[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana

[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana
51-Masalah Serangga Dalam Mangkuk Mie


__ADS_3

Dalam perjalanan mereka menuju kawasan timur pasar, sesekali Liana menyeret sang kakak ke kedai makanan untuk mengisi perut. Seperti saat ini, ketika dirinya melihat sebuah kedai dengan papan nama yang bertuliskan 'Kedai Mie Ting', gadis itu dengan antusias menarik lengan panjang Wan Feng untuk masuk ke dalam kedai disertai Ling yang hanya mengekor dari belakang.


Wan Feng hanya menurut karena dia sendiri juga cukup lapar sekarang.


Brakk!


Tapi baru saja mereka memasuki kedai sudah dikejutkan dengan suara gebrakan meja dari salah satu pelanggan di sana.


Semua orang termasuk Liana, Wan Feng dan Ling mengalihkan pandangan mereka pada pelaku.


Seorang pria bertubuh tinggi dan sedikit gemuk dengan penampilannya yang mewah namun memasang wajah garang.


Di depannya terdapat makanan yang sudah tumpah mengotori meja makan.


"Apa-apaan ini? Kalian ingin menipu ya? Kenapa di mangkuk mie milikku ada serangga mati? Menjijikkan. Beginikah cara kerja dari kedai kalian?!" Dia berteriak dengan marah. "Cepat panggilkan pemilik kedai ini untuk mengganti mie ku jika tidak ingin kedai ditutup!" titahnya sombong.


Para pengunjung kedai mulai memikirkan perkataan si pria tambun dan melihat mangkuk mie dengan tatapan jijik. Berpikir, apakah mereka baru saja memakan serangga mati?


"Li'er, apa sebaiknya kita pergi ke tempat lain?" tanya Wan Feng yang kini juga ikut merasa mual jika harus memakan bekas serangga mati. Haih, dia mempercayai perkataan laki-laki tambun itu.


"Tidak perlu. Kita disini saja," ucapnya lalu segera mengampiri meja kosong terdekat. "Xiao-er!" panggilnya pada seorang pelayan laki-laki terdekat. Dan teriakannya itu sukses menarik perhatian para pelanggan, termasuk pria tambun yang protes.


"A- ada apa nona?" Pelayan itu dengan tergopoh-gopong menghampiri mejanya.


"Aku pesan satu mangkuk mie spesial," ucapnya membuat orang-orang yang mendengar itu terbengong dan kaget.


Apakah gadis itu masih waras? Padahal tadi dia dengar sendiri ada serangga di mie.


Mereka malah menatap ngeri pada Liana dan jijik pada mie yang sudah mereka telan.


Sedangkan pelayan itu ... "Ta- tapi, Nona ...."


"Hmm, apakah kau tak mau berjualan lagi?" tanya Liana tidak suka dengan keraguan pelayan itu.


"Ba- baiklah, kami ... kami akan segera menyiapkan pesanan Anda," ucap si pelayan dengan segera mencatat pesanan.


"Kakak, apa kau akan terus berdiri di sana? Dan kau juga Ling, tak ingin memesan sesuatu?" tanyanya pada kedua orang berbeda umur, gender dan status sosial itu.


Ling lebih dulu menghampiri Liana, namun dia masih berdiri di sampingnya. Karena menurutnya akan tidak sopan jika duduk bersama di satu tempat dengan sang majikan.


Lalu Wan Feng juga menurut, dia hanya duduk namun tak memesan.

__ADS_1


Sedangkan si pelayan melenggang karena tidak mendapat pesanan lain.


Bersamaan dengan itu, sebenarnya beberapa saat lalu, tepat saat Liana tengah memesan hidangan mie di kedainya, pemilik kedai datang dengan raut panik juga khawatir. Tapi saat melihat Liana yang duduk dan memesan, wajahnya berubah menjadi keheranan. Dia terdiam di tempat kurang mengerti dengan situasi yanh dijelaskan oleh karyawannya.


