![[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana](https://asset.asean.biz.id/-reinkarnasi--sayap-takdir--zhu-liana.webp)
Jauh di tengah samudra, jauh dari keberadaan tiga benua. Sebuah pulau kecil yang terlihat begitu suram, mencekam dan penuh aura kematian. Berdiri dengan kokoh sebuah istana yang nampak selalu dikelilingi kegelapan. Itu terlihat menyeramkan dan seperti tak layak untuk ditinggali.
Namun jangan salah, saat ini ... penghuni tempat itu mengadakan pesta besar. Terdengar dari kebisingan dan sorak-rorai, rintihan, teriakan, dan tawa yang pecah memenuhi sebuah ruangan luas di dalam istana.
Baiklah, sepertinya itu tidak dapat di sebut sebagai pesta dikarenakan ....
"Akh! Tolong ... tolong jangan bunuh aku!"
"Aaah, tidak!!!"
"Ayah! Ibu! Tolong aku ...."
"Kumohon ... biarkan aku pulang."
"Waaaa, aku tak ingin mati! Akh tolooong!"
"Grrrgh! Grrrgh!"
Suara-suara seperti itulah yang terdengar, menambah kesuraman tempat itu.
Di tengah ruangan yang luas itu, beberapa manusia berbagai usia dikelilingi segerombolan makhluk menjijikkan, namun mereka mirip manusia, sayangnya mereka sudah tak layak disebut manusia karena kulit yang membusuk dan beberapa terkelupas hingga memperlihatkan tulang-tulang tubuh, juga jangan lupakan darah yang mengalir maupun yang sudah mengering dari luka yang menganga itu. Gerakan mereka juga begitu lambat, mereka adalah mayat hidup.
Atau yang Liana sebut sebagai Zombie namun masyarakat tiga benua mengenalnya sebagai Monster.
Yah, para monster menjijikkan itu masih terus mengerumuni para manusia yang sedari tadi menangis dan berteriak histeris meminta pertolongan dari makhluk-makhluk terkutuk itu.
Namun alhasil, para manusia itu malah mendapat geraman, gigitan, cakaran dan tikaman dari para monster yang terlihat lapar.
Sedangkan di ujung ruangan, tepatnya di atas sebuah singgasana yang tak kalah menyeramkannya karena berhiaskan tengkorak dan tulang-belulang manusia sebagai bahan utama.
Di sana, duduklah seorang pria bertelanjang dada memamerkan otot perutnya yang terbentuk sempurna. Pria itu hanya menatap malas pada kejadian di depan sana. Tanpa rasa iba, tanpa perduli maupun berselera. Dia hanya menyangga wajah tampannya yang memiliki ekpresi dingin dengan sebelah tangan yang bertumpu pada pegangan singgasana. Menyaksikan semuanya tanpa minat.
Sedangkan di samping kiri dan kanan ruangan telah penuh oleh tawa dari orang-orang yang menyaksikan kegilaan para monster memangsa para manusia yang mereka kerubungi.
Namun, tawa mereka segera menjadi kesenyapan saat pria di atas singgasana mengangkat tangannya hingga para Monster maupun manusia di tengah ruangan itu meledak meninggalkan percikan darah yang membasahi seluruh ruangan itu termasuk orang-orang di dalamnya.
Orang-orang yang tertawa segera menutupi tubuh mereka dengan jubah maupun array pelindung agar tak terkena percikan darah yang membuat kotor tubuh. Yang tak cekatan hanya pasrah dengan tubuh mereka yang kini ikut berbau busuk.
Sedangkan pria di singgasana hanya terdiam tanpa ekspresi membiarkan darah itu mengenai tubuhnya. Namun beberapa saat kemudian, darah itu menguap begitu saja saat terkena kulitnya hingga hanya menyisakan kulit porselen putihnya yang bersih tanpa sedikit pun noda.
Setelahnya, pintu ruangan itu terbuka lebar seperti tengah menyambut kedatangan seseorang.
