[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana

[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana
89-Seorang Anggota


__ADS_3

Luo Xing adalah pemuda yatim piatu yang hidup di sebuah desa terpencil, salah satu daerah bagian kota Nanzhi, kota pemberhentian terdekat dari ibu kota saat menuju ke selatan.


Beberapa tahun lalu, dia pindah dari desa ke kota untuk mengadu nasib. Siapa yang tahu jika keberuntungannya begitu besar, tanpa sengaja menolong seorang pengemis yang ternyata adalah seorang kultivator legendaries yang mengajar di sebuah akademi terkemuka di Kekaisaran Naga, dan karena itu dia segera diangkat menjadi murid langsung kultivator tua tersebut.


Bakatnya cukup bagus meskipun dia dalam usia yang telah untuk berkultivasi, tapi siapa yang menduga jika jenius hanya akan tetap menjadi jenius, dia maju dengan cepat dan dapat memasuki kelas elit. Yah, satu-satunya rakyat jelata yang masuk di kelas elit karena bakatnya.


Dan belakangan ini dia akhirnya tahu jika dirinya juga adalah orang istimewa karena sebuah ingatan yang muncul dalam otaknya.


Dia tahu jika dirinya telah mengalami reinkarnasi beberapa kali di zaman dan dunia yang berbeda. Tapi hal itu tidak mengejutkannya melainkan identitas hidup pertamanya, ya, dia adalah salah satu dari seratus anggota Klan Yunan yang dimusnahkan berabad-abad yang lalu.


Satu lagi, dia tahu jika sekarang juga dia mendapat sebuah misi penting, yaitu menemukan seseorang atau menunggu orang itu menemukannya.


Jadi selama liburan, dia telah mencari sedikit informasi, hanya saja tidak memabntu pencariannya. Karena itulah dia hanya dapat mengambil opsi kedua untuk menunggu orang itu datang padanya. Luo Xing hanya berharap waktu tidak akan lama.


Hari ini dia memutuskan untuk bersantai dengan berjalan-jalan di kota asalnya. Menjelang sore hari, dia memutuskan untuk pergi ke festival, hanya sendiri, yah sendiri ... tapi dia merasa sangat santai dengan keramaian, melihat pasangan tiap kali dia mengalihkan pandangan. Meski begitu dia merasa lucu melihat mereka.


Tapi saat tatapannya tertuju pada dua pasangan muda yang berjalan berdampingan dengan santai di alun-alun, sebuah perasaan familiar memasuki dirinya.


Saat dirinya tersadar, dia sudah mengikuti pasangan muda itu. Memperhatikan setiap gerak-gerik mereka, apa yang mereka lakukan dan bicarakan, dia nampak seperti penguntit.


“Nah, apa sekarang aku sudah menjadi seorang penguntit?” Dia ingin pergi, tapi dia benar-benar tidak bisa mengabaikan perasaan familiar yang datang dari dua orang itu. Jadi dia terus mengikuti mereka sampai keduanya kembali ke kediaman Tuan Kota.


Dan untuk pertama kalinya dia merasakan apa itu sebutan ‘memakan makanan anjing’. Pasangan itu benar-benar memamerkan kasih sayang mereka di tempat yang sepi, di malam hari yang dingin dengan purnama yang bersinar di langit. Ah, pemandangan yang romantis.


Luo Xing tahu istilah ini dari dunia sebelumnya dia berada, lagi pula di sana dia adalah seorang otak yang gemar menulis. Singkatnya, dia memang seorang penulis.


Dan dia juga tahu, dia tidak memiliki satu pasangan pun dalam kehidupan di dunia itu. “Woah, ada apa dengan jenis makanan anjing di seluruh dunia? Benar-benar membuat iri.” Dia hanya bisa menggerutu sambil tiduran di atas pohon, dalam gelap dan ... kesendirian, menyedihkan.


~o0o~


Seperti biasa, pagi Liana dimulai dengan rutinitas olahraga ringan dan diakhiri dnegan permainan pedang.


Hari masih gelap, tapi deru angin yang mendesing dari tebasan pedang di udara menjadi satu-satunya suara yang mengisi keheningan selain jangkrik.