"Nona, kenapa kau memesan mie yang jelas-jelas kotor di kedai ini?" Kali ini pria tambun yang protes itu menghampiri meja Liana mengingatkannya.


"Hmm, kotor? Bagian mana yang kotor?" tanya Liana berlagak tak mengerti.


Pria tambun itu kesal tapi dia masih tetap.mau membujuk Liana agar tidak membeli makanan di tempat ini. "Nona, tadi kau juga melihat jika mangkuk milikku terdapat serangga mati, bukan?" tanyanya yang malah lebih terdengar seperti pernyataan.


"Aku tak melihatnya. Jika pun iya, itu hanya berada dalam mangkuk mu saja, siapa yang tahu jika kau tak sengaja membawa serangga dari perjalanan yang sialnya malah terjatuh ke dalam sana." Liana berkomentar dengan acuh karena menurutnya itu bukanlah masalah besar, hanya serangga. Dulu dia bahkan pernah menemukan cacing pita pada perut salah satu prajuritnya.


Oke baiklah, itu mungkin permasalahan lain.


Orang-orang yang mendengar penjelasan Liana berpikir kembali, ucapan gadis itu terdengar masuk akal. Dan juga, serangga memang hanya terdapat di mangkuk pria tambun itu.


Tapi sepertinya pendapat si pria tambun dengan para pelanggan berbeda. Dia masih kukuh dengan tuduhannya. Sepertinya pria itu memiliki tujuan lain.


"Nona ... seperti katamu, mungkin memang serangga terbawa dari perjalanan atau bisa jadi serangga terjatuh ke dalam belanga saat koki sedang memasak dan sialnya malah aku yang mendapatkannya." Pria itu berspekulasi dan menyulut kembali rasa jijik dari para pelanggan.


Salah satu pelanggan berkomentar, "Aku pernah mendengar dari saudaraku yang tinggal di Benua Tengah. Beberapa kedai di sana ada yang menggunakan sesuatu yang mereka sebut sebagai penglaris, semacam hal yang membuat kedai mereka ramai pengunjung yang dapat membuat mereka cepat menjadi kaya," katanya dramatis.


"Benarkah, pantas saja kedai ini begitu ramai. Aku adalah pelanggan baru, kedai ini adalah rekomendasi dari temanku."


"Huweek! Aku mau muntah!"


Liana mengerutkan alisnya mendengar komentar buruk dari orang-orang tentang kedai mie tersebut. Lalu dia mengalihkan pandangannya kembali pada pria tambun yang samar-samar dilihatnya tengah menunjukkan senyum tipis kemenangan.


"Heh!" Liana tersenyum miring. Dia segera berdiri, berjalan menghampiri meja yang tadi diduduki pria tambun.


Memeperhatikan mangkuk yang sudah terbalik miring dengan isi yang tumpah. Disana benar terdapat seekor serangga paling menyeramkan yang ia tahu, kecoa! Diam-diam Liana bergidik, dia membenci serangga itu hingga hampir mencapai taraf fobia. Hanya hampir.


Dengan menyangga dagu dengan sebelah tangan, dia bertanya, "Kau menemukan serangga ini di bagian mana?"


Pria tambun itu merasa aneh dengan pertanyaannya, namun tak ada kecurigaan. Jadi dia menjawab dengan tenang. "Aku menemukannya tepat di atas mangkuk. Beruntung aku belum memakannya karena melihat serangga itu lebih dulu."


Liana mengangguk. "Benar, ini memang terdapat di atas mangkuk," ucapnya saat menunjuk kecoa mati itu dengan sumpit.


Melihat dari posisi tumpahnya mangkuk, serangga itu berada paling ujung tumpahan yang menandakan jika serangga itu memang ditemukan di atasnya.


"Jika itu jatuh lebih dulu dalam belanga, posisinya pasti berada di bawah atau bisa jadi di tengah," Wan Feng memberi komentar saat menyadari hal-hal. Dia mengerti sekarang, ini mungkin rencana si pria tambun.

