![[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana](https://asset.asean.biz.id/-reinkarnasi--sayap-takdir--zhu-liana.webp)
Waktu seolah berhenti di sekitar keduanya. Liana yang membeku dan Wuxian yang dengan lembut memejamkan matanya, merasakan kenyamanan dan manisnya kedekatan dengan gadis itu.
Dia bahkan sudah menangkup pipi Liana dengan satu tangan dan tangan lainnya memeluk pinggang Liana. Semakin dekat, semakin nyaman, semakin dalam dan semakin terbuai. Hingga beberapa saat dia melepaskan diri.
Wuxian menjauhkan sedikit wajahnya pada Liana, hanya sedikit dan dia kembali menempelkan dahinya pada gadis yang napasnya cukup cepat karena terlalu lama tak menghirup udara, berkat dirinya.
Matanya melembut saat melihat semburat merah muda yang tipis di wajah putih itu. Tipis tapi cukup jelas karena Liana memang bukan orang yang suka menampal bedak atau perona pipi di wajahnya. Sederhananya, dia tidak terlalu suka berias diri seperti kebanyakan gadis dan wanita lainnya. Lebih sederhananya lagi, dia tidak menyukai hal-hal rumit menempel di tubuhnya.
Jadi melihat rona merah alami itu, Wuxian cukup puas dengan dirinya sendiri. Tapi setelah itu ....
"A...kh!" Dia mendesis merasakan sakit di dahinya. Mengusapnya sebentar lalu melihat Liana yang memasang tampang sengit dengan wajah yang semakin memerah. Tiba-tiba sang Pangeran Ke-tiga--Wei Wuxian merasakan bahaya, tengkorak belakangnya merasa lebih dingin.
Ah, sial! Kali ini dia mungkin akan tamat.
Sudah tahu jika gadis itu tak suka digoda dan dia ... dia malah menciumnya? Tolong ... siapa pun pukul dia agar sadar! Tapi merasakan rasa manis dan lembut yang menyentuh bibirnya, dia tak menyesal, malah merasakan kupu-kupu terbang di dalam perutnya, dia tersenyum tanpa rasa bersalah.
Tapi Liana melihat yang senyumnya itu, dia menjadi semakin jengkel. Ingin memukulnya, mengulitinya, mematahkan tulangnya mencincang dagingnya dan mengeluarkan seluruh isi perutnya.
Hanya saja Liana tak bisa. Dia ingin mengumpatinya, mengutuknya dan memarahinya sepanjang hari. Tapi kata-kata yang keluar hanyalah .... "Kau ... kau ...." Yang tidak bisa melanjutkan.
Saat itulah Liana merasa begitu teraniaya dan sangat bodoh. Tidak ada yang pernah memperlakukannya begitu kurang ajar seperti ini. Meski pun dia tahu jika pemuda di depannya ini adalah calon suaminya di masa depan, tapi ... tapi dia tidak tahu hubungan macam apa itu? Yang ia tahu hanyalah hubungan seperti itu hanya mengikat dua kehidupan mereka untuk selalu bersama. Itu saja.
Yah, Zhu Liana sang Jenderal Wanita WSA yang luar biasa dengan bakat yang begitu gemilang, cerdas, bijak, dewasa dan cekatan. Tapi dia sangat bodoh jika itu menyangkut tentang hatinya, yang berkenaan dengan perasaan cinta kasih antara dua insan berbeda jenis.
Yang ia tahu hanya rasa hormat, belas kasih dan harga diri ruang lingkup individu dan sosial. Tak ada yang mengajarinya apa itu cinta. Dia tak pernah tahu dan tidak pernah mencari tahu. Menganggap hal seperti itu hanya permainan konyol yang tidak penting. Karena itulah dia juga tak pernah merasakannya. Jadi dia sama sekali tidak mengerti, dia menjadi buta huruf jika menyangkut kata itu.
Dan sekarang dia hanya tahu jika jantungnya telah berdebar lebih cepat dari normal, tubuhnya terasa panas. Dia menjadi takut dan tidak nyaman. Mungkin karena itulah dia melayangkan amarah pada Wuxian. Berpikir jika pemuda itu membuatnya sakit. Ah? Ya baiklah, sekali lagi dia memang bodoh mengenai hal seperti ini. Dia tidak terbiasa dengan perlakuan seseorang yang begitu intim padanya. Jadi dia hanya bisa marah tanpa tahu harus bagaimana merespon perlakuan seperti itu. Karena pertama kali seseorang memperlakukannya seperti ini.
