![[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana](https://asset.asean.biz.id/-reinkarnasi--sayap-takdir--zhu-liana.webp)
Namun setelah itu, sudut mulut Liana berkedut mendengar ucapan Wuxian. Dia dengan kejam mendorong wajah sang Pangeran menjauh darinya. Tapi masih dengan cara yang lebih lembut tentunya.
Melalui tatapan datar, Liana berkata, "Kau sama sekali tidak cocok melakukan hal seperti ini di depanku."
Bukannya kesal atau marah, Wuxian malah tertawa cukup keras. "Aku tahu Li'er tak akan mudah di goda," ucapnya setelah itu ditemani beberapa tawa kecil yang masih tersisa.
"Kau tahu tapi kau masih melakukannya. Hentikan itu."
"Baik, baik. Tidak akan lagi, tidak akan lagi."
Entah perasaan Liana atau apa? Semakin lama dia memperhatikan Wuxian, semakin konyol tingkah pemuda itu. Dia bahkan sekarang seperti lebah genit yang mencoba untuk merayu bunga. Tapi itu bukan berarti Liana menjadi tak nyaman, dia malah merasa lebih dan lebih akrab dengan Wuxian.
"Ge, apa menurutmu ibuku masih hidup?" Kali ini suasana tempat itu berubah sedikit. Menjadi lebih hening dan sepi.
Wuxian diam sebentar, dia tidak tertegun atau kaget mendengar pertanyaan Liana. Dia tahu jika gadis itu secara pribadi menemuinya karena suatu hal yang penting untuk dibicarakan. Tapi Wuxian juga merasa sedikit kecewa dengan fakta itu. Li'er-nya hanya ingin bertemu jika ada sesuatu yang penting. Itu membuatnya sedikit ... sakit.
Haah~
"Bibi Xiening adalah orang yang tangguh. Dia tidak akan mati semudah itu," jawabnya.
"Benarkah? Apa ini juga bagian dari kutukannya?" tanya Liana lagi dengan suara yang lebih pelan.
Wuxian melihat kesedihan dalam mata gadis itu. Dan dia tidak bisa untuk tidak merasa bersalah. Bagaimana pun, kutukan pada Wei Xiening diberikan olehnya--dia ... sang Zanzhu Ren Zuxian.
Tapi mau bagaimana lagi? Itu adalah ketentuan takdir yang bahkan tidak dapat dia patahkan. Hanya gadis di sampingnya ini lah yang mampu melihat dan mematahkan dao surga, dia dapat mengubah nasib buruk orang-orang di sekitarnya. Tapi itu masih jauh, perjalanan Liana masih panjang.
Dia sendiri ingin mengatakan banyak hal. Hanya saja dia tak bisa mengatakan hal-hal yang melanggar hukum surga. Atau sesuatu yang tak diinginkan akan terjadi.
Satu hal yang pasti untuknya. Dia terlahir untuk gadis ini, hidup untuk gadis ini, dan mati untuk gadis ini. Dia ada untuk sang Pemilik Sayap Takdir. Bagaimana pun dia terikat dengan gadis ini, selamanya atau mungkin lebih dari selamanya.
Hanya saja Liana belum mengetahui hal itu. Banyak warna hitam yang menyembunyikannya rahasia dibaliknya. Banyak yang belum dia ketahui. Dan yang tidak bisa dia lihat, semuanya masih tergembok dengan sangat rapat. Menunggu waktu untuk dibuka. Entah kapan?
Pembicaraan di antara mereka terhenti untuk beberapa waktu. Keduanya hanya menikmati angin yang bertiup di taman di siang hari.
Selalu seperti ini. Hening tapi harmonisasi antara Liana dan Wuxian tidak pernah berubah. Suasana di antara keduanya selalu hangat ketika bersama. Membuat satu sama lain dalam kenyamanan. Mungkin karena mereka telah terikat dengan benang takdir. Bahkan perselisihan kecil jarang terjadi pada mereka. Meski pun terkadang pihak Liana yang lebih sering menggerutu karena kesal.
Hari ini Wuxian menggunakan pakaian berwarna cokelat dengan jubah biru tua sebagai luaran. Dia terlihat lebih dewasa. Rambutnya yang setengah digerai dan sedikit helaian yang hanya diikat bawah dengan pita berwarna hitam, tertiup oleh angin saat matanya juga terpejam menikmati rasa nyaman yang hangat sekaligus sejuk bersama Liana.
Saat dirinya tersenyum, dia berkata dengan nada lembut dan pelan. "Mungkin beberapa jawaban yang ingin kau tanyakan akan kau dapatkan setelah sampai di Yilongfei beberapa hari lagi."
