![[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana](https://asset.asean.biz.id/-reinkarnasi--sayap-takdir--zhu-liana.webp)
Pelelangan di hentikan sementara saat hari semakin gelap dan akan dilanjutkan nanti malam.
Liana, Wan Feng dan Ling memilih tinggal di tempat itu bersama wanita paruh baya yang memiliki suara nyaring. Wanita itu di kenal sebagai Nyonya An oleh para warga pasar bagian timur. Kediamannya juga tak jauh dari tempat itu.
Mereka bersama panitia pelelangan mengobrol sambil menyeduh teh untuk menghangatkan diri. Suasana remang di sore hari menambah suasana damai tempat itu.
"Nyonya An, saya mengagumi gagasan cerdas Anda tentang pelelangan murah ini," ucap Liana formal dengan senyuman hangat. Ini adalah caranya berbicara dengan orang yang ia hormati. "Dari mana Anda mendapatkan ide seperti ini?" tanyanya.
Nyonya An tertawa renyah mendengar ucapan gadis muda serba putih itu. "Aiya, gadis muda. Kau sepertinya tahu cara berbisnis," balas Nyonya An yang sudah mengerti inti perkataan Liana. Namun dia juga ingin berbasa-basi. "Hmm, kau tahu bukan, jika pelelangan ini sudah ada sejak tahun lalu?" tanyanya yang dibalas anggukkan yang bukan hanya dari Liana saja, melainkan juga Wan Feng dan Ling.
"Kalian para orang kaya dapat lebih mudah mendapat barang yang kalian inginkan. Sedangkan kami rakyat miskin ... kami perlu bekerja lebih keras selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun hanya untuk membeli pakaian baru bagi anak-anak dan saudara kami saat tahun baru. Kami juga sering kedinginan saat musim dingin. Semuanya memang lebih susah. Karena itulah ... pelelangan ini ada." Nyonya An menghentikan ucapannya sejenak untuk menghirup teh hangatnya.
"Saat itu aku sering melihat tetanggaku yang saling meminjam barang pada yang lain. Mereka yang memiliki barang berlebih tentu akan meminjamkan barang mereka. Dengan syarat dia juga dapat meminjam barang lain dari peminjamnya. Sistem pinjam-meminjam. Tapi menurutku itu sesuatu yang merepotkan, bagaimana jika barang yang dipinjam rusak atau menghilang? Itu akan menjadi perseteruan. Yah, kalian bisa tahu apa yang terjadi selanjutnya," ucapnya. Dia kembali menyesap teh dengan uap yang mengepul di atasnya, kentara kalau memang itu masih panas.
Mereka bertiga mengangguk. Cerita yang cukup sederhana namun dengan solusi yang cerdas.
"Lalu, Nyonya. Kenapa kalian hanya mengadakan lelang saat akhir musim semi saja? Kenapa bukan di setiap musim?" Wan Feng bertanya dengan penasaran.
"Haih, anak muda. Kau ini tampan tapi tidak berpikir," sarkas Nyonya An membuat Wan Feng tersedak napasnya. Sedangkan Liana terkikik dengan Ling yang berusaha menahan senyumannya.
Ffft! Ada juga yang berani mempertanyakan otak sang Lentan Jenderal. Ini benar-benar menghibur.
Wan Feng juga tak dapat kesal dengan perkataan wanita itu, entah kenapa? Tapi dia malah merasa kecil di hadapannya. Dia merasa seperti tengah berhadapan dengan sang Ibunda yang tidak pernah berani dia bantah ucapannya.
"Hanya di musim semi kami dapat menemukan barang-barang bagus. Dan juga kami dapat menyediakan barang untuk musim lain. Karena musim semi ini adalah musim yang paling baik untuk melaksanakan aktifitas seperti ini."
Penjelasan Nyonya An membuat pikiran Wan Feng kembali berputar. Perkataan wanita itu memang benar. Jadi dia segera mengangguk paham layaknya seorang murid yang selesai mendengar penjelasan gurunya tentang suatu materi pembelajaran.
__ADS_1
"Nyonya An. Tapi menurut saya, ide dari kakak pertama bisa di coba. Tapi ...." Liana menjeda kalimatnya untuk menyesap teh.
Sedangkan Nyonya An mendengarkan sambil mengangkat sebelah alisnya. Sedikit berminat dengan apa yang akan diutarakan gadis itu.
"Tapi Anda juga perlu menyediakan tempat yang sesuai untuk pelelangan. Berdesakan disini sungguh tidak nyaman." Mata Liana berkeliling melihat lokasi pelelangan yang cukup sempit jika saja para peserta lelang masih berkerumun di sana.
"Kau benar, Nak. Aku sudah memikirkan ini sejak lama, tapi anggaran dana tidak mencukupi dan juga ... lokasi yang pas itu cukup sulit dicari di sekitar sini. Mengingat tanah pasar ini saja milik Perdana Menteri Zhu. Kami tak boleh semena-mena, bukan? Hais! Para petugas kerajaan itu sangat bengis." Ucapannya terselip beberapa kata keluhan.
