[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana

[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana
65-Kasih Seorang Ayah


__ADS_3

Liana menatap kosong pada ruangan kamarnya yang berantakan. Kursi yang terbalik, cangkir teh beserta tekonya pecah dengan genangan air menetes di meja, lalu dinding kamarnya yang terbuat dari kayu sedikit retak hampir patah, dan terakhir genangan darah membasahi lantai di dekat sana.


Ling sendiri malah menatap Liana sambil mengerutkan keningnya. "Nona?" panggilnya.


"Aku hanya sedikit memberi balasan untuk apa yang dia lakukan di masa lalu," ucap Liana saat dirinya kembali ke tempat tidur. Dia ingin bermalas-malasan hari ini.


Ling? Dia sepertinya mengerti sejauh apa yang sudah terjadi. Jadi ini alasan mengapa wajah Wen Canran begitu ketakutan saat dirinya keluar dari kamar Liana. Tak ingin mencampuri urusan majikannya. Tapi sebenarnya dia juga tidak menyukai Wen Canran.


"Saya akan membersihkannya." Akhirnya dia pamit undur diri untuk mengambil alat bersih-bersih. Dia sendiri yang akan membersihkan kekacauan, tak boleh ada orang lain yang mengetahui perihal apa yang telah dilakukan Nonanya.


Untuk Wen Canran, dengan wajah yang seolah telah melihat hantu, beranikah dia membuka mulut tentang ini? Yah, jika dia memang tak tahu malu, mungkin sekarang sudah mengadu pada Zhu Moran. Tapi apakah dia akan dipercaya? Ah, tentu saja tidak.


Seperti perkiraan Ling. Wanita itu benar-benar datang ke ruang kerja Zhu Moran. Ah, betapa bodohnya.


"Tuanku, Suami. Kau harus memberiku keadilan!" teriaknya pilu saat dirinya bersimpuh dengan lutut terbentur lantai di depan meja kerja Zhu Moran.


Zhu Moran yang tadinya tengah memeriksa berkas-berkas pekerjaannya sedikit memijat pangkal hidung karena pusing, terkejut dengan apa yang dilakukan Wen Canran.


Kali ini apalagi masalahnya? Dia tahu, masalah ini tak akan pernah jauh-jauh dari Liana. Tapi apa yang membuatnya terkejut adalah perkataan Wen Canran selanjutnya.


"Suami, Nona Muda Ke-dua ... dia telah menganiaya wanita ini. Mohon beri keadilan!"


Zhu Moran menghela napas sebagai pengusir kekesalannya. "Ceritakan!" titahnya dengan enggan.


Wen Canran sendiri tersenyum tipis penuh arti, merasa dirinya telah menang karena dia pikir Zhu Moran kali ini mendukung dirinya.


Dia tak tahu saja jika saat ini Zhu Moran mapah melihatnya sebagai orang konyol. Bahkan laki-laki memandangnya hanya sekilas lalu mengernyit dan akhirnya membuang muka sambil mendengus.


Tentunya Wen Canran tak memperhatikan karena sibuk memikirkan kata-kata yang baik untuk menjatuhkan Liana.


"Suami, tadinya aku datang untuk membawa beberapa herbal untuk Nona Muda karena mendengar kesehatannya agak terganggu." Sampai disini, Zhu Moran juga tersentak. Karena terlalu sibuk dan pusing dengan pekerjaan, dia lupa untuk melihat kondisi puterinya itu.


Hanya saja, lagi-lagi Wen Canran tak memperhatikan sedikit gerakan Zhu Moran, tapi dia malah sibuk melanjutkan bualannya yang tentunya sebagian besar adalah kebohongan.


"Lalu ... lalu." Dia pandai untuk berpura-pura terlihat menyedihkan. "Nona Muda, dia marah-marah dan memukul diriku karena tidak puas dengan herbal yang aku bawakan."


Zhu Moran tidak mendengar lagi apa yang wanita itu ucapkan. Dia malah langsung berdiri, bergegas keluar dari ruang kerjanya untuk menghampiri kediaman Liana.


Tindakannya membuat Wen Canran berpikir jika Zhu Moran tengah marah saat ini. Dia dengan senyuman mengembang juga keluar mengikuti Zhu Moran sambil berakting lebih banyak.


