![[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana](https://asset.asean.biz.id/-reinkarnasi--sayap-takdir--zhu-liana.webp)
Tak terasa, kelas pertama berlalu dengan damai hari itu. Tapi para murid yang seolah telah dihipnotis masih sibuk dengan urusan mereka sendiri.
Kembali guru Lin terbangun, mengeluarkan suara tiba-tiba. “Yah, kelas hari ini berakhir. Kalian bisa kembali.” Tak lupa dia menguap panjang.
Murid-murid itu tersentak menoleh ke arah guru Lin secara bersamaan. Linglung sementara waktu sebelum akhirnya mengucapkan terima kasih.
Guru Lin juga keluar kelas setelah itu. Dan dia melewati Liana yang masih berbenah di tempat duduknya. Dengan sengaja menjatuhkan sesuatu.
Liana menghentikan gerakan berbenahnya saat sebuah benda kecil jatuh di samping mejanya. Dia mengambil benda kecil itu, tapi saat akan memanggil guru Lin, yang terakhir sudah menghilang entah kemana. Jadi Liana menyimpan benda kecil yang berupa sebuah Liontin giok berwarna nila tersebut di saku pakaiannya. Memutuskan untuk menyerahkannya besok kepada pemiliknya.
Dan hari itu, kelas-kelas di hari pertama berjalan dengan lancar selain kelas Alkimia dengan guru aneh yang menyuruh murid belajar, kelas lain berjalan dengan biasa bagaimana semestinya.
Sudah sore saat semua kelas yang Liana ikuti berakhir hari itu. Dan saat ini, dia masih berjalan-jalan di sekitar akademi bersama Wuxian yang setia mendampingi dan mendengarkannya. Entah itu hanya mengobrol biasa atau berkonsultasi tentang suatu pembelajaran di akademi. Bagaiamana pun, Wei WUxian memang seniornya.
“Ge, kau mengenal Guru Lin, bukan?”
“En, dia guru paling populer di antara murid-murid Yilongfei.”
Ya, meskipun seorang Wei Wuxian mengaku tidak pernah datang ke akademi sekali pun untuk belajar, tapi dengan identitasnya yang lain sebagai seorang guru, dia sering datang beberapa kali, melihat perkembangan akademi. Dia pasti tahu berita populer maupun tidak popular lainnya di dalam akademi.
Liana menghentikan langkahnya, menekuk alisnya ke dalam memperlihatkan ekspresi rumit. Liana membayangkan sikap guru yang selalu tertidur dengan orang-orang popular yang ia ketahui. Yah, sepertinya guru Lin ini ... en, dia layak menjadi populer dengan sikapnya yang eksentrik.
Melihat ekspresinya yang tampak bingung, Wuxian tertawa tanpa menahan diri. “Guru Lin memang selalu seperti itu. Tapi kau harus terbiasa dengannya seiring berjalannya waktu. Satu pelajaran yang ia ajarkan sangat berharga.”
Liana makin bingung. “Mengapa begitu?”
Wuxian tersenyum penuh arti. “Kau akan tahu nanti,” ucapnya misterius.
Memasang wajah cemberut, Liana tidak lagi bertanya. Dia diam sepanjang jalan menuju asramanya, mengabaikan Wei Wuxian yang diam-diam tersenyum geli di belakangnya, terus mengikuti.
Melalui peristiwa apa pun dan bagaimana pun, keduanya akan semakin dekat dari hari ke hari, dengan sedikit pertengkaran kecil yang tentunya menambah suasana keakraban antara Wei Wuxian dan Zhu Liana. Bagaiamana pun, mereka adalah pasangan yang ditakdirkan surga.
Dan seperti kata Wei Wuxian, dia mengikuti pembelajaran guru Lin yang eksentrik. Dari hari ke hari, masih sama seperti hari pertama. Dia tertidur di dalam kelas setelah enyuruh para murid belajar sendiri.
Karena berkali-kali melakukan hal seperti itu, ada murid yang mulai terbiasa dan ada pula yang tidak betah dengannya.
