![[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana](https://asset.asean.biz.id/-reinkarnasi--sayap-takdir--zhu-liana.webp)
Ah ya, Liana sekarang sudah berada di puncak Bukit Awan saat ini.
Sepanjang perjalanan dia tak menemui masalah berarti, sebab itu hanya beberapa jam dari semalam dia telah mencapai tempat tertinggi dan mendapati danau kecil di atas. Lalu dia memutuskan untuk memancing hingga terjadilah seperti sekarang ini.
Makan ikan bakar di hari yang cerah ditemani makhluk-makhluk putih yang berbeda spesies dengannya.
Dan setelah makan, dia memutuskan untuk bersantai bersama Shiro dan dua teman barunya itu.
"Pantas saja mereka menyadari keberadaanku," ucap Liana memandang kedua beruang albino yang juga duduk tenang di sampingnya. "Induknya sudah berada di level dua belas, mungkin sebentar lagi akan menerobos ke tingkat Binatang Suci," lanjutnya memuji insting binatang berbulu putih itu. Setelahnya dia kembali menatap danau di depan sana.
Sebenarnya alasan mengapa perjalanan Liana begitu lancar sampai ke puncak bukit karena dia telah menekan auranya dan membaur dengan alam, sehingga para binatang ajaib dengan level rendah atau manusia lain tidak menyadari keberadaannya. Mungkin sepertinya kondisi ini sama dengan Wei Wuxian, hanya saja pemuda itu sudah memiliki kondisi tersebut dari lahir, dan Liana memang sengaja menyamarkan dirinya.
Yah, jangan lupakan jika seorang Liana dapat mengendalikan semua elemen berkat dantiannya yang unik meski tak memilki akar roh sekalipun. Dantian Sunyi! Jadi membaur dengan alam sangat mudah baginya.
"Kita sekarang akan melakukan apa?" tanyanya tiba-tiba, karena merasa begitu bosan seharian tidak melakukan apa-apa selain memancing dan membakar ikan.
Hah, sejak kembali ke dunia ini, kenapa dia menjadi lebih sering bermalas-malasan. Liana merindukan misinya.
Mau berburu, dia sudah tak ingin karena membunuh yang tidak mengganggunya bukanlah hobi Liana. Jiwa militer dalam dirinya yang menjunjung keadilan dan nilai patriotisme itulah yang membuat Liana memiliki rasa welas meski sedikit. Apalagi para binatang ajaib itu memang tidak mengusik orang jika tidak diganggu. Mungkin lain jika para binatang ajaib yang berada di level rendah, tapi jika sudah memasuki binatang level sepuluh, kebanyakan dari mereka akan memilih untuk mengurung diri untuk mempercepat kultivasi.
Hah, tapi karena kebiasaan itulah yang membuat mereka kadang menjadi buruan manusia untuk dijadikan makhluk kontrak. Karena pada level itu mereka sudah memilki pikiran layaknya manusia, hanya saja belum dapat berbicara.
Kembali kepada Liana yang kini sudah ke sekian kalinya membuang napas lelah.
"Shiro ...." Tepat saat ia ingin mengutarakan keluhan lagi pada makhluk kontraknya itu, sesuatu yang terasa begitu dingin menguar di puncak bukit, tepatnya dari arah anak danau.
Tak nyaman! Liana refleks menoleh pada sumber ketidaknyamanan itu dengan alis tertaut dan mata menajam.
__ADS_1
"Apa itu?" Liana bersiaga di tempat dengan matanya yang semakin fokus pads sesuatu yabg akan muncul ke permukaan air. Aura itu semakin menukik dan mendingin, ada juga perasaan kejam yang Liana rasakan.
Bola matanya membesar melihat penampakan makhluk yang terlihat begitu menyeramkan. Bukan hanya satu, tapi sangat banyak.
Makhluk menyeramkan itu terus berbondong-bondong saling mendorong ke atas membentuk gunungan.
"Zombie!" seru Liana dengan nada yang sangat dingin. " Kenapa bisa ada Zombie di dunia ini?" Alisnya semakin tertaut karena tidak mengerti hal yang sekarang di lihatnya.
Tapi gerombolan makhluk menyeramkan sekaligus menjijikkan itu benar-benar Zombie alias mayat hidup. Atau nama lain mereka adalah Undead!
Shiro yang juga di belakang Liana menjadi waspada. Dia juga tahu makhluk apa itu, bagi penduduk dunia ini, maka merekalah monster yang tinggal di pulau terbuang.
