[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana

[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana
63-Mengakhiri Apa Yang Dimulai


__ADS_3

Haah, satu lagi hari yang damai nan membosankan untuk seorang gadis introvert.


Pagi yang cerah dengan langit yang sedikit berawan. Burung-burung berkicau, menyanyi di ranting pohon yang rindang. Hembusan angin sepoi-sepoi dari jendela yang terbuka juga ikut menenangkan suasana, menerbangkan kain-kain muslin putih yang menjadi tirai terikat pada tiang membungkus tempat tidur si gadis. Sampai ....


"Li'er!, ku dengar dirimu sedang sakit? Benarkah itu?"


Suara teriakan panik namun terdengar hangat dan menyenangkan telinga baru saja memasuki kamar Paviliun sang Nona Muda Ke-dua dari Manor Zhu, yah siapa lagi jika sang Nona Muda itu adalah Zhu Liana yang kerap kali menggunakan pakaian serba putih seperti orang yang tengah berkabung.


Namun selain alasan dia menyukai warna putih, sebenarnya dia memang memakai pakaian putih itu sejak umur empat tahun untuk berkabung atas wafatnya sang Ibunda.


Yah, sampai dia tahu jika mungkin saja ibunya masih hidup di luaran sana. Hanya saja Liana masih menggunakan pakaian putih karena sangat sedikit pakaian berwarna lain di lemarinya.


Liana tadinya tengah duduk santai di atas tempat tidur sambil membaca sebuah buku kuno tentang resep obat-obatan dan berbagai tanaman herbal. Tapi ketenangan di sana langsung buyar dengan suara seseorang yang sudah lama tak ia dengar.


Liana mengalihkan pandangannya sambil memberikan senyum pada orang yang wajahnya terlihat khawatir itu.


"Xian gege, kau kemari?" Liana yang hendak beranjak dari posisi duduk bersandarnya itu segera diurungkan karena Wuxian telah lebih dulu sampai padanya.


Pemuda yang akan beranjak 19 tahun itu menyibak tirai lalu duduk di pinggir tempat tidur, kemudian meraih pergelangan tangan Liana untuk mengecek kondisi gadis itu lewat nadinya.


"Xian Ge, aku tak apa-apa. Sangat sehat," terang Liana saat pemuda itu masih fokus pada kegiatannya.


Wuxian beralih memandang Liana dengan bingung. "Memang tidak sakit," ucapnya begitu polos membuat Liana berdekhem hendak mengeluarkan tawa.


"Aku kan sudah mengatakannya padamu," ucapnya.


"Lalu ... lalu kenapa A-Feng berkata ...." Ucapan sang Pangeran terjeda sejenak sebelum dirinya tersentak menyadari sesuatu. "Ah! Apa dia sedang memembohongiku?" tanyanya dengan nada tak suka. "Sangat berani!"


Liana bahkan berkedip beberapa kali melihat tingkah sang Pangeran yang tengah kesal. Kemudian ....


"Ahahaha." Dengan tangan yang menutupi ujung hidung dan sebagian mulutnya, tawa renyah segera terdengar keluar dari sana.


"Kenapa kau tertawa?"


Masih mempertahankan tawanya meski itu sudah mengecil, Liana menjawab jika apa yang mereka perbincangkan saat ini terasa lucu baginya.


"Xian Ge, jangan salahkan kakakku. Aku yang menyuruhnya mengatakan hal itu." Liana menghela napas sebentar dan menutup bukunya yang masih terbuka dan tergeletak di samping. "Aku ingin mengakhiri apa yang telah mereka mulai," ucapnya kemudian. Nadanya dingin namun ada sebuah keengganan yang terasa saat dia mengatakan kalimat itu.


Wuxian terdiam. Dia sedikit tidaknya tahu apa yang Liana maksudkan. Sebab selama ini dirinya, ah bukan, itu sang Zanzhu Ren Zuxian pada dirinya selalu mengawasi gadis itu dari jauh. Dia tak pernah turun tangan langsung untuk menolong Liana.

__ADS_1


Bahkan saat dirinya bertanya, sosok berambut merah itu hanya menjawab dengan percaya diri, "Tak ada yang benar-benar dapat membahayakan sang Pemilik Sayap Takdir di tempat Fana ini."


