[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana

[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana
43-Zanzu Ren Zuxian dan Zuihou De Houyi


__ADS_3

"Jadi, untuk apa anda memanggilku, Patriark?" tanya Liana tanpa berbasa basi setelah dia meminum habis teh dalam cangkirnya. Sepertinya gadis itu cukup kehausan setelah menaiki ratusan anak tangga.


Lagi-lagi, Lao Huzi berdekhem untuk yang ketiga kalinya. Ah, ingatkan dia karena sudah terlalu tua saat ini.


Tapi dia masih menjawab pertanyaan Liana. Lagipula ... berbasa-basi? Yah, itu memang membuang-buang waktu.


Lao Huzi menoleh pada pria bersurai merah memberikan pandangan meminta persetujuan. Dan untungnya tanggapan yang dia dapat positif, meskipun dia tak membuka suara sama sekali. Tapi Lao Huzi tahu jika Tuannya itu setuju.


"Baiklah, gadis muda. Sepertinya berbasa-basi memang tak diperlukan. Aku akan menanyakan hal ini padamu. Dari mana kau tahu tentang para Monster itu? Catatan sejarah tentang keberadaan mereka sangat rahasia. Apalagi untuk gadis belasan tahun sepertimu."


Suasana menjadi serius seketika Lao Huzi menanyakan dan menyatakan perihal bahasan mereka saat ini.


Liana memandang lurus pada Lao Huzi. Matanya menyipit sebelum dia menjawab dengan tenang. "Aku mengetahuinya dari seseorang yang mengetahuinya," katanya selagi tangannya meraih teko teh dan menuangkan isinya pada cangkir. Entah kenapa dia kembali haus.


Dan em, dari tadi Liana sedikit tak nyaman dengan pandangan seseorang yang duduk di depannya itu. Pria bertopeng itu, terasa familiar. Tapi Liana tak pernah merasa memiliki kenalan sepertinya. Penampilannya cukup unik untuk para penduduk Benua Timur. Surai merahnya ... surai merah, surai merah. Dimana Liana pernah mendengar ini?


Akh, kenapa dia merasa telah melupakan sesuatu yang penting? Hei! Bukankah ingatan seorang Zhu Liana begitu baik? Tapi kenapa sekarang dia merasa telah menjadi pikun? Oh ayolah, gadis itu masih sangat muda untuk mengalami kepikunan.


Liana hanya mengerutkan alisnya mencoba mengingat-ingat kembali. Tapi dengan segera dia menghembuskan napasnya. Sudahlah, mungkin dia akan mengingat sesuatu nanti.


Sedangkan Lao Huzi juga malah menghela napasnya, itu karena dia mendengar jawaban dari Liana. Gadis itu juga memiliki sifat Tuannya yang acuh tak acuh.


"Gadis muda, siapa orang yang kau maksud ... 'orang yang mengetahuinya'?" Sekali lagi dia bertanya. Dia penasaran.


Liana mengangkat cangkirnya yang telah penuh. Oh, Liana. Dia bahkan bersikap layaknya berada di rumah sendiri.


"Kenapa anda ingin mengetahuinya?" Yah, dan dia bertanya balik.


Dimana rasa sopanmu gadis muda?! Ingin sekali Lao Huzi meneriakkan kalimat itu. Akan tetapi dia masih harus menjaga citranya di depan sang Tuan. Meski kesal tapi dia tak dapat menunjukkannya secara terang-terangan. Oh, sekarang dia melupakan kelebihan pria bertopeng itu lagi. Hei, Tuanmu dapat membaca pikiranmu, Janggut Tua!


"Karena aku ingin tahu siapa orang yang memberitahumu, gadis. Dia pasti telah hidup cukup lama untuk mengetahui rahasia seperti keberadaan para monster." Pria tua itu mendengus setelah berkata tapi malah langsung mendapat tatapan tajam dari pria bertopeng hingga membuatnya bungkam. Haruskah dia menangis sekarang?


Liana memperhatikan interaksi dua orang itu dalam diam. Sepertinya pria bertopeng itu adalah seseorang yang kedudukannya lebih tinggi dari Patriark Huzi.


Liana diam tak menjawab untuk beberapa waktu. Sementara di dalam dimensi, Shiro sedari tadi bergerak gelisah memperhatikan dunia luar.


Dia ingin keluar dari sana, tapi dia ragu untuk mengatakannya pada Liana karena harus mendapat persetujuan dari gadis yang menjadi majikannya itu. Sebab, dia juga harus mengatakan alasan mengapa dia ingin keluar dari ruang dimensi, dan itu sulit baginya.


Karena mereka terikat kontrak, Liana tentu sadar dengan tindakan Shiro yang tidak biasa. Dia segera menanyakan hal kepada Shiro lewat telepati kontrak.

__ADS_1


"Apa yang terjadi padamu?"


Shiro yang sedari tadi gelisah sambil melamun namun tetap dengan wajahnya yang tanpa ekspresi dikejutkan dengan suara Liana yang berdengung di kepalanya.


"Tuan." Dia bergumam.


"Kau gelisah," ucap Liana masih dengan telepati.


Shiro tak tahu harus menjawab apa, tapi tiba-tiba ....


"Zuìhòu De Hòuyì (最后的后裔 : Keturunan Terakhir)."


Suara berat nan dalam namun halus menenangkan dari seberang Liana terdengar menginterupsi interaksi Liana dengan Shiro.


Liana terheran saat mendengar suara pria bertopeng itu untuk pertama kali. Itu masih terasa familiar tapi dia tak mengindahkannya karena fokusnya saat ini adalah kalimat yang diucapkan pria itu. Keturunan Terakhir, apa maksudnya mengatakan hal itu?


