[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana

[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana
21-Pesulap Jalanan II


__ADS_3

"Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya, selamat datang di pertunjukkan Sulap Master!"


Laki-laki berambut pirang itu berteriak dengan lantang sambil merentangkan tangannya mempersilahkan seseorang yang sedari tadi berdiri di belakang untuk naik ke atas panggung.


Masih seperti keturunan orang barat, bedanya orang itu memiliki rambut hitam yang agak panjang dengan mata abu-abu gelap.


Dia berjalan di atas panggung menghampiri samping laki-laki berambut pirang. Menatapnya dengan raut keluhan.


Dia berbisik menggunakan bahasa negerinya yang jelas dapat dimengerti oleh Liana.


"Yang Mulia, kenapa kita harus melakukan hal seperti ini?" Laki-laki berambut hitam nampak begitu gelisah.


Rupanya laki-laki berambut pirang itu adalah tuan sebenarnya.


Liana bahkan mengernyit heran. Tapi dia ingin melihat seperti apa pertunjukkan dua orang barat itu.


Memang, setiap tahun ... banyak sekali para pedagang maupun pelancong dari benua lain yang singgah ke tempat-tempat di Benua Timur, dan salah satunya yang paling ramai dikunjungi ialah Kekaisaran Naga. Karena merupakan Kekaisaran yang kaya dan makmur dengan relasi dagang hampir di seluruh penjuru dunia.


"Tuan dan Nyonya-nyonya. Perkenalkan, kami adalah anggota sirkus dari Negeri Barat. Anda sekalian bisa memanggil saya Al, dan yang di sebelah saya ini adalah Master Pesulap kami, Tuan Tufa!"


Mungkin karena pembawaan ceria dan percaya diri dari laki-laki berambut pirang yang memanggil dirinya dengan nama Al itu membuat para penonton juga ikut heboh meski kini telah menjelang malam.


Banyak yang kagum juga dengan dekorasi panggung sederhana yang kedua lelaki sirkus itu buat. Banyak batu cahaya yang berkerlip dengan banyak warna menampilkan suasana yang semakin meriah.


"Baiklah, tanpa menunggu waktu terbuang lebih banyak lagi. Mari kita sambut penampilan luar biasa dari Master Tufa!"


Entah dari mana asalnya, tapi setelah Al si pirang selesai berbicara, suara drum dan genderang ditabuh menambah keramaian sorak sorai penonton. Tak ada yang memperhatikan itu kecuali Liana.


Bahkan Wan Feng yang berada di sampingnya juga ikut bersorak membuatnya menggeleng. "Sangat antusias!" pikir Liana sendiri dalam hati.


Tapi setelah itu dia kembali mengalihkan pandangannya ke arah panggung.


Disana, seseorang bernama Master Tufa alias pria bermata abu gelap itu tengah mengocok kartu. Gerakan tangan yang cepat serta elegan membuat para penonton kagum, tak terkecuali Liana.


Ada rahasia kecil yang dia miliki sejak muda. Dulu sebelum memasuki WSA dia selalu menonton pertunjukkan Sulap lewat televisi, sejak saat itu dia bertekad untuk menjadi Pesulap. Tapi sayangnya cita-cita masa kecilnya itu harus dia lupakan setelah kematian Ru'an, wanita yang sudah dianggapnya sebagai ibu.


Mata Liana terus fokus pada tangan sang Pesulap yang kini telah mulai membagi-bagikan kartunya di atas meja yang sedari awal telah tersedia di atas panggung.


Master Tufa melirik Al yang mengawasi dari samping. Memberikan kode untuk memulai.


"Ekhem! Master Tufa berkata, untuk acara pertama ini adalah Permainan Kartu Ramalan. Barang siapa yang ingin ikut bermain, silahkan maju ke depan dan naik panggung."


Para penonton mulai berbisik, berdiskusi, siapakah di antara mereka yang akan naik lebih dulu.


