![[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana](https://asset.asean.biz.id/-reinkarnasi--sayap-takdir--zhu-liana.webp)
Beberapa jam sebelum peristiwa mengerikan itu terjadi.
Langit di desa tani tempat bernaungnya Bai Lan Jin, sosok keturunan terakhir Klan Yunan di masa itu, yang di sebut sebagai tunas baru dan seorang yang memegang utuh Sayap Takdir. Tempat itu masih lah bersuasana cerah seperti biasa.
Sawah padi yang masih hijau dan juga beberapa tanaman sayur buah warna warni pada petak-petak tanah yang tersusun rapi mengelilingi desa. Sapi lembu dan kerbau juga bersantai di padang rumput, bermalas-malasan memakan rumput sambil ekor mereka yang mencambuk lalat.
Nuansa pedesaan yang asri. Hanya saja hari ini ada beberapa perbedaan.
Tepatnya di kuil satu-satunya yang ada di desa telah di hias sedemikian meriah untuk menyambut hari yang berbahagia. Yah, ini nampaknya memang sudah biasa setiap tahun.
Warga desa yang cekatan, wajah mereka terlihat berseri-seri saat bekerja. Bolak-balik di depan kuil membawa sesuatu yang sepertinya penting di tangan. Mereka selalu menyambut hari ini.
Karena sosok yang sering membuat wajah mereka semakin cerah terlahir hari ini, sosok yang memberikan mereka beberapa kali lipat kebahagiaan, sosok yang selalu menebar senyumnya dimana pun kakinya menginjak tanah desa.
Kerumunan tergesa-gesa, namun tak ada dari mereka yang terlihat mengeluh. Semuanya bersuka cita. Entah mungkin kehadiran Bai Lan Jin memang sangat berpengaruh besar pada kehidupan warga desa.
Bocah nakal itu sekarang telah menjadi gadis yang baik, lebih penurut dan tentunya masih ramah seperti sebelumnya.
Meski pun masih beberapa kali melakukan aksi-aksi nakal yang kadang-kadang menggemparkan warga desa, namun dia tak lagi melakukan hal seperti mencuri dan tindakan tak bermoral lainnya.
Paling-paling mungkin membawa sapi menggarap sawah di pagi buta hingga membuat pemiliknya linglung. Atau yang paling menggemparkan seperti, dia pernah juga berkeliling gunung selama berhari-hari sampai orang-orang mencarinya dengan kekhawatiran ekstrim, berpikir jika dirinya telah menghilang atau menghadapi kecelakaan, akan tetapi dirinya malah di temukan tengah asik mengajak harimau gunung berkelahi dan berguling di jurang.
Itu terjadi tepat seminggu yang lalu.
Gadis menjadi begitu akrab dengan alam semenjak dirinya menginjak usia sepuluh tahun dan memang sering berkeliaran sendiri dalam hutan atau mendaki ke puncak gunung untuk sekedar bermain.
"Apa kau sudah menentukan hadiah yang cocok untuk Xiao Bai kita?" Seorang wanita yang terlihat berumur empat puluh tahunan bertanya pada rekan-rekan sebayanya yang tengah menghias bunga.
Xiao Bai sendiri adalah panggilan untuk Bai Lan Jin dari para warga desa. Karena dia mirip dengan hewan peliharaan yang lucu, begitu aktif dan tentunya si pembuat onar, begitu menurut mereka.
Ketika Liana mendengar panggilan itu, sosok Shiro muncul dalam pikirannya. Namun dia segera menggeleng, "Tidak, tidak. Shiro bukan hewan peliharaan. Dia selalu dapat mengurus dirinya sendiri." Dan dia bergumam.
"Aah, aku sudah memikirkan ini dari jauh-jauh hari. Aku yakin, hadiah dariku lah yang akan menjadi yang paling disukainya nanti." Wanita lain memiliki penampilan eksentrik menjawab.
Lalu yang lain lagi melambaikan tangannya pada wanita barusan, tak setuju dengan pendapat itu. "Hei, belum tentu. Xiao Bai selalu menyukai hal-hal yang berbeda dari yang lain. Maka nanti hadiah dariku lah yang terbaik."