__ADS_1
"Bawa dia masuk!" Suara dingin pria itu membuat suasana menegang.
Tak ada lagi dari orang-orang itu yang berani membuka suara meski hanya sepatah kata. Bahkan bernapas pun mereka hanya melakukannya perlahan.
Pria di singgasana itu memang sangat menyeramkan bagi mereka. Mereka tertawa saat melihat para Monster menyantap manusia juga atas suruhan orang itu, karena jika mereka membantah sedikit saja, maka kematian benar-benar pilihan yang lebih baik bagi mereka.
Beralih kembali pada pintu masuk ruangan. Setelah perintah dingin dari pria yang sepertinya adalah pemimpin dari tempat itu, nampaklah dua pria lain yang tengah menyeret seorang wanita dengan belenggu rantai di kaki, tangan dan lehernya.
Penampilan wanita itu begitu kusam, dekil, kotor dan tentunya menyedihkan. Banyak luka-luka di kaki dan tangannya yang tak tertutup kain, wajahnya juga begitu. Rambutnya sangat berantakan dan jangan lupakan kantung matanya yang jelas terlihat. Suara bergemercing dari benturan rantai besi akan selalu terdengar saat dirinya bergerak.
Meski begitu, tatapan wanita itu lurus dan tajam saat memandang pria yang ada di singgasana, sarat akan kebencian.
Dia juga melihat cairan merah yang membanjiri ruangan membuatnya mengernyit tak suka. Dia telah terbiasa dengan pemandangan mengerikan itu tapi sesungguhnya pemandangan menjijikkan itu akan selalu membuatnya tak senang. Meski begitu dia tak mengatakan apapun sampai salah satu dari kedua pria yang menyeret dirinya melemparnya dengan tak berperasaan ke tengah-tengah ruangan.
Suara gemercing rantai semakin nyaring. Dia tak mengaduh, hanya menggeratkan gigi agar suara keluhan itu tak keluar dari mulutnya. Karena dia yakin, pria itu pasti akan senang melihatnya kesakitan.
Namun yang tak terduga ialah suara teriakan dari belakangnya. Dia tahu suara teriakan itu berasal dari salah satu dari kedua pria yang membawanya ke tempat menjijikkan ini.
Wanita itu menoleh ke belakang, pemandangan yang ia lihat sungguh tak dapat diduganya. Pria yang tadi berada di singgasana itu telah berada di belakangnya dengan satu tangan yang kini mencengkeram leher pria yang melempar wanita itu.
"Siapa yang menyuruhmu menyakitinya? Siapa yang menyuruhnya melemparnya?"
Sangat menekan! Suara dingin itu ... membuat wanita itu menelan ludahnya kasar. Dia takut, dan dia membenci rasa takut ini.
Krak!
Suara tulang retak terdengar seketika. Dan tanpa perasaan pula, pria itu melemparkan tubuh manusia yang dia cengkeram ke lantai hingga membuat tubuh maupun lantai itu remuk. Kejam! Dan ... menyeramkan! Pria itu mati begitu saja di tangan junjungannya.
Mendadak semua orang yang ada dalam ruangan merasakan dingin di punggung mereka. Semuanya kembali hening dalam ketakutan, senyap dalam tekanan aura kejam sang pemimpin.
Hanya suara langkah kaki pria itu yang menggema mendekati wanita yang masih bersimpuh di lantai yang penuh darah.
Pria itu berjongkok di dekat si wanita. Mencoba untuk membantu wanita itu berdiri dengan uluran tangannya.
"Apa terasa sakit?" tanyanya dengan nada yang masih saja dingin. Tapi jika seseorang yang jeli mendengarnya, ia akan tahu jika ada jejak kekhawatiran dalam nada dingin itu.
Sayangnya wanita yang ia tanyai memiliki kebencian yang amat besar padanya. Dengan kasar wanita itu menepis tangan kokoh yang terulur. Dia tak sudi mendapat bantuan dari pria keji itu.
