[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana

[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana
81-Diskusi dengan Kaisar


__ADS_3

 


 


Waajar saja jika seorang Kaisar memiliki lebih dari satu istri dan memiliki banyak keturunan. Ini adalah zaman dimana status wanita lebih rendah dari pria.


Orang-orang mengatakan, semakin banyak wanita di harem seorang Raja atau seorang Kaisar, maka semakin berkuasalah ia, semakin tinggi dirinya di mata orang-orang. Karena para wanita harem itu adalah sambungan koneksi dari para pejabat yang mendukungnya untuk duduk di atas tahta.


Dan juga, jika dia semakin memiliki banyak keturunan, maka semakin makmur pula istana. Dia tak akan begitu repot untuk menunggu pewarisnya nanti di masa depan.


Ah ya, sedikit penjelasan mengenai keturunan Kaisar yang diakui dan juga tidak dia akui.


Para Pangeran dan Putri yang resmi diakui oleh sang Kaisar ada dua kategori. Yang pertama  adalah mereka yang terlahir dari rahim Permaisuri dan tiga selir Kaisar. Lalu yang lainnya adalah putra putri dari wanita Kaisar yang berprestasi dan memiliki kontribusi bagi negara.


Selain itu, putra putri yang lahir dari para gundik dan wanita Kaisar lainnya, mereka memang mendapat status anak-anak Kaisar, mereka mendapat gelar Pangeran dan Putri, tapi mereka tidak dapat bersaing untuk posisi pewaris tahta.


Setelah perkenalan singkat dari sang Kaisar untuk anggota keluarga kekaisaran lainnya, Liana baru menyapa mereka satu-persatu. Di awal dia diam saja karena mengikuti Wuxian yang bertindak acuh pada mereka semua. Dan alasan lainnya juga karena malas.


Terlalu malas melihat tampang mereka yang benar-benar tak enak di lihat. Baru kali ini Liana menyesali bakatnya yang dapat melihat karakter dan sifat seorang hanya dari melihat raut wajah mereka. Ugh! Di dunia ini, dia sering sekali menemukan orang-orang yang memiliki banyak topeng domba untuk menutupi kulit serigala mereka.


Waktu cepat berlalu seperti yang Liana harapkan, perjamuan makan siang itu telah usai. Tak ada drama atau apa lah itu, semuanya tertib dan hening, terlalu hening hingga di dapat di katakana jika itu bukanlah perjamuan antar keluarga, tapi perjamuan dalam pemakaman, sangat suram.


Semua anggota keluarga yang lain keluar setelah Kaisar pergi bersama Liana dan Wuxian. Tentu saja dengan berbagai cibiran dan hinaan di mulut mereka tentang dua pasangan itu, tapi dengan memastikan tak ada orang lain yang mnedengar perkataan tak sopan tersebut. Yaah, sebagian untuk mengekspresikan keirian mereka tentang bagaiamana keduanya—Liana dan Wuxian yang menjadi orang yang paling diperhatikan oleh sang Kaisar.


Tapi selain itu, satu orang dari mereka memiliki pandangan yang paling berbeda, sulit diartikan. Apakah itu sesuatu baik atau ada maksud tertentu?


“Hmm, Zhu Liana ya?” Orang itu tersenyum saat hanya dirinya yang berada dalam ruang perjamuan, memandang pintu berdaun dua yang belum tertutup. Kilatan aneh terlintas di matanya sebelum itu menghilang dengan secepat kilat.


Meningggalkan keanehan orang itu, saat ini Liana, Wuxian dan Kaisar Wei Wangji tengah melakukan diskusi di dalam sebuah ruangan khusus dengan berrak-rak gulungan dan buku. Ada tiga kursi yang sudah di duduki oleh tiga orang dengan satu meja berisi tiga cangkir teh dan satu teko teh juga sedikit cemilan dalam piring. Ruangan yang tenang dan penuh kedamaian tiga orang. Dapat disimpulkan jika ruangan itu adalah ruang kerja milik sang Kaisar itu sendiri.


