![[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana](https://asset.asean.biz.id/-reinkarnasi--sayap-takdir--zhu-liana.webp)
Kepergian sang Zanzhu Ren Zuxian ternyata memakan waktu hingga bertahun-tahun lamanya. Entah apa yang ia lakukan selama itu? Para warga desa Klan Yunan tak ada yang tahu. Namun mereka terus setia menunggu kedatangan sosok agung itu.
Akan tetapi sesuatu tak terduga terjadi, sang peramal sepuh yang menjadi andalan klan tuk melihat dan menerawang masa depan menghembuskan napas terakhirnya setelah mengatakan ramalan yang tidak pernah diinginkan.
"Pohon yang terbakar, kayunya pasti mengering. Bencana yang akan datang adalah takdir." Suara bergetarnya menggema didengar semua penduduk desa yang saat itu ikut menyimak perkataannya. Dan setelah dia selesai mengucapkan kalimat tersebut, tubuh renta sang peramal ambruk ke lantai. Hanya satu yang ia ucapkan sesaat sebelum matanya terpejam. "Yang Mulia akan menjaga tunas baru."
Tepat setelah itu suara ledakan terdengar memekakkan telinga. "Ada serangan! Ada serangan!" Seorang laki-laki yang menjaga gerbang desa berteriak keras memperingati.
Yunan Tripa langsung berdiri dari posisi duduknya. "Cepat! Amankan jasad peramal sepuh. Lalu segera bersiap! Para wanita, lindungi anak-anak dan orang tua. Para laki-laki yang dapat bertarung, ikut denganku mempertahankan gerbang depan! Sisanya, berjaga di sini. Jangan sampai para penyerang memasuki tempat ini. Buatlah array pelindung!"
Dengan segera para penduduk desa melaksanakan perintah pemimpin klan. Tapi seorang gadis tiba-tiba berteriak padanya. "Ayah! Aku akan ikut ke gerbang depan bersamamu." Dengan tegas gadis itu berlari menghampiri Yunan Tripa yang ia panggil sebagai Ayahnya.
Penampilannya juga unik dengan rambut berwarna hijau bagaikan sulur dedaunan.
Sebenarnya bukan hanya gadis itu yang memiliki penampilan berbeda, semua penduduk desa Yunan memiliki karakteristik berbeda-beda. Seperti gadis itu yang memiliki rambut hijau bagaikan sulur yang menandakan jika kekuatannya sangat bergantung pada alam, artinya dia adalah pengendali alam.
Yang lain juga memiliki hal yang sama. Semisal warna mata berbeda, tubuh yang dapat membesar dan mengecil, rambut berwarna lain, tubuh bersisik, kepala yang memunculkan tanduk, darah yang dapat dibentuk sesuka hati, memiliki sayap dan kemampuan-kemampuan aneh lainnya.
Namun satu yang menjadi persamaan anggota klan, telinga mereka akan berubah menjadi lebih panjang dan meruncing jika mereka takut, waspada atau dalam keadaan siap tempur. Hal itu menandakan kepekaan mereka jatuh dalam mode yang paling tinggi. Penampilan mereka tak berbeda jauh dengan kaum Elves, kaum setengah peri yang menjadi mitos penduduk tiga benua. Tapi sesungguhnya, mereka memang bukanlah Elves.
"Shu'er!" Yunan Tripa terkejut mendengar perkataan gadis berambut hijau yang menjadi putri semata wayangnya itu, Yunan Shu'er. Yah, dia mengambil nama dari penduduk benua timur untuk putrinya.
"Apa yang kau lakukan? Kembali sekarang!" perintahnya dengan nada tinggi namun memiliki jejak kecemasan di dalamnya.
"Tidak, Ayah. Aku akan ikut bersamamu," kukuh gadis itu.
"Apa yang kau katakan?! Disana berbahaya."
"Ayah, izinkan aku ikut bersamamu. Aku ingin bertempur di gerbang depan."
__ADS_1
Yunan Tripa tak tahu apalagi yang mesti dia ucapkan untuk mencegah Yunan Shu'er ikut saat melihat keteguhan dalam mata putrinya itu. Dengan kepalan tangan yang kuat serta rahang yang mengeras, dia berucap, "Jangan sampai terluka!"
Kemudian setelah itu dia segera melesat menuju gerbang desa dimana tepatnya pertempuran tengah terjadi.
Yunan Shu'er melihat punggung Ayahnya mengecil di kejauhan hanya menatap dengan sendu. "Maafkan aku, Ayah. Ini semua salahku, tapi aku akan menebus segalanya hari ini. Akan ku bunuh b*jing*n itu!" Mulutnya mengatup kuat saat air mata dari pelupuknya menetes terjun ke pipi.
Yunan Shu'er mengusap air matanya yang mengalir dengan kasar. Tatapannya menjadi tajam seketika saat pertempuran terjadi di depan mata.
Yah, ini semua adalah salahnya. Serangan ini terjadi karena kebodohannya yang mudah sekali termakan rayuan manis seorang pria yang bahkan dia tidak tahu asal-usulnya. Yunan Shu'er hanya bertemu pria itu di tengah hutan ketika dia sedang berjalan-jalan.
Dia terbuai dengan perkataan cinta dari pria itu sehingga dengan mudahnya membeberkan jati dirinya sebagai seorang anggota dari klan Yunan. Shu'er bahkan mengatakan dimana tempat tinggalnya dan jalur yang aman ke tempat itu hanya untuk menyenangkan si pria.