__ADS_1


Pria itu tentu terkejut mendengarnya, saat dia ingin bicara lagi, dia tak tahu apa yang ingin dikatakannya. "Apa maksudmu aku yang berbohong?!" Dia malah berteriak panik.


"Paman, tenanglah. Kakakku tak menyebutkan jika kau berbohong. Dia bermaksud mengatakan jika ada seseorang yang sengaja meletakkan serangga itu dalam mangkukmu." Ucapan Liana malah membuat pria itu semakin gelisah.


"Nona, menurutku bisa saja serangga itu berada di atas saat mie disajikan." Seorang pelanggan memberi pendapat.


Liana menggeleng, "Tidak, jika itu sudah berada di atas, tidak mungkin pelayan yang menyajikan mie tidak melihatnya, serangga ini cukup jelas terlihat karena warnanya sangat kontras dengan mie. Dia tak bisa berpura-pura tak melihatnya karena bisa merusak reputasi tempatnya bekerja. Jika pun iya, mungkin pelayan itu memiliki dendam dengan tempat ini atau pada si Paman ini," ucap Liana menunjuk pria tambun.


"Lalu ...." Liana sejenak menjeda penjelasannya. Dia meraih sumpit lalu membedah tubuh kecoa dengan alis yang mengernyit karena sedikit jijik.


Bahkan para pelanggan lain juga tak dapat menahan rasa mual melihat tindakannya.


"Jika ini masuk saat mie di masak, maka serangga ini juga akan ikut matang. Tapi lihat ... ini seperti serangga yang memang baru mati, cairan tubuhnya masih encer dan tubuhnya juga tidak menciut karena panas. Jelas ini belum matang sama sekali."


(Oh ya, aku kurang tahu jika penjelasan ini banar. Karena aku juga belum pernah memasak kecoa. Tapi ku pikir itu akan sama seperti memasak udang atau cumi. Hihi, maaf yah. Mungkin ada dari kalian yang ingin bereksperimen?)


Orang-orang di sana serentak mengucapkan kata 'Oh' yang panjang, mengerti dengan apa yang di jelaskan oleh Liana.


Sedangkan si pria tambun memiliki wajah yang memerah padam, malu dan kesal. Tapi sepatah kata dari tenggorokannya pun hanya tersendat di sana.


Lalu untuk si pemilik kedai malah tersenyum penuh terima kasih saat memandang gadis serba putih itu. Kedainya tak bersalah karena penjelasannya. Lagi pula dia juga tidak memiliki penglaris seperti yang disebutkan oleh salah satu pelanggannya. Dia berbisnis dengan jujur, sebab dirinya sangat menghargai kedainya ini. Kedai miliknya telah diwariskan dari buyut. Tempat ini telah memiliki sejarah lama. Namun ada saja orang yang tega memfitnah peninggalan leluhurnya.


Tapi sejurus kemudian dia mengerutkan alisnya.


"Panggilkan pelayan yang mengantar hidangan mie pada tuan itu!" titahnya yang tentu saja langsung di turuti oleh seorang karyawannya.


Liana tersenyum melihat bagaimana cekatannya si pemilik kedai. Dia adalah seorang pria umuran akhir dua puluhan, masih muda namun terlihat begitu tegas dan teguh. Liana menyukai orang-orang seperti pemilik kedai. Sangat cocok menjadi mitra bisnis.


Ngomong-ngomong soal bisnis, dia telah memikirkan ini sejak lama. Sepertinya ini mungkin waktu yang tepat.


~o0o~


Halo! Sekedar info...


Aku nggak tau mungkin ke depannya akan jarang Update... Haaah😥


Aku pernah bilang kan, aku punya dua alasan jika tidak Up.


1. Draft belum jadi


2. Nggak punya kuota

__ADS_1


Jadi yaah... gitu deh. Tapi aku usahakan jika nanti Up akan memiliki episode yang lebih banyak.


Terimakasih untuk yang sudah membaca ceritaku sampai disini...


__ADS_2