"Suami, aku tahu kau marah. Tapi tidak perlu sampai semarah ini. Bagaimana pun juga, Nona Muda adalah putrimu. Dan dia masih sakit sekarang," ucapnya penuh omong kosong.


Zhu Moran menghentikan langkahnya, lalu berbalik. "Kembali ke kediamanmu!" tegasnya membuat Wen Canran agak kaget.

__ADS_1


Tapi wanita itu masih pada pikirannya, dia mengangguk lemah. "Suami, tenangkan dirimu." Dan tidak lupa berpura-pura menjadi wanita bijak.


Zhu Moran tak lagi memperdulikan apa yang dia katakan. Pria paruh baya itu kembali bergegas. "Cepat panggilkan tabib untuk memeriksa putriku!" titahnya saat dia melihat seorang pelayan hendak menghampiri dirinya untuk memberi salam.


Pelayan itu tersentak, tapi mungkin karena dia pekerja lama di Manor, dia cepat mengerti, segera melaksanakan perintah Zhu Moran.


Jarak antara kediaman Liana dan Zhu Moran memang tidak begitu jauh. Jadi pria itu juga cepat sampai.


Tanpa memperdulikan penghormatan dari penjaga gerbang dan para pelayan yang berlalu lalang, Zhu Moran hanya ingin segera melihat putrinya yang malang. Haih.


Dia membuka pintu kamar Liana dengan keras, mengejutkan penghuni yang bersantai di dalamnya. "Li'er?!" panggilnya setengah berteriak.


Liana yang hendak memejamkan matanya menoleh terkejut pada Zhu Moran yang wajahnya terlihat begitu khawatir.


"Ayah mengagetkan diriku," ucapnya sambil berdiri menghampiri Zhu Moran. "Ling, bawakan air untuk Tuan." Dia sedikit kasihan melihat pria paruh baya itu yabg kelelahan. Mungkin Ayahnya telah berlari sampai kesini, memikirkan itu membuat Liana menghela napas kemudian terkekeh.


Ling sendiri segera memberikan air yang ia ambil untuk Zhu Moran, pria itu segera menyambar gelas besi dan menegak habis isinya.


"Ayah, pelan-pelan," ucap Liana sambil mengelus punggung tua Ayahnya. Kenapa bisa pria ini bersikap begitu ceroboh? Sekarang dia malah terbatuk.


Sambil terus mengusap punggung Ayahnya, Liana kembali menghela napas. Kebiasaan buruk!


Setelah agak tenang, Zhu Moran duduk di kursi dengan Liana di sampingnya. "Bagaimana keadaanmu?" Baik, pertanyaan inilah yang ingin dia utarakan dari tadi.


"Aku ... sepertinya sudah baik-baik saja," jawab Liana saat senyumannya mengembang menatap pria paruh baya yang menjadi Ayahnya itu. Dia selalu merasa hangat jika mendapat perhatian darinya.


"Aku mengerti." Tentu saja Liana mengerti, Ayahnya ini adalah seorang Perdana Menteri. Menjabat sebagai orang penting setelah Kaisar, tentu saja pekerjaannya sangat banyak dan melelahkan. Begitu sibuk hingga Liana hanya dapat melihatnya dengan prihatin. "Ayah sudah bekerja keras."


Zhu Moran mengusap kepala Liana penuh kasih. Dia bersyukur memiliki seorang putri yang bijak dan pengertian. Tapi di sisi lain, dia juga merasa sedih karena putrinya ini akan lebih cepat meninggalkan sisinya dan tinggal bersama suaminya.


Ah, jika Liana tahu apa yang dipikirkan Zhu Moran, mungkin dia tak akan dapat mengucapkan kata-kata lagi.


"Putri Ayah sudah dewasa," ucap Zhu Moran dengan wajah sendunya. Liana sendiri mengernyit dengan ucapan yang mengandung kesedihan itu, tapi dia hanya diam. Sampai ....


"Tuan Besar, Nona. Dia luar ada tabib yang datang untuk memeriksa," ucap Ling.


Gadis pelayan itu sebenarnya dari tadi menyimak interaksi pasangan Ayah dan Anak Zhu itu. Hanya saja saat Liana dsn Zhu Moran asik mengobrol, salah satu penjaga gerbang Paviliun datang memberi kabar kedatangan seorang tabib.


