[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana

[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana
28-Nona Muda Sampah?


__ADS_3

Rombongan dari Manor Zhu telah sampai di gerbang istana. Kedua penjaga gerbang menghentikan rombongan sebelum masuk ke istana. Meskipun mereka sudah tahu jikalau itu adalah rombongan sang Perdana Mentri, akan tetapi prosedur yang berlaku harus tetap di jalankan. Mereka tak mungkin melalaikan tugas.


Zhu Moran turun dari kudanya mempersilahkan sang penjaga untuk memeriksa semua orangnya.


Kedua penjaga segera melakukan tugas dibantu dengan beberapa rekan mereka yang telah siap siaga tak jauh dari sana.


"Tuan Perdana Mentri, semuanya aman. Anda sudah boleh memasuki istana. Yang Mulia Kaisar telah menunggu dengan yang lainnya."


Zhu Moran mengangguk, kemudian dia kembali menaiki kuda setelah gerbang istana dibuka untuk mereka.


~o0o~


Sangat ramai! Dua kata itu yang pertama masuk di kepala Liana ketika melihat luasnya halaman istana tapi sekarang telah padat oleh keberadaan orang-orang.


Dia juga dapat melihat rombongan dari benua lain seperti Benua Tengah dan Benua Barat. Sangat mudah dikenali dari penampilan mereka yang memang berbeda dari orang-orang timur.


Semuanya mengobrol dengan begitu akrab seolah-olah teman lama yang baru saja bertemu lagi.


"Mari kita temui Yang Mulia Kaisar lebih dulu." Zhu Moran memberi instruksi kepada enam anaknya untuk mendekati rombongan Kaisar yang berada di tengah-tengah kerumunan yang mana disana terdapat panggung khusus untuk keluarga Kekaisaran.


Semuanya mengangguk dan mengikuti Zhu Moran.


"Salam Yang Mulia Kaisar Naga, putra langit yang diberkahi dengan umur panjang!" ucap Zhu Moran memberi penghormatan tinggi pada junjungannya itu dan diikuti oleh keenam anaknya.


Mereka serempak menunduk dalam dengan segan kepada sang Kaisar.


"Bangunlah!" titah pria agung itu seraya mengangkat sebelah tangannya sebagai instruksi.


"Pilihlah tempat yang nyaman. Kita akan berangkat sebentar lagi setelah menunggu beberapa tamu yang belum datang," ucapnya kemudian.


"Baik, Yang Mulia."


Zhu Moran segera menyisihkan diri dari panggung dan menghampiri beberapa penjabat lain untuk menyapa.


Sedangkan para anak muda juga berpencar.


Liana sendiri karena tidak tahu harus melakukan apa, turun dari panggung dan mencari tempat untuk menyendiri.


Sebenarnya bisa saja dia mengikuti saudara-saudarinya yang lain, tapi Liana enggan. Sebab mereka kini sudah sibuk sendiri. Dan jangan lupa jika dia memang tidak begitu pandai bersosialisasi.


Wan Feng memilih untuk menemui rekan prajuritnya. Membahas sesuatu yang berhubungan dengan senjata dan perang, pastinya.


Weiling? Ah, dia tengah tebar pesona di antara para gadis muda lainnya. Meski begitu, Liana akui Weiling memang gadis yang cantik dan dia juga berbakat. Karena itulah dia menjadi populer di kalangan anak muda. Julukan jenius Manor Zhu memang cocok disematkan padanya. Yah, hanya saja gadis itu menjadi arogan dan tak mawas diri. Matanya tertutup oleh banyak pujian. Itu saja yang disayangkan darinya.


Liana menghela napas. Pandangannya beralih pada Yuxia yang tak seberapa jauh dari tempatnya. Disana gadis itu tengah mengobrol dengan seorang pemuda sepantarannya. Liana mengernyit melihat sikap malu-malu dari adik tirinya itu. Oh astaga, apa anak muda sekarang memang gampang jatuh cinta?

__ADS_1


Dia sendiri yang seorang wanita dewasa di dunia modern tak pernah merasakan hal seperti itu. Jadi, lupakan saja.


Dan untuk Wuxia juga Lianhu ... ah,entah ada dimana mereka.


Maka jadilah Liana sendiri, duduk dibawah pohon dengan daun rindang. Dia hanya mengambil beberapa kue kering dan kacang di meja makanan untuk para tamu dan segelas minuman sebagai teman menyendiri.


Sambil mengeluarkan buku yang belum selesai dibacanya. Liana sangat santai.


Sampai seseorang datang dengan tiba-tiba dan menepuk sebelah pundaknya membuat Liana mendongak melihat siapa pelaku yang mengganggu kesibukannya.


"Liana!"


Dilihatnya seorang gadis muda seumuran dengannya tersenyum begitu cerah dan lebar. Dan gadis itu sangat cantik. Mungkin dialah gadis tercantik yang pernah Liana lihat. Weiling saja kalah. Dengan stelan hanfu merah muda bercorak bunga teratai, Liana merasa tak asing dengan gadis itu, tapi siapa?


"Liana, ini kau bukan?"


Dia hanya mengerjabkan matanya heran. "Kau mengenalku?" tanyanya kebingungan.


"Hah, apa!? Kau tak ingat padaku? Ini aku ... Lanhua," ucap gadis itu antusias.


Liana mengerutkan dahinya mencoba mengingat siapa gadis di depannya. Setelah beberapa saat, tiba-tiba dia berdiri.


