[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana

[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana
102-Perhatian Wei Wuxian


__ADS_3

Liana dengan dingin berkata pada Murong An Ding, “Sebaiknya kau memperingatkan dan mengajari adikmu untuk bersikap lebih rendah hati pada orang lain atau nantinya dia tidak dapat menjalani hidupnya lebih lama jika sekali lagi menyinggung orang lain.”


Yah, Liana memberikan peringatan tidak dengan santai. Dia benar-benar ingin sekali mengajari Murong An Fei, mengubah sifat dan perilakunya menjadi lebih baik. Dia mungkin tipe orang yang suka mencampuri urusan orang lain. Sebenarnya Liana hanya tidak suka melihat penyimpangan moral di depan matanya.


Namun, apa yang terlihat oleh Murong An Ding dan penonton yang tidak mengenal baik Liana adalah kesombongan dari kata-kata Liana yang memandang rendah pada sosok Murong An Fei yang telah dirinya kalahkan.


Dan Liana tampaknya tidak terlalu menghormati status pangeran Murong An Ding dan langsung memanggilnya dengan kata ganti ‘kau’. Padahal sebenarnya tidak seperti itu, dia hanya melihat hal aneh pada diri Murong An Ding, yang sepertinya ada sesuatu yang asing di dalam tubuh pangeran Negara Merak tersebut, seolah yang ada di depan Liana saat ini bukanlah pangeran An Ding yang sebenarnya melainkan orang lain yang memerankan dirinya.


Kecurigaannya meningkat saat melihat perilaku Murong An Fei yang selayaknya tidak seperti sedang berhadapan dengan kakaknya melainkan orang asing atau tepatnya seperti melihat seorang yang lebih rendah posisinya.


Murong An Ding tidak tahu tentang kecurigaan Liana tentang dirinya dan dia nampak tidak mempermasalahkan sikap tak hormat Liana pada dirinya dan itu semakin memperkuat dugaan Liana padanya. Dia hanya mengangguk atas perkataan gadis itu dengan perasaan rumit yang aneh di hatinya. Namun dia masih pamit pergi membawa Murong An Fei turun dari panggung arena.


Melihat kepergian pasangan kakak beradik yang aneh itu, Liana juga turun dari atas panggung, langsung menuju tempat seseorang yang sudah menunggunya diam-diam di bawah sana. Tapi sebelum itu, dia menemui Lanhua terlebih dahulu dan pamit padanya dengan alasan ada sesuatu yang hendak diurusnya.


Dia dan Lanhua jarang bertemu setelah memasuki Yilongfei, sebab asrama dan kelas yang mereka ambil berbeda. Lanhua adalah seorang Puteri Kaisar, sebab itulah fasilitas yang ia dapat tentu berbeda dari nona dan tuan muda bangsawan lainnya. Lagipula, Yilongfei adalah akademi yang dibangun oleh kekaisaran itu sendiri. Akan sangat wajar bila dirinya mendapat hak yang istimewa.


Masing-masing Pangeran dan Puteri mendapat sebuah manor dari akademi untuk ditinggali dengan pelayan dan penjaga yang sudah siaga melayani. Tentunya Wei Wuxian juga mendapat satu. Liana pernah dibawa ke Manor miliknya beberapa kali dan itu adalah tempat yang lumayan bagus. Yah, tentu saja.


~o0o~


Minggu lain terlewati dengan cepat, hari-hari Liana menjadi lebih damai. Sejak hari dimana dia bertarung dengan Murong An Fei di arena pertarungan akademi, hari-hari berikutnya, dia tidak pernah bertemu lagi dengan Murong An Fei mau pun kakak yang membawanya pergi, Murong An Ding.


Dia hanya bisa terus sibuk dengan keseharian yang sama, berlatih pedang, berkultivasi, belajar, juga dia selalu rajin menghadiri kelas setiap hari.

__ADS_1


Namun entah mengapa menjadi lebih sering bersama Wei Wuxian. Pangeran ke-tiga itu juga entah mengapa menjadi semakin melekat pada Liana sejak hari itu. Seolah tak ingin dipisahkan barang sedetik pun.


Liana tidak ingin pusing memikirkan alasan mengapa Wei Wuxian menjadi lebih sering menemuinya setiap hari, dia bahkan curiga jika sang Pangeran membolos kelas hanya untuk menemui dirinya karena setiap kali saat Liana selesai dengan kelasnya, dia sudah melihat batang hidung pemuda itu yang menunggu dibawah pohon, berlindung dari terik matahari akhir musim gugur yang bahkan sebenarnya akan segera memasuki musim dingin, jadi hari-hari itu tidak ada orang yang akan kepanasan, udara sangat sejuk dan pas.


Bahkan jika musim panas sekali pun, sebagai seorang kultivator, mereka dapat memblokir suhu dengan energi spiritual. Jadi sebenarnya mau musim apa pun, tidak akan menjadi masalah selama masih memiliki energi spiritual.


Tapi tidak tahu mengapa, melihat pemandangan seorang pemuda berdiri di bawah pohon dengan jubah putihnya yang berkibar tertiup angin dingin musim gugur, memperhatikan daun yang berwarna merah di tangannya tanpa sedikit pun terganggu oleh sekelilingnya. Sekejab, Liana seolah melihat ilusi dari seorang abadi yang turun ke dunia fana dengan pandangn acuh tak acuh menginjak daratan. Atau dia bahkan melihat seperti peri dari dunia lain yang nampak meratapi daun-daun yang berguguran. Yang dilihatnya benar-benar nampak seperti lukisan artistik dari seorang pelukis terkenal.


