![[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana](https://asset.asean.biz.id/-reinkarnasi--sayap-takdir--zhu-liana.webp)
Saat Wuxian menarik Liana menuju kelasnya, ternyata kelas itu sudah ramai dihuni oleh para murid baru.
Sampai di pintu masuk, mereka berdua segera menjadi pusat perhatian orang-orang. Ruangan menjadi sepi, tapi setelah beberapa waktu kembali penuh dengan bisikan.
Liana tak nyaman dengan itu, dia berusaha melepas genggaman Wuxian di pergelangan tangannya. Tapi Wuxian sendiri tidak perduli, seolah tak mendengar bisikan semua orang yang ada dalam ruangan, pemuda itu malah kembali menyeretnya, menuju meja kosong.
“Ayo duduk disini!”
Karena pemuda di depannya tidak perduli, Liana juga berusaha tidak mendengar gosip yang berdengung di sekitarnya.
Wei Wuxian adalah seorang pangeran, jadi tak banyak yang akan dapat melihat bagaimana penampilannya, meski pun dia populer di akademi. Apalagi bagi murid-murid baru yang berada dalam ruangan tersebut. Jadi mereka hanya membiacarakan keduanya sebagai pasangan yang tak tahu tempat, masih berkencan di dalam kelas.
Terlepas dari berbagai bisikan yang tak bermutu, tidak ada yang bertindak lebih jauh, membuat Liana merasa sedikit lega. Dia tak mau jika di hari pertama dia masuk ke akademi tapi malah mendapat masalah.
Tak lama, kelas semakin penuh dan semakin ramai. Bangku-bangku segera terisi semua. Sampai saat itu, seseorang berseru jika guru telah datang. Ruang kelas langsung menjadi tertib, tak ada yang berbicara sampai guru terlihat.
Seorang pria yang setidaknya terlihat berusia tiga pulu muncul dari puntu masuk kelas, mengenakan jubah hijau muda dengan lengan lebar, membawa tongkat kayu dengan ujung melengkung setinggi dadanya yang membawa perasaan familiar pada Liana. Tatapannya malas dengan lingkaran hitam besar di matanya, rambutnya yang sedikit acak-acakan, dia menguap setiap beberapa waktu seolah dia tidak pernah tertidur sepanjang tahun.
Tapi di bawah mata setengah terbuka itu, ada semacam ketajaman dari mata phoenix yang Liana tangkap dari pandangan sang guru, yang membuatnya tak bisa diremehkan.
Guru itu sampai di meja guru yang ada di depan. Tapi belum sempat dia duduk, suaranya yang malas sudah lebih dulu terdengar. “Wei Wuxian, apa yang kau lakukan di kelas murid baru?” Setelah itu, dia kembali menguap.
Liana mengerutkan alisnya, guru ini langsung memanggil nama alih-alih memanggil dengan gelar Pangeran milik Wei Wuxian. Sepertinya Yilongfei tidak selalu benar-benar mengutamakan kasta antara bangsawan dan rakyat biasa.
Wuxian tersenyum, “Aku mendengar guru Lin akan kembali dan mengajar murid baru, sebab itulah aku datang untuk menyapa.”
Ah, jadi dia tidak hanya berniat iseng masuk ke kelas murid baru, tapi punya motif tersembunyi. Liana memandang Wuxian dengan mata yang sedikit menyipit. Pemuda di sampingnya ini ... Liana tidak dapat berkata apa-apa. Dia tanpa sadar telah dimanfaatkan oleh Wei Wuxian. Liana ingin menghela napas dalam hati. Dia tak suka perasaan dimanfaatkan.
Sepertinya merasakan tatapan Liana, Wuxian juga memandang gadis itu dengan tatapan bersalah. “Akan aku jelaskan” begitu maksud tatapannya yang diam-diam.
Liana juga tak sopan, dia segera memalingkan wajahnya begitu mendapat balasan. Kembali menghadap depan dimana sang guru yang kelihatannya agak familiar itu menoleh kembali padanya dengan tatapan rumit dan penuh arti.
__ADS_1
“Kau tidak diterima disini, silahkan keluar, Pangeran!” Menekankan kata Pangeran, yang disebut guru Lin itu mengusir Wuxian dengan tanpa perasaan.
Membuat sebagian besar murid berbisik dengan pendapat mereka sendiri atas apa yang mereka dengar.
Tunggu dulu! Wei Wuxian? Pangeran?
Bukankah dia adalah senior idola yang sering dibicarakan murid-murid senior lain itu. Terdengar aga tidak benar. Bukan Wei Wuxian adalah seorang pangeran yang dikenal sebagai orang yang bodoh dan bodoh? Lalu kenapa disini dia menjadi sosok idola?
Para murid di kelas itu riuh dengan diskusi diam-diam. Tak ada dari mereka yang ingat jika seorang Wei Wuxian baru saja diusir oleh guru kelas pertama mereka.
Saat mereka sadar, Wei Wuxian sudah tidak ada lagi berada di dalam kelas itu. Hanya guru yang tampak malas dan selalu menguap setiap beberapa waktu.
Guru itu bahkan mengabaikan murid-muridnya yang tidak tertib.
