[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana

[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana
33-Gerombolan


__ADS_3

Beberapa masih menggeram mengamati mangsa. Beberapa lagi mengaum menunjukkan kuasa.


Hal itu membuat Liana dan Lanhua bertambah waspada melihat makhluk berbulu yang terlihat begitu gemuk.


"Li- Liana, apa mereka akan menjadi buruan pertama kita?" tanya Lanhua gugup. Pasalnya, dia yang seorang putri selalu berada dalam istana. Meskipun bakatnya lumayan, akan tetapi pengalamannya kurang.


Dan saat ini tak ada pengawal satu pun di dekatnya, dikarenakan alasan sportif dalam berkompetisi. Akh, entah kenapa dia merasa menyesal telah ikut berpartisipasi. Sungguh konyol!


Liana sendiri tak menyadari pikiran Lanhua. Tapi sedari tadi matanya telah menyipit heran.


"Binatang iblis level tiga," ucapnya penuh selidik mengejutkan Lanhua.


Dia menjadi sadar. Mereka sekarang masih berada di pinggiran hutan, ini masih di garis liar dan tidak terlalu dalam untuk mendaki bukit. Mengapa hewan tingkat menengah sudah menghadang? Konspirasi? Atau pergeseran garis hutan? Atau .... segala macam pemikiran buruk tercatat di otak sang Putri.


"Ba- bagaimana bisa mereka ada di garis pinggir. Bukankah seharusnya binatang level tiga itu berada di kaki bukit sampai pertengahan? Apa ... apa ada orang yang sengaja menjebak kita?" tanyanya penuh praduga.


"Aku tidak tahu, tapi yang pasti ... kita harus pergi atau menghadapi mereka jika ingin selamat." Liana segera meraih pisau lempar yang telah ia persiapkan jika berada dalam situasi darurat seperti ini.


Pagi saat subuh-subuh dia telah bersiap dengan segala hal. Biasanya Liana memang suka menyelipkan senjata di balik celah-celah pakaiannya. Itu selalu dia lakukan saat masih berada di WSA dan sekarang kebiasaan itu tetap berlanjut. Tujuannya untuk mengecoh lawan tentunya dan jika bertemu situasi darurat yang mana menyebabkannya kehilangan senjata utama.


Sebenarnya dia bisa saja menggunakan pedang, hanya saja pedang yang ia bawa masih tersimpan di cincin penyimpanan pemberian Zhu Moran padanya kemarin. Dan untuk membuka cincin, ia harus menggunakan Qi.


Lanhua akan curiga padanya nanti jika dia dapat membuka cincin penyimpanan, sedangkan berita dirinya adalah pemborosan tak berguna telah begitu terkenal. Jadi Liana cukup bersyukur dengan kebiasaannya itu. Sekarang memang bisa menyelamatkannya.


Lagi pula dia cukup percaya diri dengan pisau-pisau kecil itu. Setidaknya dia dapat menumbangkan beberapa ekor serigala.


"Lanhua, apa kau bisa menghadapi beberapa dari mereka?" tanya Liana yang pandangannya masih fokus melihat gerak-gerik serigala yang belum mengambil langkah untuk menyerang.


"Aku ... tidak terlalu yakin. Tapi aku akan mencoba." Lanhua sendiri memiliki wajah pucat. Sesekali dia menelan ludah secara kasar. Binatang iblis level tiga bukanlah tandingan untuk murid Penempaan Qi sepertinya. Apalagi dia memang benar-benar masih pemula. Juga, dengan jumlah lusinan seperti ini, dia jadi merasa lebih buruk.


Lanhua lalu menoleh pada Liana. Dia sedikit tersentak melihat wajah tenang gadis itu, tapi entah kenapa hal itu juga membuatnya ikut merasa tenang.


"Kalau begitu, kau bantu aku alihkan perhatian mereka. Aku akan mengahadapi sisanya."


"Tapi Liana, kau kan ...." Lanhua segera menghentikan ucapannya saat kembali melihat seringai di bibir dan kobaran semangat di mata Liana. Dia juga menjadi termotivasi dengan itu.


