![[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana](https://asset.asean.biz.id/-reinkarnasi--sayap-takdir--zhu-liana.webp)
Malam tahun baru akhirnya datang, pesta di adakan di istana malam itu. Tapi kediaman Perdana Menteri juga tidak sepi.
Setelah melaporkan apa yang terjadi hari itu kepada sang Ayah, Zhu Moran juga segera pulang dari istana.
Ny. Tua Xie menghilang, dan ada monster yang menyamar menjadi dirinya. Berita ini tidak di sebarkan agar para penduduk ibu kota tidak menjadi panik dengan keberadaan Monster tiba-tiba.
Tapi kabar ini juga disampaikan pada istana lebih awal secara diam-diam.
Kaisar Naga—Wei Wangji, juga segera mengirim tim pencari ke seluruh daerah, kalau-kalau nantinya memang masih ada monster-monster yang bersembunyi.
Dalam semaraknya suasana tahun baru, ada kekacauan di hati orang-orang yang mengetahui bencana yang akan datang.
Hanya saja, mereka hanya mampu menyimpan berita itu untuk diri sendiri. Ini adalah malam tahun baru, hal-hal buruk tidak boleh terjadi, atau itu akan menjadi tabu yang akan meresahkan semua orang.
Sejak siang hari, suasana hati Liana tidak terlalu baik, dia menjadi lebih pendiam. Meski pun di hari-hari biasa dia juga tidak banyak berbicara, tapi Ling tahu jika ada sesuatu yang mengganggu Nona Mudanya.
Liana sering kali linglung sejak pertama kali dia melihatnya sore lalu. Membuat Ling tak tahan melihatnya, dia bertanya, “Nona, apa ada sesuatu yang mengganggu anda?”
Liana tidak menjawab Ling, dia hanya memandangi bayangan mereka berdua yang ada di cermin. Dia bertanya seolah tidak mendengar apa yang baru saja Ling tanyakan, “Ling, menurutmu apakah ada dunia lain selain Tiga Benua yang kita tinggali sekarang?”
Ling tidak tahu mengapa Nona Mudanya menanyakan hal itu, tapi dia masih menjawab hal yang dia ketahui. “Jika Nona bertanya seperti itu … Ah! Saya ingat. Saya dulu pernah membaca ini di buku yang ditinggalkan orang tua saya, tapi sekarang saya tidak tahu dimana buku itu berada, mungkin sudah hilang. Dikatakan jika alam semesta terbentuk dari Dunia Sekuler. Dunia Sekuler itu kita kenal sebagai Surga tempat para Dewa tinggal dan satu lagi adalah Neraka tempat roh-roh orang mati berakhir menunggu putaran jalur samsara.
Dunia Sekuler dibagi dua menjadi; Dunia Primer yang utama, dan Dunia Sekunder sebagai cabang-cabangnya dari Dunia Primer.” Ling berhenti sejenak untuk memperbaiki tatanan Rambut Liana. “Yah, anda tahu Nona, Tiga Benua yang kita tinggali ini adalah salah satu cabang dari Dunia Primer, dunia kita masih fana.”
Note: Penjelasan di atas tidak dapat menjadi patokan fakta yang bisa dipercaya. Ini hanyalah fiksi yang saya penulis hanya mengutipnya di suatu tempat yang tidak diketahui dan tidak ada hubungannya dengan hal kepercayaan agama suatu ras, bangsa dll.
Liana mendengarkan apa yang dijelaskan oleh Ling. Ini adalah hal baru baginya. Jika begitu, mungkin saja Bumi tempatnya singgah adalah salah satu dari Dunia Sekunder, yah, itu sangat mungkin.
“Begitu, lalu Ling. Tiga Benua termasuk dari cabang Dunia Primer mana? Apa namanya?”
“Hum, itu … jika tidak salah namanya adalah Daratan Tujuh Bintang, katanya itu adalah tempat orang-orang abadi tinggal. Saya hanya mengetahuinya sampai di sana, tidak begitu ingat,” jelas Ling.
Daratan Tujuh Bintang! Liana menggumamkan nama itu dalam hatinya. Entah mengapa dia penasaran dengan tempat seperti apa itu.
__ADS_1
~o0o~
Di suatu tempat di pinggiran Ibu Kota, sosok putih terlihat berdiri di atap sebuah bangunan kumuh yang paling tinggi di daerah itu. Memperhatikan sekeliling dengan tatapan serius dan menyelidik.
Rambutnya yang berwarna putih layaknya sutra yang kontras dengan kegelapan menyebar tertiup angin malam, mengikuti dengan jubah putihnya yang juga ikut berkibar.
Namun emandangan putih itu sedikit ternoda dengan kesuraman yang dingin di matanya. Baru darah menyebar di udara membawa rasa karat dan sedikit bau busuk yang hampir menyengat.
Ada potongan-potongan tubuh busuk yang bereserakan dan meleleh di tanah menghantarkan pada suasana malam yang mencekam dan horor.
Shiro telah diberikan tugas oleh Liana untuk menemukan dan membasmi monster-monster yang berkeliaran di seluruh daerah ibu kota.
Awalnya dia berpikir jika akan hanya ada beberapa lusin dari mereka dengan volume penduduk ibu kota saat ini. Tapi Shiro tidak menyangka jika ada begitu banyak dari mereka yang berkumpul membentuk kelompok di tempat kumuh seperti ini.
Mereka juga sepertinya telah menyingkirkan semua manusia yang dulunya tinggal sebagai penduduk asli di daerah kumuh ini. Melihat begitu banyaknya monster-monster yang telah ia bunuh, Shiro memandang dengan dingin. Mungkin ada ratusan dari mereka.