“Paman Kaisar, kau ingin mengatakan apa padaku?” Liana memulai obrolan mereka dengan sebuah pertanyaan saat cangkir teh di tangannya ia letakkan kembali di atas meja.

__ADS_1


Kaisar memperhatikan dua anak muda yang ada di depannya itu nampak mirip perangainya, tanang dan tak tergoyahkan. Dia diam sejenak untuk menyusun kata-kata yang tepat. “Ku dengar, kau menemukan pelaku yang meracunimu. Benar begitu?”


Liana sudah menduga dia akan menanyakan hal ini, lagipula berita itu juga sudah tersebar luas di ibu kota. Seorang selir yang ingin membunuh putri sah hanya untuk harta dan kekuasaan.


Yah, bahkan keluarga Wen sudah dikecam masyarakat saat ini, meski pun mereka tidak disebutkan secara langsung sebagai pelaku, tapi seorang anggota keluarga mereka telah mencemaran nama baik keluarga itu yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Wajah keluarga Wen telah benar-benar tercoreng kali ini.


Liana sendiri tak sungkan untuk membenarkan pertanyaan sang Kaisar. Dia mengangguk mengiyakan dan berkata untuk memproses ini secara kekeluargaan  terlebih dahulu sebelum mengetahui segala kebenarannya. Dan jika sudah diketahui sepenuhnya, masalah ini akan segera diserahkan pada pihak Kekaisaran untuk member hukuman. Karena bagaimana pun juga, peristiwa ini terjadi di kediaman sang Perdana Menteri, mau tak mau nama ayahnya—Zhu Moran juga harus naik ke permukaan. Dan karena pelakunya adalah selir Perdana mentri itu sendiri, kasus terpaksa untuk dip roses dua kali.


 “Sepertinya kau juga mencurigai orang lain,” ucap Kaisar.


 Liana juga tak membantah ini. “Wen Canran tak memiliki kekuatan untuk bekerja sendiri,” balas Liana yang juga di setujui oleh sang Kaisar.


Seperti yang pernah dijelaskan, keluarga Wen bukanlah bangsawan kelas tinggi. Untuk     dapat  menyinggung kediaman Perdana Menteri, seseorang di balik layar pastilah memiliki sumber daya yang dapat mendukung mereka.


Ah ya, Liana mengira jika Wen Canran mendapat dukungan penuh dari keluarganya juga. Jika tidak ada dukungan, mana mungkin herbal seribu tahun yang merupakan harta karun keluarga dipercayakan padanya? Dia bahkan bukanlah seorang Di (keturunan sah) dalam keluarga.


Diskusi ketaga orang berbeda umur itu terus berlanjut, dari membahas tentang insiden keracunan Liana, pembahasan mengalir menjadi keberangatannya yang akan terlaksana minggu depan ke akademi.


 Wuxian mengangguk saat cangkir teh telah terlepas dari bibirnya. “Tugasku untuk menjaga Li’er,” jawabnya begitu santai.


Liana yang mendengar itu hanya menggeleng, hubungan ayah dan anak ini ... lebih cocok dikatakan sebagai mitra bisnis. Tak ada suasana hangat sedikit pun, meski Liana dapat melihat jika hubungan mereka tidak begitu buruk sampai tingkat ekstrim, tapi dia juga dapat menyimpulkan jika keduanya pasangan ayah dan anak ini memiliki aura terasing di sekitar mereka jika bersama. Benar-benar hubungan yang aneh.


Mereka dapat memanggil satu sama lain dengan panggilan akrab, dan orang lain dapat melihat jika pasangan ayah dan anak ini sangat dekat. Tapi Liana tahu tidak begitu. Tanpa sadar dia menghela napas dalam hati.


Diskusi itu selesai saat matahari telah lebih condong ke barat. Memperlihatan guratan jingga dan merah muda yang cantik di langit. Memberian suasana tenang dan damai pada setiap mata yang menikmati keindahannya.