Segera Lanhua mengangguk, "Baik, serahkan padaku."


Meski dia tak terlalu percaya diri, untuk soal kemampuan, tak ada yang meragukannya di dalam istana. Dia memang berbakat, meski tak seberbakat Weiling. Dan juga, kekurangannya memang hanyalah pengalaman tempur hidup dan mati secara langsung. Sedangkan Weiling memang lebih bebas dari Lanhua. Dia masih siswa akademi, jadi sering memiliki pengalaman bertarung di sana atau dsri mengerjakan misi.

__ADS_1


Tatapan Lanhua menjadi lebih serius, dia dengan cekatan membuka pedang yang menempel di pinggang dari sarungnya.


"Hmph! Serigala jelek, kalian telah berani menakuti Putri ini. Maka kalian akan mendapat balasannya segera."


Mungkin mereka mengerti dengan provokasi dari Lanhua, dua ekor serigala segera maju menghadang gadis itu dengan tatapan nyalang mereka.


Sedangkan Liana sendiri telah memisahkan diri dengan beberapa ekor serigala yang mengikutinya dengan geraman lapar. Mungkin mereka ingin menakutinya. Tapi siapa Liana? Akankah dia takut dengan makhluk berbulu itu. Oh oke, koleksi karpet bulu serigala ada beberapa di rumahnya dulu ketika di bumi. Dan sekarang dia merasa ingin memilikinya kembali di sini.


Menghias rumah dengan bulu abu-abu itu juga tak begitu buruk. Kualitasnya sangat baik. Tanpa sadar mata Liana semakin berbinar saat memikirkannya. Tidak sia-sia dia mengikuti acara ini.


Jika para serigala menyadari pikiran gadis yang terlihat masih begitu manis itu, mungkin mereka akan menyembunyikan bulu cantik mereka segera dan pergi, cari mangsa yang lain. Jangan sampai dijadikan karpet!


Lalu sisa serigala lain hanya mengamati. Sepertinya para serigala itu juga memiliki kesombongan layaknya manusia. Mereka percaya diri menjadi lebih kuat dari pada kedua gadis remaja yang terlihat lemah itu. Jadi lebih baik menonton dan menunggu hasil pembagian daging.


Liana tidak memusingkan beberapa serigala yang diam, malah menurutnya itu bagus, dapat memudahkannya untuk mengalahkan mereka satu per satu. Tanpa aba-aba, Liana dengan gesit melemparkan pisau pada seekor serigala yang paling dekat dengannya. Segera terdengar raungan pilu yang menyayat hati.


Serigala itu tumbang dengan mudah saat satu tancapan pisau tepat mengenai nadi pada lehernya. Titik fatal yang membuatnya langsung meregang nyawa.


Seorang petarung handal memang hebat, tapi seorang dokter yang bisa bertarung itu sangat luar biasa. Yah, Liana mengerti ilmu medis dan dia adalah ahlinya, sebab itu dia sangat mengerti bagian tubuh makhluk hidup, bagian-bagian mana yang fatal jika di serang dan lain sebagainya.


Gelar Jenderal Wanita bukanlah sesuatu yang hanya dijadikan pajangan, dia adalah bakat langka yang ditakuti, dan karena itulah dia malah meregang nyawa karena rekannya sendiri. Ironis bukan? Pohon yang paling tinggi memang selalu menjadi incaran utama para penebang.


Dengan marah mereka segera melompat menerjang Liana dengan membabi buta. Akan tetapi Liana dengan gesit menghindar dari serangan.


Tatapannya semakin tajam, kembali Liana melemparkan pisau langsung pada bagian dahi salah satu serigala hingga membuatnya tumbang. Kali ini dengan hati-hati dia memasukkan sebagain kecil Qi transparan miliknya pads bilah pisau untuk membuatnya lebih tajam.


"Serigala tetaplah serigala. Tapi aku menyukai kalian, pintar dan licik. Mengandalkan gerombolan, kalian semua bahkan dapat menumbangkan sang Singa dari tahtanya," ucap Liana diiringi dengan seringaian. "Ayo kita bermain lebih lama, rasanya ini dapat sedikit melonggarkan persendianku yang sempat kaku," lanjutnya seraya meregangkan tubuh layaknya melakukan pemanasan.


