![[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana](https://asset.asean.biz.id/-reinkarnasi--sayap-takdir--zhu-liana.webp)
Tapi tepat sebelum langkah terakhir Liana mencapai mayat monster, hal tak terduga telah terjadi. Tubuh Monster yang sudah tanpa kepala itu perlahan meleleh menjadi genangan sebelum akhirnya menghilang terserap tanah. Setelah itu semua hal di sekitar mereka berubah, tidak lagi menjadi tebing yang dikelilingi jurang berkabut, tapi kembali pada aula Manor Zhu yang sepi.
Melihat keadaan yang tiba-tiba berubah, perasaan Liana menjadi tak menentu. Tetapi saat melihat keadaan saudara-saudarinya yang menyedihkan dengan tubuh yang banyak di penuhi luka besar dan kecil, Liana mengesampingkan pemikirannya yang tidak terasa nyaman.
Liana berbalik untuk memeriksa keadaan mereka semua, berharap tidak akan ada luka yang terlalu berat. Setelah melihat, dia merasa cukup lega, selain Wan Feng dan Lianhu yang memiliki cedera internal yang tidak terlalu parah, yang lainnya hanya mendapat luka luar dan hanya kelelahan karena kehabisan tenaga, bahkan sampai tak ada yang bisa berbicara sekarang saking lelahnya mereka.
Dan beruntungnya, tidak ada dari para saudara-saudarinya itu terkena racun dari cakar monster atau hal lainnya. Liana hanya menghela napas melihat dirinya sendiri yang masih bersih tanpa luka yang berarti, itu karena saudara-saudarinya ini yang telah melindunginya dengan segenap kekuatan mereka, Liana sangat bersyukur atas hal itu.
Melihat langit yang ternyata sudah hampir gelap, Liana mendesah ringan. Sepertinya mereka cukup lama berada di jurang ilusi itu. Dia kembali menatap saudara-saudarinya dan berkata, “Beristirahatlah lebih awal. Sepertinya Ayah juga belum kembali entah ada apa di istana, selebihnya apa yang terjadi hari ini, aku juga akan memberitahunya.” Liana memberikan mereka semua masing-masing satu botol giok berisi pil menyembuh dan lainnya.
Dia kemudian keluar untuk memanggil para pelayan untuk mengantar para Tuan dan Nona Muda kembali ke kamarnya dan sebagian memanggil yang lain untuk membawa pelayan yang pingsan akivat tekanan dari monster yang mengambil wujud Ny. Tua Xie. Hanya beberapa saat kemudian, aula kembali menjadi hening. Meningalkan Liana yang merenung sendirian di sana.
Mata Liana menyipit memikirkan sesuatu. Ini sudah berlalu ratusan tahun lamanya, dan tiba-tiba makhluk-makhluk itu kembali muncul. Bukankah Pulau terbuang sudah tersegel dan tidak akan ada akses untuk masuk maupun keluar?
Atau mungkinkan segel sudah melemah? Lalu yang terpenting, sebenarnya siapa orang di balik ini semua?
Liana dulu dengan wujudnya sebagai Bai Lan Jin pernah melawan para monster itu berates-ratus tahun lalu sebelum akhirnya mati setelah berhasil mengalahkan satu orang yang menjadi komando para monster. Tapi sebenarnya jauh di dalam hatinya, dia tahu jika orang itu bukanlah pemimpin sebenarnya dari para makhluk makhluk menyeramkan itu.
Ada sosok yang lebih kaut di belakang layar. Memainkan plot sesuai rencananya dan saat waktunya tiba, dia akan dengan satu kali tembakan akan mengguncang tiga benua.
Namun, pertanyaannya adalah, apa tujuan orang itu?
Liana tidak tahu jawabannya karena dia juga belum pernah bertemu dengan musuh tersembunyi ini. Namun dia tahu, apa pun tujuan orang itu, dengan melihat hal-hal yang sudah terjadi pasti bukanlah hal yang baik. Dan sebagai orang yang mencurigai dan mewaspadainya, Liana tidak dapat berpangku tangan dan membiarkan hal-hal yang diinginkan orang itu terwujud.
Lagi pula, Liana adalah orang yang selalu mengandalkan instingnya terhadap bahaya yang akan datang.
__ADS_1
“Shiro, keluarlah! Aku sedikit membutuhkan bantuanmu disini.” Suara Liana bergema di aula yang sepi.
Selesai dia berkata, cahaya putih muncul di depannya langsung membentuk siluet seseorang yang tak lain itu adalah Shiro yang kini menunjukkan penghormatannya pada sang majikan. “Tuan!”
Tanpa berlama-lama, Liana melangkah ke arah kursi kepala keluarga yang pernah di duduki monster berwujud Ny. Tua Xie itu, disanalah tempat aura kebencian yang paling besar yang ditinggalkannya.
