[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana

[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana
77-Tempat yang Paling Berbahaya


__ADS_3

Lanhua cemberut saat mendapati sikap formal Liana. Mereka sudah beberapa hari tak bertemu, tapi gadia di depannya ini sudah berubah menjadi lebih kaku.


"Liana, aku sudah pernah bilang padamu, bukan? Untuk tidak terlalu formal." Dengan tangan yang menyangga pinggang rampingnya, Lanhua mendengus dengan marah.


Liana hanya berkedip sebagai tanggapan.


Tapi pemuda yang berada di belakang Lanhua mapah terkekeh dengan lembut. Lalu suara yang dalam terdengar dari sana. "Nona Muda Zhu Liana." Dia menyapa dengan anggukan yang dibalas oleh Liana dengan anggukan yang lebih rendah.


Pemuda itu adalah Wei Muzhi--Pangeran Mahkota Kekaisaran Naga saat ini dan putra dari Permaisuri saat ini--Nian Yangchi.


Wei Muzhi memiliki penampilan yang lembut, sopan dan anggun. Terlihat seperti orang yang ramah dan welas asih.


Dia juga pemuda yang memiliki ketampanan yang tak dapat di lupakan dan fitur wajahnya juga lebih feminim. Namun perawakannya yang gagah, tegak dengan punggung lurus. Memilki tangan yang ramping, nampaknya bukanlah ahli pedang. Singkatnya dia seperti seorang sarjana yang terpelajar.


Namun Liana memiliki kewaspadaan dalam hati saat melihat Wei Muzhi. Entah insting jenderalnya berbunyi memberi peringatan untuk menjauhi orang ini. Dan Liana sendiri tak pernah meragukan instingnya yang kerap menyelamatkannya dari bahaya.


Meski pun sang Pangeran Mahkota terlihat seperti orang yang lembut dan penuh kasih, tapi menilai tatapannya yang tajam. Liana menghirup udara dingin dalam hati.


"Orang ini berbahaya!" teriaknya dalam hati.


Tapi meski pun pikirannya sudah berlayar kemana-mana. Liana tak menunjukkan fluktuasi emosi apa pun pada wajahnya.


Dia kemudian mengalihkan pandangannya pada Lanhua dengan ringan dan alami. Seolah pikiran dan jiwanya benar-benar terpisah dari raga, Liana sama sekali tak menunjukkan apapun di permukaan.


Saat itu pula, terdengar lagi suara Wei Muzhi yang berkata dengan nada hangat. "Hua'er benar, kita masih memiliki hubungan darah. Tidak perlu berlaku formal." Saat dia berkata dengan diakhiri kekehan kecil.


Lanhua mengangguk setuju dengan perkataan Wei Muzhi.


"Maafkan aku, lain kali aku akan mengingatnya," ucap Liana pelan saat dirinya juga mengangguk.


"Itu bagus. Oh ya, apa yang membuatmu berkunjung kali ini? Sudah beberapa tahun, tapi kau sangat jarang ke istana jika tidak ada undangan atau acara apa pun." Lanhua berkata dengan semangat.


"Aku perlu bertemu dengan Xian gege," jawab Liana.


Lanhua kembali cemberut saat mendengarnya membuat Liana bertanya, "Ada apa?"


"Tsk, kau ... kau sangat dekat dengan kakak Ke-tiga tapi malah bersikap asing dengan kami."


Liana terdiam sebentar mencerna ucapan Lanhua, tapi dia masih agak linglung saat akhirnya menjawab, "Dia adalah mitraku di masa depan." Kata-kata itu lolos begitu saja yang membuat beberapa orang yang masih menetap menatapnya dengan pandangan kosong.


Saat dia tersadar, Lanhua malah memberi Liana senyum menggoda. "Aih~ jadi, Liana. Seberapa besar rasa sukamu pada kakak Ke-tiga?"


Liana tak bisa membantu tapi berkedip lalu mengerutkan kening.

__ADS_1


Dia selama ini tidak tahu perasaannya seperti apa pada Wei Wuxian. Hanya saja, dia cukup mengerti jika dia menghormati dan memiliki kesan kasih sayang pada sang Pangeran. Dan hanya berpikir jika dia adalah pasangan seumur hidupnya di masa depan.