"Majulah!"


Para serigala semakin beringas melihat tingkah sombong manusia itu. Mereka merasa diremehkan.


Dua serigala lain segera bergerak untuk menerkam Liana dengan cakar.


Liana tetap diam menunggu serangan yang akan datang, kini di tangannya sudah ada belati kembar yang memenuhi.


Saat kedua serigala itu semakin mendekat, dia juga berlari ke arah mereka.


Pertarungan sengit terjadi, dengan gerakannya yang lincah, Liana terus menggores kulit dan bulu serigala.

__ADS_1


Dia telah menumbangkan beberapa dari mereka. Kini hanya tertinggal empat ekor lagi yang hanya memandanginya dengan tatapan benci dan takut.


Satu dari mereka melolong sebagai intruksi. Dan serigala yabg tersisa benar-benar kabur meninggalkannya. Huh, sudah kebiasaan serigala. Jika yang terkuat dari kelompok mereka kalah, mereka akan pergi.


"Liana!" teriak suara manis dari belakang Liana membuyarkan lamunannya tentang lara serigala.


"Liana, bagaimana kabarmu? Kau tidak apa-apa, bukan?" tanya Lanhua sedikit khawatir.


"Aku tak apa? Kau bagaimana?"


"Hmph! Serigala jelek seperti mereka bukanlah tandingan Putri ini," ucap Lanhua menyombong. Dia memainkan sesuatu di tangganya seperti batu, tapi bercahaya samar berwarna merah.


Itu adalah Inti Binatang Iblis. Fungsinya seperti Dantian, tempat menampung Qi. Itu juga salah satu pembeda binatang ajaib dengan binatang biasa. Jika binatang iblis memiliki inti binatang berwarna merah, maka lain pula dengan Hewan Roh dengan intinya yang berwarna biru.


Inti binatang juga menjadi penjelas tingkat binatang ajaib, semakin gelap warna inti, semakin kuat pula mereka dan semakin banyak Qi yang terkandung di dalamnya.


Biasanya Inti Binatang memang sangat berguna bagi kultivasi. Karena itulah banyak peminatnya. Ada beberapa juga dari mereka yang dimanfaatkan sebagai bahan alkimia pembuatan Pil atau pun sebagai aksen penguat senjata. Tergantung apa jenisnya.


"Eh, kemana mereka?" tanya Lanhua bingung karena tidak mendapati serigala yang menyerang, padahal mereka berjumlah selusin tadi.


"Beberapa kabur," jawab Liana kemudian dia mengahmpiri mayat serigala yang tadi ia kalahkan.


Menguliti bulu mereka sebelum akhirnya mengambil inti serigala.


Lanhua yang melihat tindakan tenang Liana tanpa rasa jijik saat tangannya membobol perut para serigala dan mengambil intinya langsung dengan tangannya hanya mendelik ngeri. Sebab dia sendiri tidak akan sanggup melakukan itu, tadi saja dia membunuh serigala dengan cara membakarnya. Jadi dia mendapat inti dengan tangan bersih.


Melihat Liana yang santai, entah kenapa membuat perutnya mual. Karena tak tahan, dia segera berlari ke arah salah satu pohon menenangkan rangsangan tubuhnya yang tak nyaman.


Liana sendiri memandanginya datar, cuek dan kembali melanjutkan kegiatannya tanpa memperdulikan sang Putri yang tersiksa.


~o0o~


Yahaha! Ku tak pandai bikin adegan Fight. Jadi ya gini deh... lagian bukan mentok Action kok genrenya. Ya maap deh.


BTW, jangan lupa untuk dukung cerita dengan memberi Like, Vote, Rate 5... juga beri Kritik dan Saran. Agar aku sebagai penulis cerita ini termotivasi untuk menjadi lebih baik lagi.


TERIMAKASIH & SAMPAI JUMPA!


Note: Crazy Up? Nanti kalo mood bagus! wehehe

__ADS_1


__ADS_2