Dia tidak tahu jika pria itu sengaja mendekati dirinya untuk mendapatkan sesuatu. Darahnya, darah dari para anggota Klan. Banyak yang meyakini jika darah klan Yunan sangat berharga. Dapat menjadi eliksir alami, meremajakan, menambah kekuatan, bahkan dapat memperpanjang umur seseorang meski tidak menapaki jalan keabadian.
Entah bagaimana orang-orang tahu mengenai rumor itu, tapi sebenarnya memang tidak salah, buktinya para anggota Klan memiliki penampilan awet muda dan beberapa dari mereka bahkan telah berumur ratusan tahun seperti pemimpin klan, Yunan Tripa. Pria itu bahkan masih nampak seperti umuran empat puluh tahun, jauh lebih muda dari usia aslinya.
Sekarang Shu'er benar-benar telah menyesali perbuatannya yang melanggar aturan Klan. Dia belakangan mengetahui rencana pria itu saat tak sengaja memergokinya tengah berbicara lewat batu komunikasi dengan seseorang.
Tapi sepertinya terlambat, saat sampai ... dia mendengar suara ledakan dari arah gerbang depan. Dan dia juga mengetahui saat itu sang peramal sepuh telah wafat sesaat sebelum terjadinya ledakan.
Kepanikan melanda dirinya saat bersamaan Shu'er mendengar perintah Ayahnya untuk berlindung. Dia ikut melesat menuju pertempuran dengan sedikit perdebatan dengan Yunan Tripa. Hingga sekarang disinilah ia ... menatap nyalang pada seorang pria dengan jubah hitamnya yang lebar menatapnya penuh kejutan.
"Shu'er ...!" Pria itu terkejut saat melihat gadis yang seharusnya kini telah ditahan oleh bawahannya. Dia diam-diam mengumpat dalam hati, dia adalah orang yang tidak dapat menoleransi kekalahan maupun kegagalan.
Dia berencana untuk menyekap gadis itu selama dirinya bertarung dengan klan Yunan. Bukan sebagai sandra, melainkan dia memilki tujuan lain dengan gadis itu. Menikahinya mungkin. Sudah dibilang, bukan? Darah klan Yunan sangatlah istimewa. Memilki keturunan dari mereka pasti sangat luar biasa. Apalagi darah seorang bangsawan klan seperti Yunan Shu'er, keturunannya nanti akan memilki kekuatan tiada tara.
"Jangan pernah memanggil namaku dengan mulut kotormu itu, kep*ar*t. Kau membuatku muak!"
"Shu'er, aku ...."
__ADS_1
"Berhenti di sana, br*ngs*k!" Shu'er berteriak memutuskan ucapan serta langkah pria itu.
Air mata gadis itu kembali luruh. Sebenarnya hatinya begitu sakit saat mengeluarkan kata makian kepada pria itu. Dia juga bukanlah gadis kasar. Tapi rasa kecewa dan benci lebih mendominasi dirinya saat ini.
"Ye Qiunan, kau benar-benar seorang ahli. Aku tak menyangka akan dibodohi sedemikian rupa olehmu. Kau pasti tertawa puas saat melakukan semua itu. Aku benar-benar jatuh olehmu."
Pria yang bernama Ye Qiunan itu hanya diam ditempatinya karena tidak tahu ingin mengatakan apa. Dia tahu gadis pasti merasa sangat tersakiti karena ulahnya. Dia akui itu, awalnya dia memang berpura-pura mendekati Shu'er dengan tujuan informasi darinya.
Akan tetapi dia luluh karena ketulusan gadis itu. Dia juga jatuh akan tetapi egonya memang lebih tinggi untuk mengakuinya. Dan sekarang melihat gadis dengan rambut hijau itu menangis membuat dadanya ikut berdenyut sakit. Kini dia tahu jika dirinya benar-benar mencintai gadis itu.
Tapi apa mau dikata. Keadaan tak mendukung perasaan keduanya. Mereka berada di kubu yang berlawanan dan sekarang tengah berusaha saling menjatuhkan.
Pertempuran terus berlangsung, tak ada dari dua kubu yang mau mengalah. Akan tetapi satu persatu anggota penyerang jatuh dilumpuhkan oleh anggota Klan yang hanya berjumlah beberapa ratus. Memang tidak dapat di remehkan, sesuai reputasi mereka.
Anggota penyerang yang dipimpin Ye Qiunan yang berjumlah puluhan ribu kini telah habis seperempatnya.
Shu'er melihat itu dan tersenyum sinis pada pria di depannya. "Sepertinya kau memang tak meremehkan kami," ucapnya setelah meredakan tangisnya. Kini dia telah tenang kembali karena sesekali menggunakan sulur untuk melilit musuh di sekitarnya tanpa diketahui Ye Qiunan.
"Sekarang giliranmu!" Tanpa menunggu waktu lebih lama, Shu'er melesat untuk menyerang pria yang pernah menjadi kekasihnya itu.
Pertarungan intens terjadi antara dirinya dengan pria itu. Mereka bertarung tanpa sepatah kata, hanya tindakan keduanya yang mencerminkan bagaimana perasaan mereka saat ini.
~o0o~
Masa lalu dan Masa Depan dalam cerita akan berhubungan seiring waktu dan penjelasan.
Bagi yang merasa cerita ini berbelit-belit, ini karena aku bikin ada sedikit bumbu misteri di dalamnya.
Jika memang merasa hal itu nggak sinkron, maka kembali lagi pada kemampuan penulis yang belum memadai. Jadi mohon maklumi! Aku akan berusaha lebih keras lagi.
__ADS_1
Terimakasih....