Lain dengan Liana, di dalam dimensi tubuh Shiro sendiri tengah bergetar, jantungnya berdetak begitu cepat saat kalimat yang telah lama tak terdengar itu kembali diucapkan. Dan itu malah dari seseorang yang membuatnya berakhir seperti ini.


"Tuan, biarkan Shiro keluar," ucapnya dengan nada suara bergetar. Seperti takut, tapi juga senang. Entahlah, Liana tak pernah mengetahui sisi makhkuk kontraknya yang seperti ini.


Liana mengabaikan Shiro tapi juga tidak. Matanya semakin menyipit saat melihat pria bertopeng itu. Dan tiba-tiba juga dia mengingat sesuatu.


Kali ini bukan Liana atau pun Shiro yang merespon. Melainkan Lao Huzi yang sedari tadi diam melihat interaksi misterius antara Tuannya dan gadis muda serba putih itu. Dia terkejut karena gadis itu mengucapkan kalimat yang begitu menjadi rahasia sejak ribuan tahun lalu ini.


Sedangkan pria bertopeng malah tersenyum lebar dengan tatapan yang lurus mengunci Liana.


"Kau mirip seseorang," lanjut Liana berucap dengan alis yang mengkerut. Sia benar-benar mengingat seseorang yang dia kenal saat melihat pria bertopeng itu kembali.


"Shiro, kau boleh keluar sekarang." Liana kembali melakukan telepati pada Shiro. Mengabaikan bagaimana reaksi dua orang di dekatnya itu.


Perlahan cahaya putih berkumpul di dekat Liana membentuk siluet seseorang. Tak butuh waktu lama, sosok Shiro terlihat tengah berlutut menghadap pria bertopeng. Di menunduk dalam, tak berani melihat penampakan pria itu sedikit pun.


"Zuxian Gongzhu!" Dia memberi salam dengan suara lirih. Masih antara takut dan senang.


Sebenarnya Liana agak terkejut dengan tindakan Shiro yang terlihat begitu menghormati pria bertopeng yang Liana yakini sebagai Leluhur Pelindung dari klan Yunan yang pernah di ceritakan oleh Zeith pangeran dari Benua Barat padanya.


Liana tahu Shiro mengenali orang itu, tapi dia tak menyangka sang Pegasus akan memiliki sikap yang begitu hormat padanya.


Dan pria bertopeng itu mengangguk saat mendapat dalam dari Shiro. Melihat interaksi ini, Liana menebak jika keduanya telah mengenal lama dan sepertinya hubungan mereka cukup dekat, yah seperti pengikut dan junjungannya.

__ADS_1


Hm hm, semuanya seperti mengabaikan keberadaan Lao Huzi yang kini tengah terkejut setengah mati. Hingga suara berat pria bertopeng itu kembali terdengar membuat pria tua dengan janggut tebal nan panjang itu kembali terlihat.


"Huzi tua, kau bisa meninggalkan kami."


Lao Huzi kembali terkejut dalam keterkejutannya (Ah ya, bisa gitu juga ya? :v) saat mendengar usiran dari sang Tuan.


"Tapi, Tuan ...." Dia ingin membantah, tapi perkataannya segera terpotong karena tatapan tajam nan mematikan dari pria bertopeng. "Ba- baik!" Jadi, si Janggut Tua hanya dapat pasrah mengiyakan perintah.


Dia berjalan meninggalkan ruangan yabg seharusnya adalah miliknya itu tapi malah dia yang diusir dari sana. Tak tahu bagaimana, tapi rasanya dia semakin bertambah tua saja. Haruskah Lao Huzi menangis sekarang? Sepertinya tidak apa-apa kan seorang pria tua menangis?


Saat memikirkan hal itu, pintu berdaun dua di belakangnya kembali tertutup rapat. Lao Huzi yang malang. Dia di tinggal sendiri seperti anak yang tak di inginkan. Dia benar-benar akan menangis sekarang.


"Patriark, apa yang anda lakukan di depan pintu?" tanya seseorang tiba-tiba mengagetkan dirinya.


Lao Huzi menegang karena telah kepergok sebagai orang yang menyedihkan. Lihat saja posisinya saat ini tengah duduk memeluk lutut dan bersandar di depan pintu seperti seorang anak nakal yang tengah dihukum ibunya untuk tidak masuk ke dalam rumah. Satu kata yang menggambarkan keadaannya saat ini, menyedihkan!


Dia mendongak melihat siapa yang datang. Dan lagi-lagi itu membuatnya bertambah malu karena orang yang memergoki dirinya adalah salah satu murid dalam yang belajar di sekte.


Akh! Tolong siapa pun? Bunuh dia sekarang!


Meninggalkan Lao Huzi dengan ke-awkward-annya, mari beralih kembali ke dalam ruangan yang mana di sana masih ada tiga sosok berbeda jenis dan spesies, mungkin!


Sepeninggal sang Patriark, keheningan melanda tempat itu. Liana yang masih duduk memandang pria bertopeng, begitupula sebaliknya, pria bertopeng memandangnya lurus. Lalu Shiro yang juga masih diam berlutut. Hingga ....


Pria bertopeng membuka topengnya dan memperlihatkan rupa wajahnya yang tentu saja tampan.


Pria itu tersenyum menatap Liana yang terkejut.


"Kau ...!" Liana berseru tak percaya dengan siapa yang dilihatnya saat ini.


"Kita bertemu lagi, Li'er."


"Xian gege ...."


~o0o~


Jeng! Jeng! Jeng! Hayolo... kenapa jadi Xian gege?


Ect: Mohon maaf karena belum mampu memenuhi tuntutan pembaca yang ingin Crazy Up! Setiap orang memiliki keterbatasan. Tapi aku akan berusaha!!!

__ADS_1


__ADS_2