“Ya baiklah, kelas pertama tidak ada pelajaran. Silahkan belajar sendiri.”
!!!!
Apa itu tadi? Adakah yang bisa menjelaskannya? Seseorang, tolong!
Liana juga mengerutkan alisnya secara tidak wajah. Guru ini terlalu eksentrik, bukan? Setidaknya jika tidak ada pelajaran, mengapa dia tidak memperkenalkan diri terlebih dahulu atau menyuruh siswanya yang memperkenalkan diri agar nanti di masa depan lebih mudah untuk mengenali satu sama lain.
Tapi pemandangan yang dilihatnya saat ini hanyalah seorang pria yang meringkuk dengan kepala di atas meja sambil memeluk tongkat kayunya, mendengkur dengan mata terpejam dengan sedikit air liur yang mulai menetes dari mulutnya. Meninggalkan orang-orang dan sibuk dengan dunianya sendiri untuk bertemu dengan dewa mimpi.
Sial! Apakah ini masih seorang guru?
Seseorang mulai tak tahan. Pria muda yang seumuran dengan Liana tentunya berteriak memanggil guru. “Guru, apa yang kau ajarkan? Dan apa yang harus kami pelajari sendiri? dan juga, guru. Kau belum memperkenalkan diri kepada kami.”
Diam-diam murid lain mengangguk sepakat, pria muda itu menujukkan apa yang mereka semua pikirkan, termasuk Liana sendiri yang sedari tadi tidak berniat untuk berbicara.
Memang, sebelumnya tidak dijelaskan guru siapa yang mengajar dan kelas apa yang pertama kali mereka pelajari. Karena itulah membuat siswa itu bertanya.
__ADS_1
Liana tak tahu kenapa Wuxian tampak sangat menghormari guru ini. Mungkin saja di balik sikap malas itu ada sesuatu ... sesuatu yang patut dihormati. Jadi Liana dengan baik memilih diam dan menyimak apa yang akan segera terjadi, apa tindakan yang guru itu akan lakukan.
Guru Lin, seperti Wuxian memanggilnya pertama kali, dia membuka sebelah matanya yang malas, memandang pemuda yang baru saja berseru kepadanya.
“Hmm, aku mengajar Alkimia. Jika kau tidak mengetahui apa yang harus kau pelajari, maka jangan belajar. Aku dipanggil guru Lin. Itu saja. Jangan mengangguku lagi.”
Yah, dia menjawab semua pertanyaan tapi malah membuat para murid semakin jengkel dan menganga tak percaya. Guru macam apa ini?
Masih ada yang tidak mau mengalah. Sekali lagi, seseorang membuka suara. “Guru, mengapa kami harus belajar sendiri, bukankah kau yang harus mengajarkan kami?”
Guru Lin tidak bergerak kali ini. Dia terdiam menutup matanya, mendengkur seolah tidak mendengar apa yang murid itu katakan.
Semakin ribut dan semakin banyak diskusi, murid-murid itu menampilkan raut wajah kesal. Sampai ada orang yang tidak tahan.
“Astaga! Kelas apa ini? jika guru tidak mengajar, maka bagaiamana kita harus belajar. Aku datang ke akademi hanya untuk belajar dan memperdalam pengetahuanku. Jika seperti ini, aku akan keluar dari kelas. Jika kau ingin tinggal, kama silahkan tinggal.
Karena proklamasi dari satu orang, yang lain juga mengikuti. Semakin banyak mereka yang memilih keluar kelas, hanya menyisakan selusin yang bertahan, termasuk Liana yang memilih untuk tidak bergerak dari tempat duduknya, memilih membaca buku tentang Alkimia sesuai perintah guru, dia belajar sendiri.
Mereka yang tinggal adalah murid-murid yang lebih cerdas atau mendapat beberapa pengetahuan tersembunyi. Liana sendiri memilih tetap berada di dalam kelas karena rasa ketertibannya. Yah, dia sebenarnya hanya percaya semua guru patut dihormati terlepas siapa dan seperti apa metode pengajarannya. Selama dia mengajar, dia adalah guru. Dan perintah guru mestinya dipatuhi.
Liana pernah berguru pada beberapa orang ahli, dan masing-masing dari mereka memiliki kepribadian berbeda, ada yang aneh, ada yang tekun, dan lain-lain. Dan mendapat satu lagi guru yang eksentrik, dia masih bisa menerimanya.
Sampai setengah jam berlalu, murid-murid lain juga meniru Liana. Ada yang membaca buku dan ada yang mengatur diri dalam kultivasi, memilih pojok-pojok kelas yang tenang,ada yang menulis, ada beberapa yang berhitung dan ada juga yang hanya diam-diam mengamati sesuatu. Banyak kegiatan yang selusin orang itu kejakan.
Dan saat itulah, guru Lin terbangun, menguap lebar lalu melihat selusin murid yang masih tinggal sibuk dengan perkerjaan mereka masing-masing tidak memperhatikan yang lain. Dia diam-diam menarik senyumnya lalu memutuskan untuk menguji mereka lebih lama, dia tertidur kembali.
~o0o~
Ups! satu lagi. Tadi keburu waktu tarawih...
__ADS_1
Nah, sekarang, Yok Tadarus!! hehe