Saat ini, Liana dan Wuxian kembali berjalan-jalan di taman sakura, lagi tanpa ditemani Ling atau siapa pun. Masih harmonis seperti biasanya. Benar-benar melupakan peristiwa ambigu di tempat ini sebelum jamuan siang diadakan.


“Ge, kau benar-benar hanya berniat untuk menjagaku nanti di akademi?” Liana tidak tahan untuk tidak bertanya tentang hal itu.


 “Apa kau tidak menyukainya?”

__ADS_1


Lalu saat mendapat pertanyaan balik sseperti itu, dia tidak tahu harus menjawab dengan apa. Oleh karena itu, Liana menunggu Wuxian untuk mengatakan sisanya. Tapi yang didengar Liana selanjutnya membuatnya ingin membalik meja.  (/ O A O) / ~ ㅛ


“Jika kau tidak menyuakainya, itu tidak apa-apa. Aku akan tetap mengikutimu, toh sudah tak ada yang bisa kupelajari disana. Guru-guru di Yilongfei lebih lemah dariku.”


Ah! Liana benar-benar ingin membali meja sekarang. Kenapa pemuda yang semulanya begitu imut dan polos ini menjadi begitu narsis? Apa dia masih Wei Wuxian?


Tapi karena dia sudah mendapat penjelasan diam-diam jika dua jiwa sang Zanzhu Ren Zuxian yang terpisah di dalam tubuh Wei Wuxian telah sepenuhnya menyatu, dengan dua jiwa yang memiliki keperibadian yang sedikit berbeda itu, maka wajar saja jika ada


perubahan. Tapi Liana masih ta habis pikir jika sosok pemuda yang malu-malu saat pertama kali dilihatnya aan berubah menjadi tak tahu malu?


 Hah, sudahlah. Lagipula Wei Wuxian tetaplah Wei Wuxian. Liana tidak membenci segala perubahannya, justru menurutnya itu agak lucu. “Tidak tahu malu!” Liana hanya dapat mencibirnya namun bibirnya tetap melengkung ke atas.


Wuxian juga tertegun sebentar melihat senyuman Liana, dan setelahnya dia juga ikut tersenyum.


Sore itu dihabiskan keduanya untuk berjalan-jalan dan menikmati pemandangan indah saat detik-detik matahari terbenam.  Sampai Liana memutuskan untuk kembali ke Manor.


Meninggalkan seorang pemuda yang menatap jauh punggungnya yang secara perlahan menghilang. Saat itulah, senyum sang Pemuda yang selalu ada ketika bersama si gadis menghilang, digantikan dengan kedinginan tiada akhir.


Bayangan hitam


tiba-tiba melesat dan berhenti di depannya. Seorang pria berlutut dengan segala rasa hormat di depan Wuxian. “Yang Mulia ...” daulatnya saat dirinya membungkuk lebih dalam. Pria itu memakai pakaian serba hitam menandakan jia dirinya adalah seorang pengawal gelap. Dia tak lain adalah Chen, tangan kanan Wuxian yang pernah muncul bersama Wujud sang Zanzhu Ren Zuxian di bukit awan untu mengamati Liana kala itu.


Seketika rambut sang Pangeran Ke-tiga perlahan menjadi merah. Wajahnya yang dingin menjadi lebih dingin saat dirinya mengeluarkan tekanan aura membunuh yang pekat. “Awasi Pangeran Mahkota! Pria licik itu ... jangan biarkan dia mendekati Li’er.”


“Baik, Yang Mulia.”


Setelah itu Chen kembali menghilang, meninggalkan sosok pemuda berambut merah yang kini menatap langit yang mulai menggelap.


Sedangkan Liana yang tak tahu kejadian itu tengah bersantai di dalam keheningan gerbong kereta dengan sebuah buku tebal di tangannya, mengabaikan Ling yang terus saja memperhatian dirinya dari waktu ke waktu.


~o0o~

__ADS_1


__ADS_2