"Lanhua!" serunya kaget.


"Kau ...." Liana tak melanjutkan perkataannya karena merasa tatapan banyak orang mengarah padanya. Ah, dia ceroboh dan hampir saja lupa.


"Astaga, maafkan saya Putri Wei Lanhua karena tidak mengenali anda." Dia kemudian membungkuk dan segera merubah tindakannya menjadi formal.


Dan sang putri tersenyum memakluminya.


Yah, gadis itu adalah Wei Lanhua. Putri Ke-enam sekalius putri tertua sang Kaisar dengan salah satu dari tiga selir utamanya, Fei Xiao Ying.


Yah, seperti yang terlihat. Lanhua sangat akrab dengan Liana.


"Huum, tidak perlu formal padaku. Mau bagaimana pun juga, kau masihlah anggota keluarga Kekaisaran." Lanhua tersenyum begitu manis, menambah kadar kecantikan sang putri yang banyak membuat kagum para pria dan membuat iri para wanita.


Tapi yang menjadi perhatian sekarang adalah gadis yang sedang disapa sang putri. Mereka terpaku pada ucapan Lanhua yang mengatakan jika si gadis adalah anggota keluarga kekaisaran. Siapa?


Orang-orang di sekitar keduanya terus berbisik pelan membicarakan siapakah gadis itu. Yang mereka tahu, hanya satu gadis yang masih memiliki kekerabatan dengan keluarga istana, yaitu Zhu Liana, putri sang Perdana Mentri dan Putri Wei Xiening, sepupu sang Kaisar.


"Tapi bukankah Nona Ke-dua Zhu itu buruk rupa dan seorang sampah. Tapi ku lihat dia cukup manis dan juga auranya tidak seperti milik seirang sampah." Seorang pemuda dari salah satu tamu angkat bicara.


"Kau benar, dia tidak jelek sama sekali. Apa mungkin dia bukan nona muda dari Manor Zhu?" Yang lain menimpali dengan pendapatnya.


"Hei, tidakkah kau dengan tadi Putri Ke-enam memanggilnya dengan nama Liana. Jelas-jelas gadis itu adalah Nona Muda Ke-dua Zhu."

__ADS_1


"Haha, kau tak seharusnya mempercayai rumor yang tidak tahu bagaimana kebenarannya, bukan?"


"Hmm, tapi kenapa aku tak bisa melihat tingkat kultivasinya?"


"Ah, yang benar?"


Mereka terus saja berdiskusi, sedangkan yang menjadi bahan gosip sama sekali tak perduli.


Liana dan Lanhua kini telah berpindah tempat, mereka mendatangi taman yang cukup sepi tak jauh dari halaman istana.


"Liana, aku senang sekali saat mendengar kau sudah sembuh. Haaih, maafkan aku tak bisa datang di hari ulang tahunmu."


Lanhua menghentikan langkahnya dan berbalik memandang Liana. "Tapi aku memiliki hadiah untukmu. Aku tahu kau pasti juga akan ikut acara ini," ucapnya kemudian mengibaskan tangannya hingga sebuah kotak kecil muncul di sana.


"Apa ini?" tanya Liana sambil meraih kotak kecil yang disodorkan Lanhua.


Lanhua terkekeh, entah kenapa sahabat lamanya itu sangat mirip dengan seseorang. "Ya, maka bukalah jika kau ingin tahu isinya."


Liana tak tahu harus menanggapinya seperti apa. Ah, kenapa dia bisa menanyakan hal konyol seperti itu? Akhir-akhir ini pikirannya terus terganggu hingga dia sedikit kehilangan fokus dan ketenangannya. Padahal Liana adalah seorang yang teliti dengan hal-hal yang dilakukannya. Tapi sekarang dia malah lebih sering bertindak ceroboh. Ada apa sebenarnya?


Yah, sejak dia bertemu dengan Zeith dia sudah mulai seperti ini. Fokusnya selalu terbagi, dan dia sering melamunkan perkataan pangeran barat itu. Klan Yunan? Pria berambut merah? Takdir?


Haah, Liana menghela napasnya mengacuhkan pandangan rumit Lanhua padanya.


Dia segera membuka kotak dan melihat isinya adalah sebuah gelang giok berwarna hijau muda.


Lanhua kembali pada ekspresi ceria tak lagi memikirkan sikap aneh Liana barusan.


"Kau suka?" tanyanya.


Liana mengalihkan pandangannya pada sang Putri. Dia mengangguk sambil tersenyum. "Terimakasih, ini sangat bagus. Auranya dapat memenangkan."


Lanhua balas tersenyum. "Tentu saja. Itu adalah giok air yang langka yang berfungsi untuk menenangkan pikiran. Sangat bagus untuk menghilangkan stres."


Keduanya terus mengobrol dengan asik hingga seorang prajurit memberitahukan jika mereka akan segera berangkat ke Bukit Awan untuk memulai perburuan.


~o0o~


Ngerasa nggak kalo alurnya agak lambat? Iya pasti...


Huft! Aku masih nyari Konflik yang cocok. And akhir-akhir ini Mood buat nulis tuh agak kurang, idenya jadi jarang dateng.


So, bisa kasih saran atau pendapat kalian tentang cerita ini? Soalnya Saran tuh yang paling dibutuhkan sekarang.


TERIMAKASIH!

__ADS_1


__ADS_2