Liana segera menggelengkan kepalanya mengusir pikirannya yang aneh dan membuatnya linglung. Dia bahkan tidak menyadari jika pemuda dalam bayangannya sebagai seorang abadi dan peri dalam sebuah lukisan itu sudah berada di depannya, tersenyum santai yang hampir menggoda, menatap dirinya dengan padangan dalam, cerah dan obsesi.


“Sedang memikirkan diriku?” Pemuda itu bahkan sudah melayangkan pertanyaan menggoda yang membuat Liana seketika memutar matanya karena sudah terbiasa dengan sisi seorang Wei Wuxian yang tak tahu malu. En, hanya padanya.


“Apa yang kau lakukan disini? Berdiri dengan bodoh?” Dan Liana tentunya akan membalas dengan ucapan dingin, sarkas dan dia sebenarnya juga sedang bercanda, tapi karena tampangnya yang serius, seseorang aka berpikir jika sosoknya memang benar-benar arogan.


Wei Wuxian tidak marah, dia juga tidak menganggap Liana sebagai gadis yang sombong arena dia sudah mengenal bagaimana gadis itu luar dan dalam, dia malah tertawa karena menurutnya wajah kesal Li’ernya sangatlah imut.


Ah ya, tentu saja Liana bukanlah bagian dari orang-orang berwajah panjang dan berhidung bengkok. Meski pun dia bukanlah kecantikan yang menggetarkan ibu kota seperti Wei Lanhua—Putri Ke-Enam Kaisar Naga. Tapi dia masih memiliki pesona dingin, elegan dan heroik yang dapat membuat seorang pria tidak akan pernah bosan memandangi dirinya. Membuat seolah orang akan tertantang untuk menaklukkan hatinya yang keras.


Tanpa menunggu Liana mengucapkan kata-kata pedas lagi, Wei Wuxian sudah lebih dulu menarik pergelangan tangan gadis itu seperti kebiasaan, membawanya pergi ke suatu tempat adalah rutinitas harian yang sangat disukainya.


“Ada restoran yang baru buka di Yilongfei. Ayo pergi dan lihat!” Dia berkata dengan ceria yang tentunya sangat sulit untuk Liana menolaknya.


Jadi gadis itu hanya dapat menghela napasnya dalam hati sambil menerima dirinya diseret oleh Wei Wuxian pergi entah kemana.

__ADS_1


Wei Wuxian tentu dengan senang hati menerima kepatuhan dari Li’ernya. Dia memperdalam senyumnya.


Tujuannya sederhana, lebih melekat dengan Liana adalah caranya untuk sedikit mengurangi kegundahan gadis itu. Dia tahu misi seorang Zhu Liana, tapi dia tidak dapat membantunya karena hanya dapat diselesaikan sendiri oleh Liana. Dia hanya dapat memberinya sedikit petunjuk dan membuat gadis itu menjadi lebih tenang menjalani harinya.


Sebenarnya Wei Wuxian juga menyesal melihat seorang gadis seperti Liana sudah dilempari dengan tanggung jawab yang begitu berat di punggungnya yang kecil dan tampak rapuh.


Dia hanya bisa mempercayai kemampuan dari teguh dan pantang menyerahnya Liana. Garis takdir seorang Zhu Liana sulit, tapi setelah melewati kesulitan itu, dia akan lebih mudah untuk menentukan jalannya sendiri di masa depan dan orang-orang di sekitarnya.


Dia memiliki sayap takdir di tangan yang begitu agung yang bahkan orang-orang di dunia atas akan saling membunuh demi mendapatkan harta surga yang begitu langka dan satu-satunya di alam semesta. Tapi bersamaan dengan itu, ada tanggung jawab besar yang ia bawa di tangan lainnya.


Sayap Takdir adalah esensi terakhir yang ditinggalkan oleh dewa Takdir jutaan tahun yang lalu. Hanya orang-orang terpilih yang dapat memanfaatkan esensi sang dewa dengan sepenuhnya, jika itu orang biasa, maka bisa dipastikan jiwa dan raga mereka akan meledak karen tidak dapat menanggung beban kekuatan yang begitu besar.


Tentu saja, tak ada manusia biasa yang dapat menanggung kekuatan seorang dewa. Tapi Liana berbeda, dia bukan manusia biasa, apalagi dia adalah keturunan paling Murni dari Klan Yunan yang melegenda.


“Ge, gege ... Xian gege?”


Panggilan Liana membebaskan Wuxian dari linglung, tangannya masih tetap menggenggam tangan Liana. Tetapi dia bahan tak sadar jika dirinya sekarang sudah berdiri di depan sebuah gedung rumah makan yang menjadi tujuannya.


Liana juga bingung mendapati pertama kali dirinya melihat Wei Wuxian yang nampak linglung, bertanya, “Apa yang sedang kau pikirkan?”


Wei Wuxian yang sudah sepenuhnya tersadar segera memamerkan senyumnya yang biasa santai. “Tidak ada. Ah ya, kita sebenarnya sudah sampai, lebih baik masuk dulu. Ayo!” Dia kembali menarik tangan Liana dan segera masuk ke dalam restoran.


Liana hanya merasa Wei Wuxian hari ini bertingkah aneh, meski pun setiap hari dia selalu bertidak dengan aneh, tapi kali ini memang lebih aneh dari biasanya. Dia tak dapat membantu tapi hanya bisa diam memandang punggung lurus Wei Wuxian yang berada di depannya.

__ADS_1


~o0o~



__ADS_2