Tiba-tiba Liana mengingat kejadian, ah bukan ... maksudnya peristiwa yang ia saksikan dalam alam kenangan yang mengisahkan perjalanan hidup Bai Lan Jin. Saat gadis dengan tiga warna rambut itu membasmi para Monster yang meluluh lantahkah desa tempat tinggalnya dengan meminjam energi spiritual--Qi pada sang Zanzhu Ren Zuxian, lelaki berambut merah itu juga melakukan hal sama seperti yang dilakukan Wei Wuxian barusan padanya.
Tapi kali ini sedikit berbeda, karena tak ada energi spiritual yang ditransfer. Dan itu membuatnya linglung hingga kesal. Sebenarnya dia tahu apa arti tindakan seperti ini, lagi pula di dunia modern, orang-orang lebih terbuka tentang pergaulan. Dan dia sering mendengar cerita dari bawahan dan rekan-rekannya tentang pasangan masing-masing. Meski pun dia tidak merasakannya dan bodoh tentang itu, tapi karena orang-orang berbicara seperti mengemukakan teori tentang itu, dia sedikit mengerti. Ugh! Hanya dasarnya yang lebih umum.
Orang-orang mengungkapkan teori cinta dengan cara dan rasa yang berbeda. Jadi karena itulah dia merasa itu rumit. Tak ada yang menjelaskan secara relevan apa itu cinta.
"Xian gege, ayo bertarung hidup dan mati?" Dia belum merasa tenang, dia tertekan hingga suaranya menjadi begitu dingin.
__ADS_1
Wei Wuxian yang mengetahui berbagai pikirannya tak bisa lagi terkejut atau tertegun. Dia hanya merasa lucu membandingkan luar dan dalam gadis itu.
Dia sekarang tahu jika gadisnya, miliknya dan kekasihnya ini benar-benar masih murni, sangat polos dan naif. Dia cukup senang. Tapi sekarang dia harus berakting untuk menenangkan amarah gadis itu yang sebenarnya tidak berdasar. Tapi mengetahui ada yang tidak dimengerti gadis luar biasa itu, dia merasa ... Liana menjadi lebih menggemaskan.
Wajah Wuxian menjadi serius, menjadikan gejolak geli di matanya tersembunyi. "Li'er, apa yang salah? Aku hanya menunjukkan perasaanku padamu, aku hanya ingin lebih dekat denganmu. Karena itulah aku--" Wuxian tak dapat melanjutkan kalimatnya saat Liana membentak.
"Diamlah!"
"Li'er?"
"Ku bilang diam! Ambil senjatamu dan ayo bertarung!"
"Kau bisa terluka," balas Wuxian. Dia enggan dan sepertinya sulit untuk menenangkan gadis itu ketika dia marah.
"Kau meremehkanku?"
"Tidak, bukan begitu. Hanya saja ... apa yang membuatmu marah?"
Liana, "...!?"
Hanya saja, lagi-lagi Liana adalah Liana, dia adalah gadis yang kaku. Tidak pernah memilki ikatan seperti itu dengan lawan jenis selama hidupnya. Dia tak pernah memiliki kekasih. Dan dia adalah orang kolot yang sangat mementingkan citranya sebagai wanita yang masih murni. Baginya memiliki atau tidak memiliki tak ada bedanya, toh dia bisa mengurus dirinya sendiri, dia tak perlu bergantung pada orang lain.
Dia terbiasa sendirian, terbiasa kesepian sampai dia lupa bagaimana rasanya memiliki orang terdekat. Hingga hari penghianatan dari rekan bahkan atasan yang dia kagumi, semua lilin yang bernama ikatan, persaudaraan dalam dirinya padam bersama hembusan napasnya yang terakhir.
Beruntung dia dihidupkan kembali dan bertemu keluarganya yang sesungguhnya. Bertemu saudara dan sahabat yang tulus dan memperhatikannya, juga ... bertemu seseorang yang membuatnya selalu nyaman bila dekat dengannya.
Alan tetapi sekarang, harga diri Liana yang kadang tidak dia pedulikan melonjak ke tempat tertinggi.
Pertanyaan Wuxian membuatnya membeku seketika, dia menutup mulutnya rapat tapi matanya terbuka lebar, memelototi pemuda yang menggodanya itu.
