[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana

[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana
14-Keping Kebenaran


__ADS_3

Di tengah taman yang di penuhi dengan berbagai macam bunga, terdapat dua orang wanita tengah bercengkrama ria sambil sesekali memetik bunga yang terhampar di sekeliling mereka.


Satu wanita hanya memakai pakaian sederhana dan lainnya memakai pakaian yang terlihat lebih mewah dari wanita pertama, wanita berpakaian mewah itu tengah hamil besar.


“Ru’an, bagaimana menurutmu? Apakah cantik?” tanya wanita berpakaian mewah kepada wanita yang berpakaian sederhana sambil menunjuk rangkaian bunga yang ia letakkan di atas kepalanya.


“Anda selalu cantik, Tuan Putri,” jawab wanita berpakaian sedehana yang di panggil dengan nama Ru’an itu.


Mereka sepertinya adalah pasangan majikan dan pelayan.


Wanita yang di panggil Tuan Putri hanya tersenyum lembut menatap Ru`an, dia adalah Wei Xiening yang merupakan putri dari adik Kaisar terdahulu dan tentunya adalah adik sepupu Kaisar saat ini.


Selain itu Wei Xiening juga memiliki identitas lain, yakni istri dari seorang Menteri muda yang baru di angkat Kaisar bernama Zhu Moran yang menggantikan posisi sang Ayah.


Kedua wanita itu masih saja asik bergelut dengan bunga-bunga hingga suasana damai itu pecah karena Wei Xiening tiba-tiba mengerang menahan sakit.


“Akh, Ru’an. Perutku … mengapa sakit sekali?”


“Tuan Putri? Anda kenapa?”


“Sakit! Ini sangat sakit Ru’an. Aku tak bisa menahannya,” jawab Wei Xiening masih menahan sakit di perutnya.


Ru’an yang panik tak sengaja melihat cairan putih mengalir di kaki Wei Xiening saat ingin membawa majikannya menuju kediamannya.


“Astaga, Putri. Ketuban anda pecah!” ungkap Ru’an setengah berteriak. Dia kaget tentu saja. Karena mengetahui bahwa sang majikan akan melahirkan.


“Pengawal! Pengawal!” teriak Ru’an memanggil pengawal yang tidak terlalu jauh dari mereka.


“Ada apa memanggil kami nona Ru?” tanya seorang pengawal bersama dua rekannya yang kini telah sampai di hadapan Ru’an dan Wei Xiening.


“Kalian bertiga, salah satu dari kalian bantu aku membawa Tuan Putri kembali ke kediamannya. Dan yang lainnya beritahu Tuan Perdana Mentri dan juga Tabib Gu. Tuan Putri akan melahirkan,” pinta Ru’an cepat.


Ketiga pengawal itu terkejut, namun mereka buru-buru untuk mengerjakan tugas yang di berikan Ru’an kepada mereka.


Dan segeralah Wei Xiening di bawa oleh Ru’an dan satu pengawal menuju ke kediamannya, Paviliun Lianhua Yin.


Tak berapa lama, disana sudah ada tabib Gu, Ru’an, wanita yang melahirkan alias Wei Xiening dan juga Zhu Moran di kala itu masih terlihat muda. Juga Wan Feng kecil yang terus menggenggam tangan sang Ayah.


"Ayah, apa aku benar-benar akan mempunyai seorang adik?" Dia bertanya dengan polosnya sambil menggoyangkan tangan ayahnya yang ia genggam.


Zhu Moran menatap sang anak dengan senyum. Tapi itu juga tak mampu menyembunyikan kekhawatiran di matanya. Sebab sudah beberap dupa telah dinyalakan, tapi belum ada tanda-tanda lahirnya sang bayi.


Mereka hanya mendengar suara teriakan Wei Xiening dan intruksi dari tabib wanita tua bermarga Gu yang terus menyemangati Wei Xiening.


Zhu Moran mengangguk. "Mn, adik perempuan yang cantik." Dia mengatakan itu karena telah mendapat kabar dari peramal bintang bahwa bayi perempuan lah yang akan lahir dari rahim Permaisurinya.


