[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana

[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana
76-Zhu Lianhu


__ADS_3

"Mengapa kau meminta maaf padaku?" Liana akhirnya bertanya setelah keheningan beberapa saat.


"Aku ... aku sangat membenci ibuku."


Liana tersentak saat mendengar ucapan pemuda itu. Melihat wajahnya yang menunjukkan ekspresi kemarahan, Liana tak tahu harus mengatakan apa. Zhu Lianhu, pemuda ini benar-benar menaruh kebencian pada ibunya sendiri.


"Aku benar-benar membencinya, aku merasa menyesal karena dilahirkan oleh wanita seperti dirinya. Dia ... dia tak pantas disebut seorang ibu."


Tak mendengar balasan dari Liana, Lianhu mengangkat pandangannya dan bertemu dengan mata gelap gadis itu. "Kakak, apa aku bersalah jika membencinya?" Dia bertanya. Matanya memerah menahan antara kesedihan, kemarahan dan kekecewaan. "Dia telah menyakitimu. Tidak ... tidak, bukan hanya dirimu. Tapi ...." Sampai sini, Zhu Lianhu menghentikan ucapannya. Dia ragu untuk memberitahu Liana tentang hal yang ia ketahui. Dia takut jika gadis itu akan menyalahkannya.


Sedangkan Liana, di permukaan dia memang tak memperlihatkan emosi apa pun. Tapi di dalam, ada banyak hal yang sudah dia pikirkan.


Dia akhirnya menghela napas. "Kesalahan seseorang tak bisa ditanggung oleh orang lain," ucapnya kemudian. "Katakan apa yang ingin kau katakan, beritahu aku apa yang kau ketahui. Kau tak perlu merasa bersalah padaku, aku tak akan menyalahkan dirimu karena perbuatan Ibumu." Liana berhenti sebentar sebelum melanjutkan kalimatnya dengan nada yang lebih lembut. "Bagaimana pun, kau adalah kau. Dan Wen Canran adalah Wen Canran. Seorang ibu dapat menanggung dosa anaknya, tapi dosa seorang ibu tak bisa diserahkan pada sang anak."


Yah, sama seperti kesalahan seorang budak itu karena ajaran tuannya. Tetapi kesalahan tuan bukanlah ajaran dari budaknya. Tak ada yang memperhatikan, tapi itu sama halnya dengan hukum alam.


Perkataan Liana di atas sebenarnya dia dapat dari ajaran suatu agama saat dia berkeliling dunia ketika masih menjadi anggota militer WSA di dunia modern. Dia hanya menyimpulkan seperti itu. Dan dia telah menyaksikannya juga seperti itu.


Banyak hal terjadi du dunia ini. Anak yang terkadang nakal, maka orang tua merekalah yang di salahkan. Akan tetapi jika orang tua yang membuat masalah, sang anak akan cenderung dikasihani.


Bahkan dia pernah menyamakan kejadian seperti ini dengan kalimat tanya, "Mana lebih dulu Ayam atau Telur?" Jika seseorang mengetahui jawaban ini, mereka akan mengetahui makna sebenarnya apa yang ingin dia (Sebenarnya Author) sampaikan.


Sedikit konyol? Yah memang, tapi segala hal di dunia ini memang memilki makna nyata dan misteri jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda.


Mari lupakan ini sejenak.


Lianhu juga tertegun dengan kalimat panjang yang Liana ucapkan barusan. Dia tak menyangka jika saudarinya akan mengatakan hal tersebut alih-alih akan menyalahkan dirinya atau sejenis itu.


Sebenarnya Lianhu hanya terlalu paranoid. Liana tentu saja tak akan menyalahkan dirinya. Bukan dia yang bersalah, dan tentu saja bukan dia yang akan menerima hukuman.


Tapi kembali lagi pada kepercayaan kebanyakan orang. Orang-orang yang memiliki hubungan dengan penjahat akan sering diklaim sama dengan para penjahat itu. Itulah yang membuat Lianhu khawatir.


Karena sudah merasa yakin dan percaya pada Liana, Lianhu terus memberitahu gadis itu tentang apa saja kejahatan yang dilakukan ibunya di dalam Manor yang ia ketahui.


Liana bereaksi setelah mendengar segala pengakuan Lianhu. Dia mengira jika Wen Canran adalah wanita yang keji, tapi dia tak tahu jika wanita lebih menjijikkan dari yang dia duga.


Pantas saja Lianhu memiliki ekspresi tak baik saat membicarakan tentang ibunya itu. Dia bisa melihat jejak malu, marah bahkan kecewa dalam mata pemuda itu.


Mungkin jika dia berada dalam posisi Lianhu, Liana juga tak akan sanggup menganggap seorang Wen Canran sebagai ibunya sendiri. Dia bahkan lebih buruk dari orang asing.

__ADS_1


Hanya satu kalimat untuk menggambarkan bagaimana wanita itu, "Benar-benar tak berperasaan." Liana sekarang memilki keinginan untuk mengumpat wanita itu.


"Kakak, jika ... jika aku tahu dia telah merencanakan sesuatu untuk menyakiti dirimu lagi, aku pasti akan menghentikannya," ucap Lianhu menyesal.


Liana menghela napasnya, bahkan lebih panjang dan lebih banyak keluhan dari yang biasanya. Dia juga merasa marah dengan hal itu.


Meski mereka tidak dekat, di masa lalu, Lianhu pernah sekali menolong dirinya dari bahaya yang di rencanakan seseorang.


Jika Lianhu tidak menyebutkan hal ini, Liana mungkin akan lupa dan tidak akan pernah tahu siapa yang sering merencanakan perbuatan jahat padanya.