Liana sangat fokus pada gerakannya, dia begitu lihai mengayunkan pedang menjadi tebasan dan tusukan tajam, penuh kekuatan.


Kebetulan, Wuxian juga bangun pagi itu dan melihat pemandangan yang meanarik. Dia kemudian mengeluarkan pedanganya dan mulai ikut dalam latihan, tepatnya dia memulai sebuah serangan dan menjadi teman berlatih Liana.


Serangan dari belakang sangat cepat, Liana mengerutkan kening sejenak saat akhirnya di menajamkan visinya beberapa kali lipat, gerakannya juga cepat, dia menghindari serangan dadakan yang datang padanya.


Satau serangan lagi dengan kecepatan yang sama, dia menangkis dengan lihai kemudian melompat ke belakang, berhenti di sana sekejab untuk melihat senyuman pemuda di seberang dengan pedang berbilah tajam di tangannya. Liana juga mengangkat sudut bibirnya sedikit, kemudian tanpa mengucapkan kata sambutan atau selamat datang, dia maju dengan cepat, berlari seperti peluru menerjang teman berlatihnya itu.

__ADS_1


Liana mengangkat pedanganya dengan miring, saat dia sampai pada titik dimana dia bisa menyerang, pedang berbelok dengan tajam hendak menyentuh leher Wuxian. Gerakannya seperti hendak membunuh lawan, tapi tenang saja, karena Liana tahu kemampuan teman berlatihnya itu, dia tidak pernah ragu-ragu untuk menyerang titik vitalnya.


Wuxian sendiri terkekeh saat dia menghindar dengan ringan atas serangan yang baru saja didapatnya, tampak bermain-main, tapi sebenarnya dia sudah mengerahkan setengah kemampuannya untuk itu, dia kembali dia buat kagum oleh gadisnya.


Latihan masih di lanjutkan hingga setengah jam kemudian mereka berhenti karena nampaknya, matahari akan segera naik.


“Hum, ucapan selamat pagi yang menyenangkan.” Wuxian sedikit bercanda dalam katanya.


Sedangkan Liana masih sedikit mengatur napasnya. Sebenarnya dia cukup kesal dengan perbedaan stamina antara pria dan wanita. Tapi dia juga puas dengan itu, Liana cukup berkeringat banyak hari ini, karena biasanya dia tidak memiliki teman berlatih selain Shiro yang dengan malas meladeninya. Ah, berbicara tentang sang Pegasus, dia menjadi jarang muncul.


Dia sudah berubah menjadi kuda malas yang kerjaannya hanya tiduran di dalam Dimensi Sayap Kembar.


Tapi Liana sendiri juga tidak perduli, karena dia bisa dengan mudah menarik dan menendang makluk putih itu jika dia mau. Um, maksudnya, Shiro masih berguna untuk ditanya-tanya tentang sesuatu yang penting. Liana juga tidak mungkin untuk begitu tega menendang sang Pegasus yang terlihat cantik itu, lagi pula dia adalah partner berlatih pertamannya sejak dia kembali ke dunia ini. Dan juga, Shiro sudah banyak membantunya dalam berbagai hal. Mereka sudah memiliki ikatan khusus yang tentunya tidak dapat dibatalkan, bahkan dengan kematian.


Ah sudahlah, lupakan itu. Saat ini Liana dapat mendengar suara gemirisik dari salah satu pohon yang ada di halaman itu.


Wuxian juga menyadarinya, dia mengambil kerikil dari tanah, kemudian melemparnya ke arah di mana suara gemerisik itu berasal.


Tak lama, suara teriakan kemudian suara benda jatuh hingga berakhir dengan beberapa kata omelan dan keluhan sakit datang dari sana.


Liana mengangkat alisnya saat melihat seorang pemuda yang terlihat seumuran dengan kakaknya—Wan Feng terduduk ditanah sambil meringis dan mengutuk.


Wuxian mengangguk, “Mn.”


Mereka berdua masih diam, menunggu pemuda itu berdiri sendiri. Liana tidak bisa menahan perasaan rumit dan aneh, dia tiba-tiba mendekati pemuda itu yang masih lesehan sambil memegang pinggangnya.


