[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana

[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana
07-Keluarga


__ADS_3

Zhu Moran dan Wan Feng menatap Liana tak percaya. Wajah mereka seolah mempertanyakan apakah yang di depan mereka ini benar-benar seorang Zhu Liana, gadis kikuk yang selalu berdiam diri di kediamannya.


“Kenapa kalian memandangku seperti melihat hantu?” tanya Liana. Dia risih diperhatikan bagai seorang narapidana yang ketahuan mencuri. Dia bahkan dengan tak sopannya langsung duduk di bantalan lembut yang berada di depan meja kerja Zhu Moran, menghiraukan kedua laki-laki yang menyandang status sebagai Ayah dan Kakaknya itu.


“Li’er, Ayah tidak tahu kau memiliki lidah yang begitu tajam.” Zhu Moran nampak tersenyum canggung setelah itu.


“Kau benar, Ayah. Sepertinya Li’er kita benar-benar sembuh sekarang.” Wan Feng menyambung. Dia ikut duduk di bantalan lain dekat Liana.


Liana mengangkat alisnya heran. Kedua orang ini hanya mempertanyakan lidahnya yang tajam. Tidak sekalipun menegur tentang kelakuannya yang mungkin terbilang kasar dan sedikit kejam pada Wen Canran.


Dia jadi berspekulasi bahwa kedudukan selir itu tidak lebih hanya sebatas tambahan dalam keluarga. Dia mengangguk dalam hati, ini mungkin akan sedikit mudah baginya ke depan atau sebaliknya.


Karena Liana dapat melihat bahwa selain memiliki banyak topeng di wajah, Wen Canran juga wanita licik, berhati busuk, sangat kejam dan penuh ambisi. Dalam waktu dekat mungkin wanita itu akan membalas perbuatannya atau paling parah adalah membunuhnya.


Tapi Liana tentu tak takut. Dia sudah sering melompat di antara jurang hidup dan mati. Menangani banyak masalah kehidupan di usianya yang muda. Orang-orang licik adalah menu sehari-hari yang ia temui. Jadi jika hanya menghadapi seorang Wen Canran dengan kedok wanita berbudi luhur tetapi manusia setengah ular itu adalah hal mudah baginya.


“Kalian tidak keberatan dengan tindakanku pada Wen Canran?” Dia bertanya ingin melihat reaksi keduanya.


Tapi setelah itu dia tersenyum sinis yang tentu dilakukannya dalam hati.


“Kau berhak melakukannya jika dia melanggar peraturan. Ayah tentu akan mendukung apapun keputusanmu, Li’er. Selama itu tidak membahayakan dirimu.” Zhu Moran berucap tulus.


Sedangkan Wan Feng mengangguk setuju dengan ucapan sang ayah. Ah, Liana benar-benar merasa iri dengan si gadis Zhu. Dia memiliki keluarga yang benar-benar menyayanginya dengan tulus.

__ADS_1


Dalam hati diam-diam Liana berjanji akan menjaga keluarga ini dengan baik. Entah kenapa dia merasa ada sebuah kewajiban bagi dirinya untuk melakukan itu.


Saat dirinya tengah termenung, Liana tiba-tiba melihat sesuatu dalam pikirannya. Dia melihat bayangan seorang wanita tengah tersenyum begitu lembut. Liana tertegun, dia tidak melihat jelas bagaimana wajah wanita itu, tapi dia yakin jika wanita itu adalah orang yang sama seperti mimpinya sebelum terbangun di dunia ini. Wanita yang menyelamatkan seorang anak kecil bernama Li’er. Anak kecil yang begitu mirip dengannya.


Napasnya tiba-tiba menjadi begitu sesak dan air matanya turun begitu saja padahal dia tidak sedang merasa sedih atau apapun. Tapi entah kenapa matanya terasa begitu panas saat ini dan dadanya terasa sakit oleh sesak. Kenapa? Apa yang terjadi?


Dia kembali pada kesadarannya saat Wan Feng yang berada di sampingnya menepuk bahunya.


“Li’er, adik. Kau kenapa? Mengapa menangis? Apa kau baik-baik saja? Apa ada yang sakit? Katakan pada kakak, dimana yang sakit?”


“Li’er, apa yang terjadi padamu, nak?”


Sekejab Liana merasa linglung. Dia mengedipkan matanya sekali memeras airmata yang membuat penglihatannya kabur. Dia kemudian memandang Zhu Moran dan Wan Feng bergantian.


