[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana

[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana
58-Pertarungan di Atas Akar Bakau II


__ADS_3

Raungan kebencian kembali terdengar dari mulut Monster belut. Dengan mengibaskan ekornya, dia mengincar gadis berpakaian putih tersebut.


"Sepertinya tak ada cara lain lagi," gumam Liana sambil menghindari serangan. Akar-akar di sekitar pertarungan mereka telah lenyap digantikan lumpur hitam dengan bau yang tidak enak di indra penciumannya.


Liana terpaksa melayang di udara. Memperhatikan Monster Belut yang terus menargetkan dirinya.


Monster Belut itu semakin geram karena setiap serangannya tak dapat menyentuh barang sehelai kain pakaian Liana.


Gerakannya berubah, dia membuka mulutnya semakin lebar saat tiba-tiba bola api berwarna merah kehitaman keluar dari sana. Dan bola api itu jelas menuju Liana yang sedang melayang di atasnya.


Liana tersentak, api itu terlalu cepat melesat ke arahnya. Tak sempat menghindar, Liana mengangkat pedangnya yang dialiri Qi. Memasang ancang-ancang untuk menangkis bola api.


BLAARR!


Serangan bola api menghantam sebuah pohon besar setinggi tiga puluh meter dan menumbangkannya. Api segera menyebar dan membakar sekitar ledakan yang disebabkan bola api.


Liana sendiri kehilangan keseimbangannya dan terjatuh menghantam akar bakau yang berada sejauh lima belas meter dari tempatnya semula, beruntung dia tak memiliki cedera serius.


Liana tak menyangka jika serangan Monster itu dapat membuatnya kewalahan. Sepertinya dia telah meremehkan lawan, ini kesalahannya.


Liana segera berdiri, merenggangkan tubuhnya hingga terdengar suara tulang yang bergemeretak seolah itu tengah patah. Bila orang mendengarnya, mungkin akan merinding ngeri.


"Ugh! Leganya." Pandangan Liana seketika menajam, fokusnya kembali dilipat gandakan. "Ayo serius!"


Liana melesat dengan kecepatan mengerikan, menerjang Monster Belut dengan pedang di tangannya yang tergenggam begitu erat.


Sriing!!!


Suara seperti dua besi yang beradu segera terdengar berdenting nyaring saat pedang Liana mengenai sisik keras yang terdapat pada ekor Monster Belut.


Ternyata Naga jadi-jadian itu masih memiliki kepintarannya. Dia dengan gesit menangkis setiap serangan Liana yang mengincar bagian vital dengan ekornya. Sesekali juga menyemburkan bola api yang membuat Liana sedikit kewalahan menghadapinya.


Namun, Liana juga tidak menyerah. Dia malah tersenyum tipis di tengah pertempuran. Dia akui, Monster Naga ini adalah lawan terkuat yang pernah dia hadapi bahkan di dua kehidupannya sekali pun. Ini akan menjadi latihan yang keras. Begitulah anggapannya. Tentu saja Liana berniat mengalahkan makhluk itu, sebab jika dibiarkan begitu saja, mungkin dia akan membuat keonaran.


Monster tetaplah Monster. Aura kebencian akan terus menuntun mereka menjadi pembunuh dan haus darah. Sebelum makhluk ini menjadi lebih ganas, maka taklukan sekarang saja.


Dengan gerakan secepat kilat, Liana berlari di atas tubuh Monster Belut dan mengincar kepalanya.

__ADS_1


Monster itu mengerti, dia menggeliat sambil terus mengayunkan ekornya ke sana ke mari seperti mengusir lalat yang mengusiknya. Hanya saja gadis serba putih itu seolah lengket, tak juga menyingkir dari tubuhnya.


Monster itu marah, dia segera membenturkan tubuhnya pada pohon besar di dekatnya yang ternyata itu adalah tempat bertenggernya Shiro dan si bocah Chao.


Shiro yang menyadari pohon akan segera roboh langsung meloncat dari sana menuju pohon lain sambil menarik kerah Chao yang membuat bocah laki-laki itu berteriak kaget.


DUAARR!!


Sebenarnya Chao ingin mengumpati Shiro saat makhluk cantik itu menapak. Hanya saja suara ledakan kembali mengalihkan perhatiannya.


Pohon yang tadinya mereka tempati tumbang dan meledak karena benturan tubuh Monster Belut.


"Nona gadis!!" Dia berteriak karena melihat Liana masih berada di atas tubuh sang Monster. Dia tak dapat menghindar dan mungkin saat ini tengah terhimpit. Begitu yang Chao duga.


Shiro sendiri juga kaget! Bukan, bukan ... dia tidak kaget karena ledakan. Hanya saja aura Liana tidak bisa dia rasakan di tempat ini. Sebuah pemikiran liar muncul di kepalanya.


Dia buru-buru melesat ke arah Monster Belut, perasaannya menjadi tak enak. Apa yang terjadi pada Tuan? Dimana dia? Kenapa dirinya tak merasakan keberadaan sang Majikan? Apakah ... apakah dia sudah ...?


Banyak pertanyaan muncul di kepala Shiro, ekspresi khawatirnya cukup jelas terlihat di wajah. Seandainya Liana melihat itu, mungkin dia dapat berniat mengadakan perayaan untuk itu.


"Tuan?" panggil Shiro namun tak mendapat tanggapan. Dia hanya melihat Monster Belut yang nampak terdiam, mungkin menahan sakit dan amarah.


