![[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana](https://asset.asean.biz.id/-reinkarnasi--sayap-takdir--zhu-liana.webp)
Kelompok besar masyarakat itu sudah sampai di bangunan kuil utama yang lebih besar dan lebih megah dari yang lainnya.
Saat pintu berdaun dua setinggi lebih dari sepuluh kaki terbuka, itu mengeluarkan bunyi derit yang tajam dan mungkin karena terlalu berat, tanah di sekitar menjadi ikut bergetar. Namun tak lama, terlihatlah Aula berlantaikan marmer gelap yang mengkilat.
Ruangan itu luas, ada empat tiang besar yang menopang atap. Lalu terdapat sebuah podium yang tidak terlalu tinggi, khusus menjadi tempat untuk orang-orang berdo’a. Ada patung besar di podium dengan bentuk wanita cantik yang memejamkan matanya, memegang daun teratai di satu tangan dan tasbih di tangan lainnya. Sepertinya adalah patung dewi yang dipercayai masyarakat sekitar. Di depan patung juga ada banyak sesajian, dupa dan berbagai hal yang digunakan untuk berdo’a.
Ada dua biksu wanita yang duduk memunggungi semua orang dengan khusuk di depan patung, melantunkan sutra dan do’a-do’a yang tidak diketahui. Satu di depan terlihat lebih tua dan yang di belakangnya lebih muda.
Liana menebak jika yang lebih tua di depan adalah Yang Agung yang dibicarakan karena tingkat kultivasinya sejauh ini adalah yang tertinggi dari semua biarawati di kuil.
Suasana di dalam ruangan menjadi sangat damai meski pun terisi dengan ramainya orang-orang.
Liana memperhatikan jika warga kota yang datang sangat menghormati tempat ini dan juga para biksu biarawati yang tinggal.
Benar-benar seperti pemeluk agama sejati.
Di saat Liana sibuk dengan sekitarnya. Dua biksu wanita telah menyelesaikan sutra. Dan dua lainnya yang menemani semua orang berjalan ke arah mereka, membisikkan sesuatu pada Biksu wanita yang disebut sebagai Yang Agung.
Tidak ada yang tahu apa yang mereka bicarakan, tetapi setelah itu satu persatu orang-orang dipersilahkan maju mendekati patung sang dewi.
Semuanya mulai bergiliran menyerahkan sesajian dan koin di depan altar, lalu para biksu wanita akan memberikan mereka tiga batang dupa yang belum dibakar.
Membakar dupa dan mulai bersujud tiga kali setelahnya orang-orang akan berdo’a, mengharapkan supaya keinginan mereka dikabulkan oleh sang dewi.
Liana hanya memperhatikan kegiatan itu dan memasukan beberapa koin emas untuk derma ke dalam mangkuk yang telah disediakan. Dia tidak mengikuti yang lain untuk menyambah pada patung dewi karena memang dia tidak pernah mempercayai hal-hal seperti ini. Ah, sebenarnya bukanya dia tidak percaya, hanya saja dari dulu dia merasa sangat aneh jika melakukan kegiatan semacam sembahyang kepada dewa-dewi seperti itu.
Ada beberapa orang yang juga berdiri di sebelah Liana yang tidak ikut berdo’a bersama yang lain, mereka semua sibuk merekam segala proses kegiatan persembahan yang menurut mereka menarik. Orang-orang ini adalah turis yang berkunjung ke kota pelabuhan seperti Liana. Banyak dari mereka yang bahkan datang dari benua lain.
Liana sibuk melihat-lihat sampai tidak memperhatikan jika seseorang yang di sebut sebagai Yang Agung itu telah memperhatikan dirinya sejak lama sebelum orang itu berbalik menuju tempat lain dengan dipapah oleh biarawati yang lebih muda. Dan satu lagi, dia bahkan tidak memperhatikan jika sejak memasuki tempat sembahyang Wei Wuxian sudah tidak terlihat di sekitarnya. Dia hanya tahu ketika suara pria itu terdengar di pikirannya yang mengatakan jika dia memiliki sesuatu yang mendesak untuk ditangani.
__ADS_1
Setelah mendapat berita, Liana tidak begitu mengkhawatirkannya karena dia tahu jika Wei Wuxian akan dapat menangani semuanya. Toh, dia sangat kuat. Sementara dia menunggu kembalinya Wei Wuxian, Liana memutuskan untuk terus mengikuti acara yang tengah dilaksanakan.
Sudah satu *shichen berlalu, dan acara berdo’a sudah selesai.
Note: Satu Shichen\=Dua Jam.
Liana tidak tahu kemana semua orang akan di bawa pergi, jadi dia bertanya pada seorang wanita di sebelahnya. “Kita akan di bawa kemana lagi?”
Wanita di sebelah Liana itu terkejut karena gadis yang sedari tadi selalu diam tiba-tiba. Tetapi reaksinya hanya sesaat sebelum dia menjawab, “Um, kita akan menemui Yang agung untuk sebuah ramalan.”
