[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana

[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana
46-Kelahiran Seorang Zanzhu Ren Zuxian


__ADS_3

Pegunungan Abadi adalah pegunungan yang terletak di daratan Benua Tengah. Pegunungan yang di kenal sebagai tempat yang begitu sakral karena selalu menjadi tempat lahirnya Binatang Legendaris.


Tempat itu juga menjadi ladang harta bagi para pembudi daya, baik itu Kultivator, Pendekar maupun Penyihir, Pegunungan Abadi layaknya surga perburuan bagi mereka.


Jika ada keuntungan ada kerugian, jika ada kelebihan maka ada pula kekurangan. Seperti halnya kelebihan Pegunungan Abadi yang layaknya Surga harta karun bagi pembudi daya. Maka tempat itu juga bagaikan neraka tempat sang malaikat maut bernaung.


Tempat yang sangat berbahaya dikarenakan banyaknya perangkap alami juga hewan buas yang siap menerkam mangsa. Hal itu lah yang menjadi keraguan orang-orang untuk menginjakkan kaki ke Pegunungan Abadi.


Hanya mereka yang memiliki tekad kuat, kekuatan yang tinggi dan orang-orang putus asa yang berani melangkahkan kaki ke tempat itu. Entah itu untuk mengadu nasib, mengasah keberanian, menuai keserakahan dan lainnya yang membuat mereka tak jarang menempuh akhir kematian. Menyeramkan!


Tapi sesungguhnya, tak pernah ada yang tahu jika tempat yang mereka sebut sebagai perbatasan antara Hades dan Nirwana itu terdapat sebuah desa berpenghuni di pusat Pegunungan, tepatnya di tengah-tengah lembah pegunungan.


Desa yang makmur terlihat begitu indah dengan bunga-bunga berbagai warna yang berguguran di sepanjang jalan pedesaan.


Desa kecil yang hanya memiliki ratusan penduduk sebagai penghuninya, namun hal itu tak pernah membuat desa itu menjadi dingin maupun sunyi. Malah terasa ramai nan hangat karena hubungan kekeluargaan antar penduduk. Senyum selalu menghiasi warga desa sepanjang hari tak memikirkan bagaimana bahayanya tempat yang mereka tinggali. Mereka telah terbiasa tentunya, bahkan para penduduk desa telah berteman dekat dengan alam pegunungan itu.


Desa itu bernama Desa Yunan. Yah, desa yang menjadi naungan Klan Kuno yang melegenda karena para penduduknya yang memiliki kekuatan istimewa yang selalu menjadi perebutan para pembudi daya tiga benua.


Di hari yang cerah itu, para warga desa beramai-ramai menghias setiap sudut desa. Sebab hari ini adalah hari yang amat dinantikan mereka. Yaitu adalah kelahiran seseorang yang menjadi pilar, pelindung, dan junjungan mereka. Kelahiran seorang Zanzhu Ren Zuxian.


Tentu mereka sangat bersuka cita dalam menyambut lahirnya pelindung mereka untuk yang pertama kali ke dunia. Senyum cerah tak pernah lepas dari para warga, entah itu anak-anak, orang dewasa, maupun lansia, semuanya ikut meramaikan suasana.


Pesta besar akan diadakan sampai menjelangnya hari kelahiran sang Pelindung.


Sebenarnya dari mana mereka mengetahui jika sosok Zanzhu Ren Zuxian akan lahir di tengah-tengah mereka.


Itu tentu saja karena keberadaan bunga Teratai raksasa berwarna Merah yang tumbuh di tengah-tengah kolam giok yang menjadi pusat desa. Itu adalah benda berharga bagi klan Yunan karena merupakan hadiah dari seorang dewa kepada leluhur sepuh mereka di masa lalu.


Dan nanti malam adalah waktu mekarnya bunga yang menjadi penanda lahirnya sang Zanzhu Ren Zuxian klan Yunan.