Sedangkan Wuxian, dia tak menunggu Liana menjawab pertanyaannya. Dia malah menjawab pertanyaannya sendiri. "Kau marah karena aku menggodamu, atau karena aku mempermainkanmu, atau ... karena aku barusan mencium dirimu?" Saat kalimat terakhir keluar dari mulutnya, Wuxian menunjuk pada bibirnya yang mencium Liana.
Liana, "...."
Wajah Liana yang memerah kian memerah mendengar itu. Dia ingin mengatakan 'Kau tak tahu malu' sekali lagi. Tapi Wuxian kembali mendahuluinya.
__ADS_1
Pemuda itu mendekat selangkah dan Liana mundur selangkah. "Li'er, aku salah. Aku ... aku telah mencuri yang pertama darimu." Bulu matanya terkulai saat dia perlahan menunduk, tapi dia masih mencuri pandang pada wajah gadis itu, ingin mengetahui ekspresi apa yang digunakannya.
Liana, "...."
Saat melihat wajah gadis itu yang berubah antara merah lalu hitam dan kembali merah lagi membuatnya ingin tertawa dan dia sedikit terkejut.
Wuxian, "...!!"
Sebenarnya dia hanya menebak jika ciuman yang barusan adalah yang pertama bagi Liana. Tebakannya tak meleset sedikit pun, mengetahui itu membuat Wuxian terlonjak gembira dalam hati. Merasa menang.
"I- itu ... Li'er? Jadi, itu benar-benar yang pertama bagimu?" Dia bertanya, berusaha untuk memastikan.
Liana masih tak bersuara, tapi tatapannya semakin tajam bak pisau. Seolah ingin menusuk pemuda di depannya ini jutaan kali agar dia diam. Memangnya kenapa jika itu adalah pertama miliknya? Dia telah menjaganya lebih dari dua dekade. Bahkan berpegangan tangan dengan lawan jenis saja tidak pernah, bahkan bersalaman dengan rekan, pejabat dan petinggi militer di tempat kerjanya sekali pun. Dia penyendiri, oke? Seorang Introvert akut sebelum dia pindah ke dunia ini.
"Bisakah kau berhenti memuntahkan omong kosong? Jika kau tidak segera mengambil senjata, aku akan menyerangmu."
Setelah mengatakan itu, cahaya putih keperakan muncul di tangan Liana, memanjang dan beberapa saat kemudian cahaya itu menghilang digantikan sebuah pedang dengan bilah mengkilat dan gagangnya yang berwarna perak tergenggam erat di sana.
Buku jari Liana sampai memutih saat urat-urat hijau dan biru menonjolkan diri di punggung tangannya yang meski pun halus dan terlihat rapuh. Itu menandakan jika dirinya marah dengan serius kali ini. Walau pun dia sebenarnya tidak tahu kepada siapa dia marah, dirinya atau Wuxian atau keduanya.
"Li'er ...." Belum sempat Wuxian menyelesaikan ucapannya, bayangan putih telah melesat ke arahnya dengan kecepatan yang tak dapat dilihat oleh mata orang normal. Begitu cepat!
Tapi karena kultivasi pemuda itu lebih tinggi dari Liana, dia lebih cepat berkelit dan menghidari serangan ganas gadis itu.
"Li'er. Dengar dulu! Aku salah, aku salah. Aku tidak tahu jika itu adalah yang pertama untuk ... hei!"
Lagi-lagi ucapannya terpotong oleh serangan lain. Tapi Wuxian tidak ingin berhenti menjelaskan. Sambil menghindar, sambil bicara. Sedangkan Liana semakin mengerutkan alisnya lebih dalam.
"Li'er, tenanglah. Tenang ... dengarkan aku, itu juga yang pertama bagiku, dalam kehidupan ini."
Meski pun pemuda itu menjelaskan dengan nada serius, tapi jejak gemas tak menghilang dari matanya.
Membuat Liana semakin dan semakin kesal. Apalagi setiap serangan yang ia layangkan tidak ada satu pun yang mengenai pemuda itu. Dia nampak bergerak dan bermain-main.
Saat itulah Liana berhenti dengan napas cepat dan berat, membuat dadanya naik turun seiring dengan hembusan napas itu karena setengah marah, setengah lelah. Memandang Wuxian dengan mata menyipit, mencoba untuk mengukur kedalaman kultivasi Wuxian. Tapi anehnya Liana tidak dapat melihat tingkatan kultivasi pemuda itu.
__ADS_1
~o0o~