"Benarkah, Ayah?" Binar bahagia nampak di mata Wan Feng kecil. Dia juga menantikan lahirnya sang adik yang akan bermanja padanya suatu hari nanti.


"Tentu."


"Yeey! Aku akan menjadi seorang kakak!" Dia berseru gembira.


Melihat putranya yang tersenyum bahagia, membentuk sedikit kelegaan dalam hati Zhu Moran.

__ADS_1


Tak lama setelah itu terdengar suara tangisan bayi dari salam ruangan dimana Wei Xiening melahirkan.


Zhu Moran dan Wan Feng segera membuka pintu dan memasuki ruangan.


Disana sudah ada Wei Xiening yang berbaring lemas dengan napas tersengal. Dan di pelukannya, malaikat kecil yang mungil dan menggemaskan.


Seorang bayi perempuan yang sehat dan cantik. Semua orang sangat bahagia terutama sang ayah bayi atau suami Wei Xiening, Zhu Moran karena telah mendapat satu lagi malaikat keluarga mereka.


Kelahiran bayi mungil itu mendapat perayaan besar selama tiga hari tiga malam. Keluarga Zhu mengundang orang-orang dari berbagai kalangan untuk ikut merayakan kebahagiaannya. Dan jangan lupakan juga sang Kaisar, kakak sepupu dari istrinya. Ia turut merayakan kelahiran keponakannya dengan bahagia.


Tibalah saatnya untuk pemberian nama. Ya ... bayi itu adalah Zhu Liana.


Satu bulan berlalu, perasaan bahagia di kediaman Zhu masih saja terasa. Dan kebahagiaan itu juga bertambah karena sang selir pertama juga melahirkan seorang bayi laki-laki. Kediaman Zhu kembali membuat perayaan namun tak sebesar perayaan saat kelahiran Zhu Liana.


Itu membuat selir pertama kesal dan mulai menumbuhkan rasa benci pada Permaisuri dan Zhu Liana.


Hingga tiga tahun berlalu dengan cepat.


Zhu Liana kini tumbuh menjadi gadis kecil manis yang ceria dan juga cerdas seperti ibunya.


Ia amat di sayang dan di manjakan oleh kedua orang tuanya juga sang kakak, Zhu Wan Feng. Hari-hari yang dilalui bersama keluarga sangat membahagiakan. Itu membuat para selir sangat iri hingga merencanakan sesuatu yang tentunya tak baik untuk pasangan ibu dan anak itu.


Tepat satu minggu setelah ulang tahun ke empat Zhu Liana, kediaman Permaisuri terbakar. Menewaskannya saat menyelamatkan Zhu Liana dari dalam kebakaran.


~o0o~


Liana tersentak dikala melihat adegan yang Familiar.


Ini ... adegan ini adalah mimpi yang selalu mendatanginya ketika kecil.


Tapi, bagaimana mungkin? Bagaimana dia bisa memimpikan hidup orang lain.


Liana memegang kepalanya yang terasa begitu sakit saat sebuah ingatan kembali menyerang otaknya.


[“*Li’er, cepatlah pergi bersama bibi Ru. Kau akan selamat.”


“Bu, ibu … tidak, Li’er ingin bersama ibu disini. Li’er tak akan kemana-mana.”


“Ru’an, kamu kembalilah ke bumi terlebih dahulu. Jagalah putriku, rawatlah ia seperti anak mu sendiri.”


“Tuan Putri ....”


“Waktuku sepertinya tak lama lagi, racun yang di berikan wanita itu padaku telah menyebar hingga jantung.” ... “Dan ini ….”


“Tuan Putri, ini?”


“Ya, berikanlah ini pada Liana ketika ia sudah tak memiliki penjaga lagi. Aku sudah memberikan setengahnya pada Moran untuk di berikan pada Liana saat umur lima belas tahun.”


“Tuan Putri, tapi bagaimana anda tahu jika nona Liana akan kembali setelah lima belas tahun?”


“Aku telah membuat segel takdir pada liontin itu. Jika dia berada di bumi, maka dia akan kembali ke dunia ini ketika dia berumur dua puluh enam tahun di sana dan lima belas tahun disini, karena perbedaan waktu antara bumi dan dunia ini adalah dua kali lipat.”


