[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana

[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana
#Arc 2 Misi Setelah Reinkarnasi 92-Tiba di Pulau Mengapung


__ADS_3

Liana memandang takjub pada keajaiban di depan sana. Itu benar-benar sebuah pulau yang mengapung, dikelilingi oleh lautan awan yang nampak megah. Dan sekarang dia benar-benar merasa seperti berada di dunia dongeng, perpaduan antara merah dari daun pepohonan musim gugur, awan yang putih dan air yang terjun dari pulau menambah kefantasian, terlihat sungguh menakjubkan.


Meski begitu, wajah yang di tampilkannya masih setenang air danau di bawah sana. Benar, di bawah pulau masih terdapat danau yang besar dan airnya nampak biru, membuktikan betapa dalamnya itu.


Tidak seperti Liana, dua saidarinya saat ini bertingkah seperti mereka telah menemukan harta karun yang langka, yah walau sebenarnya pulau mengapung itu memang cocok di katakan sebagai harta karun yang langka. Dalam sepuluh Li*, Liana bahkan dapat merasakan fluktuasi energi spiritual Qi yang kaya, meskipun tidak sekaya di dalam ruang dimensi sayap kembar miliknya. Tapi jika dihitung dengan tempat-tempat biasa, itu masih jauh lebih baik.


Note: Li adalah satuan jarak. 1 Li\=500 meter.


Dan juga, ada banyak hal baik yang bisa di temukan di dalam pulau. Hanya saja, tidak ada yang tahu mengapa sebuah pulau yang sebesar tiga kota besar ini melayang di udara. Tidak ada yang tahu alasannya, karena pertama kali ditemukan memang sudah seperti itu keadaannya. Tapi konon, dikatakan bahwa pulau mengapung ini ada karena kenaikan seseorang menjadi dewa. Tentu saja, karena setiap seseorang naik, akan ada fenomena besar di alam semesta. Tapi benar atau tidaknya tentang pulau itu, tidak ada yang tahu pasti. Lagip pula, itu sudah terjadi ribuan tahun lalu. Tidak ada yang ingat pastinya tragedy seperti itu.


“Nah, kita sudah sampai. Baiklah para adik junior, aku mengucapkan selamat datang di kota Yilongfei, atau aku bisa menyambut kalian langsung ke akademi?”


Setelah bergaul beberapa hari dengan Luo Xing, Liana menjadi tahu jika pemuda itu memiliki kepribadian yang agak eksentrik dan juga narsis. Tapi entah mengapa adik-adiknya bisa menjadi begitu dekat dengan orang seperti itu, apalagi Yuxia.


Liana lama memperhatikan jika mata adik perempuan bungsunya ini selalu menatap Luo Xing dengan mata yang berbinar. Liana tidak bisa mengartikan pandangan seperti itu, tapi dia masih merasa seperti dia telah kehilangan suatu benda kesukaan yang malah diakui oleh tetangganya. Atau dia bisa mengartikannya dengan hal lain seperti, dia yang mengerjakan sebuah misi, dan saat misi berhasil di selesaikan tapi atasannya lah yang mendapat hadiah. Itu tidak nyaman, namun dia hanya bisa melihat tapi tidak dapat mengomentari keluhan.


Baik! Mari sekali lagi salahkan Liana yang tidak tahu apa itu cinta. Adiknya tengah mengalami kasmaran tapi dia membandingkannya dengan kehilangan benda dan hadiah. Yah, lagi pula itu hanya perbandingan, jangan pikirkan lebih lanjut (bahkan aku yang tengah menulis ini merasa agak malu -_-\\ ).


Yah, meski pun dia tidak begitu dekat dengan adik-adiknya, tapi mereka masih adiknya, bukan? Darah selalu lebih kental dari pada air.


Ah ya, pulau mengapung itu juga sebenarnya dalah sebuah kota. Kota Yilongfei, dan nama akdemi sebenarnya juga diambil dari nama kota ini.


Setelah beberapa saat, rombongan itu mendarat di depan gerbang kota. Tidak hanya mereka, banyak rombongan lain yang sudah datang mengantri untuk pemeriksaan.


Sebenarnya kota Yilongfei selalu dikelilingi oleh array pembatas sepanjang tahun, hanya saat waktu penerimaan tiga kali setahun, array ini di buka untuk umum, setiap awal sampai pertengahan musim gugur.


“Liana! Kau juga datang?” Suara manis tiba-tiba menyapa indra pendengaran Liana. Gadis itu berbalik, begitu juga dnegan Wuxian. Mereka baru saja turun dari derek.

__ADS_1


Saat melihat seorang gadis riang berjalan cepat ke arahnya, Liana segera tersenyum hangat. Tapi dia tidak melupakan etiket, menyapa gadis itu dengan hormat. “Putri Ke-enam.” Yah, gadis itu tak lain adalah Wei Lanhua.


Yang lain juga menyapa dengan hormat saat mendengar panggilan Liana pada Lanhua. Lanhua cemberut karena tindakan formal sahabatnya dan dia mengabaikan sapaan orang lain padanya, hanya semakin mendekat dan mengambil tangan Liana.


“Kau selalu saja seperti ini, meski pun aku berulang kali memberitahumu. Sangat menyebalkan!”


Liana hanya tersenyum lagi sebagai balasan.


“Khem!” Suara dekheman dari samping Liana membuyarkan keharmonisan antara dua gadis itu.


