![[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana](https://asset.asean.biz.id/-reinkarnasi--sayap-takdir--zhu-liana.webp)
"Tuan?"
Shiro mendekati Liana bersama Chao saat gadis itu masih sibuk membakar tubuh Monster Belut.
Liana berbalik menghadap keduanya. Dengan wajah tanpa ekspresi, dia berkata, "Ayo kembali. Mereka akan kemari."
Kedua makhluk berbeda spesies yang menemani dirinya hanya menurut dan mengikuti gadis serba putih itu keluar dari lingkar lapisan pelindung tempat pertarungan sebelumnya terjadi.
Yah, Liana telah menyuruh Shiro untuk membuat pelindung supaya orang-orang yang memburu Monster Belut tak menemukan keberadaan mereka.
Bertepatan saat ketiganya keluar, selusin orang dengan model seragam yang sama, yaitu jubah berwarna biru dengan motif ombak putih menghampiri tempat yang sudah kehilangan lapisan pelindung yang di buat Shiro.
Salah seorang yang berpenampilan pria lima puluhan tahun memandang tubuh Monster Belut yang terbakar dengan dingin.
Jubahnya yang berwarna jingga dengan motif ombak putih sedikit berkibar karena tiupan angin saat dirinya masih melayang di udara. Hanya pakaiannya yang sedikit berbeda dari selusin orang di belakangnya.
Bisa diketahui jika dia merupakan pemimpin kelompok itu.
"Patriark, bagaimana ini? Sepertinya ada yang mendahului kita." Salah satu anggotanya membuka suara, namun pria itu tak juga menjawab.
"Oh tidak, siapa yang begitu kuat hingga dapat membunuh Belut Naga?"
"Eeh? Kenapa dia membunuhnya alih-alih menjadikan makhluk itu sebagai Binatang Kontrak?"
Percakapan beruntun langsung terjadi di antara selusin orang itu. Mereka sama mendiskusikan kejadian yang tidak mereka lihat sebelumnya.
"Patriark?" panggil seorang lelaki yang terlihat masih berusia 30-an tahun.
"Hmm, makhluk ini telah menjadi Monster." Akhirnya pria paruh baya yang dipanggil dengan sebutan Patriark itu membuka suara.
Selusin orang yang bersamanya mengalihkan pandangan mereka pada sang Patriark dengan mimik wajah sama-sama terkejut.
~o0o~
Sedangkan Liana dan kedua makhluk berbeda jenis yang mengikutinya itu kini telah berada di luar perbatasan Hutan Tanah Lumpur.
Entah apa yang terjadi? Tapi wajah tanpa ekspresi Liana yang dingin kini nampak lebih dingin dari biasanya.
Shiro dan Chao? Mereka tak ada yang berani mengeluarkan suara saat merasakan aura tak mengenakkan dari gadis serba putih tersebut. Bahkan Chao yang cerewet menjadi bungkam.
Suasana hati gadis itu nampak tidak dalam keadaan baik. Apa yang telah ia lewati?
Sampai pada gerbang ibu kota pun, Liana tak juga mengeluarkan sepatah kata. Hanya matanya yang menatap lurus ke depan.
Oh ya, Shiro sendiri seperti biasa telah masuk ke dalam ruang Dimensi Sayap Kembar. Tak ingin mencolok di mata publik.
__ADS_1
Lalu Chao, dia sudah berkali-kali menghela napas saat dirinya melayang mengikuti langkah gadis yang belum juga dia ketahui namanya itu. Tetapi, dia belum berani bertanya tentang situasi dan suasana hati gadis itu.
Aura yang dikeluarkan Liana benar-benar menyeramkan ia rasakan.
Sampai pada akhirnya, mereka kembali ke penginapan sebelumnya. Dan hari sudah menjelang fajar. Beruntung belum ada yang terbangun saat itu. Jadi tak ada yang curiga dengan kepergian Liana.
Gadis itu dengan segera memasuki kamar yang ia pesan di dalam penginapan. Membersihkan diri dan beristirahat sejenak untuk memulihkan tenaganya yang terkuras habis.
Chao sendiri sudah menghilang entah kemana saat dirinya memasuki kamar. Sudahlah, lagipula dia tak memiliki urusan maupun perduli pada makhluk halus berbentuk bocah berisik itu.
Selesai membersihkan dirinya, Liana langsung duduk bersila di atas peraduan. Memejamkan matanya dan fokus pada sekitar. Dia menarik sebanyak mungkin energi alam ke dalam tubuhnya.
Perlahan, perasaan hangat segera menggapai dirinya. Luka gores serta kelelahan yang tadinya menumpuk telah menghilang.
Liana terus berkultivasi sampai matahari menampakkan diri dengan jelas.
Liana membuka matanya saat mendengar suara ketukan pintu dari luar kamarnya.
"Haah~" Helaan napas terdengar. Sangat sulit menerobos setelah terobosannya yang ke seratus kali.
Dengan langkah pelan, Liana menghampiri pintu dan membukanya.
"Ah, kau sudah bangun ternyata."
"Ayo ke bawah, kita sarapan bersama. Setelah itu kita akan kembali ke Manor. Ayah sepertinya khawatir padamu. Padahal kemarin aku sudah memberitahunya lewat surat jika kita tidak pulang."
