[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana

[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana
107-Kembali ke Ibu Kota


__ADS_3

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Liana dan rombongan meninggalkan Yilongfei dengan tanpa tergesa-gesak.


Berbeda dari saat mereka berangkat ke Yilongfei dengan daun-daun pepohonan yang berwarna merah, kali ini daratan hanya penuh dengan warna putih yang bersih. Juga menyisakan sungai dan danau yang membeku. Juga, tidak ada pengawalan seperti halnya saat mereka pertama kali datang ke Yilongfei.


Udara sangat dingin saat rombongan di bawa terbang oleh derek dan burung-burung dari binatang buas iblis lainnya. Dengan begitu, sesekali mereka akan lebih banyak beristirahat dari terbang sehingga menunda waktu kepulangan ke ibu kota menjadi lebih lama dari saat mereka pergi.


Beruntungnya, selain cuaca yang dingin tidak seberapa bagi kultivator seperti mereka, tidak ada hambatan lain saat perjalanan pulang.


Rombongan Liana dan lainnya sampai di dekat gerbang ibu kota kurang dari tiga minggu setelahnya, itu dua hari lagi tahun baru dan cuaca benar-benar turun semakin dingin. Saat mereka sampai, sebenarnya itu sudah sore harinya.


Hal yang tidak mereka duga adalah sekelompok orang yang telah menunggu mereka di depan gerbang, menyambut kepulangan.


Orang-orang itu adalah beberapa tentara-prajurit istana juga beberapa menteri, Ayah Liana—Zhu Moran termasuk di dalamnya.


Ini hal yang tidak biasa. Jika itu untuk sang pangeran ke-tiga—Wei Wuxian, maka akan baik-baik saja, tetapi jika begitu, seharusnya ketika mereka berangkat ke Yilongfei, tidak ada satu pejabat pun yang mengantar. Bukankah ini agak mencurgigakan? Dan aneh. Dan juga, perlakuan mereka sama kepada para Pangeran dan Puteri lainnya. Setidaknya memang tidak pernah ada iring-iringan para pejabat saat mereka semua berangkat menuju ke akademi Yilongfei.


“Ge, apa kau tahu sesuatu tentang ini?” Liana tak tahan dan bertanya.


Wei Wuxian juga terdiam tidak menjawab. Nampaknya dia juga tidak tahu tentang sambutan hangat dari para menteri. Atau dia tahu tapi tidak ingin menunjukkannya.


Tetapi pada saat Liana menoleh untuk melihat bagaimana ekspresi pemuda itu, dia mendapati Wei Wuxian sudah mengubah raut wajahnya menjadi tampang yang polos dengan sedikit kekonyolan anak-anak. Selain itu, Liana merasakan aura keberadaan sang Pangeran merosot menjadi sangat lemah hampir pada titik dia tidak terasa berada di sampingnya. Dan tiba-tiba Liana menyadari apa yang terjadi, selain orang-orang istana dan keluarga juga orang-orang di Yilongfei, tidak ada yang tahu sebenarnya sang pangeran bukan orang bodoh dan konyol.


Di saat Liana masih menatap kosong padanya dengan pikiran yang mungkin berada entah di mana, Wei Wuxian tiba-tiba meraih pergelangan tangan gadis itu dan menyeretnya untuk mendekat ke arah dimana orang-orang telah menunggu mereka.


Pangeran ke-empat, Pangeran ke-lima dan Puteri ke-enam juga sebenarnya berada tak jauh, terbang di samping, hanya sedikit di belakang keduanya dengan tunggangan masing-masing menjaga jarak aman. Lalu saudara-saudari Liana, Tuan muda dan Nona muda Zhu terbang dengan derek, posisi tepat di tempat paling belakang, barisan yang tertib menunjukkan sebenarnya bagaimana pangkat mereka di mata publik.


Saat mereka sampai di depan gerbang, burung-burung derek juga mendarat dengan ringan hingga hanya menyisakan sedikit debu yang beterbangan.


Penumpang di atasnya juga turun segera setelah derek mencapai tanah. Pertama-tama ialah pangeran ke-empat dan ke-lima yang turun dari tunggangan mereka masing-masing. Kemudian diikuti Wei Wuxian yang turun sambil membantu Liana. Um, tidak, tidak, sebenarnya karena dia masih bermain bodoh di depan para menteri dia hanya mendongak dengan gugup menunggu Liana turun sendiri.

__ADS_1


Dan Liana entah mengapa merasa ingin menepuk dahinya, tidak tahu apakah harus menangis atau tertawa, yang pasti dia mengakui kemampuan akting Wei Wuxian, jika hidup di dunia modern dan menjadi aktor, mungkin sudah mendapat lusinan penghargaan.


Sementara itu, semua orang sudah turun dari tunggangan terbang masing-masing dan langsung berjalan menuju kerumunan yang menunggu mereka.


“Salam Pangeran ke-tiga!”


“SALAM PANGERAN KE-TIGA!”


“Salam Pangeran ke-empat!” “SALAM PANGERAN KE-EMPAT!”


“Salam Pangeran ke-lima!”


“SALAM PANGERAN KE-LIMA!”


“Salam Puteri ke-enam!”


“SALAM PUTERI KE-ENAM!”