Sang Pangeran tidak begitu mengerti awalnya, hanya saja karena setengah jiwanya telah menyatu dengan sang Zanzhu Ren Zuxian. Dia menjadi lebih banyak tahu tentang sosok gadis muda yang ditunangkan dengannya itu, bahkan sampai masa lalu Liana, kehidupan pertamanya sebelum Reinkarnasi.


Liana sendiri mengernyit karena baru menyadari sesuatu. "Xian Ge? Aura milikmu ...." Dia tak dapat melanjutkan kalimat yang akan dia ucapkan saat Wuxian memandangnya lurus dan dalam.


Wuxian sendiri tak mengatakan apa pun. Bahkan keterdiamannya itu sudah mampu membuat Liana mengerti.


Wuxian, pemuda itu bukan lagi seorang yang transparan. Maksudnya dia tak lagi memiliki keberadaan yang tipis seperti sebelum-sebelumnya. Sekarang keberadaannya terasa begitu jelas seperti orang-orang pada umumnya.


"Apa yang terjadi?" tanya Liana ingin tahu.


Karena tak bisa menyembunyikan apa pun dari gadisnya, Wuxian hanya bisa jujur menjelaskan apa yang terjadi pada dirinya dan jiwa lain dalam tubuhnya.


Beberapa waktu lalu, atau tepatnya setelah pertemuan Liana dan Dia di Sekte Menara Langit, saat itulah setengah jiwa sang Pangeran menyatu dengan Zanzhu Ren Zuxian.


Wuxian menghela napasnya, entahlah. Liana melihatnya menjadi semakin dewasa saat ini, tidak lagi berlaku terlalu kekanakan. Wibawanya menguar lebih dan lebih dari sebelumnya. Dia nampak memiliki aura bersih dan kemuliaan. Dan memang rasanya mirip dengan Zanzhu Ren Zuxian.


Sang Pangeran, Wei Wuxian sebenarnya bukanlah orang bodoh seperti yang dirumorkan. Hanya saja dia menjadi kelihatan bodoh karena orang-orang jarang dapat merasakan kehadirannya. Itulah awal rumor-rumor miring beredar, dan bahkan ada pula yang mengatakan dirinya sebagai sosok Pangeran yang sombong.


Bahkan Kaisar Wei selaku sang Ayah sangat menjunjung dia karena kebijaksanaannya. Putra yang cocok sebagai penerus. Haah, tapi sayang sekali karena dia tak mendapat dukungan dari para pejabat negara. Oh, jangan pula mengharapkan suara dari kediaman Perdana Menteri Zhu, sejak awal Perdana Menteri hanyalah seorang yang bersikap netral dan hanya mendukung Kaisar yang duduk di tahta sepenuh hati.


Lagipula statusnya yang seharusnya adalah Pangeran Mahkota karena dia adalah Putra dari Permaisuri pertama yang telah wafat tidak dia dapatkan. Jadi apa lagi? Dia juga tak mengharapkan duduk di kursi kebesaran Kaisar itu dan memimpin pengadilan setiap pagi.


Melihat sang Ayah bekerja saja membuatnya ikut lelah.


Huh, seandainya Wei Wangji mendengar pemikirannya itu, mungkin dia tak akan dapat berkata-kata lagi di depannya.


Kunjungan sang Pangeran hanya sebentar untuk melihat kondisi Liana. Dia juga sadar sebenarnya telah melanggar aturan, masuk ke kamar seorang gadis yang belum menikah adalah hal tabu, meskipun tindakannya masih dapat di maafkan karena Liana adalah calon Permaisurinya di masa depan. Tapi apa, perjanjian itu masih lama akan terjadi.


Jadi dia menghormati gadisnya dengan tidak berlama-lama di dalam sana.


Liana juga hanya diam saja. Sebenarnya selain kehangatan, dia tak merasakan apapun kepada pemuda yang menjadi tunangannya.