Dia belum membuka suara tapi melihat tingkat kultivasi pemuda itu yang lumayan tinggi untuk usianya, dia termasuk berbakat. Yah, Liana tidak heran dengan hasil itu.


Pemuda itu akhirnya menyadari keberadaan Liana di depannya, gadis bergaun putih itu mengamati dirinya dengan seksama membuatnya sedikit malu dan tertekan. Di perhatikan secara intens oleh seorang gadis cantik, pria mana yang tidak merasa malu? Apalagi pria muda seperti dirinya yang masih lajang.


Mungkin hanya mereka yang sudah tidak memiliki enam emosi dan tujuh keinginan yang bisa bertahan, yah itu tidak bisa dihitung juga karena orang-orang seperti itu telah meninggalkan urusan duniawi.


Pemuda itu berdiri dengan tiba-tiba dan gerakannya canggung. Dia segera menggaruk belakang kepalanya sambil memberi senyuman lebar, memperlihatkan deretan giginya yang tersusun indah dan rapi.


“Ha- halo.” Dia menyapa.


Hum? Liana kembali mengangkat alisnya dengan sapaan modern itu. Sepertinya dia memiliki kerabat dari tempat yang sama sekarang.


“Ah, kau ....” Ada jeda sebentar saat dia mengamati kembali prilaku pemuda itu. “Tahun berapa perang dunia berakhir?”


Pemuda itu, “...?!”

__ADS_1


Ditanya seperti ini, orang lain mungkin akan merasa aneh, tapi tidak dengan pemuda itu. Dia cukup terkejut dengan pertanyaan gadis bergaun putih di depannya. Sebenarnya, gadis itu juga tahu tentang perang dunia?


Tidak, tidak. Bukan perang di dunia ini. Karena perang di dunia sekarang tidak pernah ada yang menyebutnya sebagai perang dunia, mereka akan menggunakan istilah-istilah untuk menjabarkannya.


Tapi pemuda ini mengerti apa yang gadis itu maksud adalah perang di dunia yang lain, hanya satu yang dia pikirkan. Gadis serba putih ini pasti juga pernah hidup di dunia modern. Dia sebenarnya tadi tidak sengaja menggunakan sapaan itu, saat dia hendak menyesali mulutnya yang bocor dan ceroboh, gadis itu sudah menanyakan hal yang membuatnya terkejut.


Dan Liana, dia juga sengaja menanyakan hal itu pada pemuda yang baru ditemui ini, untuk mengujinya apakah dia memang berasal dari dunia modern atau tidak, dan melihat reaksi pemuda itu, Liana sudah yakin sepenuhnya. Dan dia juga mengonfismasi jika pemuda itu juga adalah seorang anggota, anggota keluarga klan Yunan.


Sungguh dunia yang kecil.


Um, sebenarnya juga karena memang Liana refleks menanyakan hal itu. Sebagai anggota polisi tentara di militer dunia, dia tentu akan tahu sejarah dunia secara luas. Jadi karena itu bidangnya, maka dia menggunakan bidang itu untuk bertanya.


“Tahun 1918.” Dalam keterkejutannya, pemuda itu tanpa sadar menjawab pertanyyan Liana, membuat gadis itu tersenyum tipis saat dia mengangguk.


“Sepertinya kau dalah pelajar yang rajin.”


~o0o~


~*Teater Kecil


[Guru Sejarah—Liana Shifu]


Liana Shifu dengan penggaris di tangan: “Hari ini adalah pelajaran sejarah. Aku akan bertanya pada kalian. Apa yang di makan oleh Xian gege kemarin malam?”


Weiling: “Aku … aku tertidur tadi malam, jadi … jadi tidak tahu.”


Yuxia: “Kenapa kau bertanya? Apa urusannya dengaku?”


Chen: “Makan makanan.”


Xian gege ingin memamerkan cinta: “Apapun yang Li’er berikan, aku akan memakannya.”


Liana Shifu: “….”


Luo Xing yang lajang dalam setiap reinkarnasinya: “Dia memberi anjing-anjing makan.”


Liana Shifu: “....”


PS: Sejarah ada di masa lalu. Berarti kemarin malam bisa di sebut sejarah. Tolong jangan bertanya, aku hanya ingin melucu. >~<


~o0o~

__ADS_1


__ADS_2