Tanpa berbalik memandang Shiro, Liana langsung berkata, “Bisakah kau menyelidiki tempat di mana saja di seluruh ibu kota yang memiliki aura kebencian yang paling kuat, aku takut sekarang para monster itu sudah sangat pandai bersembunyi. Dan sepertinya sudah ada banyak dari mereka yang berbaur di antara masyarakat.”
Shiro memandang Liana dan tidak ada jawaban darinya selama beberapa saat, sampai akhirnya dia berkata, “Sesuai perintahmu, Tuan.” Pria cantik serba putih itu segera menghilang, meninggalkan angin yang sedikit berhembus akibat tekanan energi spiritual yang sempat dikeluarkannya saat akan melakukan teleportasi.
Belakangan Liana mengerti, kemampuan yang ada pada Shiro juga berasa dari dirinya. Mungkin karena hubungan kontrak yang melebihi kontrak hidup dan mati, yang mana bahkan jiwa Shiro juga menjadi milik Liana, mereka sudah seperti satu orang yang sama. Shiro layaknya sebuah kloning Liana namun memiliki kekuatan dan pemahaman yang melebihi dirinya.
Misalnya, jika Liana mempelajari keahlian yang baru dan memahaminya, maka Shiro juga dapat memiliki keahlian yang dimiliki Liana. Ini seperti Shiro adalah sebuah senjata kuat yang menyatu dengan dirinya.
Beruntungnya, Liana lah yang menjadi tuan sejatinya, jika itu mungkin orang lain, tidak tahu bagaiamana Shiro menjadi sekarang.
Tapi yang Liana tidak tahu adalah, perkembangan seperti ini sudah jauh-jauh hari direncanakan oleh seseorang untuknya.
Melihat kembali tempat yang tadinya Shiro berdiri, Liana tidak memilikki perasaan yang nyaman, merasa sesuatu mungkin akan terjadi.
Liana memejamkan matanya menghilangkan emosi rumit yang tertampil di sana, berjalan dirinya keluar dari aula yang sunyi, melihat langit dengan awan yang sebagian sudah berwarna jingga kemerahan dengan burung-burung yang berterbangan ingin kembali ke sarang mereka. Merasa bahwa langit begitu damai, tetapi daratan sudah mulai berguncang saat ini.
Menggelengkan kepalanya entah kenapa merasa lucu dengan pemikirannya seperti orang-orang yang sudah lanjut usia, memikirkan hari-hari yang dihitung tak lama untuk meninggalkan dunia.
Dengan pemikiran yang melayang entah kemana, tanpa sadar sebenarnya dia sudah sampai di depan gerbang kediamannya dengan Ling yang terlihat berjalan dari dalam sana. Sudah lama dia tidak bertemu dengan wanita itu, melihatnya sekarang yang nampak begitu memiliki semangat tinggi dengan wajah yang cerah juga binar seperti nyala api di matanya, dia penuh dengan gairah muda.
__ADS_1
Liana mengernyit, apa yang membuat pelayannya itu begitu bahagia?
“Nona Muda!!” Terdengar suara Ling yang keras berteriak ke arahnya.
Tanpa sadar Liana tersenyum. “Kapan kau kembali?” Dia bertanya.
Liana mengetahui jika selesai mengantar Liana ke akademi, wanita itu mengatakan padanya untuk meminta cuti, pulang ke tempat keluarganya di desa. Karena Nona Muda tidak membutuhkan pelayan di akademi, dia tidak tahu apa yang harus dilakukan, jadi hanya meminta izin untuk melihat saudara dan orang tuanya di desa.
Tentu saja Liana mengizinkan.
“Baru saja, tetapi saya tidak melihat keberadaan Nona Muda. Baru mengetahui jika anda berada di aula bersama Tuan Muda dan Nona Muda lainnya, lalu ingin menjemput Nona Muda ke sana. Tidak tahu malah melihat anda sudah berdiri di depan gerbang.”
Liana semakin heran dengan Ling yang sekarang begitu bersemangat. “Baiklah, kau nampaknya sangat berbahagia saat ini, apa yang terjadi akhir-akhir ini?”
“Ah, Nona Muda. Anda tahu itu, tapi sebaiknya masuk dulu ke dalam, hari sudah mulai petang, saya membawakan anda oleh-oleh dari desa.”
Mendengar kata oleh-oleh, Liana menjadi bersemangat, kegundahannya yang tersisa atas kejadian di aula segera tersingkirkan untuk sementara. Menuruti Ling untuk masung ke dalam Paviliun Teratai Bulan yang menjadi kediamannya, Liana tersenyum cerah.
“Benarkah, kalau begitu aku ingin melihat apa yang dibawa oleh Ling.”
Mereka berdua masuk ke dalam Paviliun dengan mengobrol ringan sepanjang perjalanan. Suasana tiba-tiba menjadi hangat. Yah, lagi pula besok adalah tahun baru, segala hal-hal negatif harus disingkirkan terlebih dahulu.
~o0o~
__ADS_1