[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana

[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana
41-Menara Langit


__ADS_3

Liana tetap tenang saat berbagai tatapan terus mengarah padanya. Ada yang sinis, mengejek, benci, iri, cemas, tatapan meminta jawaban, dan lain sebagainya.


Dia tetap diam menunggu seseorang berbicara terlebih dahulu. Yah, kini dia bersama semua anggota keluarga Zhu tengah berada di aula keluarga untuk mendiskusikan sesuatu, ah tidak! mungkin maksudnya dialah yang menjadi bahan diskusi, tepatnya diinterogasi.


Tunggu dulu! Sepertinya ada dua orang yang tidak Liana kenali saat ini. Dua laki-laki yang memakai seragam yang sama berdiri di tengah-tengah mereka.


Dia bingung, tapi masih mempertahankan ketenangannya membuat kedua laki-laki dengan seragam yang sama itu menatapnya puas. Oh, apa maksud tatapan itu?


"Li'er, kedua tuan muda ini adalah murid dalam dari Sekte Menara Langit. Mereka mencarimu atas perintah dari Patriark Sekte." Zhu Moran membuang napasnya setelah dia berkata.


Liana sendiri mengangkat alisnya saat dirinya kembali memandang kedua laki-laki yang kebetulan masih terlihat muda itu. Matanya yang memberi tatapan tanda tanya ditangkap oleh kedua utusan itu.


Salah satu dari mereka segera menjawab, "Kami hanya utusan Patriark untuk menjemput Nona Zhu Liana untuk hadir di hadapan beliau."


"Nona muda Ke-dua, apa ada seseorang yang sangat penting di sekte yang telah kau singgung hingga Patriark mereka memanggilmu?"


Ah, suara memuakkan itu lagi. Liana benar-benar harus ekstra menahan emosinya saat mendengar suara wanita yang paling tidak ingin dia dengar, siapa lagi kalau bukan Wen Canran lah orangnya.


Liana cepat memberi tatapan tajam pada wanita yang sok berkuasa, sok tahu, dan sok baik nan mulia itu. Betapa banyak topeng yang membungkus wajahnya hingga sekarang Liana dapat melihat ilusi jika wajah Wen Canran nampak mirip dengan zombie yang ia lihat di puncak bukit. Ah, rasanya perutnya kembali mual mengingat itu.


Tak menanggapi perkataan tidak penting itu. Liana beralih menatap ayahnya meminta persetujuan dari izin untuk keluar Manor mengikuti utusan itu. Sepertinya ada hal yang cukup penting dan Liana menebak jika ini berurusan dengan masalah yang terjadi dari minggu lalu. Tentang zombie.


Zhu Moran sekali lagi membuang napasnya. "Pergilah, sepertinya memang ada sesuatu yang penting hingga orang terkuat di Benua Timur ini memanggil dirimu."


Dia merasa enggan membiarkan putrinya pergi, perkataan Wen Canran juga sedikit masuk ke dalam pikirannya. Benarkah Liana telah menyinggung orang Sekte Menara Langit? Tapi sepertinya tidak mungkin, sebab jika memang iya, mungkin sekarang Manor Zhu telah rata dengan tanah. Lagipula kedua utusan itu datang dengan cara baik-baik. Jadi mungkin memang ada hal yang penting.


Tak ada yang tahu tentang pertemuan rahasia di Biao Tanpan selain para anggota yang hadir dalam rapat itu. Jadi Zhu Moran sendiri tak dapat ke menebak sebenarnya apa alasan putrinya diundang oleh orang terkuat di Benua Timur itu. Tapi dia berharap bukan untuk sesuatu yang buruk. Itu juga sepertinya tidak mungkin, mengingat reputasi Lao Huzi yang begitu baik di mata masyarakat. Jadi hatinya sedikit memiliki kelegaan di dalam sana.


Tak banyak drama yang terjadi hari itu. Padahal Liana sedikit menantikannya, tapi mereka semua diam selain sepatah kalimat yang dilontarkan Wen Canran tadi.


Zhu Yuxia sendiri menjadi orang yang cukup pendiam setelah dia menerima hukuman di waktu yang lalu dari Liana dan Wan Feng. Biasanya dialah yang paling ngotot melontarkan berbagai sindiran halus maupun kasar pada Liana.

__ADS_1


Weiling sendiri masih bertahan dengan peran Lotus Putihnya. Duduk manis menjadi gadis yang baik nan polos seraya menebar pesona pada dua pemuda yang menjadi utusan sekte. Sayangnya tak digubris sama sekali membuat wajahnya memerah malu.


Untuk anggota keluarga lain, sepertinya memang tak banyak konflik dengan Liana. Meskipun ada saja dari mereka yang menggunakan wajah palsu saat berhadapan dengannya.


Yah, rumor tentang dirinya yang sudah dapat berkultivasi kembali ternyata menyebar luas di Kota Kekaisaran. Dia mendengar itu dari bisikan para pelayan yang ia lewati.