Malam hari pun tiba. Langit yang cerah dengan gemerlap bintang juga bulan purnama yang menjadi penerang alami di tengah-tengah kegelapan.


Semua warga desa termasuk pemimpin Klan Yunan turut hadir mengelilingi kolam giok yang menjadi wadah pertumbuhan Teratai Merah.

__ADS_1


Semua nampak menanti dan memperhatikan setiap detik proses mekarnya bunga di bawah sinar purnama.


Waktu terus berlalu dengan satu persatu kelopak bunga terbuka. Hingga kelopak yang ke seratus merekah, sebuah cahaya berwarna merah menyala bagaikan api menjulang ke langit malam.


Semua orang menutup mata saat cahaya itu semakin membesar menyelimuti seluruh warga desa.


Bulan yang tadinya bercahaya putih kini ikut memerah menyambut kedatangan eksistensi agung ke alam fana.


Percayalah jika peristiwa itu disaksikan oleh semua makhluk di tiga benua yang pastinya membuat mereka bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya terjadi?


Namun tentu mereka tak dapat menjawab pertanyaan sendiri. Meski begitu tak ada yang dapat beranjak dari tempatnya untuk menghampiri asal cahaya merah yang menghebohkan itu. Seolah ada sesuatu yang mengekang tubuh semua orang, mereka benar-benar tak dapat bergerak.


Sampai akhirnya ....


Beberapa saat kembali berlalu, cahaya merah berangsur-angsur meredup hingga menyisakan remang-remang yang menyelimuti bunga Teratai Merah.


Kecuali para anggota dari Klan Yunan yang masih terjaga. Saat itu penduduk tiga benua serentak jatuh tertidur hingga esok hari.


Warga desa Yunan serentak membuka mata hingga tatapan mereka semua tertuju pada sosok anak lelaki yang terlihat seperti berumur lima tahun dengan rambut merah menyala diterpa cahaya rembulan yang tengah duduk bersila sambil memejamkan mata.


"Zanzhu Ren Zuxian, berjayalah sang Pelindung!" Seorang pria dewasa yang nampak berwibawa berteriak dengan lantang saat posisinya masih dalam keadaan berlutut. Diyakini bahwa pria itulah yang menjadi pemimpin Klan.


"Zanzhu Ren Zuxian, berjayalah sang Pelindung!" Teriakannya turut diserukan oleh para warga desa hingga beberapa kali sampai pria di atas Teratai membuka matanya.


Penampilan anak laki-laki itu sangat agung di setiap gerakannya. Penuh pesona dan kharisma meski sosoknya belumlah matang, namun sebenarnya aura yang ia keluarkan begitu mulia membuat siapa pun yang melihatnya akan tunduk dengan rasa hormat.


"Angkat kepala kalian!" titahnya saat irisnya berkeliling melihat orang-orang yang sekarang menjadi tanggung jawabnya.


Tentu warga desa segera menuruti perintahnya yang agung. Mereka sekali lagi terpana melihat sosok itu. Bahkan ada yang menangis karena saking bahagianya melihat sosok yang mereka tunggu-tunggu kehadirannya. Namun semuanya tak nampak berlebihan. Seperti reputasinya, Klan Yunan memang di kenal sebagai kelompok yang tenang dalam segala tindakan mereka. Ramah dan tentunya tak pernah menghadirkan kericuhan kemana pun mereka melangkahkan kaki. Setiap anggota klan sangat menjunjung kedamaian, kejujuran dan keadilan.


"Aku sang Zanzhu Ren Zuxian, memegang tanggung jawab untuk menjaga dan melindungi Klan Yunan yang menjadi tanggunganku, baik di masa kini maupun di masa depan. Bukti adalah langit, saksi adalah bumi. Zanzhu Ren Zuxian berikrar!"


Suara gemuruh petir di langit menandakan persetujuan dari sumpah sang Zanzhu Ren Zuxian yang baru terlahir.