Entah kenapa Liana merasa lucu melihat ekspresi sang kakak yang berubah-ubah saat berbicara. Dia tanpa sadar tersenyum merasa lebih hangat.
Haah, keberadaan orang-orang terkasih memang dapat menghangatkan hati.
Liana tak banyak bicara, dia hanya segera menggandeng tangan Wan Feng menuju ke bawah dimana tempat makanan tersedia.
Wan Feng sendiri merasa senang saja lengannya ditarik-tarik oleh sang adik. Mereka menjadi semakin dekat tiap harinya. Apalagi yang lebih membahagiakan dari itu?
Saat di bawah, mereka sudah menemukan Ling yang tengah menyiapkan meja untuk keduanya. Gadis pelayan itu memang selalu cekatan jika menyangkut tentang majikannya.
"Jadi, kau ingin makan apa Li'er?" tabya Wan Feng sesaat setelah dirinya duduk di kursi.
"Apapun yang dapat mengenyangkan perut dan tentunya yang enak," jawab Liana cukup panjang.
"Baiklah, Xiao-er!" Wan Feng memanghil seorang pelayan laki-laki yang berjarak tak jauh dari tempat duduk mereka.
"Ya, Tuan Muda?"
"Bawakan hidangan yang paling enak dan paling mahal di tempat ini," ucap Wan Feng yang entah kenapa terdengar nada kesombongan di sana membuat Liana mendengus kemudian terkekeh.
__ADS_1
Kakaknya ini ingin berlagak angkuh sesekali.
Pelayan itu segera mengangguk dengan senyum. Menyanggupi permintaan pemuda tampan itu dan segera berlalu dari sana untuk melaporkan pesanan pada para koki.
"Kakak, kau tidak cocok menjadi arogan," ucap Liana mengawali obrolan sembari menanti pesanan mereka.
Wan Feng tertawa mendengar pendapat adiknya. "Begitukah?" tanyanya dan Liana balas dengan anggukkan juga kekehan.
~o0o~
Kepulangan Liana dan Wan Feng tentu di sambut antusias oleh Zhu Moran. Bahkan terlalu antusias hingga sekarang pasangan kakak beradik itu harus tertunduk dalam posisi berlutut di depan sang Ayah yang menceramahi keduanya.
"Apa yang kalian pikirkan sebenarnya? Apa kalian ingin membunuh Ayah karena khawatir?"
Wan Feng membuka mulutnya hendak menyangkal perkataan Zhu Moran, tapi tidak jadi saat melihat tatapan tajam pria paruh baya yang menjadi Ayahnya itu. Dia hanya bisa menunduk semakin dalam.
Begitu pula dengan Liana yang tertunduk. Orang yang melihatnya mungkin berpikir jika gadis serba putih itu sama seperti kakaknya. Merasa bersalah.
Sayangnya tidak ada yang tahu jika tertunduknya Liana adalah guna untuk menyamarkan sinar dingin dalam matanya.
Kedinginan itu sudah dia perlihatkan saat memasuki gerbang Manor Zhu.
Entah apa yang ia pikirkan? Hanya saja dalam otaknya saat ini tengah menyusun sebuah rencana yang tentunya tak akan berakhir baik untuk beberapa orang yang berada di kediaman tersebut.
Zhu Moran mendesah saat dirinya memejamkan mata berusaha mengembalikan ketenangannya.
Kembali menatap kedua anaknya, buah hati dari mendiang isterinya itu bergantian.
"Sudahlah, sebagai hukumannya. Kalian harus menyalin buku aturan keluarga di aula leluhur sebanyak sepuluh kali!" putusnya yang tentu saja mengejutkan Wan Feng dan Liana.
"Ap-apa! Ayah, kau tidak bisa melakukan itu. Aku kan sudah memberitahumu lewat surat dan meminta izin." Wan Feng lebih dulu menyuarakan ketidak setujuannya atas hukuman yang tidak adil itu.
Zhu Moran kembali melayangkan tatapan tajam pada lelaki muda itu. "Kenapa Ayah tak bisa melakukannya? Dan lalu, apakah Ayah memberimu izin?"
Sebuah kalimat yang terlontar membungkam telak seorang Wan Feng. Dia tak dapat berkata-kata dan merasa jika sang Ayah terlalu mengekang mereka. Ah tidak, tidak. Sebenarnya Zhu Moran lebih khawatir pada keadaan Liana dan menyalahkan Wan Feng yang membawa adiknya itu keluar dari Manor terlalu lama.
Liana akhirnya mengehela napasnya. Dia tahu jika Ayahnya ini terlalu paranoid akan dirinya. Sejak kejadian di Bukit Awan, Zhu Moran menjadi Ayah yang terlalu protektif. Liana tak menyalahkan itu, justru merasa lucu dan ... hangat. Sebab dirinya tak pernah merasa begitu dilindungi dan di sayangi oleh sosok keluarga. Dia senang, sangat.
"Maafkan Li'er, Ayah." Nada gadis itu terdengar begitu bersalah membuat Zhu Moran terenyuh mendengarnya. Ah, dia benar-benar sosok Ayah yang lembut.
~o0o~
Karena aku lagi gabut, yuk main tebak-tebakan!
Buah ... buah apa yang rasanya enak? Hayook jawab! >,<
__ADS_1