[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana

[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana
40-Embun


__ADS_3

Sejak kejadian di puncak bukit, Liana semakin keras berlatih untuk segera menjadi kuat. Jika sebelumnya dia kurang perduli dengan kekuatan, maka sekarang di benar-benar bertekad untuk menuju puncak kultivasi. Karena dia benci tak dapat melakukan apa-apa di saat masalah ada di depan matanya.


Meski di permukaan dia adalah seorang yang acuh tak acuh, tapi di dalam dia memiliki kepedulian tinggi pada sekitarnya. Dia tidak suka menjadi tak mampu. Sebab itulah, kini sudah berbulan-bulan lamanya dia berkultivasi di dalam Dimensi Sayap Kembar. Berkali-kali pula dirinya menerobos. Berlatih dan terus berlatih, tapi tak lupa dia menyeimbangkan pelatihan kultivasinya dengan pelatihan lain. Tentunya atas ajaran dan instruksi Shiro yang kata Liana setengah maha tahu.


Shiro pun mengamati perkembangan majikannya yang begitu keras pada diri sendiri. Seiring berjalannya waktu, dia juga mendapat meningkatan berkat Liana. Satu per satu segel dalam dirinya yang mengekang sebagian kekuatan sang Pegasus itu terlepas.


Liana benar-benar mengurung dirinya selama seminggu penuh waktu dunia luar. Dia bahkan tak mengetahui kejadian yang begitu menghebohkan di Manor. Tentu saja kejadian yang menghebohkan itu hanyalah drama klasik nan murahan dari para benalu tak tahu diri. Hmm ....


Meskipun Liana tahu, apakah dia akan perduli? Ah tentu saja tidak. Mereka sedikit pun tak akan pernah memasuki matanya.


Ah lupakan saja kalau begitu, beralih pada dirinya yang kini masih memejamkan mata.


Dia duduk di atas sebuah batu yang menjadi pusat dimensi dalam sikap lotus. Tekanan energi di udara sekitar gadis itu melonjak membuat gaun hanfu putih dan rambut panjangnya berkibar memperlihatkan betapa kuatnya energi inti yang di serapnya. Terus berputar mengelilingi sosoknya yang masih duduk tenang di tengah sana.


Yah, kembali pada Dantiannya yang unik. Pemilik Dantian Sunyi tentunya tidak akan menyerap sembarang Qi. Namun Qi yang di serap oleh Liana merupakan inti tak terlihat yang terkandung di udara. Sebab itulah mengapa setiap elemen yang dia keluarkan akan menjadi transparan alias tak berwarna, hanya sifat dari setiap elemen itu saja yang dapat di rasakan.


Inti tak terlihat ini tentu saja lebih kuat dari Qi yang biasa para kultivator gunakan, lebih kuat berkali-kali lipat. Dan juga inti ini hanya dapat di serap oleh pemilik Dantian Sunyi saja karena mereka tentu tak memiliki akar roh. Sebab itulah sebagai gantinya Liana dapat mengendalikan sifat setiap elemen yang ada. Bisa dibilang dirinya sekarang telah menentang ketentuan alam. Abnormal!


Karena tentu, 'Semua berawal dari ketiadaan.' Mungkin begitulah kiasan yang cocok untuk kondisi gadis penyuka warna putih itu.


Tekanan energi itu masih terus melonjak seiring waktu yang hampir saja ikut mengangkat Liana dari duduknya. Tapi gadis itu tetap rapat menutup matanya sebab sebentar lagi dia akan kembali menerobos untuk kesekian kalinya dan mungkin ini akan genap yang ke seratus. Dia tetap gigih dalam pelatihan membuat Shiro yang mengamati dari kejauhan cukup takjub dengan tuannya.


Oh ya, dua beruang itu masih ikut bersamanya di dalam dimensi. Sang Induk kini sudah berhasil menerobos ke tingkat Binatang Suci dan dia pula yang menjadi teman berlatih Liana. Sedangkan bayinya masih saja menempel pada bulu putihnya yang semakin lebat dan juga lembut. Liana tak melakukan kontrak pada Binatang itu karena sebenarnya itu juga tak perlu. Keluarga beruang akan tetap menjadi rekannya di masa depan karena telah menjadi jinak padanya.


Lagipula binatang adalah makhluk yang setia kawan. Mereka tidak akan pernah menghianati rekan. Apalagi mengingat konstribusi Liana pada peningkatan sang induk beruang, dia tidak mungkin mau meninggalkan Liana yang merupakan harta berharga, pemilik dimensi yang memiliki energi alam melimpah seperti ini.


"Gadis itu akan menerobos kembali," ucap induk beruang yang kini telah dapat berbicara. "Dia benar-benar keras pada dirinya sendiri," lanjutnya sambil menggelengkan kepalanya yang berbulu.


"Satu kali kegagalan akan membuatnya terus maju dan berkembang," balas Shiro yang berada di samping keluarga beruang.


Duduk si kursi kayu dengan meja kecil di sebelahnya, dia menikmati secangkir teh sambil terus memperhatikan kemajuan majikannya dari sana.


"Anda terlihat begitu santai, Tuan Pegasus." Beruang itu masih saja segan pada sosok putih Shiro.

