[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana

[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana
36-Sepasang Ibu dan Anak


__ADS_3

Yap! Shiro yang berada di dalam sana mengonfirmasi kesalahannya. Dia tidak mengira bahwa bunga yang dia sangka sebagai Bunga Kabut Malam ternyata adalah Bunga Iblis.


Memang sekilas keduanya terlihat sama, tapi jika di perhatikan memang ada perbedaannya. Bunga Kabut Malam, ketika di malam hari dia mengeluarkan kabut berwarna biru atau kadang putih, itu adalah tanda adanya energi kehidupan yang memperpanjang umur dan menguatkan akar roh.


Sedangkan Bunga Iblis sendiri memiliki sesuatu yang di namakan pesona ilusi. Itu dapat membuat orang-orang disekitar bunga menjadi lebih agresif dan penuh ambisi. Membuat keserakahan dalam diri mereka menguar hingga bahkan tega untuk saling membunuh sesama. Karena kemiripan itulah yang membuat semua kekacauan ini terjadu dan juga karena ambisi mereka untuk mendapatkan Bunga Kabut Malam, itulah mengapa orang-orang ini terperangkap dalam Pesona Ilusi dari Bunga Iblis.


Kenapa Liana tidak terpengaruh? Jawabannya adalah karena sedari awal dia tidak menginginkan bunga itu. Dia tidak memiliki keserakahan dengannya. Dan yah, energi mentalnya kuat untuk melawan pesona ilusi dari Bunga Iblis yang benar-benar memiliki pesona layaknya iblis yang menyesatkan manusia.


"Kalian telah terjebak dalam ilusi bunga terkutuk itu. Lihatlah sekeliling! Kehancuran yang kalian perbuat."


Orang-orang mulai melihat sekeliling mereka dengan terkejut. Mereka hampir menghancurkan hutan. Dan beberapa teman dan orang yang mereka kenal di sana telah terkapar tak bernyawa. Keadaan mereka sangat mengenaskan, ada yang tubuhnya terbelah dua, terbakar, terpotong-potong dan lain sebagainya.


Mereka akhirnya tersadar dengan apa yang mereka lakukan. Raungan tangis akhirnya terdengar, gumaman permintaan maaf juga rasa bersalah memenuhi tempat itu. Beberapa dari mereka menyesal, beberapa juga yang terlihat biasa saja. Bahkan ada beberapa yang saling menyalahkan.


Liana membuang napasnya kasar. Aura membunuh juga sedari tadi ditariknya. Tanpa ada yang menyadari, dia telah pergi dari tempat itu. Jengah melihat kebodohan dari orang-orang itu. Keserakahan adalah sifat duniawi yang tidak dapat terlepas dari makhluk seperti manusia.


~o0o~


Waktu berlalu dengan cepat, dan kini sang Surya telah memberi kabarnya yang cerah.


Berita tentang pertarungan semalam menjadi topik obrolan banyak orang yang ada di sekitar bukit. Bahkan Kaisar mengerahkan beberapa prajuritnya untuk mengintai situasi jika hal-hal tak terduga kembali terjadi. Kecurigaan tentunya terbentuk jelas.


Liana sendiri yang awalnya merasa biasa saja menjadi sedikit curiga dengan kejadian aneh di bukit.


Bunga Iblis tak bisa tumbuh dalam hutan yang begitu tenang seperti di daerah bukit awan yang kebanyakan menebarkan aura positif. Bunga Iblis memiliki habitat di pulau terbuang yang terpisah dengan ketiga benua yang lain, katanya di sana adalah sarang para monster ganas. Tapi kenapa pemuda itu dapat menemukannya disini? Aneh.


Ah ya, Liana tentu mendapat informasi dari Shiro yang setengah maha tahu. Karena itulah dia merasa ada orang yang merencanakan hal ini? Tapi apa motif mereka? Untuk mengacaukan acara berburu? Atau ... ah entahlah! Liana pusing.

__ADS_1


"Haaah!" Pagi ini dia sudah belasan kali menghela napasnya seperti orang susah.


"Aku menyukai kedamaian tanpa permasalahan," gumamnya menggerutu kesal.


Sambil melempar batu berkali-kali ke anak danau, Liana terus mengatakan hal-hal yang tidak berguna.


Yah, dia akan menjadi cerewet jika sedang kesepian tapi akan menjadi pendiam jika bersama orang lain. Haha, sepertinya gadis serba putih inilah yang aneh.


"Ah, sudah banyak!" serunya tiba-tiba dengan raut wajah senang. Perubahan suasana hatinya memang sangat cepat.


Sebenarnya sedari tadi Liana bukan hanya sekedar melempar batu dengan asal, melainkan dia sedang memancing. Iya, memancing!