Dan sekarang dengan kata 'lagi' yang disebutkan oleh Lianhu, Liana jadi tahu dan yakin jika beberapa hal yang membuatnya menderita di masa lalu memang benar-benar adalah skema yang dibuat oleh Wen Canran.


"Bukan salahmu." Liana berkata dengan pelan saat pandangannya terpaku pada wajah tertunduk Lianhu.


Dia sekilas melihat mata pemuda itu memerah, seperti hendak mengeluarkan air mata. Liana tak bisa untuk tidak tertegun, dan dengan lugasnya dia malah bertanya, "Kau menangis?"


Lianhu langsung tersentak dan mengangkat kepalanya. Dia mengusap air yang menuruni wajahnya dengan wajah tercengang.


Seketika wajahnya langsung memerah. "La- laki-laki, tidak boleh menangis. Jadi ... jadi aku tidak menangis. Ada debu yang masuk ke dalam mataku."


Liana sebenarnya ingin tertawa sekarang. Tapi dia ingat, harga diri seorang lelaki itu begitu tinggi. Jika dia bersikeras pada Lianhu, mungkin pemuda itu tak akan berani lagi mengangkat wajah padanya di masa depan.


Tak ada orang yang memilki hati sekeras baja. Hati manusia itu lunak, selalu berubah-ubah. Tak ada yang dapat memahaminya dengan benar.


Setelah beberapa waktu, Lianhu keluar dari Paviliun Teratai Bulan bersiap untuk kembali ke kediamannya sendiri. Sebenarnya dia tak pernah sekali pun mengunjungi Wen Canran yang berada di dalam penjara bawah tanah.


Seperti katanya, dia membenci wanita yang menjadi ibunya itu. Atau sepertinya dia terlalu kecewa padanya.


Liana sendiri masih berdiam diri di kursi batu, mengamati langit musim gugur yang akan tiba. Disana sedikit berawan, tapi masih cerah.


Sekilas kilatan iri terlihat di mata Liana saat melihat burung-burung yang dengan riangnya berkicau di pepohonan yang kemudian terbang bebas.


Kembali kepada kebiasaan buruknya, Liana menghela napasnya. Seperti terlalu banyak keluhan dalam hidup gadis serba putih itu.


Kemudian suara Ling segera menyadarkannya dari keadaan linglung. "Nona, kereta yang anda pesan sudah siap. Kita dapat berangkat ke istana sekarang juga."


Kepala Liana mendongak melihat pelayannya yang terlihat selalu patuh itu berdiri di depannya.


"Ling, apa kau ingin menikah?" tanyanya tiba-tiba dan mengagetkan Ling.

__ADS_1


Tapi gadis yang sudah dapat disebut wanita itu dengan cepat mempertahankan ekspresinya yang tenang. "Nona, kenapa menanyakan hal seperti itu? Saya tentu hanya akan berada di sisi Nona dan melayani Nona."


Kelopak mata Liana terkulai, berbalik menatap tanah berumput. Tidak mengatakan apa pun lagi sebelum akhirnya dia berdiri dan mendahului Ling berjalan.


Ling mengerutkan alisnya dengan sikap Nonanya yang sedikit lebih aneh hari ini. Tapi sebagai seorang pelayan, dia dengan cepat melupakannya. Tugasnya hanya melayani majikan, bukan mempertanyakan sikap dan pikiran mereka.


Dia dengan cepat mengikuti langkah Liana yang sudah menjauh.


~◇~


Kereta kuda yang Liana naiki kini telah berhenti tepat di depan gerbang istana.


Sang kusir yang mengendarai kereta turun terlebih dahulu untuk menyapa penjaga dan mengonfirmasi identitas mereka.


Setelah semua, kereta akhirnya dibiarkan masuk saat gerbang di buka.


Liana yang sedari tadi diam memandang keluar jendela. Melihay deretan pohon-pohon yang menghiasi halaman depan istana yang rapi.


Setelah beberapa waktu, kereta itu juga berhenti di dekat penangkaran kuda yang juga menjadi tempat parkir pribadi kendaraan keluarga kekaisaran atau tamu khusus yang berkunjung, dan Liana adalah salah satu orang yang memiliki kuota tamu khusus tersebut. Karena dia juga masih memiliki darah keluarga kekaisaran dalam tubuhnya yang diwarisi dari Wei Xiening. Belum lagi dia juga akan menjadi seorang Wangfei untuk Pangeran Ke-tiga, Wei Wuxian.


Suara sang kusir pun terdengar, "Nona Muda, anda bisa turun sekarang."


Sebelum Liana, Ling terlebih dahulu membuka tirai yang menutupi pintu kereta, dia turun.


Setelah kakinya menapak di tanah, dia kemudian mengulurkan tangannya saat memanghil Liana.


Liana juga menyibak tirai dan meraih tangan Liana untuk turun dari kereta. Hah, kehidupan seorang Nona Muda.


Saat itu suara manis datang tak jauh dari tempat mereka.


"Liana!"


Liana menoleh kepada orang yang memanggilnya dengan riang itu. Dan dia melihat seorang gadis cantik dengan stelan merah muda berlari ke arahnya.


Liana mengerutkan kening saat dirinya juga melihat seorang pemuda di belakang gadis itu.


"Salam Yang Mulia Putri Ke-enam, Salam Yang Mulia Pangeran Mahkota."


Liana mengambil sikap setengah busur, membungkuk hormat memberi salam. Tindakannya tentu diikuti oleh orang-orang dengan pangkat yang lebih bawah di sana.

__ADS_1


~o0o~


__ADS_2