Untuk perasaan seperti suka atau cinta, Liana tak dapat menggambarkan perasaan atau emosi apa itu. Sebab dalam kehidupannya, dia sama sekali tak pernah merasakan hal seperti itu.


Jadi menanggapi pertanyaan Lanhua, dia hanya bisa diam hingga suara lain yang akrab mengampiri pendengarannya dari arah belakang.


Sekali lagi Liana berbalik, memandang siapa si pemilik suara diikuti dengan yang lainnya.


"Li'er, kau datang?" Wuxian menunjukkan senyum ceria padanya. Hanya padanya, bahkan dia sama sekali tidak memandang sedikit pun kepada Lanhua dan Wei Muzhi.


Dilihat dari bulir keringat yang menetes di dahi pemuda itu, dia sepertinya telah berlari cukup lama untuk sampai ke tempat ini. Melihat itu, hati Liana tergerak dan menjadi lebih hangat.


Kelopak mata Liana turun saat dia balik menyapa. "Xian gege."


"Lanhua memberi salam pada Kakak Ke-tiga." Lanhua juga menyapa sebagai sopan santun. Sepertinya dia telah melupakan kalimat yang dia katakan pada Liana beberapa saat yabg kalu untuk tidak bersikap formal pada sesama keluarga.


Yah, entah kenapa? Meski keberadaan Wei Wuxian sebelumnya tidak begitu dipandang dalam istana, tapi sebenarnya setiap kali dia hadir, auranya akan terasa mengesankan membuat orang yang dapat melihatnya menjadi lebih segan.


Oh ya, jangan lupa. Sebenarnya reputasi sang Pangeran Ke-tiga di luaran sana benar-benar hanyalah omong kosong. Dia bukanlah orang yang benar-benar bodoh. Semua anggota keluarga kekaisaran tahu akan hal itu. Hanya saja, karena beberapa alasan tertentu, rumor itu dibiarkan dan menjadi kepercayaan banyak orang, bahkan para pejabat istana juga buta akan kebenaran.


"Ah Xian ...." Wei Muzhi juga bersuara. Dia mendekati Wuxian sudah berdiri di samping Liana.


Wuxian sendiri yang tadinya mengabaikan mereka akhirnya mengalihkan pandangannya. Pandangannya begitu dingin saat menatap Pria muda yang mengahamprinya.


"Apa? Kakak Ke-tiga, tidak bisakah aku izin satu hari saja?" Lanhua memohon.


Wuxian tidak mendengar rengekannya dan malah segera mengambil tangan Liana dan menggenggamnya. Bersiap menarik gadis itu untuk pergi dari tempat parkir kereta kuda. Ngomong-ngomong, dia belum beranjak dari tempat itu.


"Ayo pergi, Li'er!"


Wei Muzhi yang diabaikan tidak memiliki riak di wajahnya. Akan tetapi jika orang memperhatikan lebih teliti, dimatanya memiliki kilat tertentu saat melihat punggung satu pemuda, satu gadis, dan satu pelayan yang semakin menjauh.


Lanhua sendiri hanya membuang napasnya dengan sedikit kesal. "Cih, dia sudah menumpahkan cukanya begitu saja? Bahkan mencari alasan untuk menjauhkanku dari sahabatku sendiri." Kata-kata ini sebenarnya dia tujukan pada Wei Wuxian yang bersikap protektif pada Liana. Dia mendengus kemudian menghentakkan kakinya lalu dia juga pergi. Dia juga mengabaikan keberadaan Wei Muzhi dan pergi begitu saja.


Satu laki-laki yang tertinggal sendiri hanya menatap kosong ke depan. Wei Muzhi mengerutkan alisnya tidak senang. Tapi selain itu, tak ada yang tahu apa yang dia pikirkan setelah akhirnya berbalik meninggalkan tempat menjadi sepi.


Setelah semua itu, satu gadis dan satu pemuda berjalan-jalan di taman istana dengan berbagai pohon sakura yang sudah tak lagi mekar bunganya.


Tapi perasaan nostalgia antara dua orang yang berjalan berdampingan itu tak tersembunyi.


Dalam keheningan yang damai, Liana dan Wuxian menikmati suasana harmonis mereka.