Beberapa menit pun berlalu hingga Al si pria berambut pirang kembali membuka suaranya.

__ADS_1


"Jika tidak ada yang ingin maju, maka saya yang akan menunjuknya!" Dia masih saja berbicara dengan ceria, senyumnya bahkan tidak pernah luntur sejak pertama kali.


Al menggeser bola matanya mengabsen satu per satu penonton yang ada di sana. Hingga tatapannya jatuh pada seorang gadis yang menonton dengan wajah begitu tenang dan datar. Siapa lagi kalau bukan Liana lah orangnya.


"Ah! Nona Muda yang di sana, apa kau ingin berpartisipasi?" Dia meminta dengan lembut pada Liana.


Semua mata mengarah pada Liana bahkan Wan Feng juga.


"Li'er, mereka memanggilmu," ucapnya dengan antusias.


Liana diam memperhatikan Al beberapa lama tapu setelah itu dia mengangguk kemudian maju ke depan.


"Nona Muda, siapa namamu?" tanya Al pada Liana yang kini sudah berada di dekatnya.


"Liana, namaku Zhu Liana," jawab Liana tidak terpengaruh dengan suasana heboh di sekitarnya.


"Baiklah, Nona Liana. Nona siap untuk mendapat kejutan?!" Al bertanya sekali lagi dengan semangat. Entah kenapa dia begitu antusias saat melihat Liana.


"Aku ingin melihat," jawab Liana lagi-lagi singkat.


Para penonton juga semakin ramai berdatangan ingin melihat sesuatu yang menarik pada pertunjukkan.


Al mengambil sebuah bangku dari cincin ruangnya membuat semua orang terkagum karena tidak semua orang memiliki yang namanya cincin ruang. Selain mahal, juga sangatlah langka. Mungkin hanya orang kaya seperti bangsawan atau orang-orang berpengaruh yang memilikinya.


Liana juga tidak memilikinya, tapi Wan Feng punya. Dia sempat bertanya kenapa kakaknya itu malah menyuruh Hai Xia dan Ling membawa barang mereka ketimbang di masukkan ke dalam cincin. Tapi Wan Feng menjawab jika dia tidak membawanya, maka jadilah para pelayan setia itu kesusahan. Ah kasihan.


Kembali pada Liana saat ini. Dia duduk di depan Master Tufa dan Al hanya dibatasi meja kayu sebagai media permainan.


Kembali Al bertanya, "Nona Liana siap?" Liana hanya mengangguk sebagai balasan.


"Baik, karena permainan ini di sebut sebagai Permainan Kartu Ramalan. Maka kami akan bermain dengan takdir Nona di masa depan dengan kartu-kartu ini. Nona Liana tidak keberatan?"


"Aku mengerti," jawab Liana. Dia berpikir ini hanya sebuah permainan, jadi apa salahnya untuk mencoba.


Liana tak menyadari bahwa orang di seberangnya tengah tersenyum aneh. Hanya sekejab seperti tidak pernah terjadi.


"Peraturannya, Master Tufa akan mengacak semua kartu dan menaruh sepuluh kartu teratas di atas meja. Dan tugas Nona Liana adalah memilih salah satu dari sepuluh kartu tersebut. Maka tidak perlu membuang waktu lagi, mari mulai permainannya!" Setelah Al berucap, semua penonton juga bersorak heboh. Begitu ramai!


Master Tufa mulai mengacak kartu dengan mengocoknya beberapa kali. Gerakan tangannya masih begitu cepat, tangannya menarik semua kartu hingga membentuk sebuah kipas lalu kembali di satukan dan diacak kembali. Juga sesekali dia menepuk tangannya hingga seolah-olah kartu itu menghilang dari sana, dan dia memunculkannya kembali saat telapak tangannya menyentuh meja. Hal itu membuat penonton kagum melihatnya. Dia mengulangnya hingga beberapa kali.


