![[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana](https://asset.asean.biz.id/-reinkarnasi--sayap-takdir--zhu-liana.webp)
Sudah dua bulan Liana berada di dalam dimensi Sayap Kembar. Berarti waktu di dunia nyata telah berlalu kurang lebih satu pekan.
Sebelum itu, Liana telah berpesan pada orang-orang terdekatnya untuk tidak mengganggunya selama pekan ini karena dirinya mencoba untuk berlatih kembali. Dia hanya memberitahu Ayah, Kakaknya dan Ling. Jadi kegiatannya ini dirahasiakan dari orang lain selain ketiga orang terpercayanya itu. Tujuannya sangat jelas hanya untuk mengejutkan musuh, tentu saja.
Zhu Moran dan Wan Feng sangat terkejut saat mendengar perkataan Liana. Mereka awalnya tak percaya, tapi setelah Liana meyakinkan keduanya, mereka akhirnya hanya bisa mengiyakan sambil berdo'a dalam hati semoga ucapan Li'er mereka adalah kebenaran. Meski pun dalam hati mereka muncul banyak pertanyaan.
Dan selama priode waktu itu, kekuatan Liana meningkat secara signifikan karena terus berlatih setelah Shiro membantunya untuk membersihkan racun dalam tubuh sekaligus membuka segel takdir yang ikut mengekang Dantiannya.
Yah, lebam-lebam yang terus bermunculan di tubuhnya telah menghilang sepenuhnya. Kini dia telah bersih dari racun menyebalkan.
Saat ini, Liana tengah melatih kemampuan bela dirinya di depan halaman gubuk kecil yang ia bangun sendiri.
Beberapa tempat juga telah banyak terisi benda-benda. Bahkan pohon yang dulunya tidak tumbuh di padang rumput persinggahan pertama Liana kini sudah banyak yang menjulang tinggi dengan dedaunan rimbun, buah yang ranum siap dipetik, serta bunga-bunga yang mekar dengan indahnya. Tempatnya itu kini bisa disebut sebagai taman surgawi dunia. Ada juga kolam-kolam kecil yang menampung banyak ikan cantik menambah segar pemandangan di sana membuat siapa pun akan betah jika berlama-lama di tempat itu.
Lalu, sudah ada beberapa binatang iblis juga menjadi penghuni dimensi. Membentuk rantai makanan mereka sendiri sekaligus teman berlatih Liana. Hidup di tengah-tengah hutan rimbun sebagai rumah mereka.
Dimensi Sayap Kembar kini seolah telah menjadi dunia baru.
Semua itu tak luput dari campur tangan Shiro yang menarik beberapa kehidupan dari dunia luar ke dalam dimensi. Karena tentunya dia tidak dapat menciptakan makhluk hidup. Tapi dapat menarik mereka ke dalam.
Mengesampingkan hal itu ....
Liana terus mempraktikkan gerakan-gerakan seperti kungfu dengan semangat. Meninju, menendang dan menggunakan tapak. Memberi serangan kuat hingga menghasilkan bunyi mendesing pelan di udara yang menandakan jika tenaga yang dia keluarkan tidaklah main-main.
Hanya gerakan-gerakan dasar yang sederhana namun mantap saat dia memperagakannya.
Meski memiliki beberapa kitab beladiri, tapi Liana tak mau menggunakannya karena dirasa terlalu kaku dan banyak aturan. Juga tidak cocok untuknya.
Liana menyelesaikan latihannya saat Shiro datang membawa sesuatu di dalam keranjang bambu dan meletakkannya di atas meja batu dekat tempat Liana berlatih.
"Apa yang kau bawa?"
"Buah," jawab Shiro singkat.
__ADS_1
Liana menaikkan sebelah alisnya menatap Shiro. Makhluk ini masih belum bisa mengeluarkan emosinya. Disana hanya terlihat wajah datar tanpa ekspresi. Bisa-bisa Liana menjadi tertular olehnya karena lama bergaul dengan Shiro.
Ah Liana, kau bahkan tidak menyadari bagaimana dirimu dengan wajah dingin itu saat menemui orang-orang. Ck ck ck!
Liana duduk di tempatnya. Mengeluarkan Qi di tangan sambil memejamkan mata membayangkan sesuatu.
Hingga tak lama sebuah minuman kaleng bersoda muncul di tangannya. Terlihat begitu menyegarkan saat tetesan air yang mengembun akibat dingin di luar kaleng. Terlihat seperti baru saja dikeluarkan dari Freezer.
Terkadang Shiro bingung dengan benda-benda yang dimunculkan oleh sang majikan yang menurutnya aneh-aneh. Tapi dia tidak berkomentar karena mengetahui Liana sempat tinggal di dunia lain bernama Bumi. Tentu saja dia tahu karena telah terkontrak dengan gadis itu bahkan sebelum gadis itu menginjakkan kaki di bumi. Jadi kehidupan Liana, dia mengetahui semuanya, yang tidak dia ketahui hanyalah apa yang dirasakan gadis itu.
"Apa itu enak?" tanya Shiro tiba-tiba saat Liana selesai menghabiskan minumannya hanya dalam satu tegukan.