“Ramalan?” Liana sedikit mengangkat alisnya tertarik.
“Benar. Dikatakan jika ramalan dari Yang Agung selalu akurat. Maka dari itu, setiap tahun akan selalu ada orang yang berbondong-bondong datang untuk meminta petuah darinya.” Wanita asing itu menjelaskan dengan antusias.
“Begitukah?” Balasan Liana sederhana.
Dan karena dia lebih lama hidup di dunia modern, dia masih mengikuti idealisme dunia itu. Liana masih tidak dapat sepenuhnya percaya dengan hal-hal mitos seperti ramalan dan takdir. Tetapi karena dia kembali ke dunia ini yang menjadi tanah kelahirannya, Liana mencoba untuk sedikit demi sedikit beradaptasi dengan segalam macam hal yang sebelumnya dia anggap tidak realistis. Sudah berapa lama, dia menjadi lebih terbiasa dengan itu.
Sekarang, mendengar tentang ramalan, dia menjadi penasaran. Meski pun dia memang lebih mempercayai ucapan anggota klannya sendiri, dia masih ingin melihat seberapa mampu orang yang di sebut Yang Agung ini.
Karena sedari pertama memasuki kuil, Liana merasakan aura akrab namun asing di sekitar. Dan dia juga sudah memiliki suatu pikiran di otaknya.
~o0o~
Sementara itu, di sebuah ruangan yang berbeda, ada dua orang yang terpisah oleh sebuah sekat kayu tipis yang memungkinkan seseorang untuk tidak dapat melihat rupa satu sama lain tetapi dapat mendengar suara yang lain dari seberang.
Satu orang berdiri sementara yang lain duduk bersimpuh dengan postur yang lebih rendah dan khusuk.
“Zanzhu Ren Zuxian?” Suara rendah dan dalam yang seolah penuh pengetahuan dan dimakan waktu terdengar dari balik sekat, sedikit teredam dalam tanya.
__ADS_1
“Um.” Jawaban singkat dari arah lainnya.
Keduanya tak lain adalah biksu wanita yang disebut Yang Agung dan Wei Wuxian yang kini rambutnya telah berubah menjadi merah berapi-api, kembali pada penampilan sejatinya.
Tangan pria itu terkait di belakang punggungnya saat dia berdiri dengan postur yang nampak mulia dan bermartabat seperti biasa.
Sedangkan Yang Agung itu kini duduk bersila, kepala sedikit ditundukkan rendah hati, tangannya memegang tasbih yang terbuat dari manik-manik langka. Mungkin dalam hatinya dia terus membaca sutra dan do’a-do’a pada sang dewi yang diyakininya.
Setelah lama keheningan, Yang Agung membuka mulutnya lagi, “Aku telah menjaga hal yang kau titipkan sampai saat ini. Sepertinya pemiliknya memang telah datang.”
“….” Kali ini Wei Wuxian tidak menjawabnya. Biarkan biksuni tua itu melanjutkan ucapannya.
“Gadis itu nampak akrab.”
Wei Wuxian mengerutkan alisnya mendengar itu. Wajahnya menggelap saat dia perlahan mengeluarkan aura membunuh dan haus darah yang tidak diduga, menyelimuti biksuni yang disebut sebagai Yang Agung, membuatnya tersentak hinga sulit bernapas. Bahkan benang yang menyambungkan manik-manik tasbih terputus begitu saja.
“Sebaiknya kau hanya perlu bertindak sebagaimana gelar yang kau dapatkan.” Wei Wuxian berkata dengan setiap kata meningkat juga tekanan yang dia keluarkan.
Tangan Yang Agung itu bergetar dengan kewalahan. Dia tak menyangka ucapan sederhanya dapat menulut kekejaman dari dewa neraka itu.
Ah, benar. Mengapa dia melupakan jika laki-laki di seberang memiliki identitas lain yang tidak dapat dia sentuh?
Mungkin karena sudah berabad-abad lamanya entitas itu muncul sebagai Zanzhu Ren Zuxian di dunia fana, dia melupakan siapa dia yang sebenarnya. Seseorang yang bahkan dapat memerintahkan Yama.
Dia yang hanya seorang utusan dari dewi kekayaan tentunya tidak dapat bahkan untuk memegang ujung kain pakaiannya. “… Aku mengerti.” Suara Yang Agung itu sedikit tercekat saat dia mencoba untuk berbicara mengakui kesalahannya.
Baru saat itulah Wei Wuxian menurunkan tekanannya. Segera dia mengatakan beberapa instruksi selanjutnya, dia menghilang lagi dari tempat itu. Meninggalkan Yang Agung yang kini telah pingsan setelah memuntahkan banyak darah karena organ dalamnya telah terluka akibat tekanan dari aura membunuh dan haus darah dari Wei Wuxian.
~o0o~
__ADS_1