Liana menoleh, Wuxian selalu tahu apa yang dia pikirkan. Jadi Liana mengangguk. "Apa kau juga akan pergi?" tanyanya memastikan.
__ADS_1
Sebagai seorang pangeran, Wuxian secara alami juga merupakan siswa di Akademi Kekaisaran tersebut.
"Sejak awal aku tidak pernah pergi ke sana."
"Kenapa?" Saat Liana bertanya, dia segera menyesali pertanyaannya.
Tentu saja dia tahu, Wuxian ... dengan segala rumor yang beredar untuk menutupi tentang dirinya yang sebenarnya, apakah dia masih akan pergi keluar?
Dia tidak tahu apa tujuan pemuda itu menyembunyikan keterampilannya dan berpura-pura tak terlihat, bersembunyi dalam kegelapan seperti bayangan. Hanya saja apa pun itu, Liana percaya padanya. Hal yang pemuda itu lakukan pasti telah dia pikirkan, dan itu pasti membawa sesuatu yang baik. Entah itu untuknya atau pun untuk orang lain.
Tapi lagi-lagi, Wuxian tahu apa yang dipikirkan gadis itu. Dia menjawab, "Tidak apa-apa. Aku hanya menunggu Li'er untuk pergi bersama." Dan dia tersenyum.
Sekejab Liana terpana melihat senyuman pemuda itu, tapi saat dia melihat kilatan geli pada mata Wuxian, sudut bibirnya langsung berkedut beberapa kali, kemudian mendengus sambil memalingkan wajahnya. Pemuda ini menggodanya lagi.
"Kenapa bukan aku saja yang bisa membaca pikiranmu?" tanya Liana sedikit kesal, sedikit iri juga.
Yah, rasanya menyebalkan juga jika ada seseorang yang tahu jelas apa yang kau pikirkan. Ugh! Tambahan, itu menjengkelkan sampai-sampai kau bisa tertawa saat marah. Meski begitu, ujung daun telinga Liana tetap memerah. Digoda sekali memang tak mempan. Tapi jika melihat senyum itu beberapa kali, dia pasti akan sedikit goyah. Akh! Dan perasaan seperti ini juga menyebalkan. Liana bersusah payah untuk tidak memikirkan apa pun. Takut akan semakin di tertawakan oleh Wuxian.
Melihat tingkah kekanak-kanakkan Liana yang jarang, Wuxian semakin menaikkan sudut bibirnya hingga matanya pun melengkung seperti bulan sabit. Hatinya selalu tergerak saat bersama gadis di sampingnya ini.
"Mau aku ajarkan?" tanyanya ingin menjerumuskan, dan pikirannya sekarang sedikit memiliki kelicikan.
Namun Liana memang tergerak. Meskipun tampangnya cukup dingin, dia tetap menoleh. "Apa?" Dan nada suaranya juga ketus saat bertanya.
Oh, itu mungkin karena jiwa sang Pangeran dengan miliknya telah menyatu dengan sempurna. Terjadi beberapa hari yang lalu. Jika kedua jiwa kembar itu menyatu, maka kepribadian mereka juga akan tergabung.
Mungkin itu sebabnya, sang Zanzhu Ren Zuxian yang pendiam dan dewasa dengan Wei Wuxian yang juga cukup pendiam tapi kadang-kadang bertingkah kekanakkan juga cukup enerjik. Kedua gabungan jiwa itu melahirkan sosok Wei Wuxian atau Zanzhu Ren Zuxian yang sekarang. Ugh! Cukup sulit dijelaskan, tapi sepertinya dia cukuo genit. Ffft!
Liana tak tahu, tapi dia memiliki dugaan. Hanya saja malas bertanya. Toh jika Xian gegenya ingin mengatakan hal itu, dia pasti sudah mengatakannya. Menurutnya, apa pun dan bagaimana pun Xian gege, dia tetaplah dia baginya. Liana masih suka bersamanya, baik di masa lalu saat dirinya hidup sebagai Bai Lan Jin maupun masa kini dan juga masa depan. Xian gege tetaplah Xian gege. Perasaan nyaman itu masih sama.
Kembali pada saat ini ... Wuxian masih bertampang serius tapi jari tangannya sudah bergetar lemah. Dia menatap Liana yang juga bertampang serius, sedikit kesal juga penasaran.
"Uhuk, ekhem!" Wuxian terbatuk sekali lalu berdekhem sekali. "Apa kau mau ku ajarkan kemampuan untuk mengetahui pikiran seseorang?" tanyanya setelah itu. Akh! Dia benar-benar ingin tertawa.