Mengenai dirinya yang melawan Mentri Pertahanan dan kesaksiannya tentang Monster yang muncul di puncak menjadi buah bibir yang hangat untuk dibicarakan.


Banyak yang berterimakasih pada Zhu Liana karena laporannya itu. Sebab nyawa mereka terselamatkan.


Lalu ada pula desas-desus tentang seorang gadis bergaun putih yang melerai pertarungan karena perebutan bunga Iblis yang merenggut banyak nyawa para peserta. Mereka mulai membicarakannya beberapa kali diselingi dengan topik kemunculan Monster dari Pulau Terbuang yang kini masih banyak diburu orang-orang.


Yah, jadi hari ini benar-benar tidak ada drama sama sekali seperti yang Liana harapkan. Dia langsung pamit pada Zhu Moran dan Wan Feng serta yang lainnya meski agak enggan melihat beberapa wajah palsu yang memuakkan.


~o0o~


Liana cukup tercengang dengan bangunan menara yang tingginya mampu menembus awan. Sepertinya julukan Menara Langit memang cocok dengan yang ia lihat saat ini.


Di Dunia Modern memang bangunan tinggi sudah tak asing di matanya. Hanya saja yang membuatnya takjub di sini ialah menara itu terbuat dari bebatuan murni. Seperti terbentuk sendiri oleh alam. Menakjubkan!


Namun saat ini Liana terlihat cukup menggemaskan di mata mereka.


Salah satu dari keduanya membuka suara dan menjelaskan perihal menara pada Liana. "Menara ini memiliki sejarah yang panjang dan melegenda," ucap pemuda yang sedikit lebih tinggi dari pemuda yang satunya. Pemuda itu kembali melihat Liana yang juga melihat dirinya.


"Ah, Nona Liana. Maafkan ketidaksopananku. Namaku Han Ru dan yang di sampingku ini adalah temanku Bo Meng. Kami adalah bagian dari Murid Dalam di sekte."


Pemuda itu menangkupkan tangannya di depan dada diikuti oleh rekannya.


"Salam kenal, Nona."


Liana membalas salam perkenalan mereka sebagai bentuk formalitas. Dia ikut menangkupkan tangan di depan dada sebagaimana layaknya seorang seniman beladiri beretika.

__ADS_1


"Salam kenal Tuan Muda Han, Tuan Muda Bo." Ah sangat formal membuat kedua pemuda itu sedikit canggung. Tapi mereka tidak menegur karena memang Liana tak salah.


"Nona ingin mengetahui sejarah tentang menara ini?" tanya Han Ru mengalihkan topik untuk mencairkan suasana.


"Kalau begitu aku akan mendengarkan jika Tuan Muda Han berkenan untuk menceritakannya," jawab Liana yang memang dirinya cukup penasaran tentang itu.


Han Ru tersenyum sebelum melirik Bo Meng yang berjalan di sampingnya.


Sambil bercerita, mereka terus melangkah di dalam menara yang memiliki ribuan anak tangga di dalamnya.


Di dalam sana memiliki ruang yang cukup besar. Sepertinya beberapa di jadikan asrama untuk murid dalam, perpustakaan, tempat belajar mengajar, dan lain sebagainya.


Menara itu menjadi bangunan utama di dalam sekte.


Han Ru menjelaskan jika menara ini dulunya hanyalah bongkahan batu yang sangat besar dan tinggi.


Ditemukan oleh seorang master abadi ribuan tahun lalu yang kemudian dijadikan sebuah menara seperti sekarang ini. Master abadi itu terus mengukir batu selama seratus tahun penuh hingga membentuk bangunan yang sekarang ini terlihat.


Sejarah yang cukup sederhana dan mudah dikenang.


Tapi Liana yakin jika ada suatu rahasia yang tersembunyi di balik Menara Langit yang berdiri kokoh ini.


Ketiganya terus berjalan melewati ratusan anak tangga, sesekali melewati ruangan yang menjadi alat teleportasi ruang agar segera sampai ke puncak menara. Karena di sanalah kediaman Patriark berada. Liana mengernyit karena merasa jika ruang teleportasi ini sedikit mirip dengan lift yang ada di dunia modern, cukup praktis.


Dan tiga puluh menit berlalu hingga mereka tiba di depan pintu yang nampak paling berbeda dari pintu-pintu yang Liana lewati.


"Nona Liana, kami hanya akan mengantarmu sampai sini. Di dalam sana Patriark telah menunggumu. Kami akan pergi sekarang." Han Ru yang memang lebih banyak bicara dari pada Bo Meng memberitahu Liana.


Liana hanya mengangguk sebagai jawaban. Dia melihat kedua pemuda itu pergi meninggalkan dirinya yang berdiri mematung di depan pintu.


Hingga beberapa saat dia dikejutkan karena pintu yang tiba-tiba saja terbuka.

__ADS_1


~o0o~


Kalo sempet, nanti malam Up lagi... tapi nggak janji lho ya... hehe...


__ADS_2