[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana

[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana
50-Pergi ke Lelang


__ADS_3

"Sepertinya kau benar-benar tidak memiliki kerjaan," sarkas Liana melirik pada sosok jakung di sampingnya.


Wan Feng hanya nyengir tanpa dosa mendengar itu.


Dia tadinya hendak menemui sang Ayah untuk protes karena di ruang belajarnya terdapat banyak tumpukan berkas yang Zhu Moran berikan padanya untuk di periksa dan kerjakan. Jelas dia sangat malas dengan tumpukan kertas itu yang hanya membahas topik sama, tentang hasil rapat peradilan di istana yang sama sekali tidak dia pahami. Hei, dia adalah seorang Letnan Jenderal yang bekerja langsung di lapangan perang, bukan berdebat tak jelas mengunjuk gigi depan Kaisar. Oh baiklah, dia bukan mengatai Ayahnya sebagai penjilat, sebab Zhu Moran adalah satu dari sekian orang pemerintahan yang memiliki sikap jujur. Hanya saja kebanyakan dari pemerintah Kekaisaran Naga memang seperti itu, hobi saling menjatuhkan orang lain dan meninggikan diri. Sebab itulah Zhu Moran mendapat kepercayaan tinggi dari Wei Wangji, sang Kaisar Naga yang dulunya adalah sahabat karib semasa mudanya.


Baik, cukup untuk semua itu. Sampai mana tadi? Oh ya...


Saat dirinya ingin mengajukan protes pada sang Ayah karena memberi pekerjaan yang bukan bidangnya, siapa sangka dia malah bertemu dengan Liana di tengah jalan saat mereka berdua memiliki tujuan yang sama.


Maka jadilah dia mengikuti adiknya itu dengan alasan untuk menjaganya. Padahal sebenarnya dia hanya tidak ingin berjumpa lagi dengan tumpukan pekerjaan yang membuat kepalanya sakit karena tidak mengerti sama sekali dengan isi bahasan dari kertas-kertas tersebut.


"Hehe, Li'er. Kau jangan begitu, aku disini hanya untuk menjagamu," kilahnya berbanding terbalik dengan kenyataan yang ia renungkan barusan.


"Ck, bilang saja kakak ingin kabur dari tugas yang diberikan Ayah."


"Kau tahu itu." Wan Feng malah tertawa karena tebakan Liana yang tepat sasaran.


Sedangkan Liana hanya memutar bola matanya jengah. Heran, mengapa dia memiliki kakak yang konyol? Dia sama sekali tidak mempercayai rumor ibu kota yang mengatakan jika seorang Lentan Jenderal Kekaisaran Naga, Zhu Wan Feng adalah pria yang kejam dan dingin. Sama sekali tidak!


Ugh! Dan kenapa pula gadis-gadis itu menyukai kakaknya yang menurut Liana biasa saja.


Baiklah, Liana. Mari periksa matamu ke dokter, mungkin ada minus atau apa lah itu.


Seorang Zhu Wan Feng di bilang biasa saja? Astaga, jika gadis-gadis itu mendengarmu, mungkin mereka akan mencakar wajah mereka sendiri karena gemas.


Oh, tentu saja itu ... tak akan pernah terjadi.


Sebaiknya mari perhatikan sosok Zhu Wan Feng yang biasa saja ini.


Kulitnya yang memang tidak terlalu putih sebagaimana kulit para bangsawan karena dirinya yang memang selalu bergelut di daerah panas medan perang. Tapi itu halus dan sangat cocok dengan perawakannya yang tinggi tegap.