Pria itu mengepalkan tangannya, wajahnya berubah kesal dengan rahang yang mengeras, tapi dalam sekejab kembali normal saat dia menghembuskan napasnya.
Ekspresinya kembali seperti semula, dingin namun dia memberi tatapan yang lembut hanya pada wanita itu. Dia bahkan mengabaikan orang-orang yang berdiri di dua sisi ruangan, para bawahan itu hanya diam memperhatikan interaksi pria yang menjadi tuan mereka dengan seorang wanita kumuh yang dibawa tuan mereka itu sebelas tahun lalu.
__ADS_1
"Mengapa kau selalu begini? Aku hanya ingin membantumu." Dia mencoba lagi dengan bujukan.
Namun lagi-lagi usahanya nihil, wanita itu malah menatapnya nyalang seolah tengah melihat predator yang tengah memakan mangsanya.
"Kau Iblis!" geram wanita itu dengan suaranya yang bergetar karena amarah saat tatapannya yang tajam bertemu mata gelapnya.
Mata pria itu melotot, dia berdiri dengan dengan terburu-buru. Kekejaman kembali terlihat di matanya menggantikan kelembutan yang tadi.
"Wei Xiening!" teriak pria itu memanggil nama si wanita.
Yah, Wei Xiening! Nama yang begitu familiar.
"Aku telah berusaha bersikap baik padamu, tapi kau! ... tak bisakah kau menghargaiku barang sedikit pun?" Suaranya menggema dalam ruangan yang sunyi itu.
Wei Xiening hanya tersenyum miring, nampak sinis saat mendengar perkataan pria itu yang menurutnya konyol.
"Bersikap baik? Menghargai? Hahaha." Tawa Wei Xiening terdengar, dan itu sedikit memiliki nada pilu di dalamnya, mengandung keputusasaan.
"Kalau begitu lepaskan aku, biarkan aku pergi dari tempat terkutuk ini. Maka aku akan sangat menghargai kebaikanmu itu."
"Tidak! Itu tidak akan pernah terjadi. Kau tidak bisa pergi kemana-mana. Ku milikku dan akan selalu menjadi milikku. Selamanya!" Pria itu membentak dengan sangat, dia tak menyukai perkataan Wei Xiening. Dicengkeramnya rahang wanita itu saat dirinya kembali berjongkok, dan dengan nada dinginnya, dia kembali berkata, "Baik, sepertinya kau memang lebih suka aku kejam padamu. Baik, maka baik." Lalu dihempaskannya wajah Wei Xiening hingga wanita itu kembali tersungkur.
Dia berdiri. "Bawa dia dan kurung kembali. Jangan biarkan dia kabur!" titahnya nya pada bawahannya yang bertugas menjaga Wei Xiening. Setelah itu pria itu berjalan keluar ruangan dengan raut wajah penuh amarah. Dia bahkan lupa alasan mengapa dia memanggil Wei Xiening ke dalam ruangan itu.
Wei Xiening sendiri hanya tertunduk menatap lantai menyembunyikan genangan air matanya yang hendak turun. "Li'er ..." lirihnya memanggil nama seseorang.
Sedangkan di tempat lain, tepatnya di dalam Menara Langit, Liana tiba-tiba tersentak, dia segera menoleh ke belakang seperti mencari sesuatu. Entah kenapa perasaannya mendadak cemas, dia gelisah.
Dalam pikirannya, dia mengingat seseorang yang sangat penting baginya.
"Li'er, Li'er ...."
"Ah, ya. Kenapa memanggilku?" Dia menjadi sedikit linglung saat orang di seberang memanggilnya.
"Kau gelisah."
Liana menggeleng setelah itu dia menghembuskan napasnya. "Tidak apa-apa," ucapnya. "Aku akan menanyakan beberapa hal padamu. Ku harap kau mau menjawab semuanya."
"Baiklah ...."
~o0o~
__ADS_1
Apa lagi ini! Apa lagiiiii!
Dah lah... aku tau aku garing... :v