"Hmph! Apa kalian sedang berlomba? Jika iya, maka hentikan itu. Hadiah dariku selalu dipuji oleh Xiao Bai." Wanita dengan pakaian hijau tua mencoba sesumbar. Dia mengangkat dagunya saat senyum bangga menghiasi wajahnya yang hendak menua.
Dan kelakuannya itu malah disambut tawa oleh rekan-rekannya.
__ADS_1
"Nyonya Gu, kau tidak ingat tahun lalu? Xiao Bai tidak hanya memuji, tapi mengatakan jika kue madu buatanmu malah terasa seperti campuran lemon dan air laut. Dia benar-benar pandai memuji." Wanita yang lebih gemuk menunjuk Nyonya Gu--si wanita berpakaian hijau. Lagi-lagi tawa terdengar di sana.
Nyonya Gu mengerutkan bibirnya. "Humph!" Sebenarnya dia ingin membalas, tapi tidak tahu ingin berkata apa.
Tawa tempat itu masih bergema membuat beberapa perhatian mengarah pada mereka, termasuk para tetua yang berada di dalam kuil.
"Haih, obrolan para wanita," gumam sosok lelaki paruh baya yang duduk di samping Kepala Kuil Yan.
Yang lain langsung menanggapi dengan tawa juga termasuk Kepala Kuil Yan sendiri.
"Bai Lan Jin, dia sudah memberkati tempat kita selama bertahun-tahun dengan kedatangannya. Sangat kebetulan jika hari lahirnya memang tepat di musim panen." Seorang lelaki tua yang nampak berwibawa membuka suaranya.
Lalu yang lain menimpali, "Kau benar, Kepala Desa. Sejak kedatangan anak itu, aku merasa jika desa kita bertambah ramai saja, haha."
Obrolan demi obrolan terus terjalin di antara orang-orang yang hadis di sana. Hingga tak terasa hari sudah beranjak sore, menandakan jika acara akan diadakan sebentar lagi.
Bai Lan Jin, gadis dengan warna rambut unik itu sendiri tengah berjalan dan mengobrol bersama teman sebayanya di tengah jalan menuju kuil.
"Lan Jin, tahun ini juga menjadi tahun perayaan akil balig mu. Ini lebih istimewa sekarang. Para nyonya mungkin juga akan berebut memberi hadiah dan mendapat pujian," celetuk gadis seumuran Bai Lan Jin yang mengenakan pakaian biru tua dengan rambutnya yang diikat dua.
"Ahaha, kau tahu? Bahkan ibuku sudah menyiapkan sesuatu untukmu dari sebulan yang lalu," ucap seorang pemuda yang beberapa tahun lebih tua dari Bai Pan Jin.
Bai Lan Jin sendiri juga menanggapi itu dengan tawa. Dia sudah terbiasa dengan kegiatan ini selama bertahun-tahun. Akan tetapi perasaan hangat itu selalu dia nanti-nanti, dia juga selalu menunggu hari ini. Dia bahagia tentu saja.
"Hah, apa?! Kau juga meminta hadiah dari kami? Keterlaluan sekali!" Dan dibalas gurauan lain oleh teman-temannya. Mereka semua tertawa dengan ramainya.
Akan tetapi tawa itu segera menghilang dikala ....
"Apa kalian merasakannya?" tanya Bai Lan Jin, dia memang memiliki kepekaan di atas rata-rata pada alam sekitar. "Tanah di sini sedikit berguncang," lanjutnya saat langkahnya terhenti sejenak.
Teman-temannya menanggapi dengan anggukkan persetujuan. "Apa yang terjadi?"
"Apa pun itu, sebaiknya kita bergegas menuju kuil."
Mereka semua bergerak lebih cepat, berlari menuju tempat yang akan mereka kunjungi awalnya. Namun saat langkah mereka semakin dekat, suara ramai terdengar meski pun tidak begitu jelas apa yang diucapkan ramai-ramai itu dan Bai Lan Jin juga samar-samar telah mencium bau amis. Matanya melebar karena kejutan.
"Berhenti!" Dia kembali menghentikan langkah teman-temannya.
"Ada apa Lan Jin? Kenapa kau menyuruh kami berhenti?" tanya seorang dari temannya itu.
__ADS_1
Bai Lan Jin menoleh kepada siapa yang berbicara. "Ada sesuatu yang mencurigakan, aku mencium bau darah," ucapnya setengah berbisik membuat teman-temannya terkejut.