Bahu bidang, punggung lebar dengan otot-otot menonjol pas. Lalu rahangnya tegas dengan garis wajah sempurna. Lesung pipi yang muncul juga mata menyipit seperti bulan sabit ketika dia tersenyum. Terlihat sangat manis, apalagi dengan tahilalat kecil di ujung hidungnya yang tinggi. Ada garis keturunan dari Zhu Moran yang terlihat disana. Meskipun Wan Feng memang lebih menawan dari sang Ayah karena dia juga mengikuti gen dari ibunya yang dulunya di sebut sebagai bunga kecantikan nomor satu ibu kota yang sekarang diemban oleh Putri Wei Lanhua.

__ADS_1


Dia termasuk jajaran pria tampan dengan segala pesonanya. Jika di dunia modern, mungkin sudah masuk kategori pria tertampan sedunia. Yah, kira-kira begitulah.


Lalu bagian mana yang nampak biasa saja darinya? Hei Zhu Liana, katakan bagian mana?


Uhuk! Liana terbatuk saat memperhatikan kembali penampilan kakaknya itu. Baiklah, dia mengakui jika Wan Feng tidak biasa-biasa saja. Dia lumayan!


Aarrgh! Sungguh dia tidak ingin mengakui ketampanan Zhu Wan Feng. Dasar Liana! (Mari kita garuk wajah MC ini!)


Sudah, sudah! Lupakan saja. Mari kembali pada keadaan saat ini.


Hening beberapa saat di dalam kereta yang mereka tumpangi. Hanya suara derak gerbong karena goncangan, juga langkah kuda yang mengetuk tanah sebagai teman perjalanan mereka menuju pasar ibu kota.


Liana merenung, setelah itu dia kembali mengalihkan pandangan ke arah Wan Feng.


"Kakak, kenapa kau memilih masuk di kemiliteran dari pada mengikuti jejak Ayah sebagai Perdana Mentri? Bukankah kau yang akan menjadi penerusnya yang sah?" tanya Liana tak dapat membendung lagi rasa pemasarannya.


Wan Feng sedikit heran saat Liana menanyakan hal tersebut. Tapi dia tetap menjawabnya. "Entahlah, aku hanya merasa jika barak selalu membuat darahku terpompa lebih keras. Atau aku hanya ingin mengikuti jejak ibu," ucapnya dengan akhir kalimat bernada sendu.


Keduanya ... Liana dan Wan Feng seperti lebih mewarisi keahlian Wei Xiening. Mereka berdua sama-sama menggemari profesi sebagai prajurit sebagaimana ibunda mereka dulu yang seorang Jenderal Wanita Kekaisaran Naga yang memegang kendali atas seratus tiga puluh ribu pasukan dengan sepuluh ribu kalvaleri dan dua ribu lainnya adalah pasukan elit Kekaisaran. Dia sangat disegani di medan perang.


Benar-benar, tidak ada dari keduanya yang menyukai bergelut dalam masalah politik pemerintahan. Haha, benar-benar sepasang saudara.


Hal itu selalu menjadi salah satu alasan Zhu Moran menggelengkan kepala disertai helaan napas pasrah. Tak ada dari putra-putrinya yang mengikuti jejak sang Ayah sebagai sarjana.


Tanpa terasa, mereka telah sampai di pintu gerbang pasar.


Suara ribut bahkan sudah terdengar meriah dengan berbagai teriakan heboh dari para pedagang yang menawarkan dagangannya. Sangat jelas! Meskipun mereka masih berada di gerbang depan.


Suasana pasar memang selalu seperti ini. Beruntung mereka tidak datang saat siang hari, sebab selain bising, pasar juga akan sangat panas.


Liana dan Wan Feng turun dari kereta kuda dengan dipandu oleh Ling. Kali ini Hai Xia, pelayan lelaki yang mengikuti Wan Feng tidak ikut karena Letnan Jenderal muda itu yang berinisiatif sendiri menemani Liana dan meninggalkan pelayannya di Manor yang mungkin kini tengah kalang kabut, kebingungan mencari keberadaannya.


Yah, tapi untung saja dia tak ikut. Karena jika iya, mungkin akan ada perang dingin antara dirinya dengan Ling. Mengingat saat mereka mengunjungi pasar juga sewaktu membeli keperluan untuk perburuan musim semi kurang lebih dua pekan lalu.