Liana sendiri masih bertahan, toh dia tidak apa-apa dengan prilaku guru Lin. Setiap hari akan ada banyak buku tentang alkimia yang ia baca, bahkan beberapa kali dirinya membawa beberapa herbal, tak lupa berdiskusi dengan murid lainnya. Suasana di dalam kelas mulai menjadi harmonis saat semakin banyak murid yang saling berdiskusi, memberikan pendapat mereka sendiri.
__ADS_1
Sampai suatu hari, guru Lin memutuskan untuk mengajar beberapa orang yang masih bertahan di kelasnya. Dan terakhir, sebenarnya di ketahui jika guru Lin ternyata adalah Kepala Sekolah dari Akademi Yilongfei.
Tetapi semua itu terjadi kemudian. Saat ini Liana baru saja selesai membersihkan diri di dalam asramanya.
Sambil mengeringkan rambutnya dengan Qi, Liana berjalan ke tempat tidurnya sambil memandang sebuah Liontin giok berwarna biru di atas nakas, samping tempat tidurnya.
Memperhatikan lebih jelas, ternyata ada sebuah pola aneh di dalam Liontin. “Guru Lin menyimpan benda seperti ini, pasti bukan sesuatu yang biasa.”
Liana membolak-balik Liontin, mengguncangnya dan melakukan apa pun, berharap mendapat reaksi dari dalam Liontin. Bagaimana pun, benda itu tidak terlihat biasa.
Dia kemudian menyuntikkan sedikit benang Qi ke dalamnya. Liontin tiba-tiba mengeluarkan cahaya, saat itu ada sesuatu yang melesat dari dalam Liontin. Liana segera membuangnya ke lantai karena terkejut, menganggap itu sebagai serangan.
Tapi saat ia hendak berbalik, sebuah suara yang nampaknya dikenal menghentikannya. “Aiyo, sakit sekali!”
Liana melihat benda transparan berbentuk anak kecil berumur sepuluh tahun tengah mengeluh sambil mengusap pantatnya di atas lantai. Memperhatikan anak kecil yang transparan itu, Liana tiba-tiba teringat. “Kau adalah ... Chao?!”
“Yak! Tuan Muda ini tidak bernama ‘Berisik’.” Benda trasnparan itu mulai menyalak, yang benar-benar Liana kenali. Dia tidak akan lupa dengan hantu anak kecil ini. Dengan mulutnya yang jarang berhenti berceloteh seperti itu dan sikap angkuhnya, Liana menganggap pertemuannya dengan hantu yang ia beri nama sebagai Chao, tidak terlupakan.
Liana tiba-tiba tertawa, merasa terhibur dengan kejenakaan makhluk transparan itu. Sudah lama sekali sejak mereka berpisah hari itu. “Bagaimana kau bisa berada di dalam benda ini?” Liana mnegangkat Liontin giok biru dan memperlihatkannya pada Chao.
Chao cemberut saat ditanya. “Ini semua karena orang tua itu. Tuan Muda ini sangat tersiksa karena kebosanan.” Yah, dia mulai terus mengoceh tentang perjalannya, ini dan itu, setiap kejadian dengan sangat detail.
Pak Tua Kun Lin menanggapi dengan beberapa keterkejutan dan sedikit kegembiraan.
Lalu setelah itu, mereka memutuskan untuk meninggalkan ibu kota, berjalan-jalan di beberapa tempat menyenangkan sampai mereka tersesat.
“Orang Tua itu tidak tahu penunjuk arah, tapi malah berjalan kemana-mana. Dia membuat Tuan Muda ini jengkel setengah mati. Dia sangat bodoh!”
Liana masih mendengarkan, agak menyenangkan mendnegar cerita perjalanan makhluk ini. Liana seperti menonton lawakan saat dia terus tertawa setiap beberapa waktu.
Chao cemberut, tapi dia terus bercerita sambil mengutuk orang tua yang ia sebutkan beberapa kali.
Mereka tersesat, tapi itu bukan hal yang paling menjengkelkan. Mereka sebenarnya juga dicopet dan ditipu di tempat. Keduanya akhirnya menjadi gelandangan di jalan. Tanpa uang dan tanpa makanan, mereka kelaparan.
