![[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana](https://asset.asean.biz.id/-reinkarnasi--sayap-takdir--zhu-liana.webp)
Seminggu kembali berlalu. Kejadian di Bukit Awan masih menjadi perbincangan warga Kekaisaran Naga bahkan untuk di beberapa Negara lainnya yang ikut berpartisipasi dalam acara perburuan pun menjadikan itu sebuah pembahasan.
Monster-monster itu benar-benar muncul di puncak bukit. Beruntung bantuan cepat datang dan para monster berhasil di kalahkan. Namun itu tetap masih meresahkan, jadi Bukit Awan sekarang ditutup sampai batas dimana semuanya aman. Tempat itu disegel agar para monster yang sebenarnya masih terus bermunculan tak dapat keluar dari tempat itu.
Bukit Awan yang semulanya berwarna putih dilihat dari kejauhan kini nampak menghitam di pincaknya. Aura yang dikeluarkan tempat menjadi kian suram. Kekaisaran belum mendapat solusi untuk memusnahkan para Monster jika bukan dari akarnya, yang berarti mereka harus menyerbu tempat terkutuk itu, Pulau Terbuang.
Kaisar sendiri mengumumkan misi untuk memburu para monster kepada rakyatnya. Sebab dia memiliki firasat jika bukan hanya di puncak saja para monster muncul.
Dan firasatnya itu terbukti benar, monster-monster telah muncul bahkan di berbagai wilayah benua timur. Meski tidak sebanyak di Bukit Awan, tapi hal itu cukup meresahkan hingga membuat perwakilan dari tiga Kekaisaran besar Benua Timur berkumpul dalam satu ruangan untuk mengadakan rapat.
Sekitar dua belas orang duduk melingkari meja bundar di tengah-tengah ruangan termasuk tiga Kaisar. Tempat itu sangat rahasia karena memang menjadi tempat rapat akbar tiga Kekaisaran . Mereka menyebutnya sebagai Biăo Tánpàn (表谈判) yang artinya Meja Perundingan. Sebenarnya tempat itu masih berada di dalam sebuah menara yang di jaga oleh sekte aliran netral yang menjadi perbatasan tiga Kekaisaran.
"Bagaimana pendapat kalian tentang para Monster yang muncul." Seorang pria tua dengan jubah brokat putihnya yang tampak mewah membuka suara. Dia merupakan Patriark dari Sekte aliran netral yang menjaga menara, Sekte Menara Langit. Dia juga adalah pimpinan dalam rapat sebab dialah tetua yang paling mengerti tentang para monster karena telah hidup selama ratusan tahun lamanya.
Tak ada yang tahu nama aslinya siapa, tapi orang-orang memanggilnya dengan sebutan Lao Huzi atau Patriark Huzi karena janggutnya yang panjang. Dia sangatlah dihormati penduduk benua timur karena dia merupakan kultivator terkuat di Benua Timur saat ini.
Semua orang dalam rapat terdiam cukup lama memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Hening untuk waktu yang lama, seseorang tiba-tiba mengangkat suara.
"Patriark Huzi, izinkan junior ini memberi pendapat."
Yah, Huzi tua memang sangat dihormati. Tak ada yang berani merasa lebih tinggi dari dirinya.
"Silahkan bicara, Kaisar Langit," ucap Lao Huzi ramah namun masih tak dapat menutup wibawa dan aura kebijaksanaan dari dirinya.
Kaisar Langit yang bernama Shin Liao mengangguk sebelum mengutarakan pendapatnya tentang topik pembahasan rapat.
"Para monster ini ... saya pikir ada orang yang mengendalikannya," ucapnya mantap dengan wajah serius. "Coba pikirkan, mengapa makhluk-makhluk yang sudah ratusan tahun lamanya terkurung dalam Pulau Terbuang tiba-tiba muncul begitu saja jika bukan seseorang yang mengendalikan mereka. Monster seperti mereka, bukankah tidak memiliki akal?"
__ADS_1
Anggota rapat menganggukkan kepala setuju dengan argumen sang Kaisar Langit, Shin Liao.
Lao Huzi juga setuju dengan pendapat Shin Liao. Dan kini tatapannya beralih pada seseorang yang sedari tadi diam selama rapat berlangsung.
"Wangji, apa yang kau pikirkan? Kau memiliki pendapat lain?" tanyanya pada sosok pria dengan brokat Kaisar berpola Naga di punggungnya.
Pria itu tak lain adalah Wei Wangji sang Kaisar Naga. Hubungan mereka cukup dekat karena Lao Huzi memanggil langsung nama sang Kaisar bukan dengan embel-embel formal gelarnya sebagai mana dia memanggil Shi Liao. Semua orang tahu jika hubungan mereka adalah sepasang guru dan murid.
Wei Wangji mendongak melihat wajah tua gurunya yang sudah memilki beberapa kerutan. Dia tahu, meski gurunya telah berusia ratusan tahun lamanya tapi Lao Huzi masih nampak seperti lelaki tua tujuh puluhan. Mungkin berkat kultivasinya yang tinggi.