Liana mengernyit heran saat pandangannya jatuh pada makhluk serba putih itu. Tak biasanya Shiro bertanya lebih dulu padanya, selalunya Liana lah orang yang mengawali pembicaraan walaupun berakhir dengan keheningan setelah beberapa kalimat terucap.
Tak heran. Salahkan kedua makhluk berbeda jenis itu yang memiliki ketenangan tak biasa. Jika bisa, mungkin mereka sudah menjadi pajangan museum sebagai makhluk paling membosankan yang pernah ada. Ahaha!
"Kau ingin mencobanya?" balas Liana bertanya memberi penawaran.
Liana kembali memunculkan satu kaleng minuman soda seperti sebelumnya dan melemparkannya pada Shiro yang langsung ditangkap sigap oleh makhluk serba putih itu.
Shiro memandang benda di tangannya sebentar kemudian mengikuti cara Liana membuka tutup kaleng.
Terdengar suara seperti 'Klik' lalu 'Csssh' saat dia membukanya. Menatap ragu-ragu pada air berwarna cokelat bening itu yang agak menggelembung karena tadi terkena guncangan.
Tapi kemudian dia meneguknya sekaligus membuat alis Liana menyatu di tengah dahi.
Dia bahkan menyerukan kata 'Bodoh' melihat kelakuan Shiro yang polos.
Shiro bahkan sudah terbatuk karena kaget atas sensasi yang dia rasakan dalam mulutnya.
"Ini meletup!" ungkapnya benar-benar polos membuat Liana menepuk jidatnya karena meski begitu ekspresi Shiro tetap sama, datar dan datar membuatnya terlihat aneh.
"Ffft!" Liana tak bisa menahan tawanya lagi mendengar komentar bodoh Shiro dengan wajah anehnya itu. Dia meledak sejadi-jadinya.
__ADS_1
Haha, Liana ... sejak kembalinya ingatan masa kecilnya, dia menjadi lebih ceria dan sedikit hangat meskipun masih lebih sering memperlihatkan raut datar nan dinginnya itu, mungkin karena terbiasa. Tapi baiknya, sekarang dia sudah bisa tersenyum dan tertawa.
"Shiro, teruslah bersikap bodoh seperti itu. Kau terlihat sangat lucu, sungguh," ucap Liana di sela-sela tawanya.
Shiro? Dia hanya diam mematung masih dengan wajah datar itu. Dia bahkan tak berkedip melihat tawa majikannya yang jarang. Mungkin ini adalah kali pertamanya di depan Shiro.
Hmm, tapi jika diperhatikan dengan seksama, dalam raut wajah super datar tanpa ekspresi itu, ada sedikit semburat merah di sana dan merambat sedikit di daun telinganya. Mungkin dia merasa malu atau mungkin ada sesuatu yang lain. Tak ada yang tahu kecuali Shiro sendiri.
Liana berhenti tertawa saat dirasa dia mulai lelah dan perutnya juga agak sakit menahan geli dari tawanya.
Wajahnya kembali pada mode semula. "Huft! Lelah sekali."
Dia melihat Shiro yang masih berdiri mematung di depannya, tangannya juga masih memegang kaleng soda yang Liana yakini isinya masih ada.
"Tak ada yang ingin kau katakan padaku?" tanya Liana akhirnya karena gemas dengan kelakuan makhluk kontraknya itu yang diam saja.
Shiro menggeleng diam membuat Liana menghela napas pelan. Ini sudah biasa terjadi, meskipun wujud Shiro adalah laki-laki dewasa, akan tetapi sikapnya malah tak lebih dari seorang anak umur enam tahun. Yah, itu menurut Liana.
Tapi sebenarnya Shiro menjadi kaku seperti itu karena telah ribuan tahun lamanya dia tak berinteraksi dengan orang lain. Hanya terkurung dalam dimensi karena suatu alasan yang Liana tak ketahui, sendiri dan kesepian membuat dirinya lupa bagaimana caranya bersosialisasi.
Karena itulah meski dia hanya menampilkan raut wajah datar tanpa ekspresi sedikit pun, tapi saat kedatangan Liana, dia benar-benar bahagia karena dia akan merasakan yang namanya kebebasan. Hanya saja, dia tidak tahu bagaimana mengekspresikan perasaannya.
"Haah, baiklah. Shiro, aku akan keluar hari ini. Sudah sepekan aku berada di tempat ini dan perkembanganku juga lumayan. Mereka pasti menungguku disana. Kau, apa yang akan kau lakukan?" Liana sedikit menyematkan rasa khawatir dalam nada bicara, tidak tahu kenapa, tapi Liana merasa salah jika membiarkan Shiro sendirian di dalam dimensi.
Jadi dia bertanya dulu sebagai basa-basi sebelum mengajak makhluk kontraktualnya itu.
Shiro tertegun yang tentunya hanya di dalam benaknya. Dia masih berkedip dengan ringan.
"Tuan, bisakah Shiro juga ikut keluar?"
Namun tak Liana sangka, Shiro sendirilah yang meminta. Dia sedikit tersenyum sebelum menjawab. "Baik, tunggu aku membersihkan diri terlebih dahulu."
~o0o~
__ADS_1