Malam itu gelap dan sepi, sebab tidak ada bulan sebagai lampu alami di malam hari, juga dengan langit yang tetutup awan hitam yang membawa suasana dingin menyeramkan.
Shiro melihat ujung pandangannya. Jauh di depan sana, ada juga seorang pria dengan stelan yang juga mencolok di malam hari—dia serba emas dan sepertinya satu jenis dengan Shiro, pria emas itu juga menatap lurus balik kepadanya dengan senyum penuh arti.
Shiro mengalihkan pandangannya tidak lagi memikirkan pria itu. Dia menatap ke kejauhan dimana ada energi kebencian yang membumbung di udara dan bercampur kegelapan.
Segera setelah itu, Shiro menghilang dari tempatnya dan muncul kembali ke tujuannya.
Sedangkan di tempat dimana pri emas itu berdiri, dia sudah mengeluarkan bunyi tawa yang menyenangkan untuk di dengar telinga.
Wajahnya juga secantik Shiro, dan karena dia adalah Ras Naga seperti yang disebutkan Shiro merupakan ras Makhluk Mitologi, ada dua tanduk bercabang berwarna biru di atas dahinya,kiri dan kanan. Menambah pesonanya berkali-kali lipat.
Mata terang berwarna biru emas itu berkilat dengan kesenangan. “Zuihou De Houyi, kah?” Nampaknya dia juga mengetahui identitas Shiro. “Sepertinya Tuan akan senang mendengar kabar ini.” Senyumnya penuh dengan godaan.
Tapi setelah itu, matanya berubah lagi dengan kilatan dingin yang melintas kuat dan penuh penindasan. Mencibir sesaat, “Makhluk jelek ini sangat tidak enak di pandang. Mengapa Tuan harus menyuruhku membersihkan mereka, semuanya terlalu lemah.” Dia menggerutu sebelum akhirnya mulai mengeluarkan Api berwarna biru muda dari tangannya.
Melemparknya pada para monster-monster yang ingin naik untuk meraih dirinya. Monster-monster itu segera mengerang kesakitan akibat panas dari Api Naga yang membakar mereka hidup-hidup.
__ADS_1
Menggeliat seperti cacing membuat para monster itu terlihat semakin menjijikkan. Tapi pria Ras Naga itu tetap dengan dingin melihat pemandangan itu.
Api miliknya yang berharga hanya membakar para monster, tidak dengan bangunan di sekitarnya. Itu masih sangat utuh seperti sedia kala sebagaimana adanya.
Apinya telah padam sebagai tanda jika monster-monster itu sudah dibersihkan. Dia juga segera menghilang di tempat dan muncul di tempat lain, menyusul Shiro. Dia hanya tertarik mengikuti ras terakhir makhluk suci Pegasusu tersebut. Dan tertarik untuk mengetahui siapa tuannya.
~o0o~
Di sisi lain, Liana sudah selesai dengan dandanannya dengan bantuan Ling sebagai penata rias utama.
Kali ini dia memakai hanfu yang sedikit lebih berwarna karena tahun baru meski pun masih dominan putih, tapi ada beberapa aksen bordir berbentuk lampion berwarna merah di beberapa tempat, seperti ujung hanfu, ujung lengan dan kerah.
Meski pun masih dengan aksen zaman kuno, dia masih nampak modis dan bergaya.
Rambutnya di tata rapi dengan kepangan kecil di dua sisi yang tersampir ke belakang mengelilingi sanggul kecil yang menyisakan banyak bagian rambut yang di gerai karena ada beberapa aturan yang diharuskan untuk para gadis muda yang belum menikah untuk tidak menyanggul tinggi seluruh rambut hingga memperlihatkan bagian leher belakang mereka.
Note: Fiks bisa menggoda iman para kaum adam nantinya :v( Yang tersembunyi selalu bikin orang penasaran)
Ada beberapa jepit rambut dan tusuk rambut giok serta emas sebagai hiasan di kepalanya. Gaya yang tidak meriah, tapi itu lebih dan berbeda dari gaya sehari-harinya yang polos dari hiasan apapun.
Dan kali ini mungkin untuk pertama kalinya seorang Zhu Liana menggunakan make up! Dan dia terlihat sangat cantik memalui pantulan cermin membuat para pelayan yang membantunya berdandan memerah karena tersipu, malu-malu dan bahagia atas hasil kerja mereka merias sang Nona Muda.
“Nona Muda, Anda cantik sekali.” Ling memujinya dengan tulus.
Para pelayan di belakang juga sudah mengangguk sebagai persetujuan. Mereka tidak pernah melihat Nona Muda pertama menggunakan riasan wajah, ini adalah pertama kalinya meski pun hanya beberapa olesan tipis. Tapi setelah itu, dia menjadi sangat cantik. Seandainya dia selalu menggunakan ini setiap hari, mungkin lamaran dari para pemuda ibu kota akan membentuk antrian yang panjang.
Ugh, lupakan! Nona Muda sudah memiliki seorang tunangan. Sang Pangeran akan marah jika mengetahui pikiran mereka, para pelayan.
“En, terima kasih,” jawab Liana canggung.
Sejujurnya dia sangat tidak nyaman dengan banyaknya hiasan dan pernak-pernik yang ada pada dirinya, dia merasa sangat mencolok. Tetapi melihat begitu bahagianya para pelayan itu membuat dirinya mengalah dalam helaan napas dan tidak ada kegembiraan dari reaksinya yang menerima pujian dari mereka, hanya rasa ketidak berdayaan yang jelas.
Para pelayan serta Ling yang memimpin terkikik mendengar jawaban setengah hati itu. Mereka sudah tahu jika Nona Muda Pertama itu pemalu.
__ADS_1
~o0o~