Dia melempari batu pada ikan-ikan yang muncul di permukaan. Dan semua lemparannya tepat mengenai sasaran, tentu saja kita harus mengingat kembali gelarnya sebagai Jenderal Wanita WSA, dia adalah penembak jitu! Ah lupakan itu, dia memang memiliki banyak bakat, dan bakat itulah yang membunuh Liana pada akhirnya.


Beberapa ekor ikan terlihat mengambang di air yang menandakan mereka mati atau mungkin pingsan, mm ... mungkin?


Lupakan saja! Liana yang kini sudah membawa ikan segera membersihkannya. Setelah itu dia mengambil beberapa ranting, membuat ujungnya menjadi runcing dan tajam, menusuk ikan.


Dia membuat api unggun dan membakar ikan segera seraya bernostalgia tentang misinya beberapa tahun lalu ketika dia belum menyandang gelar seorang Jenderal. Suasananya sama seperti saat ini, bedanya waktu itu dia tak sendiri, melainkan dengan rekan-rekan seperjuangannya yang ikut mati saat penghianatan terakhir kali.


"Haaaah!" Liana menghela napasnya, miris memikirkan masalalu yang pahit.


Dia membalik ikan agar sisi lainnya juga ikut matang. Tapi tiba-tiba wajahnya kembali serius saat mendengar suara geraman yang datang dari samping.


Liana mengernyit melihat apa yang menghampirinya.


Sepasang ibu dan anak, sepertinya? Dan mereka kelaparan terlihat dari air liur mereka yang menetes dari sela gigi runcing yang menganga.

__ADS_1


"Kau mau?" tanya Liana pada pasangan ibu dan anak itu seraya menyodorkan ikan yang setengah matang. Yah lagi pula mereka tidak memerlukan ikan yang matang.


Ah, informasi. Sepasang ibu dan anak itu adalah beruang albino bukan beruang kutub karena sekarang bukan berada di daerah bersalju. Jadi Liana mengira mereka hewan albino yang menjadi penghuni asli Bukit Awan yang kebanyakan memiliki warna penghuninya yang serba putih, sama seperti dirinya.


Yap! Liana sangat menyukai warna putih, hampir menjadi obsesinya. Karena menurutnya putih adalah lambang kejujuran bukan kebaikan atau sesuatu hal yang suci, hanya kejujuran! Karena sedikit saja noda di dalamnya akan jelas sekali terlihat. Itu menurut Liana.


Induk beruang itu menggeram seperti curiga atau berhati-hati pada manusia di depannya. Sedangkan anaknya hanya bersembunyi di balik punggung besar induknya.


Liana hanya mengerjap. Dia meraih daun yang sedikit lebih lebar dari semak di belakangnya dengan pisau angin tentunya. Kemudian Liana meletakkan dua ekor ikan setengah matang di atas daun dan menyodorkannya ke arah keluarga beruang itu. Setelah itu dia sedikit menjauh agar tidak mengganggu mereka makan.


Benar saja, setelah Liana cukup jauh dari mereka, induk beruang segera menggigit ikan dan menyerahkannya pada si anak. Membiarkannya makan lebih dulu. Setelah itu dia menyisihkan untuk dirinya sendiri.


Liana terkekeh melihatnya, kelakuan dua hewan roh itu sama seperti manusia. Harmonis! Liana yang hanya melihat juga merasakan kehangatan mereka.


"Ibu ...." gumamnya mengingat dua sosok wanita yang ia akui sebagai ibunya. Sepertinya Liana merindukan mereka.


Tanpa terasa, ikan-ikannya juga telah matang. Dia meraih salah satu ikan bakar dan menyantapnya dengan khidmat.


Kembali melihat keluarga beruang yang telah menghabiskan makanan mereka dan kini melihat pada ikan Liana.


Liana tertawa dan kemudian dia kembali melemparkan dua ikan pada mereka. Beruntung dia menangkap cukup banyak.


Beruang menyambut ikan-ikan dengan antusias. Mereka bahkan tidak lagi takut pada Liana. Mungkin karena merasa bahwa gadis manusia itu tak memiliki niat jahat sama sekali.


Siang itu terasa begitu tenang dengan Liana dan keluarga beruang yang beramah-tamah tanpa mengucapkan kata sepatah pun, mereka menjadi akrab.


Shiro juga keluar atas panggilan Liana untuk menikmati ikan bakar bersama. Makhluk yang terlihat tampan itu dengan elegan duduk bersila di dekat majikannya setelah mengangkat kain Zaoshannya yang panjang, tanpa perduli pada dua binatang putih lainnya yang menatapnya lekat.

__ADS_1


~o0o~


__ADS_2