Yah, seseorang yang menuju jalan keabadian akan selalu nampak jauh lebih muda dari umur aslinya. Karena Qi alias energi alam langit dan bumi yang mereka serap juga terkandung energi kehidupan di dalamnya. Itu dapat menambah usia seseirang dan meremajakannya. Sangat ajaib jika ini pendapat Liana.
"Guru!" Wei Wangji memberi salam hormat dengan menundukkan kepalanya sebelum mulai berbicara. Dan Lao Huzi membalasnya dengan anggukkan ramah pula mengisyaratkan Wei Wangji untuk bersuara.
"Murid juga setuju dengan pendapat Kaisar Langit. Memang hal ini cukup janggal jika dipikir. Tapi apa tujuan orang itu mengendalikan para monster yang muncul? Ini cukup meresahkan jika dia benar-benar memiliki tujuan buruk." Dia menghela napas setelah itu dan wajahnya juga tidak menunjukkan sesuatu yang baik untuk dilihat.
Mereka hanya berharap jika bencana ratusan tahun lalu jangan sampai terjadi lagi. Itu adalah pukulan terberat bagi Benua Timur, sebab mereka kini masih membangun diri dari bencana yang lalu. Bencana yang menyebabkan ketertinggalan jauh di belakang benua lainnya.
Rapat masih berlangsung dengan berbagai pendapat dan spekulasi dari berbagai pihak. Mereka benar-benar belum menemukan sesuatu yang pasti. Hal itu membuat napas Lao Huzi lagi-lagi terbuang resah.
Dia kembali menatap muridnya dengan alis mengkerut. "Wangji, bukankah kau berkata bahwa seorang gadis muda lah yang melaporkan kemunculan monster pertama kali di puncak Bukit Awan?" tanya Lao Huzi membuat Wei Wangji tersentak.
Kini semua anggota dalam rapat menoleh padanya meminta jawaban.
Sanga Kaisar Naga menghirup napas kemudian membuangnya perlahan. "Guru benar. Memang seorang gadis yang memberitahu Murid. Dan kebetulan gadis itu adalah keponakan Murid dari mendiang putri Xiening dan Perdana Mentri Zhu. Namanya Zhu Liana."
Alis Lao Huzi kembali semakin mengkerut sebelum akhirnya dia tersenyum penuh makna. "Menarik, tak biasanya seorang anak muda mengetahui tentang adanya para monster. Bukankah informasi itu menjadi rahasia para tetua. Dari mana gadis itu mengetahuinya?"
__ADS_1
Kini semua orang menghirup napas dalam. Sedangkan Wei Wangji sendiri cukup terkejut dengan hal itu. Kenapa dia tak menyadari hal ini sebelumnya?
"Guru?"
"Kau bisa memanggil gadis itu datang kemari untuk bersaksi. Aku ingin melihat seperti apa keponakanmu itu. Ah, jangan lupa untuk memanggil Dia juga, aku ingin berbicara pada orang itu." Lao Huzi berdiri dari duduknya sambil memberi perintah pada sang murid.
Wei Wangji sebenarnya agak ragu, tapi dia tak daat menolak perintah gurunya jadi dia hanya dapay mengangguk setuju. "Baik, guru. Murid ini akan memanggil mereka."
Lao Huzi mengangguk puas "Dan untuk rapat kali ini, kita akan lanjutkan esok hari. Kalian semua beristirahatlah." Dia segera pergi dari tempat itu disusul oleh anggota rapat lainnya.
Wei Wangji sendiri segera melaksanakan perintah gurunya untuk memanggil kedua orang yang diinginkan gurunya untuk datang ke tempat ini. Dia menyuruh bawahannya untuk menyampaikan pesan kepada Dia, orang yang di maksud gurunya.
~o0o~
Meninggalkan Biao Tanpan di dalam menara. Tepatnya kini berada di dalam sebuah bangunan yang terasa begitu suram meski kemewahan telah bertabur di mana-mana.
Sebab yang menghuni tempat itu hanyalah seorang pria dengan surai merahnya yang terlihat menyala karena pantulan cahaya api dari lilin yang menyala.
Pria itu adalah pria yang sama dengan orang yang mengamati Liana ketika di Bukit Awan. Pria yang mungkin Liana sangat mengenalinya. Wajah dinginnya tiba-tiba mencair dengan sebuah senyuman menawan yang dapat menggetarkan hati para wanita.
Dia berbaring dengan tubuh miring dengan kepala yang bertumpu di tangan, aura kemalasan ada pada dirinya yang terlihat begitu santai. Namun pemandangan santainya itu benar-benar sesuatu yang indah dimata.
Di tangannya sendiri terdapat sebuah gulungan berisi surat. Isi suratlah yang membuatnya tersenyum. Ada sedikit kebahagiaan dan antusiasme dalam tatapan matanya yang menerawang jauh.
"Ini mungkin waktunya." Tiba-tiba dia menggumamkan kata seribu makna saat senyumnya belum juga memudar.
~o0o~
__ADS_1
Btw, selamat bersantai dan selamat beristirahat!