[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana

[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana
13-Liontin Perak


__ADS_3

Liana hanya terdiam beberapa lama melihat liontin kalung yang nampak begitu familiar di matanya.


Liontin berbentuk sebelah sayap yang terbuat dari perak. Ini tampak persis seperti miliknya. Hanya saja yang dia pegang ini adalah bagian yang lainnya.


Milik Liana ada sebelah kanan, sedangkan yang ini sebelah kiri. Apa ini pasangannya? Dia bertanya-tanya.


Beberapa saat kemudian dia merasakan sesuatu kembali di lehernya. Pikirannya dengan liar menebak.


Dengan perlahan dia meraba dan menemukan sesuatu yang lagi-lagi mengejutkannya.


Di sana ... kalungnya. Kalung dengan Liontin Perak yang sama peninggalan ibunya.


Liana buru-buru melepas kalung, mengeluarkan Liontin dan memasangnya dengan yang lainnya.


Sangat pas! Liontin ini benar-benar pasangannya. Liana kembali memasang Liontin pada rantai kalung kemudian memakainya.


Dia berjalan ke arah cermin. "Sangat indah," ucapnya kagum.


"Aku tidak tahu bagaimana ini berhubungan, tapi ku rasa, mungkin inilah yang orang-orang sebut sebagai takdir!"


Setelah mengatakan hal itu, Liana tiba-tiba merasa lucu. Kata yang selama ini tidak pernah dia percaya malah kini disebutnya, 'Takdir'.


Saat Liana ingin berbalik untuk kembali ke tempat tidur. Dia dikejutkan lagi dengan cahaya yang bersinar dari Liontin yang dia pakai.


Sangat terang hingga Liana menutup matanya menghalangi cahaya masuk secara langsung agar tidak merusak indra penglihatannya.


Beberapa saat kemudian ia membuka matanya karena merasakan cahaya yang meredup. Namun dia mengernyit karena apa yang dia lihat bukanlah kamarnya melainkan sebuah padang rumput yang sangat luas dengan bentangan langit berwarna biru. Rumput itu juga mengelurkan aroma yang manis yang memanjakan indra penciumannya.


Sejenak Liana tertegun melihat pemandangan yang berada di depannya. Dan secara tiba-tiba, di sana muncul cahaya remang-remang tak jauh di depannya.


Liana mendekat ke arah dimana remang-remang itu berada. Dan ketika dirinya semakin mendekat, remang-remang itu seketika bersinar lebih terang dan terang hingga Liana tepat berada di depannya.


Cahaya yang tadinya hanyalah remang-remang kini telah membentuk sebuah siluet. Awalnya seperti sebuah titik, lama kelamaan titik-titik itu menjadi semakin banyak hingga membentuk sebuah kepala, leher, badan, kaki, sayap dan ekor.

__ADS_1


Liana masih mematung melihat keajaiban yang terjadi di depannya hingga siluet itu berbentuk sempurna.


Mata Liana membulat melihat sosok yang terbentuk di depannya, itu adalah ... Pegasus! Yang benar saja? Pegasus hanyalah makhluk mitologi yang dipercaya orang-orang Yunani Kuno. Tapi Liana kembali tersadar bahwa tempatnya sekarang bukan lagi dunia modern. Hal-hal berbau aneh disana menjadi pemandangan biasa di dunia ini.


Mahkluk berbentuk kuda putih dengan dua sayap itu melihat Liana kemudian menunduk hormat serta mengisyaratkan Liana untuk menaiki dirinya.


“Kau ingin aku naik?” tanya Liana memastikan. Entah mengapa ia tak merasakan bahaya dari sang Pegasus tapi malah perasaan akrab dan persahabatan yang cukup erat. Meskipun dia tidak cukup mengerti apa yang terjadi disini tapi Liana tetap memperlihatkan ketenangannya.


Sang Pegasus kembali menundukkan kepalanya dikuti kaki depannya yang menyilang dan merendah. Matanya berkedip perlahan membuat bulu mata putihnya nampak seperti sayap kupu-kupu.


Liana terpesona dengan sikap anggun kuda bersayap itu. Dia mendekat karena menerima persetujuan sang Pegasus. Menaiki punggungnya dengan perlahan berharap tidak mengagetkan kuda bersayap itu.


Setelah merasakan Liana di atas punggungnya, Pegasus kembali berdiri tegak kemudian dan ia meringkik dengan suara kudanya, mengangkat kaki depannya tinggi dan hanya berdiri dengan kaki belakang. Takk lama setelah itu, dia merenggangkan sayapnya lebar-lebar mengambil ancang-ancang untuk segera terbang.