“Segel takdir? Tuan Putri, itu akan menghabiskan esensi jiwa anda. Anda tak kan bisa bereinkarnasi.”

__ADS_1


“Aku tahu, tapi itu apa-apa selama Li’er ku baik-baik saja. Kau harus berjanji untuk menjaganya dengan nyawamu.”


“Ru’an berjanji pada Tuan Putri dengan nyawa Ru’an sebagai taruhannya.”


“Bagus, sekarang … Li’er* …?”


Liana melihat Wanita yang dia yakini sebagai Wei Xiening itu melukai telapak tangannya hingga mengeluarkan darah. Kemudian dia juga melukai tangan gadis kecil, Li'er. Darah keluar dari sana tapi gadis kecil itu tidak nampak takut sedikit pun. Darah itu dibubuhkan pada Liontin Perak yang berbentuk sebelah sayap yang dikeluarkan Wei Xiening dan diserahkan pada Ru'an barusan untuk diberikan pada Liana nanti.


"*Ibu ...?"


"Tenanglah, gadis kecil ibu sangat kuat. Dia akan hidup dengan baik. Kau berjanji pada ibu kan, Li'er?"


"Ibu, Li'er tidak ingin meninggalkan ibu. Li'er ingin bersama ibu."


"Li'er, ibu tidak bisa ikut dengan mu. Kau akan bersama bibi Ru'an disana. Hidup bahagia lah. Suatu hari nanti kita pasti akan bertemu lagi. Kau mengerti kan maksud ibu?"


"Ibu ...?"


"Ssst, gadis kecil ibu sangat penurut."


“Sekarang pergilah* .…”


“*Tuan Putri, semoga di kehidupan berikutnya kita bertemu lagi dan Ru’an ingin mengabdi sekali lagi pada Tuan Putri.”


“Aku juga berharap seperti itu* ….” ]


Api dengan cepat melahap semua bangunan itu ketika Ru'an dan Liana meninggalkan tempat itu. Menyisakan Wei Xiening yang tersenyum lemah memandangi punggung mereka yang telah menghilang.


~o0o~


Bruk!!!


Tubuh Liana seketika ambruk menyaksikan adegan terakhir yang membuatnya merasakan sakit di bagian jantung dan kepalanya.


Jadi sebenarnya dirinya adalah Zhu Liana? Dia dan Zhu Liana adalah orang yang sama. Kepingan kesadaran yang terpisah dimensi dunia.


Pantas saja dia merasa begitu familiar dengan dunia ini. Dia yang sebenarnya adalah seorang introvert bisa cepat akrab dengan Zhu Moran dan Wan Feng yang awal notabennya adalah orang asing. Karena dia, Zhu Liana.


Karena itu juga dia merasa bahwa Zhu Liana begitu mirip dengannya dan bahkan terkesan sama. Karena mereka memanglah orang yang sama. Zhu Liana adalah separuh dari keberadaan jiwanya yang dibelah oleh Wei Xiening menggunakan segel takdir.


Dan ... dan selama ini, wanita yang dia yakini sebagai ibunya hanyalah pelayan dari ibu ibu kandungnya sendiri.


Liana merasa lemas hingga tidak bisa berkata-kata. Dia bahkan mengabaikan seseorang yang berdiri di dekatnya. Orang serba putih itu hanya menatapnya tanpa emosi.


Liana sulit mempercayai apa yang baru saja dilihatnya. Semua ingatan yang dulu terkunci karena efek samping dari segel takdir kini terbuka kembali. Liana telah mengetahui jati dirinya.


Tapi setelah itu apa? Haruskah dia membalas orang yang telah membuat ibunya seperti itu? Haruskah dia mencari orang yang telah sengaja membakar Paviliun ibunya?


Ya, Liana harus membalas mereka. Liana harus menagih apa yang telah mereka perbuat. Dan untuk itu, dirinya akan menjadi kuat dan kuat!


Kilat tertentu segera memancar dari mata gelapnya. Liana telah bertekad!


~o0o~

__ADS_1



Untuk Cast nya..... aku masih bingung nentuin yang cocok buat setiap karakter... jadi tunggu aja.


__ADS_2