Liana mengulum senyumnya tipis. "Nyonya An, Anda sendiri yang tadi mengatakan kalau saya ini mengerti cara berbisnis."
Nyonya An menyipitkan matanya penuh selidik. Dan tiba-tiba dia melebarkannya. "Maksudmu, gadis?" Nadanya berubah serius.
"Nyonya, Anda dapat mempercayai saya tentang lokasi bangunan pelelangan."
"Gadis muda, aku tidak pernah menyukai omong kosong. Sebaiknya kau jangan bercanda denganku," ucap Nyonya An dengan nada dingin.
"Sepertinya kami belum memperkenalkan diri dengan benar," ucap Liana tenang disertai senyuman tipisnya. Hari ini entah kenapa banyak hal yang membuatnya tersenyum. Suasana hatinya begitu baik hingga membuatnya sedikit takut akan sesuatu yang terjadi di masa depan.
Yah, biasanya jika seseorang terlalu bahagia, maka sesuatu yang buruk dapat menimpanya setelah itu. Liana bukan sembarang meyakini hal tersebut.
Namun rasa traumanya lah yang menjadi bukti. Dia berkali-kali menyaksikan bahkan merasakannya sendiri.
Contohnya ketika dia masih berada dalam naungan WSA sebagai polisi tentara. Suatu hari, rekan seperjuangannya mendapat kabar jika istrinya yang tengah hamil di rumah telah melahirkan seorang putra untuknya. Dia tentu sangat bahagia saat itu. Hanya saja dia tak dapat menemui keluarga kecilnya karena sedang bertugas di negara lain.
Haah, dan naas juga tragis. Keesokan harinya dia gugur dan meninggal dunia saat menjalankan tugasnya sebagai prajurit.
Kepalanya tertembak oleh musuh yang merupakan kelompok Ter*ris.
__ADS_1
Bukan hanya satu kali dua kali hal ini terjadi, rekannya berguguran namun dengan cerita yang berbeda-beda. Akan tetapi satu kesamaan mereka semua, mereka terlampau bahagia.
Haah, Liana tahu dia tak seharusnya mempercayai mitos tak masuk akal seperti itu. Hanya saja dia tak dapat mengabaikan perasaan paranoidnya.
"Marga saya Zhu dan nama saya Liana. Dan laki-laki di sebelah saya adalah Zhu Wan Feng, kakak saya. Dan gadis yang berada di samping Nyonya bernama Ling."
Mata wanita itu membulat dan alisnya terangkat. Dia tak menduga akan kedatangan tamu terhormat seperti kedua anak muda ini.
Awalnya Nyonya An mengira ketiga pemuda berpakaian mahal itu hanyalah anak bangsawan biasa. Dia tak pernah berpikir jika mereka datang dari kediaman Perdana Mentri, karena pakaian yang mereka gunakan memiliki model biasa meskipun dia tahu itu cukup mahal untuk kalangan rakyat menengah sekali pun.
Karena yang ia tahu, para bangsawan tinggi lebih suka memakai sesuatu yang bercorak. Itu menandakan bagaimana kuatnya status sosial mereka di kalangan masyarakat. Yah intinya para orang kaya itu lebih senang memamerkan kekayaan mereka lewat seberapa ramainya corak pakaian mereka.
Sedangkan untuk ketiga anak muda di depannya itu, mereka benar-benar tidak begitu mencolok untuk ukuran bangsawan tinggi.
Akan tetapi Nyonya An mempercayai ucapan Liana. Gadis itu sama sekali tak nampak seperti pembohong. Matanya menyala dengan kejujuran pasti. Sebab itu lah dia lumayan terkejut dengan kenyataan itu. Dan juga, dia adalah salah satu orang yang sering termakan rumor buruk tentang bagaimana sosok seorang Zhu Liana yang di cap sampah namun sombong.
"Ah!" Nyonya An tidak dapat menyusun kata-kata untuk membalas perkenalan mengejutkan itu.
Tidak ada dari teman-temannya yang mendengar ucapan Liana. Hanya dirinya, dan hanya dirinya yang dikejutkan.
Namun, mulai saat itu dia menjadi bersikap hormat pada kelompok Liana. Dan hal itu membuat teman-temannya keheranan dengan perubahan sikap yang mendadak. Sebab mereka juga tidak tahu identitas ketiga anak muda itu karena Nyonya An tidak menceritakan perihal itu pada mereka.
Liana sebenarnya juga tak melarang maupun menyuruh Nyonya An untuk membeberkan identitas dirinya dan sang kakak pada teman-teman wanita paruh baya tersebut. Tapi entah apa yang dipikirkan wanita itu hingga berinisiatif sendiri untuk tidak mengatakannya pada orang lain.
Dan juga, dia menjadi sangat setuju dengan usulan Liana yang ingin membangun tempat pelelangan yang nyaman. Kesepakatan terbentuk hari itu juga. Dan Liana mendapat rekan bisnis pertamanya di dunia ajaib ini.
~o0o~
__ADS_1
O**ke... Dah lah, Sampai Jumpa Pada Episode Selanjutnya. Telinga masih berdengung karena teriakan Nyonya An... 😅**