Dan beberapa saat kemudian dia berhenti, kemudian mulai meletakkan sepuluh kartu teratas di meja kayu.


Dia kemudian mengatakan sesuatu yang cukup mengagetkan Liana. "Nona Zhu Liana. Nona Muda Ke-dua di Manor Zhu, putri dari pasangan Zhu Moran, Perdana Mentri Kekaisaran Naga dengan istrinya Wei Xiening, keponakan Kaisar terdahulu. Anda memilki nasib yang buruk di masalalu."


Ucapan Master Tufa benar-benar membuat kerumunan menjadi heboh. Jika dia tidak mengatakannya, siapa yang akan tahu sosok dari gadis yang menjadi gandengan Wan Feng, sang Letnan Jenderal. Dan ternyata iti adalah sang adik yang sering dirumorkan tak berguna. Tapi siapa yang menyangka jika gadis tak berguna itu kini tengah menjadi tontonan mereka.

__ADS_1


Siapa yang tidak mengenal seorang Zhu Liana, sampah dari Manor Zhu yang begitu tersohor namanya di seluruh penjuru Kekaisaran. Tapi sebenarnya tak pernah ada yang melihat bagaimana penampilannya karena selalu mengurung diri di kediaman. Bahkan orang-orang mulai menambah rumoh bahwa seorang Zhu Liana itu buruk rupa. Selain bisu dia juga buruk rupa, sangat tidak berguna! Begitulah orang-orang mengatakan dengan sinis tentangnya.


Karena itu Liana cukup terkejut jika orang di depannya itu dapat menebak identitasnya yang mana orang lain tidak ketahui.


Penonton di bawah sana juga mulai berbisik-bisik membuat Wan Feng yang berada di kerumunan menjadi geram karena orang-orang ini berani menjelekkan nama adiknya. Dia tidak terima. Dia kemudian memandang ke arah panggung yang mana disana masih ada Liana yang duduk tenang mendengar apa yang orang-orang perbincangkan tentangnya.


"Li'er ...." lirihnya ingin menjemput sang adik. Namun baru langkah pertama dia mendengar suara Liana berdengung di kepalanya.


"Tetap disana kakak! Aku masih ingin bermain."


Dia menaikkan alisnya terkejut, apakah adiknya barusan mengirimnya sebuah telepati?


Wan Feng kembali memandang Liana yang kini juga telah menatapnya dengan penuh keyakinan.


Hei Liana tidak mungkin meninggalkan kesenangan seperti ini, bukan?


Oh ya, perlu diketahui. Teknik telepati sangatlah sulit untuk dipelajari. Hanya orang-orang yang memiliki jiwa yang kokohlah dapat menggunakannya. Sebab itu akan menguras banyak pikiran yang mana sebenarnya tersambung dengan benang jiwa seseorang.


Dan biasanya Kultivator yang telah mencapai


Pelatihan Roh lah yang bisa. Sebab mereka telah memperkuat jiwa.


Lalu, apakah Liana telah berada di tingkat itu? Jika ia, betapa mengerikannya sang adik. Begitulah pikiran dari seorang Wan Feng menatap Liana tak percaya.


~o0o~


Yo!


Kemarin ada yang nanya jadwal Update yak...


Gini, untuk jadwal, aku bikin random. Bisa siang, bisa sore, juga bisa malem. Tapi ku usahain deh buat Up tiap hari.


Jika pun bolong, ya tolong maafkan dan maklumi. Sebab ada dua alasan kenapa aku nggak Up.


**1. Karena Nggak ada Kuota :v



Karena draft nya belum jadi. Hehe...



Jadi ku sarankan jangan nunggu, atau taruh aja di Favorit biar kalo Up bakal tau deh...


Soalnya nunggu itu adalah pekerjaan yang melelahkan. Eaak**!

__ADS_1


So, See U....


__ADS_2