Liana menatap Zhu Moran, tapi pria itu tak memperhatikan dan malah berkata pada Ling, "Persilahkan masuk."


"Baik." Ling mengangguk dan segera melaksanakan tugas.


"Ayah, aku sudah baik-baik saja sekarang. Kenapa kau repot mendatangkan tabib?"

__ADS_1


"Untuk memeriksa, tak ada salahnya, bukan?" Balasan Zhu Moran membuat Liana bungkam. Tapi pria paruh baya itu melanjutkan dengan pertanyaan lain. "Apa benar dirimu telah memukul Wen Canran?" tanyanya serius, tadinya dia hampir melupakan hal ini.


Liana sendiri malah terkekeh. "Apa Ayah akan menghukum diriku?" Pertanyaan ini seperti konfirmasi akan kebenaran itu.


Zhu Moran menghela napasnya. Dia sebenarnya agak terkejut, tapi keterkejutan itu segera menghilang. "Putriku adalah gadis yang bijak, kau pasti memiliki alasan untuk melakukan itu." Pada akhirnya dia berucap.


Liana tersenyum lega. Sebenarnya tadi dia agak takut jika Zhu Moran marah. Akan tetapi dia tak tahu jika kasih sayang sang Ayah begitu besar padanya. Dia bersyukur dalam hati karena memiliki pendukung yang sangat tulus seperti Zhu Moran. Di masa depan, dia tak akan takut lagi untuk membalas musuhnya.


"Apa Ayah tak ingin menanyakan alasannya?" Liana bertanya.


"Apa kau akan memberitahu Ayah?" balas Zhu Moran juga dengan tanya.


Liana tertawa kecil kemudian menjawab, "Tidak."


Dan hal itu membuat Zhu Moran mendengus. "Sudah ku duga," ucapnya yang kemudian dilanjutkan dengan tawa.


Liana juga ikut tertawa. "Aku menyayangi Ayah." Tawanya berhenti dengan ucapan itu, dia memeluk Zhu Moran.


Sang Ayah juga tertegun, tapi membalas pelukan Liana. "Ayah juga menyayangimu."


~o0o~


"Bagaimana keadaanya?" tanya Zhu Moran kepada Tabib yang baru saja memeriksa keadaan Liana.


Tabib itu terlihat masih muda, mungkin usianya berkisar 30-an. Dikatakan jika dia adalah seorang jenius di bidang pengobatan. Dikenal sebagai Tabib Han.


Akan tetapi dia sekarang menghela napasnya kemudian memasang wajah rumit. Dia memandang kembali kamar gadis yang ia periksa, kini sudah kembali tertutup rapat.


"Tabib Han?" panggil Zhu Moran.


"Ah, Tuan Perdana Menteri. Bisakah kita berbicara di tempat yang lebih sepi?"


Pertanyaan sang Tabib muda tentunya membuat bingung Zhu Moran. Tapi dia mengangguk segera dan mempersilahkan Tabib Han untuk mengikuti dirinya.


Mereka sampai di tempat yang lumayan sepi. Sebuah gazebo di tengah kolam teratai. "Silahkan!" Zhu Moran menyuruh Tabib Han untuk duduk lebih dulu karena dia adalah tamu.


Tabib Han sendiri sebenarnya tengah berpikir betapa sungkannya sang Perdana Menteri. Dia kagum dengan kerendahan hati pejabat penting itu. Jarang ada yang seperti dirinya di kalangan para bangsawan.


"Terimakasih." Jadi sebagai balasan, Tabib Muda itu membungkuk hormat padanya. Dia jarang melakukan hal ini, apalagi kepada bangsawan. Dia tidak terlalu menyukai kalangan mereka yang terkenal angkuh. Akan tetapi di depan Zhu Moran, dia menunjukkan ketulusannya.


"Bagaimana? Ada apa dengan tubuh putriku?" tanyanya lagi.


Hmm, seorang Ayah yang penyayang. Begitulah pikir Tabib Han.

__ADS_1


~o0o~


Ahem! Yang mau gabung grup Chat Author... yok dah... silahkan ramaikan....


__ADS_2