"Benar-benar nyaman di tempat ini," ucap Liana sebagai orang yang memulai percakapan pertama kali.

__ADS_1


Wuxian sendiri mengangguk kecil saat tatapannya yang sedari tadi tak lepas dari wajah gadis serba putih itu. "Mn, selain tempat ini, Istana adalah tempat yang sangat berbahaya."


Liana menghentikan langkah kakinya sebentar yang juga membuat Wuxian berhenti, tapi setelah beberapa saat kemudian, dia kembali kembali bergerak dengan pemuda itu yang selalu mengikutinya dari samping.


"Mengapa Xian gege mengatakan hal itu?" tanya Liana.


"Aku hanya berpikir acak."


Melihat jika Wuxian tidak ingin mengatakan banyak hal tentang itu, Liana juga tidak lagi bertanya. Sedikit tidaknya dia mengerti apa yang ingin disampaikan Wuxian.


Taman sakura ini termasuk dalam kawasan istana Pangeran Ke-tiga. Meskipun terlihat sunyi dan tidak terjaga ketat, tapi disinilah tempatnya menghabiskan waktu kecilnya bersama orang-orang yang peduli padanya. Itu bisa disebut sebagai rumah, dan rumah adalah tempat yang paling aman untuk ditinggali.


Dan sebenarnya Liana setuju dengan sang Pangeran tentang kediamannya adalah tenpat teraman di istana. Disini hanya sedikit orang, lebih lalu sedikit orang berarti lebih berarti lebih sedikit bahaya. Lagipula yang sedikit orang itu adalah rekan dan bawahan yang dapat dipercaya.


Mereka mengobrol sambil berjalan hingga sampai pada sebuah pohon besar yang familiar.


Mata Liana segera bersinar saat melihat sebuah pohon sakura yang tidak lagi memilki bunga mekar. Akan tetapi batang pohon itu adalah yang terbesar di taman.


Pohon ini adalah saksi peristiwa penting saat pertemuan pertama antara Wei Wuxian--sang Pangeran Ke-tiga Kekaisaran Naga dengan seorang gadis kecil yang menggemaskan bernama Zhu Liana--Nona Muda dari kediaman Perdana Menteri.


Wuxian juga tersenyum melihat pohon berusia cukup tua itu. Sedangkan Liana sudah berlari kecil menghampiri gundukan tanah yang sedikit menggunung dan ditumbuhi rumput hijau yang empuk. Dia langsung duduk disana dengan santai.


"Ge, kemarilah!" Dia bahkan memanggil Wuxian dengan nada yang lebih riang dan hangat. Sikapnya saat ini, persis sama seperti seorang remaja, yah ... meski pun dia memang masih remaja, tapi jiwanya sudah mengikuti waktu di dunia modern dan menjadi seorang yang dewasa.


Namun seperti ini juga menggemaskan. Senyum di wajah Wuxian juga semakin lebar saat dirinya juga berjalan lebih cepat namun terkendali untuk menghampiri Liana.


"Kau begitu bersemangat, Li'er."


"Tentu saja, disinilah tempat pertama kali kita bertemu."


Wuxian mengangguk tepat saat dirinya mendaratkan tubuhnya untuk duduk di gundukan bawah pohon samping Liana. "Kau sepertinya masih ingat," ucapnya.


"Ya, disini tidak berubah sama sekali seperti sebelas tahun lalu."


"Oh. Lalu ... apa kau ingat jika seseorang pernah berkata jika dia akan menjadi istri yang baik untukku di masa depan?"


Liana hampir tersedak oleh napasnya sendiri saat mendengar ucapan Wuxian yang sengaja menggodanya. "Ge ... sejak ... kapan kau begitu pandai menggoda orang lain?" tanyanya sedikit gagap karena malu dan wajahnya dengan jelas memperlihatkan rona merah muda yang menarik. Dia menatap Wuxian dengan rumit.


"Sejak saat ini. Dan aku hanya pernah menggoda Li'er. Tak ada orang lain," balas Wuxian sambil mencondongkan tubuhnya lebih dekat pada Liana.


~o0o~


Maaf ya gaes... Wuxian kita yang polos ... hari ini telah berakhir... :v...

__ADS_1


__ADS_2