Ikatan kasih yang dalam seperti cinta, dia bahkan tak tahu perasaan macam apa itu. Sungguh, selama dua pengalaman hidupnya di dunia yang berbeda, dia tak pernah merasakan perasaan suka apalagi menjalin hubungan dengan lawan jenis. Liana benar-benar sosok yang masih murni dengan hal itu.


Jadi jangan salahkan dirinya yang tidak paham dengan hal-hal romantisme. Mungkin dia hanya menganggap Wei Wuxian sebagai laki-laki yang akan dia nikahi di masa depan, atau sebagai keluarga yang berbagi kehidupan dengannya. Tak begitu spesial. Tapi dia rasa, dia cukup menyayangi pemuda itu sebagai orang yang ia kenal.


"Ling?" panggil Liana saat kamarnya kembali di landa keheningan. Ini masih pagi, tapi rasanya waktu telah begitu lama berlalu.

__ADS_1


"Iya, Nona. Anda membutuhkan sesuatu?" Ling yang sedari tadi berjaga di depan pintu dengan siaga masuk ke dalam kamar menghadap majikan mudanya.


"Bisakah kau menyeduh teh untukku?" pinta Liana tidak dengan nada memerintah.


"Akan saya siapkan segera," jawab Ling kemudian dia bergegas keluar dari ruangan menuju ke dapur.


Gadis pelayan itu benar-benar bersikap sebagai pelayan loyal yang kaku.


Liana tak bisa memungkiri jika sekarang dia ... apakah harus menangis atau tertawa? Sikap Ling barusan sangat mirip dengan dirinya saat masih menjadi prajurit junior di WSA. Apa ini juga dapat di sebut karma? Mungkin.


Tak berapa lama, Ling sudah kembali dengan nampan berisi teko dan cangkir kecil tak berlengan di atasnya.


"Nona," salamnya kemudian dia menunduk, menaruh nampan di meja dekat tempat tidur.


Liana mencium aroma teh yan khas membuatnya merasa tenang dan rileks. "Ini berbeda dari yang kemarin," ungkapnya.


"Anda benar, Nona. Daun teh kali ini dikirim dari Benua Tengah," jelas Ling saat dirinya mulai menyajikan teh.


"Benua Tengah?" ulang Liana. "Ini memiliki aroma melati, pantas saja. Di sana adalah pusat negara tropis," gumam Liana yang tentu tak di pahami Ling.


Tapi gadis pelayan itu tetap masih dengan patuh melayani sang majikan. "Sepertinya Anda mengerti banyak hal, Nona. Saya kagum," ucapnya sambil menyerahkan cangkir teh pada Liana.


Liana tersenyum, tapi matanya menjadi sendu. "Kau tahu Ling? Orang-orang di dunia ini sangat mengagung-agungkan kekuatan. Berkultivasi menjadi seorang abadi, menuju puncak dunia ketenaran dan menjadi penguasa. Tapi banyak dari mereka mengabaikan hal yang penting." Liana berhenti pada kalimat itu untuk menghirup aroma teh sambil memperhatikan ekspresi tenang Ling yang kini memiliki tanda tanya di sana.


"Hal penting? Apa itu, Nona?"


"Pengetahuan," jawab Liana singkat tak menjelaskan lebih lanjut karena beberapa langkah kaki mulai terdengar memasuki Paviliunnya.


Sebagai gantinya, dia tersenyum dengan dingin membuat Ling kebingungan dengan sikapnya yang selalu berubah-ubah.


"Hmm, mereka juga sepertinya ingin segera mengakhiri permainan."


~o0o~


Maaf yah, molor lagi akunya. Keasyikan baca Novel Translate buat nyari ide, eh malah lupa waktu... wkwk...


Btw, cuma mau ngasih tau. Aku lagi baca Novel terjemahan berjudul Scumbag System. So buat kalian yang suka Novel bergenre Xianxia, Wuxia, Xuanhuan dengan bumbu-bumbu B-R. Ini ku rekomended.. hehe (Mirip-mirip lah ama Novel MO DAO ZU SHI...)


Uhuk! maaf, akunya agak gemar yah.. itu-itu dah...

__ADS_1


oke...bye bye dulu deh.. nggak berani ngomong banyak, ntar ditimpukin telur mentah.


__ADS_2