Dia mengepak sayapnya hingga perlahan tubuhnya terangkat ke udara membawa Liana di punggungnya yang terkagum-kagum.


“Kau ingin membawaku kemana?” tanya Liana yang kini tengah kebingungan. Tapi matanya terus berbinar melihat pemandangan menakjubkan dibawahnya. Mereka seperti berjalan di atas awan. Menakjubkan!


Pegasus tak menjawab melainkan fokus untuk terbang membawa Liana ke suatu tempat yang menjadi tujuannya.


Karena kecepatan terbang Pegasus yang luar biasa, mereka tak butuh waktu lama untuk sampai di pegunungan bersalju itu. Meski Pegasus terbang dengan cepat, tapi Liana tidak merasakan angin keras yang menerpanya. Hanya sepoi-sepoi yang terasa sejuk dan sedikit menerbangkan helaian rambutnya.


Pegasus mendarat tepat di salah satu puncak gunung bersalju dengan danau beku yang berkilauan yang lagi-lagi membuat Liana takjub.


Tak ada apapun disana selain es yang membeku, tapi anehnya Liana tak merasa kedinginan sedikitpun.


“Tempat apa ini?” tanya Liana sambil meneliti area sekitar. Dia masih berada di atas punggung Pegasus karena makhluk itu tak berniat menurunkannya.


Pegasus membawa Liana ke tengah-tengah danau beku cantik itu dengan perlahan.


Hening! Hanya itu yang terasa di sana karena tak ada makhluk lain selain mereka berdua. Hingga mereka sampai di pusat yang mana terdapat sebuah kolam kecil yang lebih tinggi dari danau.


Tapi sepertinya itu tidak bisa di sebut kolam karena ukurannya yang terlalu kecil sekitar berdiamer satu meter, seukuran baskom. Jadi itu lebih dapat di sebut sebagai genangan air.

__ADS_1


Liana turun dari punggung Pegasus dan mendekati genangan aneh itu. Hanya air disana yang tidak membeku.


Liana lalu menoleh pada Pegasus bermaksud untuk menanyakan mengapa dia membawanya kesini?


Pegasus mengerti arti dari tatapan Liana, ia segera mendekati gadis itu dan menuntun, ah lebih tepatnya mendorong tubuh Liana dengan moncongnya serta menginstruksikan gadis itu untuk lebih mendekati genangan air tersebut.


"Apa yang kau lakukan?!" Liana menjerit kaget atas perlakuan Pegasus. Tapi makhluk itu hanya terdiam setelah Liana sudah berada di depan genangan air.


Liana bingung harus melakukan apa, tapi ia tetap menatap genangan air tersebut.


Sangat jernih dan terlihat menyegarkan membuat Liana tidak bisa untuk tidak mencoba menyentuhnya.


“Ini sangat sejuk dan menyegarkan, pikiranku terasa jernih kembali,” ungkap Liana jujur setelah dirinya menyentuh genangan air itu.


Namun tak berapa lama setelah dirinya merendam tangannya di dalam air, Liana tersentak karena merasakan sengatan listrik saat dirinya menyentuh genangan.


Dirinya begitu terkejut dan merasakan kebas di area tangan hingga pergelangannya.


Ia buru-buru mengangkat tangannya agar tidak merasakan sengatan itu lagi, dan benar saja, tangannya tak lagi merasakan sengatan atau kebas.


Namun yang terjadi selanjutnya adalah genangan air itu tiba-tiba memancarkan cahaya.


Liana yang penasaran kembali mendekati genangan air itu, sedangkan Pegasus sedari tadi hanya diam menyaksikan apa yang di kerjakan gadis manusia itu.


Liana kembali memperhatikan genangan air, dahinya mengernyit karena genangan air itu tengah menampilkan kehidupan seseorang hingga akhirnya mata Liana membulat melihat wajah seorang wanita yang sangat di kenalinya terlihat di dalam genangan air itu.


“Ibu …” lirih Liana saat melihat seorang wanita dewasa yang tengah menggunakan hanfu sederhana layaknya seorang pelayan.


~o0o~


Dah usaha double up lho ya...


Sebenernya, rencana sih mau up tadi siang. Tapi karena capek entah kenapa... jadi Up nya bisa sekarang aja...

__ADS_1


Btw, KRITSAR dong... saranin apa kek gitu?


__ADS_2