.
“Gege? Ge ...? apa yang kau lakukan? Bisakah kau melepaskanku?”
“Hmm, tidak.”
“Tidak?” Liana tak tahu apakah harus tertawa atau menangis. “Orang-orang sedang melihat kemari.” Liana berbisik tak berdaya. Xian gegenya, semakin lama semakin keras kepala. Dia akan selalu bertindak seperti anak kecil jika Liana bersikeras menolaknya. Dengan helaan napas dan wajahnya yang masih merah muda, Liana tak bergerak membiaskan Wuxian mulai memainkan rambutnya.
“Ayo pergi!” Pelukan terlepas, tapi tangan Liana ditarik.
“Kau ingin membawaku kemana?” Liana tak bisa untuk tida bertanya. Dia benar-benar tidak mengerti Wei Wuxian.
“Aku akan mengantarmu ke kelas.”
“Apa? Tidak perlu. Kau juga bisa ke kelasmu sendiri, ge.”
Wuxian menghentikan langkahnya yang membuat Liana juga secara alami berhenti. Pemuda itu berbalik dan tersenyum pada Liana. “Kalau begitu, aku akan ikut kelasmu.”
“Hah?!”
~o0o~
__ADS_1