__ADS_1


"Entah hanya aku yang merasa atau memang pasar ibu kota menjadi lebih ramai dari biasanya," ucap Liana saat dirinya berjalan beriringan dengan Wan Feng dan Ling di belakang mereka.


"Yah, mungkin karena ini sudah memasuki akhir musim semi. Pasar akan selalu menjadi lebih ramai karena kunjungan para pedagang dari kota lain." Wan Feng menjelaskan.


Liana mengangguk setelah itu menoleh Ling yang ada di belakangnya. "Oh ya, Ling. Dimana tempat pelelangan yang kau maksud?" tanyanya.


"Itu ada di sebelah timur," jawab Ling singkat.


"Pelelangan sebelah timur?" ulang Wan Feng dengan gaya berpikirnya. "Bukankah disana tempat pelelangan murah itu? Untuk apa kau ke sana, Li'er?"


Liana mengangkat sebelah alisnya atas pertanyaan Wan Feng. "Ya untuk apa lagi? Tentu saja ikut pelelangan," jawabnya santai karena itu memanglah hal biasa, menurutnya.


"Hah?!" Wan Feng tak tahu harus berkata apa. Karena menurutnya sangat jarang bagi seorang bangsawan tinggi seperti mereka masuk dan bergaul dengan rakyat kalangan menengah dan bawah. Sebab bagi para bangsawan, itu akan merusak citra mereka dan mengurangi tingkat status sosial yang mereka pegang.


Wan Feng memang bukan orang seperti itu, tapi dia memang jarang bergaul dengan orang lain selain rekan-rekannya yang ada di barak. Tapi bagi Liana? Ah, gadis itu sangat jarang keluar dari kediamannya. Sehingga ada bebrapa rumor yang mengatakan jika dia adalah seorang yang sombong. Kenyataannya dia jarang keluar karena percuma saja, dia tak akan dapat berbicara karena saat itu masih menjadi orang bisu dan penyakitan. Hanya baru-baru ini dia banyak berinteraksi dengan orang lain, sejak terbangun dari koma.


Dan untuk beberapa waktu lalu saat dirinya ikut menjadi relawan bagi pesulap jalanan yang ternyata adalah Pangeran dari Benua Barat beserta pelayannya, itu tak dihitung bergaul dengan rakyat, sebab lokasi mereka berada masih dikawasan elit.


Sedangkan pasar di bagian timur memang di diperuntukkan untuk rakyat berekonomi rendah.


"Kau yakin?" tanyanya lagi untuk memastikan.


"Tentu saja. Memangnya kenapa? Tidak boleh?" Kali ini Liana malah balik bertanya dengan nada ... sengit. Risih akan kecerewetan sang kakak. Benar-benar tidak seperti yang dirumorkan, dingin dan kejam? Oh ayolah, siapa yang mengatakan itu, Liana mungkin akan memberikan terapi psikologis secara gratis untuknya.


"Khem, te- tentu ... tentu boleh. Apapun untukmu." Wan Feng tersenyum canggung, tidak lagi mempertanyakan keinginan Liana karena telah mendapat tatapan maut dari adiknya itu.


~o0o~


Akhem! Uhuk Uhuk... Horey! Dah nyampe Eps 50 yak!


Jujur, ini adalah karya terpanjang yang ku miliki... Hehe... sekian lama bergelut dengan berbagai keluhan, kemalasan, kemageran, hingga hampir berputus asa dan sempat nggak mau up lagi... tapi akhirnya .... hah.. oke ini belum tamat. Jadi leganya di pending dulu.


Sip! Aku taksir, mungkin cerita ini bakalan nyampe ratusan... mudah-mudahan yak! Mudah-mudahan istiqomah... Aamiiin.

__ADS_1


__ADS_2