![[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana](https://asset.asean.biz.id/-reinkarnasi--sayap-takdir--zhu-liana.webp)
Acara perjamuan itu selesai tepat di tengah malam. Para tamu telah kembali semua. Dan Liana kini berada di kediaman Zhu Moran bersama Wan Feng yang juga menemaninya disana.
"Li'er?" panggil Zhu Moran.
"Iya, Ayah." Liana menjawab sedangkan Wan Feng hanya diam di tempatnya saat menyaksikan Liana mulai menghampiri Ayah mereka.
"Wan'er, kau juga, kemarilah!"
"Baik!"
Zhu Moran pertama-tama menghela napasnya melihat kedua anaknya kini telah beranjak dewasa. Rasanya cepat sekali, padahal baru kemarin mereka masih bisa merajuk dalam gendongannya. Tapi sekarang keduanya telah menjadi putra-putrinya yang luar biasa di matanya.
Menyadari itu dia tertawa pelan. "Tidak ku sangka anak-anak Ayah begitu cepat tumbuh menjadi dewasa." Dia menepuk pundak Wan Feng dan menepuk kepala Liana dengan pelan dan lembut penuh kasih.
"Waktu selalu berputar, Ayah." Liana membalas.
"Kita tidak mungkin selalu menjadi anak kecil dalam gendonganmu, Ayah." Dan Wan Feng menambahkan.
Mendengar kedua anaknya berkata seperti itu, Zhu Moran merasa ada sesuatu yang dicuri darinya. Dia menampilkan raut wajah menyedihkan setelahnya. "Kalian berdua ...."
"Ayah~" Liana dan Wan Feng serempak memanggil dan berhambur menghampirinya.
"Kami tetaplah putra-putrimu, Ayah." Wan Feng berkata sambil terkekeh kemudian juga disambut anggukkan cepat dari Liana.
Zhu Moran menatap keduanya, "Haih, aku sudah tua. Bahkan anakku telah berani mengejek Ayahnya," ucapnya mengeluh.
Wan Feng, "Benar!"
Liana, "Mn."
Setelah itu ketiganya tertawa bersama. Yah, Liana juga ikut tertawa. Suasana hatinya mungkin sangat baik hingga mampu tertawa bersaman kedua laki-laki berbeda umur yang menjadi anggota keluarganya itu. Dan lagi-lagi tawanya mendapat tatapan takjub dari mereka.
~o0o~
Liana baru saja selesai melakukan ritual paginya hari ini. Seperti biasa, lari pagi dan melakukan beberapa peregangan lain agar otot pada tubuhnya tetap terlatih dan tidak melemah, setelah itu dia mandi tentunya.
__ADS_1
Hari masih gelap meski langit telah memperlihatkan warna birunya yang memukau. Dari timur, sinar jingga nampak mengintip dari balik gunung-gunung yang yang menjulang tinggi.
Sedangkan saat ini Liana baru keluar dari tempat pemandian, mengeringkan rambutnya yang panjang dengan kain. Lalu duduk di depan cermin perunggu yang tidak begitu jelas menampilkan bayangannya. Dia hanya memandang sekilas padanya kemudian berlabuh pada ruang kosong. Dia melamun.
Liana merenung kembali tentang kejadian dimana dia berakhir mengakhiri nyawanya sebagai tugas terakhir dari sang Jenderal Besar WSA.
Dia akhirnya mendesah penuh keluhan. "Apa yang sedang terjadi disana?" Dia memikirkan bagaimana dunia itu setelah dirinya pergi.
Apa ada yang mengingatnya? Adakah yang menangis untuknya? Liana berkecil hati, tentu saja tidak ada. Seluruh rekan seperjuangannya, timnya, pada malam itu mereka semua .... Ah, Liana bahkan tidak berani melanjutkan ucapannya. Rasa bersalah terus membayanginya. Tapi jauh dalam lubuk hatinya, dia berharap kalau-kalau mereka juga ikut bertransmigrasi dan hidup lagi seperti dirinya. Oh, sungguh pemikiran yang konyol untuk ukuran seorang Jenderal Zhu. Tapi ... berharap juga tak ada salahnya, bukan?
Liana sebenarnya tidak merasa dendam atau pun benci tapi dia merasa begitu sakit dengan penghianatan orang-orang yang selama ini selalu dipercayainya, orang-orang yang dia anggap sebagai keluarganya, bagian dari hidupnya, tapi mereka dengan begitu tega membuanganya. Kerja kerasnya selama bertahun-tahun berakhir dengan begitu menyedihkan. Ingin dendam pun tidak ada bedanya, toh mereka tidak lagi berada di dunia yang berbeda.
"Sudahlah!" Liana berdiri dari depan cermin dan menghampiri tempat tidur.