"Hati-hati, Tuan. Mereka adalah Monster dari pulau terbuang." Dia memperingati Liana.
Liana menoleh pada Shiro yang berada di belakangnya. "Bagaimana bisa makhluk itu berada di sini?" tanya Liana sedikit curiga akan beberapa hal.
Saat Liana berpikir, para Zombie itu hampir mencapai daratan. Dia dengan sedikit tersentak langsung menyerang dengan api yang tentunya transparan pada Zombie-zombie yang berusaha naik.
Liana kemudian melirik belakang lagi memastikan kondisi keluarga beruang. Mereka berada di sudut sana dengan induk yang berekspresi garang mencakar para Zombie juga anak beruang yang membantu ibunya meski hanya memberi semangat, itu yang dilihat Liana karena sang anak beruang hanya mengikuti tindakan ibunya yang memasang wajah ganas.
Sedangkan Shiro juga sibuk menyerang dengan elemen angin yang dia miliki. Membasmi para Zombie yang seolah tiada habisnya.
"Apa yang terjadi?" gumam Liana sedikit kesal karena Zombie-zombie itu bukannya berkurang setelah diserang tapi malah semakin banyak yang muncul.
"Kita tak bisa membiarkan mereka menuruni bukit dan menggangu peserta lain. Apa kau punya rencana?" tanya Liana pada Shiro. Dia menggeratkan giginya kesal. Kalau terus seperti ini, Qi nya akan cepat terkuras habis. Mereka harus mendapatkan bantuan segera untuk mengurung dan kalau bisa memusnahkan semua makhluk menjijikkan ini.
"Tuan, aku akan menahan mereka disini selagi Tuan mencari bantuan."
__ADS_1
Liana tersentak! Dia memandang Shiro yang masih fokus pada serangannya. Liana tahu jika Shiro itu kuat, tapi makhluk-makhluk ini sangat susah ditangani dengan jumlah mereka yang terus bertambah banyak. Bahkan sekarang ada yang sudah naik ke daratan.
Dan juga, Shiro tak dapat menggunakan kekuatan penuhnya untuk saat ini karena masih tersegel dalam dimensi. Segel itu hanya terbuka seiring dengan bertambah kuatnya Liana karena dialah pemilik dari sang Pegasus yang agung. Liana menyesal karena tidak berlatih lebih keras, tapi mau bagaimana lagi, jika dia memaksakan diri maka itu tidak akan baik bagi dirinya dan pelatihannya nanti akan kacau dan bisa jadi dia tidak akan visa meningkat ke tahap yang lebih tinggi.
Liana hanya bisa mengepalkan tangannya kesal tapi dia segera menenangkan diri. "Apa kau yakin?" tanya Liana memastikan sekali lagi sebelum membuat keputusan.
Shiro mengangguk. "Jika ini berlangsung lebih lama, mereka akan membuat kekacauan yang lebih mengerikan."
Liana menghirup udara yang lebih banyak dan menghembuskannya dengan kasar. "Baik, ku serahkan padamu dan juga keluarga beruang. Kalian bertahanlah sampai aku datang membawa bantuan."
Tanpa menunggu jawaban makhluk lain jenis namun sama-sama berwarna putih itu, Liana segera melesat melesat meninggalkan puncak bukit dengan kecepatan luar biasa karena dia juga mengandalkan elemen angin untuk membawanya ikut berhembus ke tempat tujuan.
Dan yaah, tidak butuh waktu yang begitu lama, dia telah sampai pada perkemahan. Tempat dimana para pengamat muncul.
Liana dapat melihat disana beberapa orang memiliki raut wajah bingung dan heran sambil mengamati puncak bukit.
Tapi Liana tak perduli, dia segera mencari Zhu Moran. Beruntungnya pria paruh baya yang menjadi ayahnya itu juga tengah berdiskusi dengan Kaisar di dalam tenda terbuka.
"Ayah!" Liana segera berteriak menerobos ke tempat itu. Persetan dengan sopan santun, sekarang keadaan tengah kacau, dia tak perduli lagi. Keselamatan banyak orang tengah dipertaruhkan disini.
Zhu Moran beserta Kaisar juga beberapa pejabat dan menteri lainnya menoleh pada seorang gadis dengan penampilan kacau yang mengganggu rapat mereka.
"Li'er ...!"
~o0o~
Cara balikin Mood versi kalian dong! Mau tau aku....
__ADS_1