“SALAM PUTERI WEI!”


“Selamat datang kembali ke Ibu Kota!”


“SELAMAT DATANG KEMBALI KE IBU KOTA!”


Seruan salam dan kata sambutan selamat datang terdengar, dipimpin oleh seorang kasim istana diikuti dengan serempak oleh para menteri dan sebenarnya juga beberapa rakyat biasa yang awalnya hanya ingin menonton juga ikut berseru menyambut kedatangan mereka semua sebagai bentuk etiket kekaisaran. Bersujud di belakang para pejabat yang membungkuk karena identitas kasta mereka yang lebih rendah dari bangsawan.


Bukan hanya kelompok di depan sana, tetapi juga para Nona dan Tuan Muda Zhu hanya ikut membungkuk pada para Pangeran dan Puteri di depan mereka tanpa bersorak. Karena meskipun mereka adalah Tuan dan Nona Muda dari kediaman Perdana Menteri, tetapi status mereka hanyalah setengah bangsawan dengan sedikit darah selir. Jadi harus menghormati orang dengan posisi di atas mereka.


Lalu sebuah suara malu-malu terdengar setelah sorakan hening, “Ka- kalian ... bisa bangkit.” Itu adalah suara Wei Wuxian yang kini dalam mode Pangeran Bodoh. Karena posisinya adalah yang tertua di antara yang disambut, yang sebenarnya juga harus dengan pangkat tertinggi di antara muda-mudi itu, maka dia lah yang harus menjadi pembicara utama meski pun dia agak diragukan oleh para menteri itu.

__ADS_1


Orang-orang yang memberi hormat segera berdiri tegak kembali.


“Yang Mulia.” Panggilan dari Perdana Menteri—Zhu Moran menginterupsi keheningan yang sesaat.


Dia menuju Wei Wuxian yang menjadi pemimpin rombongan, membungkuk sebentar kemudian segera mengutarakan apa yang hendak ia utarakan.


Informasi yang sederhana, sebenarnya tujuan para menteri ini menyambut kepulangan para Pangeran dan Putri adalah karena sebagai persiapan untuk tahun baru di lusa yang akan datang. Memberitahu mereka tentang persiapan lain untuk menyambut tamu terhormat dari negara dan mungkin juga dari benua lain yang ingin ikut merayakan tahun baru di Benua Timur dengan Kekaisaran Naga sebagai Tuan Rumah. Sebab perayaan besar tahun baru sebelumnya yang diadakan setiap lima tahun sekali, Kekaisaran Langit lah yang menjadi tuan rumahnya.


“Jadi kali ini adalah giliran negara kami yang menyiapkan perayaan besar,” ungkap Zhu Moran memberitahu. Sesekali dia akan melirik tangan sang Pangeran yang masih dengan eratnya berpegangan pada lengan putrinya, dia hanya bisa terbatuk pelan.


Liana juga nampaknya tahu kode batuk sang Ayah, tapi dia sudah berjuang melepakan diri, tetapi orang yang memegangi dirinya tidak mau melepaskan cengkramannya dari pergelangan tangan Liana, malah memper-eratnya dengan lebih.


Sebenarnya orang-orang di sekitar juga memperhatikan itu dan sudah ada yang berbisik-bisik rendah yang tentu saja masih dapat di dengar olehnya.


Hanya, Liana sudah pasrah tidak lagi berjuang. Dengan ekspresi poker, dia membiarkan para menteri itu yang sesekali berdengung dengan beberapa cemoohan di telinganya yang mengatakan jika tindakannya dengan sang Pangeran ke-tiga yang intim itu tidak tahu tempat, tidak tahu malu!


Memang, pergaulan antara laki-laki dan perempuan di zaman ini sangatlah tabu jika itu bukan merupakan kerabat dekat yang berhubungan darah.


Bahkan jika memang itu suami dan istri yang memamerkan kemesraan mereka di tempat umum adalah hal yang tercela, mereka mungkin mendapat kecaman dari masyarakat apalagi jika yang melakukan adalah bangsawan yang memiliki citra mulia di depan publik.


Tapi Liana dan Wei Wuxian bukanlah orang yang memikirkan citra baik seperti itu. Dengan kepribadian Wei Wuxian yang di kenal luas sebagai Pangeran yang tidak berguna oleh masyarakat, mengapa harus memikirkan hal-hal merepotkan seperti wajah dan citra publik? Hanya membuang-buang energi.


Lalu Liana yang masih memiliki pemikiran masyarakat modern, tentunya juga tidak begitu memperhatikan aturan tak tertulis seperti itu.


Dengan begitu, orang berbisik tetap berbisik.


Setelah apa yang di sampaikan oleh Zhu Moran terdengar semua, maka dengan sedikit kode dari Wei Wuxian yang hanya diketahui kerabat istana, Pangeran ke-empat berbicara setelah menerima kode dengan patuh, menyuruh orang-orang untuk kembali ke istana terlebih dahulu untuk membicarakan hal-hal penting yang bersangkutan.


Maka kerumunan di depan gerbang ibu kota di bubarkan. Sedangkan kereta kuda telah disiapkan lebih dulu di tempat untuk membawa Pangeran dan Puteri menuju istana.

__ADS_1


~o0o~


__ADS_2