Perlahan tubuh besar Monster itu berpindah dari sisi pohon yang tumbang. Shiro sendiri dengan was-was tak mengalihkan pandangannya pada tempat itu. Dia tak berniat menyerang Monster itu karena sebelumnya Liana telah melarangnya karena gadis itu ingin melawannya sendiri.


Tentu saja Shiro tak bisa melawan kehendak sang Majikan, Liana. Karena jika melawan, maka hukuman kontrak akan berlaku padanya.


Dengan tarikan napas dalam, Shiro berusaha mengembalikan ketenangannya. Dia mengembuskannya dengan lega saat dirinya tak melihat Liana di balik tubuh Monster Belut. Itu artinya Liana selamat namun sekarang berada entah dimana.


Shiro memejamkan matanya, memberlakukan ikatan kontrak untuk mencari keberadaan Liana. Dia merasakan aura gadis itu samar-samar du sekitar tempat mereka saat ini. Akan tetapi Liana seperti tak terlihat atau mungkin ....


"Dimensi Ruang Waktu," gumam Shiro pelan.


Setelah itu, dia kembali pada tempatnya semula dimana ada Chao yang panik di sana. Tapi saat melihat ketenangan sang Pegasus, bocah itu malah ingin mengumpat padanya.


"Kau ... apa kau tak khawatir sama sekali pada majikanmu? Bagaimana kalau dia kenapa-kenapa? Kau ... kau juga akan mati!" Bocah itu frustasi sendiri dengan Shiro yang menatapnya dengan alis terangkat, menganggapnya sebagai makhluk aneh yang malah membuat Chao semakin tak percaya dengan kelakuan Binatang Mitologi terkontrak itu.


Tak adakah kecemasan sedikit pun pada makhluk cantik itu saat kini tuannya tengah menghilang.

__ADS_1


Sebenarnya tak ada alasan bagi Chao untuk mengkhawatirkan Liana, hanya saja ... seseorang telah berpesan padanya untuk mengawasi dan menjaga gadis serba putih itu. Orang itu tak lain adalah si kakek tua Kun Lin yang di temui Liana di restoran penginapan yang memberitahu tentang kejadian Petir Kesengsaraan Langit. Kakek tua itu mengatakan jika gadis serba putih alias Liana adalah sosok yang tidak biasa. Fisaratnya berbicara mengenai gadis itu yang dapat mengubah tiga benua di masa depan.


Entahlah, apa maksudnya dengan itu. Mungkin jika Liana yang mendengarnya, dia akan menertawakan pemikiran kakek tua Kun Lin yang seperti itu. Mengubah dunia, heh? Sepertinya ide yang bagus.


Tapi beda halnya dengan Chao, dia mempercayai perkataan kakek tua Kun Lin yang firasatnya jarang sekali meleset. Dia telah mengenal kakek tua itu lama sejak dirinya masih memiliki wujud aslinya, belum memiliki bentuk tubuh seperti manusia yang tidak transparan.


Yah, Chao. Bocah itu merupakan salah satu ras roh yang ada di tiga benua, ras Roh Tanduk Cahaya yang memiliki kelebihan dapat membuat ilusi yang mengacaukan pikiran lawan.


Sebab itulah Liana menyebutnya sebagai 'yang bukan orang'. Dia tahu jika Chao bukanlah manusia. Hanya saja dia ingin mengetahui niat bocah itu mendekatinya.


"Tuanku bukanlah oranh yang mudah dikalahkan." Shiro mengeluarkan suara tenangnya yang membuat Chao memandangnya dalam diam.


Kepercayaan yang dimiliki sang Pegasus sangat tinggi pada Tuannya.


Tiba-tiba Shiro menarik kedua ujung bibirnya membentuk senyum yang sangat jelas kali ini saat matanya masih melirik ke depan.


Chao yang melihat itu sontak ikut mengakihkan pandangannya ke arah mana mata Shiro tertuju.


Dia membelalakkan matanya. Di sana ... sosok gadis serba putih yang membuatnya kalang kabut berdiri di atas tubuh Monster Belut yang terbelah dua.


Liana memegang pedangnya yang berlumuran darah, gadis itu hanya memandang datar pada Naga jadi-jadian yang kini telah menjadi mayat olehnya.


"Haaah, hampir saja." Dia menghela napas setelah itu mengibaskan pedangnya untuk menghilangkan darah Belut yang memiliki warna merah keunguan. Pertanda jika itu adalah monster tingkat tinggi.


Pertarungan yang terjadi kurang dari seperempat jam terasa begitu lama karena Liana menguras begitu banyak energi mentalnya untuk masuk ke dalam Dimensi Ruang dan Waktu.


Yah, dia memakai salah satu elemen yang dikuasainya baru-baru ini untuk menghindari serangan mendadak dari Monster Belut, Elemen Hampa, elemen yang mampu mengendalikan ruang dan waktu alias induk segala elemen yang ada.


Dan untungnya dia berhasil dalam percobaan perdananya. Jika tidak, mungkin dia akan terjebak di dalam lorong ruang dan waktu.


Oh ya, itu jugalah alasan mengapa Shiro tak merasakan keberadaan sang majikan. Sebab dimensi ruang waktu adalah tempat hampa. Tak memiliki keberadaan. Liana sendiri harus susah payah menahan napasnya di dalam tempat itu beberapa saat karena di sana memang tak memiliki apapun termasuk udara.


~o0o~


Gaaahg! Mode malas akhir tahun...


Yang nunggu pergantian tahun.... enak ya kalian... diriku cuma rebahan... :v

__ADS_1


__ADS_2