Lanhua terkejut, dia tadi tidak memperhatikan orang di samping Liana dan hanya fokus pada sahabatnya itu. “Ah, kakak ke-tiga, sa- salam!” Dia sangat gugup dan merasa bersalah.


Menunggu seseorang untuk memarahi dirinya, tapi hanya suara dengungan ringan yang keluar dari Wuxian. Dia tidak mau repot-repot menegur atau memperbaiki sikap Lanhua. Sebab beberapa orang di belakang gadis itu sudah mengawasinya sedari awal.


Liana juga memperhatikan orang-orang itu, dua lelaki muda yang hanya berbeda satu atau dua tahun dari dirinya. Liana mengenal keduanya sebagai pangeran Ke-empat dan Ke-lima—Wei Mufeng dan Wei Wujing.


Wuxian mengangguk dan sekali lagi Liana juga menyapa kedua Pangeran dengan salam hormat diikuti dengan yang lain di dekatnya.


Suasana di tempat itu berubah menjadi sedikit canggung karena pertukaran formal diantara mereka.


Seperti yang diketahui, keberadaan Wuxian dan keunggulannya sudah diketahui oleh seluruh anggota keluarga kekaisaran. Sebab itulah Pangeran ke-empat dan ke-lima nampak berhati-hati dengannya.


Liana memperhatikan, dua pangeran muda itu juga sepertinya agak takut dengan Wuxian. Apa yang dilakukan Xian Gege ini hingga membuat adik-adiknya begitu takut padanya? Liana tidak mengerti tapi juga sebenarnya tidak ingin begitu tahu. Jika Wei Wuxian ingin memberitahunya, dia pasti akan memberitahunya, suatu saat.


“Salam para Yang Mulia, Tuan Muda dan Nona Muda.” Sampai suara seseorang membangunkan Liana dari pikiran acaknya.


Terlihat seperti seorang penatua yang sebenarnya masih terbilang cukup muda. Tapi Liana tahu penampilannya tidak akan sesuai dengan umur asli orang itu. Penatua itu menyambut rombongan mereka dengan hormat karena kebetulan juga para Pangeran dan Putri berkumpul bersama mereka.

__ADS_1


Memang sedari tadi kelompok Liana sudah menjadi pusat perhatian di tempat antrian. Membuatnya sedikit tidak nyaman tapi dia masih bersikap acuh dengan itu.


“Ah, Tetua Li!” Akhirnya suara Luo Xing yang pertama kali terdengar di kelompok itu, menyamput sang penatua.


Liana sendiri hanya sedikit menganggukkan kepalanya dengan tangan mengepal di atas dada sama seperti yang lainnya. Kecuali para pangeran dan putri yang menyambut dengan cara paling biasa dan sederhana sebab status mereka yang lebih tinggi dari lainnya.


Tetua Li memandang wajah satu per satu orang-orang ini, dan dia mengenali Luo Xing. “Luo Xing, gurumu sedang mencarimu, kau sudah terlambat beberapa hari. Dan sekarang dia tidak terlihat begitu baik.”


Mata Luo Xing membulat menunjukkan rasa takut. “Sial! Aku melupakannya. Si tua pemarah itu pasti akan menghukumku.” Liana yang mendengar perkataan kurang sopan Luo Xing hanya mengernyit. Melihat pemuda itu terburu-buru saat berbicara, “Tuan-tuan dan Nona-nona, aku tidak akan merepotkan kalian lebih lama lagi. Lebih baik, mari kita bertemu lagi di akademi. Dah, sampai jumpa.” Setelahnya, pemuda itu berlari dengan kecepatan tinggi menerobos gerbang dengan tergesa-gesa dan mendapat kritik serta banyak umpatan lainnya.


Liana hanya menggeleng sampai dia mendengar helaan napas seseorang. Liana melihat Yuxia yang tidak melepaskan pandangannya dari arah mana Luo Xing pergi. Dia kembali menggeleng.


Saat itu seorang yang disebut Tetua Li memberitahu mereka untuk tidak perlu mengantri karena rombongan itu kebanyakan adalah murid yang menerima undangan, maka mereka akan diperlakukan lebih khusus. Weiling dan Yuxia, meski pun mereka tidak mendapat undangan, tapi mereka masuk rombongan Liana dan juga ikut mendapat perlakuan khusus tersebut.


Rombongan Liana dipimpin masuk ke dalam kota dengan lancer dan dibawa langsung ke sebuah penginapan terbesar di sana yang sudah disediakan untuk para tamu penting, mereka benar-benar tidak harus ikut antrian yang panjang dan melelahkan. Liana bersyukur.


“Pendaftaran ditutup lusa, untuk hari ini kalian dapat beristirahat terlebih dahulu. Aku hanya bisa mengantar kalian sampai sini, besok akan ada seseorang yang datang menjemput kalian langsung ke akademi untuk pemeriksaan dan ujian sederhana.”


Tetua Li pergi setelah mengucapkan pamit.


Liana, Wuxian dan lainnya masing-masing diberi sebuah kamar inap. Mereka akan beristirahat hari ini, untuk hal-hal lainnya, lebih baik dilakukan besok. Perjalanan yang panjang sangat melelahkan.


Oh ya, para pelayan dan penjaga, tugas mereka hanyalah melayani dan menjaga mereka di sepanjang perjalanan, tidak ada dari mereka yang akan ikut masuk ke dalam kota. Mereka sudah harus kembali setelah melaksanakan tugas. Sistem hierarki yang sangat tidak adil.


~o0o~


__ADS_1


SELAMAT BERBUKA PUASA....!! >\<


__ADS_2