“Benarkah? Kau tidak sakit?” Wan Feng kembali bertanya. Rasanya dia tidak bisa mempercayai ucapan Liana barusan. Pasalnya Liana tiba-tiba diam membeku dan setelah itu dia seperti menahan sakit di dadanya lalu terakhir dia menangis. Dia menjadi begitu khawatir, sekejab adiknya itu terlihat begitu lemah di matanya. Dia melihat Liana seolah tengah menopang beban yang begitu berat di pundaknya. Sebenarnya apa yang terjadi pada Liana?


Liana menggeleng, dia berusaha tersenyum tapi tetap saja tidak bisa. Rasanya wajahnya telah diberi lem perekat. Jadi dia hanya memberikan tatapan meyakinkan pada sang kakak. “Aku benar-benar tak apa, kak. Hanya kelelahan.”


“Li’er, jika kau memiliki masalah, katakan saja pada ayah.” Kali ini Zhu Moran yang berbicara dengan khawatir. Dia sudah sedari tadi duduk bersimpuh di depan Liana berusaha mensejajarkan tinggi mereka.


Liana menghela napasnya lelah. “Ayah, kapan acara perjamuan akan di lakukan?”


Zhu Moran yang tahu bahwa Liana berusaha mengalihkan pembicaraan juga tak ingin membahas sesuatu yang tidak ingin dibicarakan putrinya itu. Meski telah sembuh dari kebisuan dan sekarang telah kehilangan ingatannya. Putrinya tetap masih sangat tertutup padanya. Jadi dia tidak bisa memaksa Liana untuk bercerita. Akhirnya dia memilih untuk menjawab pertanyaan Liana. Lagipula dia juga ingin membicarakan hal ini pada kedua anaknya itu.

__ADS_1


“Karena kami mengabarkan bahwa kau baru saja sembuh dari penyakit, waktu perjamuan diubah menjadi nanti malam. Itu akan memberikan waktu bagi kita bersiap-siap menyambut tamu. Paman Kaisarmu berkata dia juga akan datang. Entah apa yang beliau pikirkan? Tapi ayah menebak bahwa dia pasti sangat bahagia atas kesembuhanmu.” Zhu Moran tersenyum seraya mengelus pucuk kepala Liana dengan sayang.


Liana merajut alisnya. “Paman Kaisar?” Dia tidak mendengar ini dari Ling bahwa dia memiliki seorang Kaisar sebagai pamannya.


“Benar, Li’er. Ibu adalah adik sepupu dari Yang Mulia Kaisar Wei Wangji, Kaisar saat ini. Berarti dia adalah paman Kaisar, apa kau mengerti?” Wan Feng menjelaskan. Dia juga tahu berita tentang Liana yang kehilangan ingatannya.


“Begitukah?” Liana bergumam. Dia berpikir bahwa betapa luar biasanya identitas seorang Zhu Liana.


Setelah itu dia menyuruh Wan Feng menjelaskannya tentang keluarga kerajaan yang sekarang secara rinci dan tentu saja Wan Feng menyetujuinya. Dia juga menjelaskan Liana tentang berbagi hal tentang benua timur beserta isinya, beberapa kekaisaran juga kerajaan besar dan kecil, aliansi-aliansinya. Sekte-sekte, akademi dan juga klan-klan besar di benua timur ini khususnya di kekasiaran Naga tempat tinggal mereka.


Wan Feng menjelaskan dengan antusias mengenai hal itu dan Liana dapat melihat bahwa dia juga berlagak begitu bangga dengan pengetahuannya itu.


Tanpa sadar, Liana bahkan terkekeh melihatnya. Wajah yang selama ini kaku akhirnya juga dapat tertawa. Dan hal itu membuat Zhu Moran maupun Wan Feng tertegun sejenak. Liana menjadi sangat cantik saat tersenyum bahagia.


Wan Feng diam-diam bertekad dalam hati untuk selalu membuat adiknya itu tersenyum. Begitupun dengan Zhu Moran. Mereka selama ini tahu jelas bahwa Liana begitu terpuruk setelah kehilangan Wei Xiening.


“Lalu apa lagi? Kakak, ayo ceritakan!” Ini adalah kegiatan menyenangkan menurut Liana. Dia seperti mendengarkan cerita dongeng tentang sejarah.


Wan Feng segera menyadarkan diri, dia juga tersenyum setelah itu melanjutkan ceritanya. Zhu Moran sedari tadi juga mendengarkan dengan serius bagaimana putranya menceritakan hal-hal pada putri kecilnya itu. Dia merasa begitu hangat.


“Ning’er, do’akan keluarga kita supaya tetap selalu dalam kebahagiaan.” Dia berucap dalam hati mengingat mendiang istrinya.


~o0o~

__ADS_1


__ADS_2