Yah, beruntung ada orang yang baik membantu mereka, orang itu memberikan beberapa perak dan juga Liontin giok biru dimana tempat Chao baru saja terkurung. Liontin itu disebut sebagai penjara hantu, sesuai namanya, itu tempat memenjarakan hantu.
Liana mengangkat alisnya. “Apa kau tahu siapa orang yang membantumu itu?”
__ADS_1
“Ck, itulah yang membuatku semakin kesal. Orang tua itu benar-benar bodoh, mempercayai setiap orang dengan begitu mudah. Pantas dia ditipu. Aku tidak tahu siapa orang itu, tapi dia memiliki penampilan yang tidak biasa, rambutnya berwarna merah seperti api.”
Liana berkedip, Chao tidak tahu, tapi dia tahu siapa orangnya. Bukankah itu Xian gege?
“Ah lalu? Mengapa kau berakhir di tangan guru Lin?”
“Hah?! Guru Lin? Siapa itu?”
Liana juga heran, tapi dia kemudian menjelaskan siapa guru Lin beserta ciri-cirinya. Tetapi dia kemudian melihat sudut mulut transparan milik Chao berkedut.
“Yang kau sebut guru Lin itu adalah orang tua yang menjengkelkan dan bodoh itu. Dia yang mengurungku di dalam Liontin, dan sekarang dia sebenarnya berpura-pura menjadi seorang Pria yang terlihat lebih muda? Tidak tahu malu! Berapa usianya? Dia sudah bau tanah!”
Liana tak menduga jika reaksi Chao akan sekuat ini, meraung penuh amarah, mengutuk guru Lin sebagai orang yang tidak tahu malu. Dan sebenarnya guru Lin adalah Pak Tua Kun Lin yang ia temui bersama Wan Feng di penginapan setelah acara lelang rakyat hari itu, yang menceritakan tentang petir kesengsaraan dari binatang iblis.
Pantas saja Liana merasa tongkat kayu yang dibawa guru Lin agak akrab, ternyata mereka adalah orang yang sama. Liana kemudian mengingat sebuah teknik penyamaran yang membuat orang yang menggunakannya menjadi orang lain. Guru Lin alias Pak Tua Kun Lin pasti menggunakan teknik tersebut.
Dan juga Liana akhirnya tersadar, Wei Wuxian pasti menyadari hal-hal ini dan sudah merencanakan sesuatu, dan mungkin Pak Tua Kun Lin ah, maskudnya guru Lin juga tahu. Itulah mengapa setelah Liana pikirkan secara cermat, dia sepertinya sengaja menjatuhkan Liontin di dekatnya. Sorang Kultivator tidak mungkin akan begitu ceroboh.
Untuk cerita Chao yang mengatakan guru Lin adalah orang yang ceroboh, sepertinya itu juga disengaja.
Yah, ini hanya spekulasi sepihak dari Liana. Untuk benar atau tidaknya itu, hanya mereka yang terlibat yang tahu.
“Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang?” Liana akhirnya bertanya pada Chao.
Chao berkedip dengan linglung atas pertanyaan yang diajukan padanya. Apa yang akan dia lakukan? Dia sebenarnya juga tidak tahu. Dia sekarang bertemu Liana kembali, dia sedikit senang.
Dengan malu-malu, menggaruk pangkal hidungnya, Chao memandang Liana hati-hati. “Ji- jika boleh, aku ... aku akan ikut denganmu. Bi- bisakah?”
“Kau tidak ingin kembali pada guru Lin?”
Mendengar nama orang itu membuat Chao kesal. “Humph! Aku tidak akan kembali pada orang tua bodoh itu. Apa kau akan mengusirku, Nona? jangan usir aku!”
Liana tak tahu harus berkata apa dihadapkan dengan seorang hantu berbentuk anak kecil yang sedang melakukan Meng untuk membujuknya. Apakah dia memiliki kuasa untuk menolak? Liana menyukai hal-hal imut, oke?
~o0o~
Mohon maaf... meski ramadhan, aku gak bisa up tiap hari... soalnya harga cabe naik :v
__ADS_1