Tapi dia tak sengaja melihat tiga bingkisan kayu yang dia sisihkan dari hadiah-hadiah lain yang diterimanya semalam.
Satu dari Wan Feng, satu dari Wei Wuxian, dan satu lagi dari Ayahnya.
Liana meraih hadiah yang diberikan oleh Ayahnya karena Zhu Moran bilang itu adalah benda peninggalan milik ibunya yang dititipkan pada Zhu Moran untuk diberikan pada Liana saat gadis itu berusia lima belas tahun. Liana merasa sedih untuk Zhu Liana yang bahkan tidak mencapai umur itu. Dia juga merasa menyesal untuknya, untuk ibu Zhu Liana.
"Seperti pola array," ucap Liana acak. Dia bahkan tidak tahu mengapa dia mengatakannya.
Tidak memikirkan keanehan itu, dia segera mencari mekanisme untuk membuka kotak kayu. Tapi akhirnya dia mengernyit karena ....
"Ini seperti balok kayu yang tidak berisi. Pantas saja ayah bilang kalau benda ini tidak pernah ada yang bisa membukanya. Bahkan Master Beladiri tingkat tinggi sekali pun."
Dia kembali meraba kotak hingga matanya bertumpu pada tulisan kecil disana. Mata Liana terbelalak dikata mengetahui tulisan itu yang menggunakan huruf alfabet dan bahasa inggris!
Disana tertulis jelas menggunakan alfabet ' For Zhu Liana'.
Apakah ibu Zhu Liana ini berasal dari dunia modern sama seperti dirinya?
"Mn, tapi tidak mungkin juga. Bisa jadi dia belajar bahasa orang-orang barat." Liana menggeleng kemudian mengangguk.
Sudahlah, pikirkan itu saja nanti. Sekarang dia harus membuka kotak ini. Liana menggoyangkan kotak mendengar isi di dalamnya. Isinya ada, hanya saja kotak ini seperti balok yang tidak memiliki penutup.
__ADS_1
"Sangat misterius! Apa ini membutuhkan sebuah kode?" Liana kembali meraba kotak mencari jika memang ada tombol untuk kode disana.
Tapi tanpa sengaja tangannya malah terkena goresan dari sisi ukiran yang tajam. Dia terluka di jarinya dan itu mengeluarkan setetes darah.
Liana buru-buru mengangkat tangannya, menghisap jarinya agar darah berhenti keluar.
Tanpa dia sadari, darahnya yang menetes terus menyusuri ukiran kotak. Hingga beberapa saat kemudian bunyi 'Klik' terdengar mengejutkan Liana.
"Apa yang ....?" Liana ternganga saat kotak terbuka dengan cara aneh.
Bagian atas yang berukir itu menyingkirkan diri, membuka dan memperlihatkan isi yang ada disana. "Bagaimana bisa?" Dia bertanya tapi kemudian tersentak melihat jarinya yang terluka. Mungkinkah membukanya dengan darah?
"Dunia ini memang aneh. Aku bisa menebak sekarang bahwa tempat ini bukan lagi berada bumi." Dia memberi pendapat sendiri.
Kotak kayu telah terbuka dan memperlihatkan isinya yang beragam. Liana mengeluarkan semua isinya satu persatu.
Beberapa botol porselen putih yang mengeluarkan aroma herbal yang kental, giok-giok halus dengan bentuk kepala naga dan ada beberapa berbentuk hewan aneh.
Lalu Liana juga mengeluarkan satu set pakaian yang terbuat dari sutra yang sangat halus. Warnanya putih bersih tanpa corak sedikit pun. Tapi indah di mata Liana karena jika diperhatikan lebih lama, ada kilau emas dan perak disana.
Ada juga beberapa buku-buku tebal dengan judul yang tak pernah Liana lihat sebelumnya. Sepertinya buku bela diri? Entahlah.
Dia meletakkan semuanya di atas tempat tidur. Liana heran, kotak kayu ini tidak begitu besar jika dilihat dari luar secara kasar. Hanya seukuran 30×15×15 cm. Namun kenapa bisa menampung begitu banyak barang? Dan juga barang-barang di dalam sana tetap tertata rapi meskipun Liana sempat mengguncangnya barusan.
Liana menggeleng pelan kemudian mengambil isi kotak yang terakhir.
Sebuah kotak kecil berwarna hitam polos. Kali ini tidak ada mekanisme aneh lagi, hanya sebuah kotak perhiasan biasa dengan penutup.
Dia membukanya dan saat melihat isi kotak, Liana begitu terkejut hingga tidak dapat mengeluarkan suaranya.
~o0o~
Ho ho, telat lagi deh...
Akunya molor :v
__ADS_1