__ADS_1


Warga desa menampakkan senyum bahagia saat mendengar sumpah itu. Mereka juga ikut mengucapkan ikrar sebagai setia sang Zanzhu Ren Zuxian yang diketuai oleh pemimpin klan.


Setelah malam itu waktu terus bergulir. Pagi berganti siang, dan siang berganti malam. Musim juga berganti. Waktu terasa begitu cepat berputar.


Warga tiga benua pun telah lama melupakan kejadian menjulangnya cahaya merah ke langit malam. Seolah malam itu tak pernah terjadi adanya. Sebab tak ada yang tahu apa yang terjadi sebenarnya selain para anggota Klan Yunan.


Sang Zanzhu Ren Zuxian kini telah nampak seperti layaknya pria dewasa, tinggi nan tampan dengan surai merahnya yang khas. Dia menjadi sosok yang di puja atas tampilannya yang rupawan, kebijakannya, kharismanya, kecerdasannya dan juga kekuatannya yang seolah tak terbatas. Dia menjadi sangat dihormati Klan.


Dia telah melaksanakan tugasnya dengan sangat baik sebagai seorang Pelindung.


Desa masih saja ramai dan hangat seperti biasanya. Sangat damai dan tentram.


Duduk tiga orang di sebuah gazebo. Mereka tak lain adalah sang Zanzhu Ren Zuxian, Pemimpin Klan dan seorang lagi yang terlihat sepuh yang menjadi peramal dalam Klan Yunan karena keistimewaan matanya yang dapat melihat masa depan. Dia juga yang memberitahukan waktu kelahiran sang Zanzhu Ren Zuxian.


"Pesan apakah yang hendak Yang Mulia beritahukan pada pria ini?" tanya pemimpin klan yang diketahui bernama Yunan Tripa.


"Aku ingin dirimu mengumumkan kepergian sementara yang akan ku laksanakan malam nanti pada para warga. Aku khawatir jika mereka tak menjadi waspada pada keadaan mendatang selagi diriku tak hadir."


"Mengapa Yang Mulia berkata demikian? Kemana Yang Mulia hendak pergi? Perlukah pria ini menyediakan pengawalan?" Ada jejak kekhawatiran saat Yunan Tripa berucap. Langit tahu jika pria itu telah menganggap sang Zanzhu Ren Zuxian layaknya anak sendiri meski rasa hormatnya yang berlebih menampik hal itu dan mengatakan jika perasaan kasih seperti itu tak pantas baginya untuk sang Pelindung.


Sang Zanzhu Ren Zuxian menggeleng pelan. "Ada tugas lain yang mesti ku lakukan untuk sesuatu di masa depan. Dan mungkin nanti aku juga akan melakukan pelatihan tertutup untuk beberapa waktu sebelum Dia terlahir," jelasnya kepada Yunan Tripa dan saat kalimat terakhir diucapkan, matanya beralih menatap sosok sepuh di samping Yunan Tripa.


Sesepuh itu mengangguk. "Keberhasilan akan menyertai langkah Yang Mulia," ucapnya dengan nada lirih khas orang tua. Jarinya tak pernah henti menghitung ruas apapun yang dia lakukan.


"Ku harap kau sebagai pemimpin dapat menjaga kedamaian dalam maupun luar Klan. Aku percayakan itu padamu."


"Kehormatan!" ucap Yunan Tripa tegas seraya menundukkan kepalanya memberi hormat.


Zanzhu Ren Zuxian tersenyum puas. Dan setelahnya mereka membicarakan beberapa masalah Klan yang biasa dengan berbagau saran dari sang Zanzhu Ren Zuxian dan ramalan dari sesepuh.


Hingga waktunya tiba, Zanzhu Ren Zuxian pun pergi dari desa untuk berkelana mencari sesuatu hal yang dapat membantu misinya. Tanpa diketahui, tanpa dapat diprediksi, hal besar terjadi dalam Klan.


~o0o~

__ADS_1


Ini benar-benar akan menjadi cerita yang panjang 😅.


__ADS_2