Tak ada dari mereka yang meragukan penciuman super Bai Lan Jin. Dan juga, setiap hari ulang tahun Bai Lan Jin yang karena bertepatan dengan musim panen desa, warga desa tak pernah ada yang mengorbankan persembahan seperti daging, itu adalah hal tabu bagi warga desa. Jadi, dari mana bau darah itu berasal?
"Aku akan memeriksanya terlebih dahulu, satu orang ikut denganku," ucap gadis itu saat kakinya mulai melangkah lagi dengan perlahan.
"Aku ikut!" Pemuda yang lebih tua beberapa tahun itu lah yang memutuskan untuk menemani Bai Lan Jin.
Mereka berdua berjalan dengan hati-hati namun semakin cepat saat bau darah yang tercium juga semakin tajam hingga membuat kepala kedua orang itu menjadi pusing.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya pemuda yang bersama Bai Lan Jin khawatir.
Bai Lan Jin sendiri sudah merasa was-was, memikirkan skenario terburuk. Mereka semakin dekat dengan bangunan Kuil. Suara teriakan yabg ramai juga semakin jelas.
Itu bukan teriakan meriah seperti tahun-tahun sebelumnya, akan tetapi lebih terdengar seperti suara jeritan, ratapan dan tangisan rasa sakit.
Tubuh keduanya megang saat pupil mata mereka juga menyusut. Ini ... meski tak melihat saja, mereka tahu jika telah terjadi sesuatu yang mengerikan di depan sana.
Bai Lan Jin dengan cepat mengambil alih kesadarannya. Dia menggenggam tangan pemuda di sebelahnya dengan erat dan sedikit tekanan.
"Qi Wang, kau ... pergilah. Bawa teman-teman ke tempat yang aman. Aku ... aku akan melihat ke depan."
Pemuda itu yang ternyata bernama Qi Wang tersentak, dia melotot pada Bai Lan Jin. "Apa maksudmu?!" pekiknya tak berani berteriak lebih keras. Saat ini mereka harus mempertahankan ketenangan dan akal sehat.
Sesuatu telah terjadi pada warga desa, tapi tak ada gunanya mereka bertanya dan meratap. Anak-anak remaja ini cerdas. Tapi Qi Wang juga memikirkan Bai Lan Jin, gadis berambut tiga warna ini selalu menempatkan dirinya dalam bahaya di setiap kejadian yang mereka alami.
"Tidak, Qi Wang. Jangan bertanya, lakukan apa yang aku katakan padamu. Kau harus membawa mereka ke tempat yang aman terlebih dahulu."
Bai Lan Jin tak bisa memberitahu Qi Wang jika dia juga merasakan aura kebencian dan niat membunuh yang kuat. Tentu dia mempelajari hal ini dari Zanzhu Ren Zuxian.
Meski pun dirinya belum berkultivasi, tapi insting Bai Lan Jin sudah begitu tajam. Dia mengenal beberapa aura mengerikan seperti ini saat pengalamannya bertualang di gunung. Dia memang kadang-kadang bertemu dengan monster di sana, meski pun mereka adalah golongan terendah dan mudah dia kalahkan hanya dengan bantuan kekuatan fisiknya yang luar biasa dan juga bimbingan dari Zanzhu Ren Zuxian.
~o0o~
Ada yang masih komen nggak ngerti.
Gini deh, ku jelasin singkat aja.
Sekarang ini Liana berada di masalalu, dalam dunia kenangan. Tepatnya saat kehancuran Klan Yunan. Terus dia nyaksiin kehidupan Bai Lan Jin, yang tak lain adalah dirinya sendiri. Singkatnya, Liana itu adalah Reinkarnasi Bai Lan Jin.
__ADS_1
Gitu aja... Buat yang bilang nih cerita berbelit-belit... ehehe Ya maap... soalnya ide cerita emang kek begini dari awal. Pengen muter dulu akunya... wkwk... semoga nggak bikin pusing aja yah... kalo ada yang kurang paham... Bisa tanya lewat komentar aja... atau bisa juga tanya lewat grup chat author... kita diskusiin bersama di sana... meski aku jarang on sih... tapi ada temen-temen yang ramein mungkin ada yang memiliki pendapat lain tentang cerita ini.
So terimakasih udah mau ngikutin sampe sekarang.