Liana mengernyit. "Memang hal seperti itu dapat dipelajari?" Kali ini Liana balik bertanya.
"Tentu saja."
"Benarkah?" Liana masih tak percaya.
"Ya, apa kau mau?"
__ADS_1
Kali ini Liana sedikit tertarik, tapi dia masih terdiam tak bertanya.
Melihat itu, kilatan nakal kembali menyapu mata Wuxian. Hanya sekejab sehingga Liana belum sempat menyadarinya. "Tapi aku memiliki tiga syarat."
Bibir Liana mengerut saat mendengar kata 'syarat'. Entah kenapa dia tiba-tiba memiliki firasat buruk tentang ini. Hanya saja rasa penasarannya lebih mendominasi. Jadi dia bertanya, "Kau masih mengingkan syarat saat mengajari seseorang? Itu tidak tulus."
Wuxian tidak marah. Tapi dia berkata, "Yaah, tidak tulus. Guru yang mengajar di akademi juga bukannya tidak di bayar. Tapi aku hanya mengingkan beberapa hal kecil, Li'er udah menganggapku tidak tulus. Aah, sedihnya." Nadanya terdengar main-main tapi itu masuk akal yang membuat Liana merasa rumit.
Dia tahu pemuda ini pasti telah merencanakan sesuatu, tapi Liana masih berusaha untuk tidak menyarakan pendapat dalam pikirannya.
Saat itu dia kembali mendengar Wuxian berkata, "Aku juga akan mengajarimu bagaimana cara mematahkan kemampuan ini. Setelah itu, aku pasti tidak akan mengetahui apa yang kau pikirkan lagi. Bagaimana? Bukankah aku sangat murah hati?"
Dan Liana semakin goyah. Dia mengepal tangannya lebih erat. "Baik, toh hanya tiga syarat." Selama Wuxian tidak tahu lagi apa yang dia pikirkan, tiga itu sangat sedikit.
Tapi kejengkelan segera mendera dirinya saat mendengar ucapan Wuxian.
"Baiklah, akan ku beri tahu nanti pad waktunya." Pemuda itu masih ingin menggodanya.
Tidak. Liana tidak akan lagi mempercayainya. Tidak akan pernah!
"Wei Wuxian, sejak kapan kau menjadi tidak tahu malu?!" Liana langsung berdiri saat tiba-tiba nadanya yang berubah tinggi. "Kau ... kau ...!" Dia menunjuk pemuda yang menampilkan tatapan polos itu padanya. Membuat Liana tak bisa memarahinya.
Bahunya bergetar karena kesal tapi dia benar-benar tak bisa memarahinya. Ini lebih menyebalkan dari melihat tampang tanpa ekspresi Shiro setiap hari.
"Li'er, kau marah?" Dan pemuda iti sendiri malah terlihat seperti kucing teraniaya saat dirinya mendekat lalu berlutut di depan Liana sambil meraih tangan gadis itu.
Oh ini kekanakkan! Kenapa Liana merasa begitu kesal?
Selama hidupnya sebagai seorang Jenderal Wanita WSA, tidak pernah ada yang berani mempermainkan dirinya. Bahkan saat bayangannya terlihat oleh para bawahan, mereka akan memilih untuk melarikan diri ada meringkuk di sudut tembok supaya tidak ditemukan dengan kepala yang terkulai menunduk tanpa berani memandang satu inci sepatu samg Jenderal Zhu Liana.
Tapi ... tapi ... pemuda ini? "Aakh! Kau tak tahu malu!" Hanya kata tak tahu malu yang bisa dia gunakan untuk mengumpat pemuda itu.
Dia bahkan lupa jika sosok yang ada di depannya ini adalah keberadaan agung--sang Zanzhu Ren Zuxian.
Tapi sesaat kemudian, bola matanya membulat saat merasakan sesuatu yang lembut dan asing menempel di bibirnya. Otak Liana tiba-tiba menjadi kosong. Aroma lembut teratai memenuhi rongga hidungnya. Dan seketika wajahnya menhadi terasa panas.
Apa yang terjadi? Siapa dia? Dimana dia? Apa yang dia lakukan? Pertanyaan bodoh seperti itu memenuhi pikirannya.
~o0o~
Oke yang mau kritik silahkan kritik... aku nggak jago bikin adegan romantis (nggak ada pengalaman sama sekali T~T, maklumin... tolong!)
__ADS_1
Dan juga, alurnya jadi lambat banget yah... soalnya aku lagi bingung nyambung alurnya bakalan begimana....