__ADS_1


Yah, pertama kali melihat pria yang tiba-tiba muncul di dekat gadis yang memberikannya ikan itu benar-benar membuatnya terpana.


Sosok suci sang Pegasus yang agung ada di depan matanya namun dia adalah makhluk kontrak dari gadis itu. Betapa luar biasa dapat mengontrak mahkluk yang dikatakan selalu memiliki aura mulia di setiap hentakan kaki dan kepakkan sayapnya itu. Dari sana pula dia menjadi kagum dengan gadis manusia yang memberinya ikan. Benar-benar beruntung dapat mengontrak leluhur agung.


Shiro masih menyesap tehnya dengan tenang sampai suara ledakan teredam dapat ia dengar dari dalam tubuh Liana. Tentu ia tahu karena ikatan kontrak di antara mereka.


Sudut mulutnya sedikut terangkat membentuk sebuah senyuman. Oh ini adalah pemandangan langka dari seorang Shiro yang selalunya menampakkan wajah poker. Sayangnya senyuman itu hanya bertahan beberapa saat saja dan itu pula tak ada yang memperhatikannya.


Jika Liana melihat itu dia mungkin akan ternganga dan berkata bahwa dunia mungkin terbalik dan akan segera berakhir.


Tiba-tiba Shiro berdiri, pria yang nampak cantik itu berjalan menghampiri Liana yang masih duduk bersila di atas batu untuk menyelaraskan kultivasinya.


Dia berdiri tepat di depan sang Majikan, memperhatikannya dalam sampai akhirnya Liana membuka mata.


"Selamat Tuan, satu langkah lagi lebih dekat menuju Pembukaan Gerbang." Shiro menundukkan tubuhnya memberi hormat dengan sebelah tangan di depan dada.


Liana membuang napasnya hingga asap berwarna putih pekat keluar dari sana. Dia lalu memandang makhluk kontraknya yang cantik dengan seksama. "Kau juga meningkat," ucapnya dengan nada suara yang teratur.


"Tuan, sepertinya di luar ada orang yang sedang mencarimu," ujar Shiro memberitahu Liana.


"Ah, begitukah?"


"Mn." Shiro mengangguk.


"Haaa~, jadi sebaiknya aku harus kembali terlebih dahulu. Dan sepertinya sesuatu telah terjadi selama diriku berlatih di sini."


Shiro hanya diam tak mengatakan sesuatu sampai Liana bangun dari duduknya dan berjalan menjauhi tempat itu, dia tetap mengikutinya dari belakang.


Liana melihat jika keluarga beruang juga menghampirinya.


"Gadis, kau akan keluar?" tanya induk beruang.


Liana mengangguk. "Aku sudah terlalu lama berada di dalam sini, pelatihan untuk saat ini sebaiknya memang sampai disini. Memaksa diri juga bukan hal yang baik."

__ADS_1


Induk beruang itu mengangguk setuju dengan perkataan Liana. Sesaat dia merasakan bayinya yang selalu menempel menarik bulu-bulunya yang cukup lebat. Induk beruang itu tersenyum melihat bayinya yang masih terlihat menggemaskan.


"Sepertinya putraku ingin memberikan sesuatu padamu, gadis."


Liana mengangkat alisnya kemudian dia tersenyum pada bayi beruang yang malu-malu.


Dia berlutut untuk mensejajarkan tinggi mereka. Mendekat lalu mengulurkan tangannya untuk mengusap kepada bayi beruang.


Mata bayi beruang itu terpejam menikmati elusan tangan Liana di kepalanya. Suara dengkuran terdengar samar membuat Liana terkekeh karena bayi beruang benar-benar menikmati perlakuannya, sangat manja.


"Apa di tangamu itu?" tanya Liana saat melihat sesuatu sepertu bola bening di cakar bayi beruang.


Bayi beruang itu menyodorkan benda di tangannya bermaksud untuk memberikan gadis itu.


"Untukku?" tanyanya memastikan sekali lagi saat tangannya meraih bola bening itu.


Bayi beruang mengangguk cepat sangat antusias karena Liana menerima hadiahnya.


Liana memperhatikan benda itu dengan takjub. Dia baru tahu jika yang ia kira bola bening itu adalah kumpulan embun yang di padatkan.


"Ah, putraku mengumpulkan embun itu dari tanaman yang ada di sini." Induk beruang menjelaskan.


Liana tersenyum sekali lagi sambil mengusap kepala bayi beruang. "Terimakasih," ucapnya tulus.


Yah, itulah salah satu kelebihan dari Beruang Albino. Mereka dapat mengumpulkan embun pagi untuk di padatkan. Embun itu tentu bukan barang biasa, melainkan akan menjadi eliksir alami. Sangat berkhasiat apalagi bagi seorang Alkemis. Tentu embun dari Beruang Albino sangat berharga saat mereka membuat pil dan obat.


Bayi beruang mengerjab dengan senang saat melihat senyuman Liana yang cantik diberikan kepadanya.


Setelah itu Liana pamit pada ketiga rekannya. Dan dia segera keluar dari dimensi. Namun yang menyambutnya di luar adalah hal yang tak terduga.


~o0o~


~~Ada yang nge-ship Liana ama Shiro nggak?

__ADS_1


__ADS_2